
Yang tidak punya pasangan skip!!!!
Yang punya pasangan baca abis Isya aja!
Bak Singa kelaparan, saking laparnya hampir hilang tenaganya sehingga mau tidak mau memilih berhenti duduk dan tidur.
Akan tetapi belum juga terlelap, rusa betina itu malah centil- centil berjalan mendekat mengusik tidurnya.
Tentu saja, rasa lapar Singa itu kembali menyala. Si Singa bangun meronta ingin dipuaskan laparnya. Siap menerkam dengan buasnya.
Adip, sungguh sudah berhasil menenengkan birahiinya yang menyala tadi pagi. Mengalah menahan pusing, sekuat tenaga mendinginkan otaknya yang selalu dibuat tanggung oleh Jingga.
Cukup teralihkan dengan emosinya yang diaduk- aduk dengan kenyataan Om Dika. Kini Adip berganti mengelola rasa ingin diteduhkan. Berniat istirahat agar refresh berharap semua kembali tenang.
Sayangnya Jingga malah mengingatkan.
Padahal sebelumnya Adip kan merasa risih jika harus tidur dengan celana panjang dan berikat pinggang apalagi habis bepergian bau keringat.
Di gunung kan lebih nyaman dengan kolor atau training panjang. Tidah harus bagus yang penting nyaman. Niat Adip hanya berganti pakaian murni hanya mau berganti pakaian tadinya. Tak ada niat menggarap ladang gandumnya.
Jingga yang diberi wejangan Buna. Dipancing gurauan Adip, belum terbiasa berdampingan hidup dengan Adip, jadi semua gerak- gerik Adip, otak Jingga lah yang justru terhubung ke sana. Mungkin karena Jingga merasa berhutang dan merasa wajib membayarnya.
"Ehm....," Jingga berdehem, matanya melotot dan gelagapan.
Adip tak menjawab tanyanya, dan justru menatap Jingga dengan mata menyala.
Adip sangat sengaja melanjutkan gerakan tanganya dengan pelan seperti efek slow motion, menurunkan celana panjangnya, hingga kini tersisa kaos dalam tanpan lengan dan penutup si singa buas yang baru dibangunkan. Sekalian saja kaosnya dibuka.
Kata- kata Buna pun terngiang di telinga Jingga. "Kasian Adip Jingga. Kamu jadi istri tega banget. Segitu sakitnya belum ada apa- apanya, perempuan emang kodratnya merasakan itu. Kamu mau Adip memenuhi nalurinya dengan orang lain? Itu hak Adip, itu kewajiban kamu, dosa kamu"
Ya... Jingga mau Adip hanya melihatnya. Jingga mau Jingga satu- satunya. Tidak boleh ada yang lain. Jadi Jingga yang bertekad ingin cepat menunaikan tugas itu.
"Baang...," panggil Jingga gemetaran dan fokusnya ke pangkal paha suaminya.
Adip melihat mata Jingga dan mengikuti fokusnya. Adip malah tersenyum.
"Hemmm kenapa? Suka kan?" tanya Adip malah sengaja memamerkan ke Jingga dengan memajukan ke Jingga.
"Suka...," jawab Jingga wajahnya tiba- tiba memerah seperti kepiting rebus.
"Dia minta di sapa, pegang dong!" tutut Adip lagi dengan kerlingan mata dan suara rendahnya. Adip yang biasa tenang sekarang berubah nakal. Dan itu hanya Jingga yang tahu sisi lain Adip ini.
"Nggak apa- apa?" tanya Jingga ragu.
"Aiiissh...,cepat!"
Dengan tangan gemeteran dan menelan ludahnya. Jingga mengulurkan tanganya. Jingga ingat kata Buna, "Kamu mau Adip menyalurkanya ke orang lain? Kamu istrinya! Bahagiakan dia!"
Tangan Jingga kini menelusup ke celah kain itu. Lalu menurukan kain berkaret itu. Tongkat berkepala itu tertangkap di netra Jingga. Tampak kaku dan mulai mengeras, tapi masih ada lunak- lunaknya.
Jingga menelan ludahnya dan perlahan menyentuhnya, menggenggamnya dan mulai membelai lembut.
Adip tampak memejamkan matanya merasakan sentuhan yang mengalirkan listrik ke sekujur tubuhnya.
Sepersekian detik Jingga malah tampak tersenyum. Seperti asik dan heran sendiri.
"Dia bisa begerak sendiri ya Bang?" tanya Jingga malah menganggap itu mainan sebab saat Jingga sentuh si dia tampak bergerak lebih ke atas.
"Iyah... dia bergerak karena kamu," jawab Adip.
