
Sudah menjadi adat dan kebiasaan masyarakat di distrik M di pulau P itu, mereka akan beramah tamah dan menyediakan banyak makanan khas daerah situ jika ada tamu dari kota yang hendak menolong mereka dengan pengabdian ilmunya.
Padahal sebagian kabupaten dan provinsi di Pulau P itu, akan bersikap memerangi dan menganggap pendatang baru musuh, untungnya tempat yang dipilih adalah tempat yang penduduknya ramah. Jingga dan yang lain patut mensyukuri hal itu. Itu sebabnya juga Baba Ardi jadi kebakaran jenggot.
“Mari duduk...mari Nonae!” ucap ketua suku mempersilahkan Jingga duduk.
“Terima kasih, terimak kasih!” jawab Jingga ramah menganggukan kepala.
Jingga kemudian duduk di dertan kursi paling depan di gereja sederhana itu. Gereja yang terbuat dari bangunan kayu, seperti sudah tua.
Suasananya suasana khas pedalaman dengan patung Bunda yang tampak anggun memukau di hadapan merka. Di atas tembok kayu yang tinggi besar itu juga terdapat salib dan yang besar. Lalu di tengah ruangan menggelantung lampu listrik,tetapi di sisi- sisi dinding juga tertempel lentera corong berbahan minyak tanah, mungkin itu cadangan kalau listrik padam.
Jingga mengajak Yuri, Tari dan Lili duduk bersamanya, tentu saja bagian depan yang sudah duduk lebih dulu adalah Adip dan dua rekan Adip yang tiba 1 minggu lebih dulu.
Mereka juga sama dengan Adip akan menjadi tim pekerja kontrak program Negeri Sehat, sayang profesi dan penempatan mereka berbeda, karena Adip bekerja untuk kementerian pertanian, ketahanan pangan dan hewan ternak, sementara rekan Adip yang lain bekerja pada kementerian kesehatan. Di depan pun terisi 7 orang yang lain berbaris di belakang.
Semua orang terkesima dan terkagum melihat kecantikan Jingga. Apalagi di daerah situ, warna kulit mereka sangat berkebalikan dengan warna kulit Jingga.
Jingga yang tinggi, dengan badan proporsioal, kulit putih bersih dan sehat, ditumbuhi sedikit bulu halus, bibirnya yang merekah menawarkan keanggunan dan kedamaian, matanya yang bersinar menyiratkan ketulusan dihiasi bulu mata yang lentik. Rambut Jingga juga panjang, hitam dan lebat sangat terawat, sempurna.
Penduduk daerah sekitar langsung menamai Jingga seperti bidadari atau tokoh film seperti yang mereka lihat di layar televisi, dan kini ada di depan mereka.
Beberapa mahasiswa yang hatinya tulus bisa mengerti kenapa orang memperlakukan Jingga dengan baik dan istimewa. Seseorang yang mempunyai kelebihan fisik di atas rata- rata kan memang selalu menjadi pusat perhatian, sementara mahasiswa lain beberapa ada yang memandang tidak suka.
“Nit kan lo yang jadi ketua tim di desa T, kok Jingga sih yang duduk di depan?” bisik Siska mengompori Nita sang ketua kelompok Jingga.
“Biarin! Liat aja nanti gimana dia kalau udah di kampung! Di sini kan masih di kota, dia bisa bertingkah, kalau di desa dia nggak nurut, kita kerjain aja!” jawab Nita berniat jahat.
“Oke!” jawab Siska berbisik mereka sebenarnya pemimpin tim, tapi mereka malah duduk di bagian belakang.
Jingga yang duduk di depan dan berdekatan dengan Adip menunduk diam. Duduk di depan sendiri langsung mengadap ke tempat peribadatan orang lain cukup membuat Jingga merinding dan terasa asing, tapi inilah keberagaman dan toleransi. Jingga menikmati ini semua.
Adip melakukan hal yang sebaliknya. Adip sedikit menghadap ke rekan pekerja kontraknya, mengobrol dengan asik tanpa menoleh ke Jingga, lebih cenderung membelakanginya. Padahal dada dan hati kedua manusia itu sama- sama sedikit mengembang.
