Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Jurus Jingga


__ADS_3

"Buna Jingga mau ngomong!" tutur Jingga memulai.


Setelah berfikir lama, Jingga berniat mau sampaikan di depan Rendi, Baba, Buna, Adip dan Nila.


Bahkan sekarang di meja makan sudah komplit ada Oma dan Iya Iyu.


"Apa, Sayang?" jawab Buna


Adip pun menghela nafasnya dan memejamkan matanya. Mau berangkat meninggalkan ibukota dan Istrinya, beserta Emak yang masih sakit cukup menyita pikiran dan emosi Adip. Adip pusing tidak bisa berfikir jernih.


Itu sebabnya Adip meminta Jingga sudahlah, pasrahkan ke Nila dan Buna. Toh 3 tahun pernikahan mereka ada perjanjian, masa jeda taaruf dengan Nila fokus sekolah dan selesaikan program ngajinya.


3 tahun itu Adip yakin bisa mengubah semua pola pikir. Itu sebabnya Adip ingin menstop Jingga bahas Rendi. Nah ini? Jingga pasti mau bahas.


Adip pun menyenggol kaki Jingga memberi kode. Tapi Jingga yang berhasil masuk perangkap Rendi sudah kepalanh nekad dan tidak mengindahkan.


"Hentikan perjodohan Nila. Laki- laki ini bukan laki- laki baik Baba.. Buna!" ucap Jingga berani.


"Aiih...," Adip langsung menunduk dan memijat keningnya.


Flaschback saat Adip memanggil Pak Rendi.


"Dok. diundang Baba untuk makan siang," sapa Adip


Rendi tersenyum ramah ke Adip.


"Jangan panggil Dok. Biasa saja. Panggil Mas boleh, kita kan calon sesama mantu di sini," jawab Rendi ramah


"Oh iya, Mas. Ayo Baba sudah menunggu," ucap Adip lagi.


Rendi bangun kemudian menepuk bahu Adip.


"Maaf ya... kalau membuatmu tidak nyaman, jangan salah paham," bisik Pak Rendi lagi.


Adip ingat kata Jingga, tentu sebagai suami Adip akan jaga Jingga. Adip pun memilih diam..


"Maksudnya, apa Mas?" tanya Adip.


"Sejak, aku dengar tentangmu dan Jingga. Aku sudah ikhlaskan. Jujur sangat sakit dan aku sempat kecewa ke kamu. Itu sebabnya aku tak balas whastapmu."


"Kamu tahu kesepakatan perjodohanku dan Jingga sudah sejak Jingga SMA. Selama kuliah aku yang memperhatikan Jingga dari kejauhan. Tapi aku harus dewasa. Dia bukan jodohku. Meski begitu, pasti akan ada banyak ketidaknyamanan di antara kita. Jingga pasti banyak salah paham dan khawatir terhadapku. Apalagi kamu tahu kan Jingga masih ke kanakan?" tutur Rendi panjang kali lebar kali tinggi ingin Adip tak curiga.


Adip cukup terbakar mendengaar penuturan Rendi, terutama saat mendengar kalimat terakhir Rendi. Seakan Rendi lebih tahu banyak tentang Jingga. Tapi Adip tetep mengontrol emosinya dan mencoba mencerna baik positif thinhking.


"Ehm...," dehem Adip. Sebagai suami Adip tetap mau menjaga nama baik Jingga. Meski Adip tahu juga kalau Jingga ke kanakan. Adip pun jadi berfikir kalau Jingga yang overthingking.


"Aku mengenal Jingga, dia selalu bersikap dewasa," jawab Adip.


"Oh Syukurlah, aku berharap, kamu bisa menenangkan Jingga, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Aku berharap ke depanya kita bisa menjadi sauadara yang baik," lanjut Rendi lagi. Sungguh Rendi terlihat sangat dewasa.


Meski sempat curiga, laki- laki yang memakai akalnya, mendenga penuturan Rendi, Adip mencoba mengerti.


Itu sebabnya Adip sekarang merasa Jingga perlu diskip untuk tidak bahas Rendi dan Nila.


Flashbasck off.


Berbeda dengan Jingga yang menggeby dan Adip yang mendengus.

__ADS_1


Rendi tampak tenang, Nila dan Oma terperanjak. Sementara Baba dan Buna meletakan sendok dan garpu yang baru mereka pegang.


"Kenapa kamu bilang begitu Sayang?" tanya Buna


Jingga emosi tidak menunggu jeda dengan menggebu langsung jawab.


"Dia nikahin Nila karena balasdendam karena sakit hati sama Jingga Buna Baba. Bahkan dia ancam Jingga untuk ceraikan Bang Adip!" ucap Jingga lancar.


Baba, Buna Oma langsung kaget. Mereka kemudian menatap Rendi. Bahkan Baba mengeratkan rahangnya.


"Benarkah begitu Rendi?" tanya Buna langsung.


Rendi tampak tersenyum.


"Maafkan Saya, Pak Ardi, Ibu Alya, Oma, Nila dan semuanya. Sebenarnya saya malu harus bahas ini. Iya saya pernah mengatakan itu. Saya mohon maaf," jawab Rendi mengakui.


"Whoaah," Jingga cukup gelagapan semudah itukah Rendi mengaku.


Sementara Adip tersenyum dan menghargai kejujuran Rendi.


Baba, Buna, Oma dan Nila masih menegang.


"Tapi itu semua, semata- mata, karena saat itu saya termakan berita hoak itu. Itu ungkapan pribadi saya atas rasa sayang saya ke Jingga. Tapi sekarang setelah tahu semua. Saya menyadari Jingga bukan jodoh saya. Dan...," ucap Rendi ternyata tetap berbohong dan beralasan. Seakaan kejadiaan itu sudah berlangsung sebelum Adip dan Jingga resepsi.