"Ini kita, siang- siang begini nggak apa-apa? Emak nggak curiga?" tanya Jingga kemudian matanya sudah mulai merah, mungkin Jingga sudah mulai berkedut juga.
Jingga masih was was.. lalu memeriksa ke sekililing barang kali ada celah dinding yang bolong.
"Lah emang kenapa? Ini kamar kita!"
"Malu..., kalau ada yang tahu,"
"Malu kenapa? Nggak usah mikirin lain. Fokus, kita kan udah suami istri. Emak lagi keluar Sayang, nggak akan dengar, emang mau kedengeran apa juga sih? Kan nggak teriak," jawab Adip meyakinkan Jingga.
Jingga semakin merinding, tubuhnya bergetar panas. Tongkat keras dan tumpul yang semalam mengoyak keras miliknya semakin tegak hampir ke pusar, bahkan uratnya ikut terlihat. Otak Jingga jadi semakin liarr travellingnya.
"Kenapa bengong begitu?" tanya Adip lagi.
"Kok bisa jadi sebesar ini?"
"Bisalah kan tadi kamu mainin! Dia pengen lanjutin yang semalam," jawab Adip mengeluarkan sisi nakalnya.
"Abaang," lirih Jingga maluu, rupanya travellingnya otak Jingga terlalu jauh dan justru membuatnya berkedut haus ingin disentuh.
"Kenapa? Hmmm," jawab Adip tersenyum.
Jingga tampak menelan ludahnya terdiam akan tetapi nafasnya tampak lebih cepat. Jingga menghentikan aktivitas tanganya. Adip sedikit kesal. Adip kan masih ingin disentuh Jingga.
Melihat ekspresi Jingga yang tampak ragu. Adip merasa harus bertindak, tanganya meraih dagu Jingga, mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya, memberikan lumaatan lembut pada Jingga.
Jingga menyambutnya mengalungkan tanganya ke leher Adip, membiarkan Adip semakin lihai memainkan lidahnya. Adip membuka Jingga jalan menuju keindahan.
Jingga juga semakin pintar, membalas paguutan Adip. Membalas menghiisap lembut bibir Adip. Bertemu lidah, bertukar saliva dalam basah yang hangat, saling membeliit. Lumaatan yang tadinya lembut, perlahan menjadi kasar.
Adip menuntun Jingga pelan sehingga mereka bangun dan menuju ke kasur yang berjarak hanya 3 langkah. Kini mereka terduduk di pinggir kasur.
"Ehm..," Jingga berdehem.
__ADS_1
Adip melepaskan pagutaan mereka.
"Buka jilbabnya yah!" ucap Adip lagi.
Adip kan sudah dibuka lebih dulu. Jingga malah masih rapat. Kali ini memang kebalikan di Pulau Panorama, harus Adip yang agresif.
"Iyah," jawab Jingga dengan suara bergetarnya patuh bersiap seutuhnya.
Pelan- pelan Adip membantu melepaskan peniti Jingga, lalu membuka kain penutup kepalanya.
"Abang kaget waktu pertama lihat kamu udah pakai ini?" tutur Adip sambil mengangkat kain itu. Begitu dibuka, kini leher jenjang Jingga kembali tertangkap di mata Adip, semakin menambah gairaah Adip.
Meski Adip sudaah sering melihatnya sebelum Jingga menutupnya untuk orang lain. Tetap saja, membuka pelan dari yang tertutup membawa rasa indah yang berbeda ketimbang melihat sesuatu yang sudah terbuka.
"Abang seneng kan? Jingga sekarang pakai hijab?"
"Banget, Sayang!"
"Jingga tutup aurat buat Abang?" ucap Jingga tersenyum.
"Makasih ya. Bang Adip bersyukur banget punya kamu,"
"Jingga juga bahagia dipilih Bang Adip," jawab Jingga.
Adip menatap Jingga dengan sepenuh hatinya. Bahagia sekali mendengar penuturan istrinya itu.
Gadis bawel manja dan katanya keras kepala ini ternyata mempunyai hati yang indah, lembut penuh syukur. Benar- benar tak sesuai terkaan awalnya yang terlihat sombong.
Adip kira akan susah membimbingnya, akan pusing dan kewalahan dibuatnya nanti. Tapi ternyata tetap ada satu sisi kepatuhan Jingga, bahkan bisa dikatakan Jingga sangat patuh, terbukti sekarang Jingga ada di kamar sempit itu.
Adip benar- benar sangat bahagia. Bahagia yang mampu menutup semua luka dan sedihnya. Bahagia yang membuat dia ingat, Alloh Tuhanya itu Maha Adil.
Adip pun mengulurkan tanganya menangkup satu sisi pipi Jingga. Lalu membelai dengan ibu jarinya lembut. Jingga sangat cantik.
