Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
57. Padam


__ADS_3

Jingga terdiam saat anak laki- laki pada membicarakan nama yang sama dengan nama tukang ojek yang cukup menggangu pikiranya. Saat dia berjalan tadi, Jingga juga seperti melihat pria manis yang membuatnya naik pitam itu. 


“Telpon, telpon. Molor dia paling!” ucap anak- anak yang lain. 


“Oke!” jawab salah seorang yang lainya lagi.


Jingga kemudian melirik ke Tari. Tari tampak tersenyum dan menggerakan tanganya sebagai ekpresi yes. 


“Kamu senyum- senyum kenapa Ri?” tanya Jingga. 


“Kak Adipati bentar lagi kesini!” jawab Tari berbisik. 


“Adipati?” tanya Jingga. 


“Iya, kamu nggak denger apa yang Ibra dan Dion bilang tadi, mereka akan telpon kak Adipati buat kesini!” bisik Tari mengeluarkan sisi centilnya. 


“Senior mapala yang katamu keren itu?” tanya Jingga. 


“Huum!” jawab Tari mengangguk. 


“Hoh!” Jingga menghela nafasnya terbengong.


Otak Jingga pun bekerja memory otaknya berjalan ke kejadian saat Jingga naik ojek online. Nametag nya bernama Adip. 


“Adip\= Adipati?” batin Jingga mengeja. “Tunggu, tunggu, kata Tari dia seorang veteriner? Adip, Bunga? Kucing?” otak Jingga terus bekerja dengan lancar. 


“Ehm... Ri, boleh tanya nggak?” tanya Jingga. 


“Ya!” jawab Tari.


“Adip itu seoranng veteriner?” tanya Jingga. 


“Huum!” jawab Tari mengangguk. 


“Nama Panjangnya siapa?” tanya Jingga lagi. Tari kemudian tersenyum. 


“Ngapain lo tanya- tanya. Meski dia ganteng gue yakin dia bukan tipe kamu, orang tuamu juga nggak akan setuju. Udah lo sama Tama aja!” jawab Tari malah ngeles. 


“Ish! Siapa juga yang mau naksir. Jawab dulu!” tanya Jingga mendesak. 


Tari kemudian menekuk telapak tanganya dan mengarahkan ke  telinga Jingga. “Namanya Adipati Wirajaya!” bisik Tari ke telinga Jingga. 


Entah kenapa saat Tari membisikan nama itu, Jingga merinding dan dadanya bergetar. Namanya begitu bagus dan membekas. Benarkah, si tukang ojek, si dokter hewan kesayangan Oma Mirna dan senior idola Tari adalah orang yang sama? Jingga tadi tidak salah lihat kan? Iya Jingga tidak mimpi, Jingga benar- benar melihat tukang ojek itu. 


“Nggak mungkin, ini nggak mungkin!” gumam Jingga gedek- gedek kepala. 

__ADS_1


“Nggak mungkin apa Ngga?” tanya Tari melihat Jingga berbicara sendiri dan menggeleng- gelengkan kepala lucu. 


“Nggak apa- apa!” jawab Jingga. 


Meskipun Jingga bilang nggak apa- apa, tapi sesungguhnya organ penting di tubuhnya yang berada di dalam lindungan tulang rusuk daging, pembuluh darak, lemak dan syarafnya. Orga itu bekerja lebih keras membuat Jingga gelagapan dan berfikir banyak hal. 


“Dia supir mobil bobrok? Tapi dia juga jadi tukang ojol dengan motor NMAX, dia juga naik ke lift kampus keren, tapi dia juga suka ngamen angklung di perempatan, dia juga ikut kegiatan bakti sosial waktu pagi itu. Aih Jingga, kenapa aku bodoh sekali tidak menyadari semua ini?Jangan- jangan benar itu dia? Awas aja! Gue bejek- bejek lo kalau sampai lo ngerjain gue lagi?” batin Jingga terus memikirkan Adip. 


Entah kenapa saat mengingat Adip, Jingga merasa begitu berani dan bersemangat. Buat Jingga Adip seperti teka teki yang menggemaskan.


“Gooaaal” 


Anak – anak berteriak kompak mengagetkan lamunan Jingga. Jingga jadi teringat Baba dan adik-adiknya kalau nonton bola begini nih.


Sayanya tepat setelah anak- anak bersorak sorai, lampu padam dan thep ruangangan padam.


“Yaaah!” keluh anak- anak laki- laki kompak. 


