
Pesawat pribadi Baba mendarat di satu- satunya bandara yang bisa menampung pesawat besar di pulau P.
Kesan pertama Baba di tempat itu masih biasa. Tak ada yang aneh sama seperti di temlat lain.
Baba pun turun dikawal beberapa bodyguardnya. Tidak hanya bersama Amer, Pak Dino juga ikut.
Bahkan pengawalan rombongan Baba melebihi kunjungan kerja pejabat negara. Ada sekitar 10 bodyguard yang ikut. Orang suruhan yang disuruh berjaga di bandara mencari Jingga juga merapat.
“Silahkan Tuan!” sapa Pejabat setempat menyambut baik Baba Ardi.
Mereka kaget seorang pengusaha nomor satu itu tiba di tanah pelosok mereka.
Para pejabat dan pengusaha di penjuru negeri mengenal nama Baba. Seorang pengusaha yang kesuksesanya tidak diragukan lagi bahkan ke mancanegara.
Apalagi Baba dekat dengan presiden di negera itu, keluarga Pak Menteri pula.
Baba juga merupakan harapan besar bagi para pejabat daerah, agar Baba bisa memberikan investasi dan membangun daerah mereka.
Entah investasi pembangunan jalan, usaha atau pariwisata.
“Terima kasih!” jawab Baba dingin.
Baba memang seperti punya banyak topeng, jika bersama Buna bisa sangat manja dan menyebalkan, terhadap anak- anaknya bisa hangat dan tidak terbantahkan, tapi kalau di hadapan orang lain dingin dan diam.
Semua orang yang ada di situ juga dibuat tanda tanya. Sebelumnya tidak ada yang tahu kalau putri Gunawijaya bertandang dan tinggal di pelosok.
Jika mereka tahu dari awal pastilah Jingga akan diperlakukan istimewa.
Tahu- tahu beberapa orang suruhan Gunawijaya berkeliaran di bandara dan menyisir beberapa tempat mencari putrinya. Lebih kaget lagi, hari ini mereka mendapat kabar, seorang Ardi Gunawijaya akan bertandang langsung, ke daerah tertinggal itu.
“Maafkan kami, Tuan, kami tidakk tahu kalau Putri anda tinggal di desa kami! Mari silahkan duduk,” tutur salah satu pejabat membawa Baba di sebuah aula rumah mereka.
Sungguh orang pelosok, bahkan warga desa dan teman- teman Jingga memang tidak mengenal betul siapa Jingga sebenarnya.
Kalaupun ada yang tahu nama Jingga, mereka yang masih kalangan mahasiwa tidak mengenal betul bagaimana kekayaan dan kuasa Baba. Taunya Jingga anak orang kaya.
Jingga dan anak- anak Baba yang lain menuruni sifat Buna, ingin merakyat dan tak ingin mencolok saat bergaul. Mereka selalu berusaha apa adanya, meski tidak bisa berbohong mereka sedikit berbeda.
__ADS_1
Bahkan Jingga sendiri sangat risih dan selalu ingin kabur kalau Baba menugaskan pengawal menemaninya.
Baba diam tidak menjawab permintaan maaf dari pejabat tertinggi di pulau P yaitu gubernur ibukota pulau P.
Akan tetapi, Pak Dino dan yang lain yang bicara. Kedatangan Pak Dino anak buahnya adalah meminta data lengkap mengenai pegawai kontrak yang bernama Adipati Wirajaya itu. Biodatanya, gajinya, tugasnya absenya, teman- temanya dan wilayah kerjanya.
Tempat yang Baba kunjungi sekarang kebetulan dekat dengan laboratorium veteriner tempat Adip bekerja. Meski saat itu waktu sudah malam, kepala dinas di pulau P itu pun langsung datang membawa data Adip.
Setelah mendapatkan datanya mereka pun berpindah ke hotel terbaik di kota itu, hotel tempat Amer menginap dulu.
“Gleg!” Baba menelan ludahnya kaget melihat deret angka yang terjajar yang menunjukan gaji bulanan Adip.