Jingga melakukan hal yang sama, mencondobgkan wajahnya menjauhi Adip. Jingga tidak mengobrol, karena Tari dan Jingga terlihat gugup masuk ke ruang itu.
Jingga pun tanpa sengaja mendengar obrolan Adip yang membahas pekerjaan mereka. Ternyata rekan Adip yang di sampingnya satu orang dokter laki- laki satunya lagi yang duduk di pojok seorang bidan.
“Di sini kecamatanya sangat luas Kak, jadi puskesmas di kecamatan fungsinya hampir sama seperti rumah sakit di tempat kita!” ucap dokter itu yang bernama dokter Reza menjelaskan.
__ADS_1
Jingga yang mendengarnya menelan ludahnya, “Apa itu berarti dia akan menjadi dokter perbantuan satu- satunya di desa? Berarti orang di samping Adip akan jadi partnerku?” batin Jingga diam.
“Oh gitu? Harus bekerja keras kalian y!” jawab Adip.
Jingga kira, Adip akan mengenalkan Jingga ke Reza sesama orang medis, tapi nyatanya Adip mengacuhkan Jingga dan melanjutkan ngobrol tanpa menyinggungnya. Padahal Jingga sudah bersiap memperkenalkan diri sebagai calon dokter.
"Ishh!" batin Jingga geram, ingin ikut ngobrol tapi tengsin karena dicuekin.
“Di puskesmas kita dibantu beberapa perawat, bidan dan satu dokter tetap, tapi ya itu akses ke desa, susah. Ini tantangan Kak. Kakak sendiri bagaimana?” ungkap Reza menjelaskan.
“Sebenarnya saya bekerja di kantor balai pengawasan peternakan dan pemberdayaan ketahanan pangan dari hewan. Seminggu sekali gue ke kantor pusat di kota, tapi gue akan lebih banyak bekerja di lapangan mengajari masyarakat untuk pengembangan ternak dan budidaya pangan. Jadi gue langsung ke sini saja, untuk cek lokasi dulu! Aku sih ikut aturanya saja, aku juga lebih nyaman bekerja di lapangan daripada di kantor,” jawab Adip.
"Iya Kak. Lebih menantang di lapangan!"
"Semoga betah ya!" ucap Adip.
Jingga yang mendengarnya langsung mengeratkan rahangnya. ”Benar, Adip adalah seorang veteriner, dia orang yang sama dengan yang Bunga ceritakan,” batin Jingga. Jingga diam lagi menguping, tidak berani menoleh.
“Kakak sebelumnya pernah ke sini?” tanya Reza.
“Gue kkn di sini!” jawab Adip.
Daerah desa yang di tempati Jingga dan Tari memang daerah yang mempunyai potensi alam yang bagus untuk dikembangkan masyarakatnya sebagai daerah sumber pangan, mengingat wilayah kabupaten situ banyak hutan dan sebagian berburu.
Pemerintah pun mengusahakan produksi penyedia pangan dengan baik. Sebagai tempat untuk budidaya ikan, dan peternakan lain. Itulah sebabnya mereka mengirimkan seorang veteriner sebagai guru masyarakat.
Di daerah situ juga ada desa yang terdapat habitat hewan langka yang harus dilindungi, jadi Adip tertantang saat mendapat informasi lowongan tugas di daerah situ.
Setelah semua duduk dan bosa basi sebentar, semua petinggi kecamatan itu datang, Jingga dan Adip meluruskan duduknya menghadap ke depan. Acara penyambutan di mulai.
Acara dimulai dengan doa dan menyanyi bersama dari warga kampung, lalu sambutan- sambutan selamat datang dan salam perkenalan yang diwakili oleh Aji ketua tim kelompok Tari. Setelah acara sambutan selesai mereka pun menikmati hidangan yang tersaji. Adip dan Jingga kemudian saling menjauh.
Meski sepanjang acara mereka berdekatan mereka sama sekali tak saling sapa atau mengobrol, tapi saat makan dan menjauh, Adip selalu curi- curi pandang memperhatikan kemana Jingga makan dengan siapa dan apa yang diambilnya.
