
Jingga yang mentok karena tadi mau mencari bantuan tak ada orang, mendengar suara laki- laki mendekat seperti mendapat durian jatuh. Jingga langsung mengangkat wajahnya. Wajah pria tampan yang menyebalkan itu muncul lagi. jingga juga heran dia bangsa jin dari teko yang mana? Perasaan Jingga tak pernah menggosoknya kenapa selalu nongol dan selalu ada di saat Jingga berada di situasi sangat memalukan.
Gleg
Jingga langsung terdiam menelan ludahnya dan berdiri menyek air matanya, tapi Jingga tidak menjawab dan hanya menunduk menlirik ke bambu panjang yang tergeletak sembarangan di sampingnya. Baju Jingga basah tak beraturan, karena basah dada Jingga pun menonjol sempurna karena memang sangat sehat dan ori, tidak kecil tapi tidak terlalu besar, sangat indah dipandang. Rambut Jingga yang berantakan dan basah di tepinya, beberapa hela keluar acak- acakan dari ikatanya membuat Jingga tampak seksi alami.
Adip pun menelan ludahnya entah kenapa seperti ada awan panas yang datang. Adip memperhatikan Jingga dengan seksama dan mengedarkan pandanganya ke sekeliling.
“Ternyata kamu yang dari tadi berisik di sumur? Kenapa ada bambu ini segala?” tanya Adip menginterogasi.
Jingga melengos dengan menggigit bibirnya manyun tidak mau disalahkan tapi berharap minta bantuan. Melihat gelagat Jingga yang menjengkelkan Adip paham. Adip menju dan memeriksa ke sumur.
“Haish!” desis Adip. Adip yang tadinya mau berbelanja bahan makananan di warung kelontong dekat dengan rumah dinas Jingga saat berangkat dan pulang Adip mendengar suara ember orang yang menimba yang tidak biasanya. Adip juga mendengar saat Jingga bersorak sendiri.
Saat Adip pulang dari kejauhan Adip melihat bambu yang tinggi itu bergerak- gerak meski tak ada suara. Sebenarnya sejak saat berangkat Adip sudah menguping dan mendengarnya lucu tapi dia tak mau mengganggu. Pas lihat bambu berputar- putar seperti ada yang menggerakan Adip pun memeriksa.
“Kau yang menjatuhkanya?” tanya Adip menghakimi pura- pura tidak tahu.
“Iya!” jawab Jingga lirih.
‘Kau memang selalu merepotkan!” ucap Adip menyakiti Jingga lagi. sebenarnya Jingga ingin beronak dan tidak terima dikatai begitu, tapi dia memang butuh bantuan, Jingga diam tidak menjawab tapi bibirnya mengatup sempurna.
Adip kemudian meletakan bahan belanjaanya. Jingga melirik belanjaan Adip, minyak goreng, ikan dan sayuran. “Apa dia mau masak? Dia bisa masakaah?” batin Jingga diam – diam.
Adip berjalan keluar sumur dan mencari ranting kayu yang bercabang, Adip kemudian mengaitkan kayu cabang itu, lalu menurunkanya ke sumur. Adip kemudian berusaha menempelkan ranting kayu itu ke tali, setelah menyentuhya Adip putar- putar sehingga tali itu membelit ke kayu dan diangkatnya.
“Pegang kayu ini!” ucap Adip memerintah Jingga. Jingga yang dari tadi berdiri mematung seperti orang bodoh kemudian mendekat. Mereka berdua berdekatan sangat dekat. Jingga tiba- tiba jadi berdebar- debar tidak bisa dijelaskan.
“Pegang! Tekan begini jangang sampai lepas!” ucap Adip.
“Ya!” jawab Jingga.
Adip kemudian berjongkok dan mengulurkan tanganya meraih tali yang melilit keujung kayu, sebab jika kayunya diangkat tinggi lilitas tali itu akan lepas. Saat tangan Adip hamir menyentuh karena Jingga dheg- dhegan pegangan Jingga oleh, talinya pun terlepas.
“Haiisshh! Yang bener megangnya! Gimana sih!” bentak Adip menoleh ke Jingga.
Dibentak Adip karena Jingga memang salah, Jingga hanya menunduk cemberut.
“Maaf!” lirih Jingga.
__ADS_1
“Sinih!” ucap Adip ketus menarik bambu dan yang berujung ranting itu. Adip kembali membungkukan badan dan mencoba meraih dan melilitkan tali ke ujung ranting, butuh konsenrasi tinggi dan kehati- hatian ekstra, harus sabar pula.