“Ini penghasilan pria bernama Adipati itu dalam satu bulan?” tanya Baba spontan pada Pak Dino.
“Ya Tuan!” jawab Pak Dino, sang sekertaris yang kesetianya tak diragukan lagi.
“Hhhhh..., apa aku tidak bermimpi? Kenapa putriku jatuh cinnta pada pria miskin begini? Bagaimana Jingga akan hidup? Kenapa Jingga sampai rela mati dan melawanku demi pria miskin ini?” gumam Baba dalam hati berfikur.
Gaji pegawai kontrak di pulau P itu sangat kecil. Itu saja Adip belum gajian sampai sekarang. Tepatnya gaji Adip kurang dari tiga juta.
Bahkan dengan gaji asisten rumah tangga Baba lebih besar asisten rumah tangga di rumah Baba, separuh gaji tukang kebon di rumah Baba dan sepertiga tukang cuci di rumah Baba, seperempat gaji Baby Sister di rumah Baba.
“Bagaimana Tuan?” tanya Dino, melihat ekspresi Baba Ardi tertunduk lemas dan berfikir lama.
“Bagaiamana kabar, pencarian Putriku?” jawab Baba dingin balik bertanya.
“Masih belum ada kabar, Tuan!"
"Seberapa besar kemungkinan dia sudah berhasil sampai sini?"
"Kalau berdasar data, Nona Jingga belum atau tidak berangkat ke sini, kecuali Nona Jingga memakai ktp orang lain. Kita hanya bisa memastikan di tempat pemuda ini berada mengingat tujuan Nona Jingga berniat menyusul pria ini. Ada satu kemungkinan lagi, Nona memilih jalur laut!” jawab Dino, menganalisa.
“Tak,”
Baba meletakan balpointnya dan terdiam, kenapa tidak ada yang berfikir sampai ke situ.
Semua cctv bandara, data penumpang sudah diperiksa dengan jeli, tak ada nama Jingga memang. Kenapa tidak berfikir untuk bertanya di pelabuhan.
__ADS_1
“Benar juga katamu Din!” ucap Baba.
“Apa iya Kak Jingga bisa bertahan naik kapal, Ba? Kayaknya nggak mungkin deh” celetuk Amer merasa itu semua mustahil Jingga mau berhari- hari di atas laut.
“Telpon orang rumah, minta data penumpang di pelabuhan!” jawab Baba mengambil kesimpulan sendiri.
“Baik Tuan!” jawab Dino, sementara Amer memilih diam masih merasa aneh.
“Terus kita mau gimana Ba?” tanya Amer.
“Berapa lama perjalanan kapal untuk sampai ke sini?” tanya Baba ke Pak Dino tidak menghiraukan Amer.
“Paling cepat 7 hari bisa lebih tergantung cuaca, itu juga singgah dulu!” jawab Dino lagi.
“Haishhhh!” jawab Baba mendesis kenapa tidak berfikir sejak di rumah kemungkinan itu, malah buru- buru terbang.
“Berarti masih ada 4 hari lagi, itu waktu yang paling cepat menunggu Kak Jingga datang?” tanya Amer.
"Ya Tuan Muda!"
"Berarti kita tunggu data dari pelabuhan ya Ba!" ucap Amer
Baba masih diam.
“Bagaimana Tuan? Kiita lanjutkan perjalanan? Atau menunggu di pelabuhan? Atau kembali ke Ibukota dan kesini lagi 4 hari ke depan?” tanya Tuan Dino.
Baba masih diam, tapi Amer tampak gatal,
“Lanjutkan saja Ba...Baba mau menemui Bang Adip kan?” ucap Amer meminta.
Sayangnya Baba masih terus diam memegang informasi tentang besaran gaji yang Adip terima. Entah apa yang sedang memenuhi pikiran Baba. Akan tetapi Baba tampak sangat fokus.
"Ba!"
"Kita tunggu kabar dari pelabuhan. Benarkah Jingga naik kapal? Kapal apa? sampainya kapan?"
jawab Baba Ardi.
__ADS_1
"Siap Tuan!" jawab Pak Dino langsung menelpon pegawainya di ibukota
******