Jingga membalas meraih tangan Adip dan menciuminya.
"Abang nggak boleh sedih lagi ya," ucap Jingga masih sempat memikirkan hati Adip.
Ya, Jingga sekarang mulai bisa memahami mata suaminya. Tugas Jingga bahagiakan Adip.
"Ssstt.. jangan bahas itu!"ucap Adip tidak mau ada hal lain yang menghancurkan momenya.
"Iyaah," jawab Jingga.
Adip kemudian memajukan lagi wajahnya sehingga mereka kembali menyatukan bibirnya.
Entahlah setelah menikah mereka jadi sangat suka melakukan itu, ceperti candu
Karena sudah dibuka hijabnya, kali ini Adip tak hanya bermain di bibir, tapi turun ke leher. Memberikan kecupan- kecupan basah yang membuat Jingga menggeliinjang, merasakan geli-geli seperti ingin terbang.
"Abaang, jangan kuat- kuat," desaah Jingga saat merasa sedikit pedih karena Adip seperti sungguh ingin memakanya, seperti vampir yang hendak menghisap darahnya.
"Iyah," jawab Adip terkekeh nakal melepas hisapanya, tercetak sempurna merah menyala, Adip jadi merasa hebat.
"Buka yah," ucap Adip lagi membuka kancing baju Jingga.
Panorma indah itu terlihat, melambai Adip, agar segera melakukan petualangan.
Adip pun merebahkan Jingga ke kasur bambunya itu.
Kasur yang alasnya dari susunan kapas randu manual dan alami, tidak tebal, tapi cukup empuk karena Emak rutin jemur, tidak juga bergelombang jika ditekan.
Itu pertama kalinya Jingga merasakan tidur dengan kasur jenis itu.
"Kreeet...," kasur itu sedikit berbunyi saat Jingga dan Adip berbaring bersama.
Jingga sedikit tersentak dan mendelik.
"Baang. Kok bunyi?" tanya Jingga panik.
"Kasur bambu kan memang begini, Sayang." jawab Adip santai tidak sabar melahap dua bulatan di hadapanya.
"Tapi aman kan?" tanya Jingga lalu memeriksa sekeliling, tampaknya sudah cukup tua.
"Aman... ini kayu dan bambu pilihan kok!" jawab Adip lagi.
"Okeh," jawab Jingga dan merebahkan dirinya dengan nyaman, menawarkan sajian indah untuk suaminya.
Adip tidak menunggu waktu, melanjutkan pendakian indah ke kedua gunung sekaligus. Bak pengembara yang siap mendaki mencari harta karun di ujungnya.
Adip mengasah keahlian jari jemari dan lidahnya, berkoordinasi dengan baik mengajak Jingga berpetualang rasa ke dunia cakrawala baru sebagai istri.
"Abaang...," usaha Adip berhasil, desaahan Jingga buktinya.
Tangan dan bibir Adip sekarang sudah kompak, pandai menyalakan listrik di tubuh Jingga.
"Jangan cuma yang kiri yang kanan juga!" ucap Jingga pelan malah ingin Adip bersikap adil ke kedua gunung itu.
Tidak perlu menjawab dengan kata. Adip menukar peran kerja anggota badanya. Yang tadi di kanan pindah ke kiri. Yang tadi di kiri pindah ke kanan. Tanganya bergerak memutar, memilin dan sesekali meremaas, bibirnya mengulang masa kecil yang tidak dia ingat.
Lama Adip singgah di puncak bukit itu, dan berhasil membuat sumur Jingga banjir.
Kali ini Adip tak perli ijin atau meminta. Jingga sendiri berinisiatif melepaskan semua pakaian bawahnya. Kini semua terbuka sempurna.
__ADS_1
Akan tetapi Adip tiba- tiba mengernyit..
"Kok beda?" pekik Adip.
"Beda apanya?"
"Semalam nggak segersang ini?" tanya Adip tidak terima lahanya berubah gundul.
Ternyata saat mandi di hotel, Jingga menyempatman membersihkan ladangnya dari rumput semak belukarnya.
"He... Jingga bersihkan Bang!"
"Kenapa dibersihkan?" keluh Adip ternyata tidak suka.
"Hoh!" pekik Jingga tidak menyangka.
"Kan Bang Adip udah bilang, lebih suka yang semalam, yang penting dirawat dan dijaga kebersihnya,"
"Iya Maaf," jawab Jingga patuh. Jingga belum peka keinginan dan mau suaminya.
"Please tahan ya. Jangan php in Abang lagi!" Adip bersiap membobol gawang lagi.
"Iyah...," jawab Jingga bertekad.
"Abang janji nggak kasar kok!" tutur Adip penuh perasaan.
