Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
30. Tari dan Uti


__ADS_3

Setelah selesai menandatangani beberapa Laporan pertanggung jawaban kegiatan yang Adip lakukan, Adip pergi tanpa ikut melihat seleksi.


"Gue cabut ya!" pamit Adip.


"Ntaran napa Bang. Kan udah nggak kuliah ini?" tanya Rangga.


"Biasa narik orderan!" jawab Adip.


"Hemmm. Nggak narik Bang. Jadi ojek pribadi aku aja. Aku bayar lebih deh!" sahut Tita agresif.


"Ogah gue, lo cewek mengerikan!" ejek Adip lagi. Adip memang kalau bicara asal keluar nggak mikirin perasaaan orang lain.


"Ish... dasar!" desis Tita.


"Canda Tiit, gue mau rejeki gue halal. Lo uang aja masih minta ortu gaya lo mau bayarin gue, kuliah yang bener dulu!" ucap Adip dengan dewasa menasehati Tita dan melempar kertas ke kepala Tita.


"Bang Adip ih!" seru Tita menangkis kertas yang mengenai wajahnya. Adip memang seiseng itu.


Adip langsung mengangjat kakinya berpindah dan bangun.


"See you di kampung ya!" pamit Adip.


"Ya hati-hati!" jawab Rangga dan Tita.


Tempat yang dituju sebagai objek pengabdian masyarakat adalah tempat Adip akan bekerja juga. Tempat itu adalah tempat Adip kkn waktu Adip masih kuliah.


Di sana Adip menemukan banyak permasalahan masyarakat. Sebenarnya kmpung itu memiliki kekayaan alamuar biasa. Hanya saja sdm nya sangat kurang. Fasilitas pemerintah juga minim. Itu sebabnya Adip mengajukan tempat itu.


Adip juga memasukan lamaran ke pemerintah setempat untuk bisa bekerja di sana. Adip jatuh cinta dengan alam di sana. Daerah pesisir pantai dengan pasirnya yang putih dan sangat asri. Pantai itu juga langsung berbatasan dengan pegunungan yang alami.


Penduduk sekitar bermata pencaharian sebagai nelayan, petani dan peternak. Di sana jarang anak sekolah, banyak penduduk buta huruf. Ada sekolah tapi usang, gurunya hanya ada sedikit yanh kadang merangkap beberapa kelas.


Adip ingin perpetualang dan membangun desa itu. Menarik minta sekolah anak-anak sekitar. Tingkat kesehatan di situ juga buruk, banyak penduduk yang terkena gizi buruk dan penyakit menular.


Hati Adip benar-benar tergelitik dan geram menemui pemandangan itu saat dirinya ditugaskan di sana. Dia ingin merubahnya tapi tidak bisa sendiri.


Dan kini cita-cita Adip ada di depan mata.


Adip berjalan tanpa beban menuju ke lift. Ponsel pesanan ojek onlinenya menyala lagi. Adip segera menerima.


Saat Adip hendak menutup ponselnya lagi, tanpa sengaja Adip menekan layar kamera. Adip kan tadi sempat memfoto Jingga.


Adip tersenyum menatap foto Jingga.

__ADS_1


"Gadis bodoh!" batin Adip ingin menghapus foto Jingga tapi kemudian Adip urungkan.


"Cantik, ngapain dia ke sini ya? Apa dia ikut ruang inspirasi?" batin Adip tiba-tiba memikirkan Jingga.


"Ah gadis bodoh dan manja seperti dia mana bisa. Pasti nggak lulus!" batin Adip lagi.


Pintu lift terbuka. Adip segera keluar menuju ke motornya dan bergegas menjemput pelangganya. Adip memang sebatang kara, untuk makan dia bekerja apa saja.


*****


Sesuai dengan rencana Buna Alya dan Mbak Mini. Buna Alya ingin menemui Adip dan berkenalan dengan Adip. Buna Alya mengira Adip anak jalanan biasa yang peduli pada hewan liar.


"Kok nggak ada ya? Anak itu?" ucap Buna Alya di lampu merah mencari keberadaan Adip. Biasanya di jam segitu Adip memberi makan kucing liar.


"Coba ke pertigaan lampu merah depan Bun. Biasanya dia ngamen angklung di sana!" tutur Mba Fitri.


"Boleh deh!" jawab Buna Alya.