"Jian****!" anak_ anak mengumpat sesuka hati dengan bahasa kasar.


Jingga pun jadi bergidik ngeri. Bergaul dengan anak laki- laki dari banyak jurusan memang begitu. Banyak kata aneh yang menjadi bahasa keakraban.


Jingga kemudian berpegangan tangan dengan Tari. Tari pun mendengus kesal. Jingga takut kegelapan.


“Ah...gagal deh charge energi liat Bang Adip!” gerutu Tari berbisik.


“Ayuk!” jawab Jingga cepat.


"Nanti lah. Tunggu bentar.Siapa tahu nyala!" jawab Tari masih ingin di situ.Tari ternyata pejuang cinta yang bucin akut. Meski tau cintanya tak akan terbalas, tapi ada kebahagiaan tersendiri saat Tari bisa melihat dan menatap idolanya itu.


"Au ah lo. Gue ngantuk. Gue liat siaran ulangnya besok aja! Kalau nggak nonton pakai hp aja di kamar, Yuk!" jawab Uti si tomboy. Si Uti nonton bola sungguhan serius karena dia suka bola dan antusias. Jadi saat di tempat nonton bareng udah nggak asik Uti mending ke kamar aja.


" Bentar!" jawab Tari bersikekeh berharap lampu nyala lagi.


"Bodo gue balik duluan!"ucap Uti kesal. Uti berdiri dan menyalakan senter ponselnya.


Jingga jadi bingung mau ikut Tari atau Uti.Tapi Jingga juga penasaran dengan sosok Adip itu.


"Ayo Ngga katanya lo mau balik ke kamar!" ajak Uti


"Entar aja Ngga!" sahut Tari meminta Jingga stay.


Jingga kan lebih nyaman bareng Tari. Jingga pun memilih stay.


"Lo duluan aja. Ti. Aku takut. Aku bareng Tari aja!" jawab Jingga.

__ADS_1


"Entar aja kenapa sih?" dengus Tari.


Tapi Uti tetap berdiri dan bersiap kembali ke kamarnya. Melihat keberanian Uti Jingga pun kagum.


"Kok Uti berani banget sih?" tanya Jingga ke Tari.


"Lah emang kenapa harus takut?" tanya Tari.


"Gelap gini dia berani balik?" tanya Jingga heran.


"Lah orang banyak orang gini.Di Pulau P nanti kita sungguhan gelap emang nggak ada lampu Lho!" ucap Tari memperingati.


"Benarkah?"


"Iya. Anggap ini uji nyali, jadi lo harus siap!" tutur Tari lagi memberi nasehat.


Jingga menelan ludahnya. Benarkah di pulau P seseram itu. Tapi iya juga sih. Signal aja di sana nggak ada kan? Pasti listrik juga susah.


"Kok diam? Kalau kamu takut kegelapan dan menyerah.Pumpung masih di sini. Lo bisa undurin diri!" ucap Tari mengetes Jingga.


Jingga menelan ludahnya.


"Gue berani!" jawab Jingga nekad. Menikah dalam waktu dekat dengan Pak Rendi lebih menakutkan dari apapun. Bahkan dibanding tenggelam mungkin bagi Jingga lebih seram menikah dengan Pak Rendi. Apapun tantanganya Jingga harus mengulur waktu menikah dan mencari cara untuk gagal.


Ya meskipun Jingga mutusin Tama dengan menggunakan alasan Pak Rendi.Tapi Jingga nggak mau nikah dalam waktu dekat.


"Ya udah nggak usah cengeng dan manja. Lepasin tanganku ya! Harus berani! Buka senter ponsel Lo!" ucap Tari.


" Ya!"


Beberapa anak balik ke kamar dan memilih menonton lewat ponsel seperti Uti . Beberapa yang lain masih di situ memilih mengobrol dan bercengkerama.


Tari dan Jingga berdiam diri di situ cukup lama.Sayangnya lampu tak kunjung menyala.Sang idola Tari pun tak kunjung datang.Tari pun mulai goyah.


"Balik yuk!" ajak Tari.


"Ayok!" jawab Jingga.


Dengan penerangan lampu senter ponsel mereka bangun dan keluar.


"Ke dapur dulu yuk.Aku pengen air panas!" ucap Tari meminta ke dapur dulu.


Jingga mengangguk dan nurut saja. Saat di jalan langkah mereka terhenti.


"Jingga!" panggil seseorang itu.

__ADS_1


"Oke!


__ADS_2