"Iyaah," jawab Jingga memejamkan matanya.
Dengan mengucap doa, untuk kedua kalinya, Adip bertekad harus goll kali ini.
Adip memusatkan pikiranya fokus menuntun adik kecilnya menembus pintu yang sempat dia terobos.
"Blesss...," kali ini jalanya lebih lancar. Tak ada lagi hambatan meski masih sedikit terjal. Jalanya juga lebih halus karena yang adip rasa lebih banyak cairan daripada sebelumnya.
"Ouuuhh" Adip merasakan sensasi rasa yang luar biasa saat semua tongkatnya berhasil tenggelam. Lalu merasakan seperti ada cengkeraman lembut dari kedua dinding sempit itu.
Jingga yang menahan nafas dan memejamkan matanya membuka perlahan. Wajah Adip tepat di atasnya dengan ekspresi yang sangat langka.
"Udah berhasil?" tanya Jingga merasa ada yang mengganjal di bawahnya.
"Udah.. sakit nggak?" tanya Adip dengan suara bergetar bercampur nikmat.
"Nggak... Bang, sedikit pedes, tapi sekarang enak Bang.. pengen digerakin," ucap Jingga sama dengan ekspresi seperti Adip. Ekspresi menuntut lebih.
Masih di posisinya, Adip mengecup kening Jingga, senang sekali berhasil gooll.
"I love you," ucap Adip lembut.
Jingga tersenyum mengangguk.
Mereka kemudian berlanjut mengikuti nalurinya. Saling mengerahkan tenaga, bersinergi bersama membuat pacuan yang berirama. Saling memberi dan menerima. Tenggelam dalam rasa nikmat yang kata orang surga dunia.
Bahkan Adip dan Jingga tidak peduli lagi apa yang ada di luar dinding rumah anyaman bambu itu. Tidak lagi peduli terhadap deritan kayu di bawah mereka. Tidak khawatir apapun.
Mereka malah semakin menambah tenaga. Bergeluut dalam perlehatan hebat untuk pertama kalinya. Hingga sekitar 20 menit berlangsung.
"Hooh," tiba- tiba Jingga ingat pesan Oma dan Buna. Jingga belum sempat diskusi dengan Adip.
Tapi Adip malah terlihat mengerahkan seluruh tenaganya bersiap menembak. Jingga pun berusaha sekuat tenaga menolak sehingga mereka malah sama-sama mengeluarkan tenaganya maksimal. Tiba- tiba. "Kreek...Brug!" mereka terperosok di bagian tengah tubuhnya.
"Aaaakh," pekik Jingga spontan tulang belakangnya sakit. "Plak!" Jingga langsung memukul tubuh yang meniindiih di atasnya.
Bersamaan dengan sakit itu, Jingga merasa ada cairan hangat yang menembus di dalam miliknya.
Mereka berdua terperosok di cekungan kasur. Ternyata dua batang kayu di bagian tengah kasur Adip keropos dan tak kuat menyangga lagi lucunya kayu bagian tengah.
"Ssssttt..." Adip langsung membungkam Jingga. Mereka kini berhdapan dengan keduanya sama- sama berkeringat dan terperosok. Untung masih ada kasur. Jadi mereka masih tersangga.
"Adiiip?" panggil Emak.. mendengar suara itu.
"Aaaiih," keluh Jingga menggigit bibirnya sangat kesal dan malu.
"Diiip! Ada apa?" panggil Emak lagi
Adip dan Jingga di dalam sama- sama menahan suara pura- pura tidur. Nggak mungkin kan mereka membiarkan emak tahu dan masuk.
Emak pun kebingungan, tapi emak yakin ada suara kayu patah dari dalam. Lampu di otak emak kemudian menyala. Anaknya kan pengantin baru.
"Astaghfirulloh," pekik Emak langsung nyambung menutup mulutnya.
"Jangan- jangan?? Aduh.. bapak ini? Lupa. Kasur Adip kan memang lama tidak di tempati, kayunya kan ada yang keropos belum diganti?" gumam Emak berfikir.
Emak pun tak berani mengganggu dan memilih menjauh.
"Hoooh," Adip mengela nafasnya berusaha bangun sekaligus mencabut pusakanya yang mulai mengendur.
Jingga pun menyeringai menahan sakit yang bertubi.
"Bantuin!" keluh Jingga.
Kasurnya memang tak sepenuhnya ambruk, tapi patahan itu membuat mereka terperosok dan menekuk, sudah ditiindih Adip ketekuk lagi. Kan Jingga sakitnya double.
"Iiih...kessel!" pekik Jingga ngambek dan memukul Adip.
__ADS_1
"Maaf" ucap Adip terkekeh. "Nanti Bang adip betulkan."