Mereka kemudian ke pertigaan tempat Adip biasa ngamen. Adip memang sangat supel. Dia dulu berasal dari panti asuhan, Adip dibekali dengan keterampilan bermain musik tradisional. Itu sebabnya dia juga ikut ngamen.


Pengamen itu ada. Tapi Buna Alya memperhatikan dengan seksama tidak ada wajah Adip.


"Nggak ada juga Mbak!" tutut Buna Alya kecewa. Kenapa nggak kemarin aja langsung Buna tanyai. Ini mengulur dan menunda waktu malah nggak ketemu lagi.


"Mungkin dia ada keperluan Nyonya!"


Mereka menghentikan pencarianya pada Adip.


****


Setelah menghabiskan waktu 90 menit Jingga dan kawan-kawanya berhasil melalui seleksi. Semua isinya pertangaan tentang motivasi, komitmen dan tantangan yang akan mereka temui di lokasi.


Jingga menjawab dan mengisi soal-soalnya dengan penuh keyakinan dan semangat. Pokoknya Jingga harus bisa lari dari aturan Babanya bersama dengan Dosen Kaku itu.


"Pengumumanya besok pagi!" ucap Uti.


"Eh abis ini ujian. Kalian udah pada belajar belum?" tanya Jingga.


"Lo mikirin ujian Jing?" tanya Tari. Mereka mengira anak sultan kaya Jingga nggak peduli belajar.


"Mikirin lah. Gue mau Buna gue bangga punya anak kaya gue!" jawab Jingga.


"Gue kira nilai lo selalu bagus karena bokap lo!" ucap Uti jujur.

__ADS_1


"Ngarang kamu! Kalau kamu berkata begitu. Berarti kamu nuduh dosen-dosen kita nggak sportif?" jawab Jingga.


"Ya nggak gitu juga. Ya kali lo kaya temen-temen lo yang hobby clubbing itu!" seloroh Tari lagi.


Jingga tersenyum. Teman-temanya tidak tahu seberapa kuper dan rumahanya Jingga. Hanya saja Jingga temenan dengan Amora dan Jingga, jadi mereka tidak tahu rahasia kekuperan Jingga.


"Bunaku nggak ngebolehin aku begitu!" jawab Jingga lagi tidak kalah polos dengan Tari dan Uti.


"Buna itu ibumu?" tanya Uti.


"Iya, Bunda Alyaku, oh iya. Kalian naik apa? Gue nebeng dong!" tutur Jingga.


"Hemmm" Tari berdehem manyun merasa tersinggung dengan pertanyaan Jingga.


"Kita anak rantau dan anak kos, Jing. Kita naik bus kota!" jawab Uti.


"Oh maaf. Sory gue nggak tahu!" jawab Jingga.


"Kok lo mau nebeng kita? Bukanga lo yang tiap hari anter jemput naik mobil keren? Kita dong nebeng!" celetuk Tari.


"He... supir gue. Gue suruh pulang!" jawab Jingga nyengir.


Tari dan Uti kemudian manyun.


"Ya udah buru yuk! Depan ada halte. Telat nnti kita!" ajak Tari ke Uti dan Jingga segera cari bus.


"Kita naik bus?" tanya Jingga ragu.


"Iyalah. Mang naik apalagi?" jawab Tari


"Kenapa nggak taksi online aja? Gue bayarin!" jawab Jingga.


Tari dan Uti diam saling pandang. Tapi mereka lihat jam tangan mereka.


"Waktu kita mepet. Kalau taksi online rawat macet. Mending bus kota aja. Kan ada jalur lintasan sendiri lebih cepat sampai!" ucap Tari..


"Oh oke! Kalau begitu. Gue ikut kalian aja!" jawab Jingga.


"Yuk!"


Mereka bertiga kemudian menuju ke halte tempat pemberhentian kendaraan umum yang khusus disediakan pemerintah untuk lingkup kota..


Tari dan Uti di kelas memang terkenal tomboy. Mereka hampir sama seperti Adip mahasiswa dari daerah yang masuk ke kampus Jingga berdasarkan hasil nilai raport dan ujian. Bukan besarnya sumbangan.

__ADS_1


Merka pun terbiasa berteman dengan terik matahari dan formula keringat banyak orang di tempat umum.


Sementara Jingga. Ini pertama kalinya ikut berdesakan naik kendaraan umum. Semoga saja busa yang Jingga temui kosong. Jingga bisa muntah kalau berdesakan dengan banyak orang.


__ADS_2