"Yang ini, yang olahan halal lihat itu ikan, yang ini babi, dan burung!" bisik Adip ternyata perhatian ke Jingga, sambil berjalan membawa makanan ke arah bangku, melihat Jingga berdiri bingung, Adip membisikanya di belakang Jingga.
"Hoh!" pekik Jingga kaget mengetahui Adip di belakangnya, tapi saat Jingga menoleh Adip langsung pergi dan duduk mencari kursi.
__ADS_1
Jingga pun menelan ludahnya dan merasakan jantungnya berdegub lebih kencang. Adip tahu darimana Jingga sedang kebingungan, menu ayamnya sudah tinggal tulang- tulang kecil. Sementara menu daging masih banyak, ikan juga,tapi Jingga ragu memakan ikan yang besar.
Sesuai saran Adip, Jingga kemudian mengambil Ikan yang dimasak dengan cara yang aneh menurut Jingga. Ikan itu tidak digoreng atau dibakar, melainkan di campur kuah kuning. Jingga pun mencicipinya meski awal rasanya aneh,karena lapar Jingga makan saja.
Semua pun menikmati makan dengan nikmat, memilih makanan sesuai selera dan kepercayaan. Mahasiswa yang ada juga mempunyai keyakinan yang beragam.
Setelah selesai makan. Meski berhadapan dengan orang berlainan kepercayaan, tapi Adip tak ragu bertanya dan meminta ijin ke ketua suku.
“Mohon Maaf Bapa Tua!” sapa Adip sopan ke ketua suku.
“Ya, Bapa, Dokter ada yang bisa kami bantu?” jawab ketua suku ramah.
“Kami, muslim, kami hendak melakukan ibadah sholat, dimanaa tempat kami bisa melakukanya?” tanya Adip sopan.
“Waah... kalau di sekitar kantor sini, mayoritas kami bukan muslim, ada satu masjid di desa T, jauh!”
“Waduh! Bagaimana ya? Dimana kami menginap malam ini?” jawab Adip bertanya balik.
“Untuk Nona- nona, bisa tidur di rumah kami nanti istri- istri kami, tunjukan jalanya. Kalau Bapa dokter dan kawan lain yang laki- laki, ada rumah dinas di kantor sebelah puskesmas!” jawab Bapak ketua suku.
“Baik terimakasih Bapa Tua!” jawab Adip.
Seusai makan mereka pun dibagi, Adip dan rekan yang lain menuju rumah dinas kecmatan. Yang lain ikut istri ketua suku menginap di rumahnya. Meski masih tergolong di kota kecamatan, tapi rupanya tempat itu masih tertinggal. Belum semua rumah mendaapatkan listrik hanya kantor- kantor untuk kepentingan umum dan rumah pejaabat.
Rumah pejabatnya pun terbatas. Rumah di tempat itu berbentuk rumah panggung tapi besar. Saat mereka naik dan menginjak tangganya akan keluar suara rekatan yang khas.
Jingga menatap sekeliling terlihat besar dan nyaman,tapi cukup mengerikan. Benar ternyata, di bawah rumah panggung itu banyak anjing berkeliaran.
Adip dan yang lain kemudian menunaikan sholat di kamar masing- masing. Perempua yang berjumlah 8 orang kemudia dibagi menjadi dua kamar. Meski berbeda desa dan kelompok, Jingga, Tari, Lili dan Yuri tidur di satu kamar. Karena rumah itu rumah kayu mereka tidak tidur di ranjang melainkan di atas lantai kayu berasakan tikar, sama sekali tidak empuk.
“Ini rumah kepal suku?” tanya Jingga.
“Ya, kamu tidak lihat sepanjang jalan tadi? Ini rumah paling besar dan terang. Jangan bayangkan seperti apa rumahmu di desa T nanti, sudah sana sholat terus tidur!” ucap Tari memberitahu.
“Hape gue lowbat, bisa ngecharge nggak ya?” tanya Jingga melihat sekeliling tidak ada stop kontak.
“Listrik di sini terbatas,besok aja, aku lihat tadi ada stop kontak di depan, gue takut!” jawab Tari lagi.
"Oke!" jawab Jingga.
__ADS_1
Akhirnya Jingga dan yang lain mengalah membiarkan ponsel mereka mati.