
Jika Jingga memilih diam merenung di atas batu di bawah pohon di tepi sungai. Adip langsung ke bilik mata air di lembah tebing wadas yang asri. Adip langsung membasuh wajahnya dengan banyak- banya air.
“Kenapa aku selalu merasa sekesal ini saat berhadapan denganya!” batin Adip mulai menyadari saat bersama Jingga perasaanya campur aduk.
“Huuuft!” Adip menghela afasnya lalu meneguk air pegunungan itu tanpa dimasak.
Desa hilir itu memang desa paling ujung di pulau itu, bahkan ujung negeri antah berantah itu. Desa itu langsung menghadap ke samudera luas yang langsung tembus kutub selatan.
Nilai plus desa itu, meski hilir, sebagian desa itu dataran tinggi, pasir pantainya juga pasir putih yang banyak tebing, gua kecil, air terjun dan terumbu karangnya.
“Kenapa aku begini?” batin Adip lagi menepuk dadanya yang terasa sedikit sakit, padahal tak ada yang menyakiti apalagi penyakit dalam.
Adip kemudian berjalan ke tempat yang kemarin ditunjukan anak- anak.
Lama Adip merenung, menikmati suara deburan ombak dan angin semilir. Adip berusaha menetralkan perasaan yang tidak dia mengerti ke Jingga.
Sayangnya semakin Adip berusaha memejamkan mata membuangnya, bayangan wajah Jingga selalu muncul di benak Adip, dan di saat itu pula, jantungnya berdegub lebih cepat, ada hawa panas yang menyala. Adip ingin kembali menemui Jingga lagi, memarahinya atau bahkan terus bersamanya.
“Hoh mallpraktek, katanya?” batin Adip kemudian memikirkan perkataan Jingga.
Adip kemudian mengeluarkan kalung perak yang selalu dia pakai, lalu dia lepas kalungnya. Lama Adip memandangi kalung itu. Sampai akhirnya, Adip meneteskan air mata, kemudian meremas dan menggenggam kalung itu ke dalam telapak tanganya.
Entah ada peristiwa apa yang dia ingat, yang berhubungan dengan kalung itu, tapi hal pasti kalung itu menyimpan duka mendalam di hati Adip.
****
Waktu terus berlalu ganti berganti hari. Hingga satu minggu terlewati.
Jingga yang mempunyai watak keras tapi kadang juga lembek dan cengeng, meski awalnya menangis hampir menyerah. Mendengar Adip yang melecehkanya dan menyuruhnya pulang, justru tertantang untuk membuktikan. Jingga bisa menakhlukan segala rintangan di desa itu.
Jingga yang tadinya bingung, takut dan baper didiamkan Nita, sekarang Jingga lebih tenang menghadapinya.
Jika tidak peduli bagaimana teman- teman mencibirnya. Terhadap Yuri yang berbeda perlakuan Jingga pun tak mempermasalahkanya. Jingga berusaha bersikap biasa dan bersahabat dengan kesendirianya.
Jingga belajar tangguh dan bertanggung jawab. Jingga berlatih menimba air dengan giat meski tanganya melepuh tak dia hiraukan.
Sebelum teman- temanya bangun Jingga lebih dulu bangun, mandi, wudzu, buang air dan mengisi air tanpa mengeluh.
Hingga tiba suatu waktu teman- teman Jingga masak, tapi Jingga tidak disisai makanan, Jingga tetap tidak mengeluh.
Jingga yang tak punya uang mengintip warga desa yang bertani di ladang belakang rumah dinas nya.
Jingga ikut- ikutan memanen Umbi tanah (Ketela ranbat), mencucinya, mencoba di makan mentah di cocol dengan garam.
Awalnya Jingga menangis tidak pernah menemukan hal setragis itu dalam hidupnya. Makanan Jingga rumah baba Ardi kan ada koki khsusnya selalu bersih hyguenia dan berkelas.
Tidak peduli apapun, karena kelaparan, tak ada bahan makanan lain, Jingga juga belum mahir membuat api. Jingga nekat makan ubi mentah.
Jingga hanya mengintip apa yang orang lain lakukan. Jingga pun terselamatkan dengan memakan ubi itu, malah perut Jingga terasa nyaman.
Yuri yang tadinya mendiamkan Jingga, memergoki hal itu jadi merasa bersalah, di situlah Yuri mulai mau buka suara lagi dengan Jingga.
__ADS_1
“Makanlah ini!” ucap Yuri dengan nada menunduk, mendekati Jingga dan memberikan olahan Ubi yang sudah direbus, ditumbuk dan dimbumbuhi gula bahkan dicampur dengan kelapa parut.