Jingga pun langsung mendelik dan mau menyerobot.


"Ba.. dia," pekik Jingga tapi langsung dihentikan Adip.


Adip merasa tahu situasinya.


Jingga masih merasa belum lega.


"Saya minta maaf. Tapi saya sudah membenahi niat saya. Saya ikut Ummi saya. Menikahi perempuan yang nanti bisa bantu Umi di Pondok. Kalau Baba, Buna Jingga dan semua masih ragu dengan saya. Saya siap mundur dari perjodohan ini,," sahut Rendi cepat bersikap sok jual mahal.


Baba, Buna, Nila dan Oma yang tadi menegang jadi melemas. Kini semua percaya Rendi kecuali Jingga . Tapi Jingga tak ada alasan lagi.


"Hah.. ya sudah. Sudah clear kan? Aku percaya padamu Rendi. Dan Jingga Baba juga percaya niat baik kamu. Kita sama- sama dewasa. Baba berharap kamu latihan dewasa ya," tutur Baba enteng mengambil kesimpulan.


Baba tidak mau memperpanjanh mengingat waktu berangkat Adip mepet.


"Terima kasih Ba," ucap Rendi.


"Sudah.. sudah... ayo makan. Adip harus transit ziarah juga kan ke makam Bapak?" ucap Baba.


"Ya Ba," jawab Adip.


Jingga masih belum puas sebenarnya, dan sesaat Jingga menatap Rendi. Ternyata tepat Rendi juga sedang menatapnya denhan sudut bibirnya diangkat sedikit sangat ngeri.


Jingga bergidik dan terhenyak hendak mengadu pada Adip, tapi begitu Jingga menoleh ke Adip, Rendi langsung berlagak makan.


"Hoooh," Jingga hanya membatin sendiri,kalau Rendi tidak tulus dan tetap jahat.


Adip yang di dekat Jingga paham istrinya gelisah.


"Makan Sayang," bisik Adip menyuapkan satu sendok makan.


Jingga kemudian tersenyum menyambut dan membuka mulut.

__ADS_1


"Oke...kalau benar kamu ikhlas dan tulus. Liat saja," batin Jingga jadi ingin memancing dan membalas Rendi


"Jingga suapin Bang Adip juga yah," ucap Jingga manja di depan semua orang tanpa tahu malu.


Jingga dan Adip pun mengumbar kemesraan di depan keluarganya.


Baba, Buna, Oma dan Nila sih udah biasa aja. Tapi berbeda dengan Rendi. Dia cukup tertampar.


"Nila.. Rendi tunggu 3 tahun lagi ya!" celetuk Baba spontan.


"Uhuk.. ," Jingga terbatuk sengaja.


"Pelan Sayang," ucap Adip lagi mengambilkan tissu.


"Oh ya Ba. Boleh nggak Jingga minta sesuatu," celetuk Jingga lagi


"Apa?"tanya Baba.


"Baba kan mau diantar Pak Rendi? Jingga pengen berduaan sama Bang Adip. Jingga sama Bang Adip naik motor aja yah!" ucap Jingga dengan cerianya.


Sepanjang makan Jingga ternyata berfikir. Kemarin memang awal Jingga ingin ikut ke kampunh Om Dika. Tapi karena ada kuliah Jingga disuruh lain kali saja, apalagi Baba dan Adip langsunh berangkat ke pulau P. Baba tidak mau Jingga pulang sendiri.


Ternyata Rendi menawarkan mengantar ingin saat pulang dari Bandara hanya berduaan.


"Naik motor gimana?"pekik Baba tidak suka.


"Baa... Jingga sama Bang Adip lebih suka naik motor. Iya kan Abang Sayang?" ucap Jingga lagi.


Adip awalnya masih tidak mengerti dan hanya mengangguk saja.


"Nggak!" Jawab Baba. "Kamu pulangnya gimana? Baba nggak percaya kamu pulang bawa motor!" ucap Baba


"Kan ada mbak Vera. Mbak Vera ikut mobil Baba aja pas berangkat! Biar pulangnya sama Jingga naik motor," jawab Jingga cerdas.


Baba pun mengangguk. Vera memang bodyguard Jingga.


"Oke...," jawab Baba Jingga pun tersenyum senang.


Sementara Rendi menelan ludahnya. Dia kesal melihat Adip dan Jingga mesa. Padahal dia tadi sempat nguping dan senang liat Adip dan Jingga renggang.


Ternyata Rendi memang punya rencana mendekati Jingga, kenapa dia ingin antar Baba dan Adip. Tapi dibalus dengan datang memberi buah tangan dan bekal untuk Adip.


Jingga langsung agresif memeluk lengan Adip. Adip tersenyum lega, melihat Jingga tak galau dan terus bahas Rendi.


"Oke... aku ikuti alurmu Pak. Rendi. Jika Baba, Buna dan Suamiku, bisa kelabuhi. Berarti aku yang harus gencar bekali Nila senjata," batin Jingga kini menemukan solusi.


Setelah ishoma. Mereka pun berangkat. Sesuai mau Jingga, Jingga dan Adip naik motor berpelukan kencang ke Bandara. Baba, Rendi dan Vera naik mobil. Pulangnya Rendi sendir dan Vera boncengin Jingga.


****


Terima kasih atas semua kakak disini yang dukung, kasih cinta ke Jingga dan Adip. Sebenarnya harusnya Jingga udah tamat.


Jujurly, untuk kepentingan author, kugenapkan sampai akhir bulan. Author tambahin konflik pembuka nupel baru nanti.


Mohon Maaf, harap dimengerti.


Semoga tidak mengurangi cinta ke Jingga. Semoga tetep dinikmati. Dan mohon doa ya, biar ini nupel naik level. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2