Jingga yang tadi berdiri di belakang karena sekarang di dekat Adip ikut memperhatikan bagaiamana susahnya membuat tali di atas air itu berhasil dikaitkan dan dililitkan ke kayu. Jingga ikut gemas dan bersemangat seakaan- akan Jingga ikut bergerak. Saat Adip berhasil, spontan Jingga tersenyum dan bersorak.
“Yeeyy! Alhamdulillah!” ucap Jingga spontan menatap Adip tersenyum dan bertepuk tangan.
Mendengar Jingga yang tiba- tiba bersorak dan menatap tersenyum sangat dekat, sekarang giliran Adip yang adi berdegub kencang dan gerogi. Saat Adip mengangkatnya pelan- pelan, lilitan talinya pun lepas lagi.
“Yah...!” dengus Jingga kecewa.
“Haish!” Adip pun mendesis kesal.
Mereka pun saling tatap sama- sama kecewa. Jingga kemudian menyunggingkan senyumnya dan mengerlingkan mata ke Adip agar mencobanya lagi.
Sayangnya Adip langsung memalingkan wajahnya menghindari tatapan Jingga. “Sial kenapa dia manis sekali saat tersenyum begitu” batin Adip pandanganya fokus lagi ke sumur dan ke ranting kayu yang sudah digabungka dengan bambu.
“Huft... harus berhasil!” batin Adip menjeda konsentrasi agar berhasil meraih tali timba air itu.
Jingga ikut tegang memperhatikan, suasanaya pun tenang. Adip kali ini benar- benar konsentrasi. Tidak mau diganggu, belum Jingga mengeluarkan suara Adip sudah melerainya.
“Diam jangan berisik!” ucap Adip sambil berusaha mengangkat bambunya.
“Ahkhh kan lepas lagi” jawab Adip mendesis menyalahkan Jingga karena Jingga menjawab perintah Adip. Adip pun menoleh Jingga kesal, padahal lepas karena Adip emang ingin lihat Jingga lagi.
Ditatap begitu Jingga pun diam.
“Diam jangan ngomong apapun!” bentak Adip.
Jingga tidak menjawab dan langsung menyentuh bibirnya agar meunutup.
Adip konsentrasi lagi berusaha lagi, kali ini berhasil, Adip melilitkan talinya lebih banyak agar kencang. Adip mengangkatnya perlahan.
“Pegang!” ucap Adip menyerahkan bambunya.
“Ya!” jawab Jingga.
“Yang kencang jangan bergerak tempelkan ke dinding sumur agar tidak lepas!”
“Ya!” Adip kemudian berjongkok bahkan semi tiarap mengulurkan tanganya meraih ujung tali.
__ADS_1
“Alhamduilillah!”
Ucap Adip dan Jingga lega, kali ini mereka berhasil mengambil timba tali utu. Adip pun langsung menimbanya.
Selain itu pula, Adip juga mengikatkan tali timba air itu ke pohon di dekat sumur. Jingga pun berdiri menunggu, mereka kali ini tampak kompak, meski Adip tetap suka membentak.
“Lain kali hati- hati!” ucap Adip melirik ke Jingga dan isi air di dalam ember.
“Iya, makasih!” jawab Jingga.
Adip kemudian menengadahkan wajahnya mellihat matahari.
“Kau sendirian?” tanya Adip.
“Tadi dibantu Prilly, tapi dia kembali,seperti ada yang...” ucap Jingga bercerita dan menjelaskan tapi belum selesai mengucapkan Adip seperti enggan mendengarkan.
“Pantes dapet banyak!” ucap Adip malah memotong dan menghina Jingga. Pantas air yang didapat lumayan banyak.
“Hoh!” ucap Jingga menggigit bibirnya kesal.
Adip tak menatap Jingga dan langsung mengambil timba dan menimba air untuk Jingga.
“Aku bisa melakukanya! Sini aku saja!” ucap Jingga meminta Adip menyerahkan timbanya, tidak terima dikatai Adip.
Tapi Adip tak mendengar Jingga apalagi menatapnya, Jingga seolah tak ada. Adip terus menimba dan mengisi air ember dnegan cepat.
“Iiih hop. Aku bisa, letakan nggak!” ucap Jingga.
Adip tak menghiraukan tau- tau air sudah penuh.
“Tak!”
Adip meletakan timbanya, lalu menatap Jingga dekat.
“Cepatlah mandi! Sebentar lagi anak- anak sekolah akan memenuhi kelas, kalian jangan bermalas- malasan dan mengulur waktu. Mereka meenunggu kalian!” ucap Adip dingin.
Adip lalu pergi tanpa menunggu jawaban Jingga. Jingga pun terdiam meliat punggung Adip menjauh, iya benar matahari sudah tinggi.
Sesuai pesan Nita, Jingga kemudian memanggil Nita kalau airnya sudah penuh. Jingga mengalah mandi terakhir.
__ADS_1