Yuri diam- diam memperhatikan Jingga yang duduk di teras makan ubi mentah sambil menangis. Hati Yuri terketuk.Yuri yakin Jingga bukan anak yang jahat.
“Terima kasih!” ucap Jingga mengambil makanan itu.
“Kapan kamu akan kembali ke sekolah?” tanya Yuri lirih.
Selama beberapa hari, gara- gara gosip Jingga itu nenek sihir dan anak- anak membenci Jingga, Jingga tidak ke sekolah lagi.
Jingga hanya terus di kamar dan sesekali berkeliling desa, tapi tanpa orang tahu, Jingga berkeliling sambil berfikir, mencacat dan mengamati kehidupan mereka di desa itu, termasuk makan ubi mentah.
Jingga penasaran, pertama saat tanpa sengaja Jingga melihat perempuan tua, di siang hari yang terik berteduh dan memakan ubi mentah itu dengan sangat lahap. Jingga menelan ludahnya saat itu. "Masih mentah kok dimakan? Kini Jingga ikut merasakanya.
“Besok!” jawab Jingga asal menjawab peetanyaan Yuri.
“Maaf aku mengacuhkanmu!” ucap Yuri lagi.
“Bukankah aku memang pantas diacuhkan?” jawab Jingga.
“Aku tidak tahu apapun tentang kode etik kedokteran atau prosedur dan hal lainya, jadi tidak seharusnya aku menghakimimu! Maaf ya. Aku yakin kamu nggak jahat!” jawab Yuri akhirnya, setelah sekian hari melihat Jingga diam sendirian, Yuri jadi bersimpati dan berusaha mengerti sudut pandang Jingga.
“Nggak apa- apa kok, hidup di situasi seperti sekarang memang bukan perkara mudah untuk menentukan sikap. Nyatanya Adip bisa menyelesaikan masalahnya kan? Mereka juga sekarang sehat dan lalu lintas kembali berjalan! Aku memang dokter yang payah!” jawab Jingga merasa lemah dan mengakui kehebatan Adip.
"Kamu tidak boleh berkata seperti Jingga. Meski aku tak mengerti dunia kedokteran, tapi aku yakin, kelak kamu akan jadi dokter yang hebat!" ucap Yuri menghibur Jingga.
"Benarkah?" tanya Jingga tersenyum kecut, Jingga merasa dirinya tak berdaya.
“Aku tahu, diam- diam tiap malam kamu belajar kan?” ucap Tari nyeplos tanpa Jingga kira.
Jingga kemudian menoleh ke Yuri.
“Kau tahu?” tanya Jingga menelan ludahnya malu.
Setelah hari Adip memarahi Jingga. Jingga langsung membuka buku sakunya. Di koper pakaian yang dititipkan lewat helikopter, buku- buku kedokteran buku tulis Jingga masih terselamatkan. Meski laptop dan ponsel Jingga hanyut, Jingga masih bisa mencatat dan belajar manual dari bukunya.
Program ruang inspirasi sesungguhnya, adalah ruang lingkupnya di sekolah, mengisi kekosongan guru bekerja sama memberikan inspirasi untuk anak- anak, mau berjuang mengubah takdir.
Tugas mereka mengenalkan berbagai macam profesi ke siswa- siswa dan berbagi banyak ilmu, Jingga justru sebaliknya.
Sambil menunggu kepercayaan anak- anak kembali mau menerimanya, Jingga banyak mengamati kehidupan di desa itu, lalu mengabadikan dengan mencatatnya.
Tidak sekali juga, Jingga memergoki dan memperhatikan kegiatan Adip, terutama saat Adip menyanggupi membantu meringankan keluhan warga yang sakit.
Jingga memperhatikan bagaimana Adip bertutur kata positif. Bagaimana Adip emberikan sugesti sehat dengan gayanya. Meski obat yang Adip berikan sangat terbatas, karena pengetahuan Adip bukan bidangnya ke manusia, tapi tetap bisa menyembuhkan.
Jingga juga beberala kali melihat bagaimana Adip saat mengajari warga tentang persiapan nanti menerima hibahan hewan ternak dari kota. Kini warga desa sedang ramai- ramai membuat kandang ayam.
Program dari pemerintah, Adip memang harus memberdayakan hewan ternak sebagai bahan pangan, mata pencaharian dan sumber gizi.
__ADS_1
Di hutan itu memang masih banyak ayam hutan, akan tetapi butuh waktu untuk menangkapnya, dan cukup membahayakan hanya untuk memakan ayam. Sumber daya alam dan tempat di desa itu melimpah. Sayang pengetahuan yang kurang membuat warga sering kelaparan jika kemarau datang. Mereka tidak tahu bagaimana mengurus hewan ternak, bahan makanan dan lain sebagainya. Itulah tugas Adip, membuat warga mengerti kekayaan mereka.
