
“Turunkan saya di sini Pak!” ucap Jingga sampai di seberang kampusnya.
“Kenapa? Masuk saja sekalian!” jawab Pak Rendi ngeyel, Pak Randi justru ingin memberitahu ke orang lain agar siap yang mau mendekati Jingga harus berhadapan denganya.
“Pak!” bentak Jingga ngeyel tidak mau masuk ke kampus terlihat bersama dosenya. “Saya nekat keluar lho!” ancam Jingga ke Pak Rendi.
“Yaya!” jawab Pak Rendi mengalah, satu bentakan Jingga ternyata membuat Pak Rendi mengalah.
Jingga kemudian buru- buru membuka pintu mobil dan keluar.
“Gunakan sisa waktumu untuk belajar, saya akan adakan kuis mendadak, jangan kelayapan!” ucap Pak Rendi memperingati Jingga.
"Hmmm...."
Jingga sebenarnya mendengarnya, tapi Jingga tidak peduli, dan ingin melihat wajah itu lagi. Jingga terus berjalan menjauh.
Jingga memang tidak pernah bermain dan nongkrong, jadi Jingga tidak ada tujuan sambil mengisi waktunya sampai jam kuliah tiba. Jingga kemudian berjalan ke perpustakaan.
Sesampainya di perpustakaan Jingga tidak belajar, tapi Jingga justru menyusun rencana bagaimana caranya dia bisa protes dan beralasan untuk bisa pergi dari rumah tanpa bisa dilacak Babanya.
“Hhh... aku nggak durhaka kan kalau aku kabur?” gumam Jingga berfikir. Jingga kan anak Buna yang baik, tidak ada sejarahnya Jingga jadi anak nakal.
“Tapi kalau aku pergi apa kabar Buna? Gimana kalau aku kangen Buna? Ahhh tapi aku kessel sama Baba” gerutu Jingga lagi menelungkupkan wajahnya ke meja.
__ADS_1
Jingga lama menyandarkan kepalanya di meja perpustakaan. Jingga ingin Babanya percaya pada Jingga, dan Babanya memberi kebebasan ke Jingga, tapi kenapa semakin hari penyakit babanya semakin parah posesifnya.
“Ini gila, ini gila...! Ahh.. bagaimana aku bisa menghadapinya di kelas nanti?” Jingga terus merutuki keputusan Babanya yang amat sangat tidak adil buat Jingga. Kenapa juga harus dosenya.
“Aku harus pergi dari rumah dengan cara yang terhormat, tidak terkesan kabur, tapi aku harus bisa jauh dari Baba dan dosen gila itu!” batin Jingga lagi menemukan solusi.
Saat berjalan di mading tadi, Jingga melihat selebaran yang tertempel di papan. Di situ terpampang leaflet sebuah program, yang dibentuk oleh sebuah komunitas.
Dimana kegiatan mereka akan melakukan pengabdian ke masyarakat terpencil. Kebetulan Jingga ada tugas akhir semestee untuk membuat karya ilmiah pengabdian masyarakat.
“Ruang inspirasi” batin Jingga mengingat kembali judul kegiatan yang ditawarkan itu.
Jingga kemudian mengangkat wajahnya, menegakan duduknya dan merapihkan rambutnya. Seketika otak Jingga yang tadi terasa tumpul dan panas dipenuhi bayangan gila hidup bersama laki- laki tua, dan menikah dini itu sirna.
“Aku harus daftar kegiatan itu! Baba nggak bisa larang aku kan? Seharusnya Baba dan Buna bangga kalau aku ikut komunitas ini? Nggak ada alasan buat aku tidak ikut, Buna juga pasti dukung!” batin Jingga seperti mendapatkan lampu penerang di otaknya.
“Huh huh huh...” Jingga mengatur nafasnya karena berjalan cepat. Jingga berdiri tegak di depan mading, disusuri satu persatu selebaran yang tadi dia baca.
“Tadi di sini? Kok nggak ada?” gumam Jingga panik leaflet yang tadi tertempel sekarang sudah tidak ada.
Jingga kemudian mencari ke bawah takutnya jatuh tapi ternyata tidak ada juga.
“Yah...” keluh Jingga melemas.
__ADS_1
“Padahal itu sepertinya keren!” gumam Jingga lagi.
Jingga menghela nafasnya kecewa. Padahal dengan program itu, Jingga bisa dengan satu langkah menyelesaikan tiga permasalah hidupnya.
Pertama tugas libur akhir semester dengan membuat makalah pengabdian masyarakat. Kedua Jingga bisa jauh dari Babanya menghindar bertemu dengan dosennya itu, dan kalau bisa Jingga mempunyai jalan keluar agar bisa membuat rencana Babanya gagal.
Tapi sekarang, harapan Jingga pupus. Bagaimana Jingga bisa mendaftar kalau infonya saja sudah tidak ada. Jingga kemudian diam duduk di bangku dekat mading memikirkan nasibnya.
Tanpa sengaja Jingga mendengar percakapan seseorang di balik tembok tempat Jingga duduk. Jingga hafal suara itu.
"Siapa yang bertanggung jawab atas program ini?" tanya orang itu.
"Ini dari yayasan Yy dan sudah mendapat ijin dari Kementerian," jawab salah seorang mahasiswa yang ikut komunitas itu.
"Kalau terjadi apa-apa. Maaf misal sakit atau kecelakaan?"
"Kami ada tim asuransinya. Meskipun tidak digaji, tapi dari yayasan komunitas kami menjamin tempat tinggal makan dan kesehatan. Kami juga dapat bantuan dari pemerintah setempat!" jawab Mahasiswa itu lagi.
"Oh yaya. Bagus bagus!" jawab si penanya itu yang tidak lain Pak Rendi.
Jingga kemudian mengintip. Mata Jingga membulat sempurna saat melihat selebaran yang dia cari ada di tangan Pak Rendi.
"Oh my God. Ternyata dia yang ambil" batin Jingga.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Aku butuh leaflet itu untuk ikut seleksi dan mendaftar kan lumayan satu bulanku bisa menghindar dari Baba," gumam Jingga berfikir.
"Oh ya. Aku tanya ke pria itu kali ya?" batin Jingga lagi ingin tanya informasi langsung ke si orang yang menempel selebaran Itu. Tapi sayang orang itu membelakangi Jingga sehingga Jingga tidak bisa mengenalinya.