Tidak ada yang tahu, saat ikut mendengarkan sosiisasi Adip di balik dinding kayu, sesekali Jingga membuat coretan yang membentuk sketsa wajah Adip. Tidak Jingga sadari, Jingga juga mengagumi Adip dalam diamnya. Jingga bahkan mengukir kebaikan Adip bukan hanya di hatinya tapi juga di atas lembaran kertas putih yang bergaris- garis.
“Sesekali, aku terbangun, aku melihatmu sedang membaca buku tebalmu tengah malam. Kalau boleh tahu, buku apa itu?” jawab Yuri memberitahu Jingga kalau dirinya sering melihat Jingga belajar.
“Aku belum merasa percaya diri menghadapi pasien sungguhan, jadi aku harus membaca dulu banyak teori!” jawab Jingga jujur ke Yuri.
“Apa artinya kamu sedang mempersiapkan diri untuk bantu warga? Jadi kamu sekarang tertarik dan mau mengobati warga yang sakit?” tanya Yuri menyimpulkan.
Jingga diam, sebenarnya iya, Jingga sudah tergugah untuk melakukan itu, tapi semenjak siang itu, Adip selalu mengacuhkanya.
Jingga tak berani menyapa dan menegurnya. Padahal diam- diam saat Adip pulang dari mengobati pasien, Jingga mengikutinya. Jingga ingin minta maaf tapi tak berani.
Akhirnya Jingga hanya menguntit menunggu Adip pergi, lalu masuk ke puskesmas desa yang tanpa kunci itu.
Jingga memperhatikan obat- obatan yang ada di situ. Merapihkan sisa pekerjaan Adip dan belajar lagi, mengenali semua barang yang ada dan mengingat fungsi setiap alatnya.
Jingga iri pada Adip yang bukan dokter tapi berhasil membantu orang, entah darimana ilmu yang Adip dapatkan, nyatanya Adip percaya diri dan berhasil melakukanya.
Masa dokter sungguhan dikalahkan dengan veteriner, aku harus bisa. Aku pasti bisa, batin Jingga bertekad.
“Aku akan melakukanya saat aku siap!” jawab Jingga menoleh ke Yuri,
“Ya udah, bilang saja ke Bang Adip, kalian kan bisa bekerja sama!” jawab Yuri memberi solusi mengetahui niat baik Jingga.
Jingga terdiam, bagaimana akan bekerja sama, Adip tak pernah sekalipun mau menatap ke Jingga. Padahal selama seminggu ini, Jingga sudah mempersiapkan diri dan mengumpulkan niat dan keberanian yang banyak.
“Hmmm!” jawab Jingga menunduk.
Belum Jingga menyusun kata, Jingga ingin mencurahkan perasaan sedihnya karena Adip membencinya. Anak kecil yang bernama Maria berlari menghampiri Jingga dan Yuri.
“Nona guru, nona cantik!” panggil anak yang bernama Maria dengan nafas terengah- engah dan terdapat buliran keringat di keningnya.
“Ada apa, Adik cantik?” jawab Yuri bertanya. Maria adalah siswi di kelas Yuri.
“Cepat tolong Mama saya, mama saya dari pangkal kakinya mengalir erdarah, kami sudah pannggil bapak dokter. Tapi kata bapak kami harus panggil Nona cantik! Ayo nona cantik, tolong mama saya!" Ucap Maria.
Jingga dan Yuri masih mencoba mencerna maksud Maria.
"Kata Kakak Dokter, hanya Nona Cantik yang bias tolong itu mama saya dan adik saya! Biasanya kami ada Mama Bidan dan Nenek Sati, tapi nenek Sati sekarang sudah tua dan tak bisa tolong mama saya lagi! Bantu mama saya Nona cantik, mama saya kesakitan, darahnya keluar banyak!” ucap Maria lagi dengan kalimat tergesa- gesa.
Jingga dan Yuri kemudian saling pandang. Jingga kini menangkap cerita Maria. Ibu dari Maria ini sepertinya mau lahiran.
Dulu selain Bidan desa, ada dukun bayi bernama Ibu Sati, tapi Bu Sati sekarang sudah tua dan penglihatanya berkurang.
Yuri menganggukan kepala memberi kode ke Jingga. Sekarang waktunya Jingga.
“Iya, saya akan kesana!” jawab Jingga mengangguk.
“Temani aku!” ucap Jingga ke Yuri, Yuri mengangguk mau.
__ADS_1
Mereka pun berlari mengikuti Maria datang ke rumahnya.