Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
236. Kasih Ijin


__ADS_3

“Biar nggak kemalaman, kita pamit langsung, ya Sayang!” tutur Adip berjalan sambi menggosok rambut basahnya sehabis mandi wajib. 


“Baba sakit hati nggak ya Bang?” tanya Jingga ragu. 


“Sakit hati kenapa?” tanya Adip. 


“Kita nggak nginep di sini,” tutur Jingga menunduk. 


“Enggaklah, Sayang... Baba akan ngerti, kita kan sekarang udah menikah, kamu tanggung jawab Abang,” ucap Adip dewasa. 


Jingga hanya diam menunduk. Sebelum mandi Adip dan Jingga kan sudah berdiskusi.


Hati Jingga, cinta Jingga tubuh Jingga sepenuhnya sudah Jingga tautkan pada Adip. Jingga pun tak dapat membangkang lagi. 


“Sholat dulu yuk!” ajak Adip. 


"Ayuk!" jawab Jingga.


Mereka berdua di dalam kamar, berjamaah berdua. Mereka tak jamaah bersama Baba dan yang lain sebab waktunya emmang sudah bukan awal waktu. 


Setelah itu, Jingga mengemasi pakaian panjang dan tidur yang akan dia taruh di rumah kecilnya. 


Setelah semua siap mereka turun.


Orang yang pertama Jingga cari adalah Nila. Jingga langsung ke kamar Nila tanpa permisi sementara Adip turun membawa koper. 


****


“Nilaa..,” panggil Jingga ke Nila. 


Nila terlihat duduk di balkon kamarnya, jilbabnya dia buka dan rambut panjangny terurai. Nila terlihat sangat imut, masih seperti bocah. Kalau pakai Jilbab, Nila terlihat lebih dewasa.


“Kakak...,” pekik Nila lirih, wajahnya langsung pucat. 


Jingga pun menutup pintu kamar hati- hati. Jingga mendekat ke Nila dengan wajah malu.


"Boleh Kakak duduk di sini?" tanyq Jingga menunjuk bangku kosong di dekat Nila.


"Ya Kak!"


"Ehm..," Jingga berdehem menatap Nila. Nila yang ditatap langsung sensitif.


“Kak Nila minta maaf,” tutur Nila gemetaran minta maaf duluan sebelum Jingga bertanya. Nila yang hatinya lembut memang mudah meminta maaf dan merasa bersalah. 


“Nggak apa- apa," jawab Jingga tersenyum lalu menatap Nila.


"Jadi kamu benar tadi ke kamar kakak, dan lihat Kakak?” tanya Jingga malu. 


Nila menundukk malu sendiri juga. Nila mengisyaratkan ita tapi tidak berani jawab.


“Kakak maafin kamu, kakak juga minta maaf, kakak yang ceroboh. Kakak pikir kamu tahu, kakak sekarang punya suami, kakak udah nggak kaya dulu yang bisa berbagi kamar sama kamu,” tutur Jingga lembut berbesar hati pada adiknya sudah dua kali mendapatkan menstruasi. 


“Iya Kak. Nila minta maaf,” jawab Nila lagi. 


Jingga kemudian maju dan memeluk Nila. 


“Ada apa ke kamar kakak?” tanya Jingga.


“Nila mau minta kunci motor Kak Adip, Iya dan Iyu corat coret motor Bang Adip, Baba suruh pindahin,” tutur Nila bercerita. 


"Whooah!" Pekik Jingga kaget. "Corat coret? Pakai apa?" tanyq Jingga kagaet.


"Pisau Kak!"


“Astaghfirulloh, Iya... Iyu.... benar- benar dia ya? Itu kab motor hasil kerja kerasnya, Bang Adip, buat kerja lagi.” gumam Jingga jadi gemas ke adik bungsunya, iseng dan nakalnya kelewatan. "Huuuft, terus sejarang gimana?"


"Tadinya Baba suruh pindahin motornya, sekatanh Iya sama Iyu ada di Buna,"


"Oh ya udah!"


“Maaf ya Kak,” ucap Nila lagi. 


Jingga pun tersenyum menatap adiknya yang snagat imut ini. Jingga lalu membelai lembut rambut adiknya. 


“Sudah jangan minta maaf terus, di sini kakak juga salah. Kakak nggak kucnci dnegan benar, kamu jadi harus melihat yang nggak seharusnya. Please jangan cerita Baba dan Buna. Bersikaplah biasa sama Bang Adip ya!” tutur Jingga lagi.


“Iya Kak!” 


“Kamu sudah menst kan?” tanya Jingga lagi. 


“Sudah kak,” 


“Kamu udah paham kan? Apa yang kamu lihat tadi?”

__ADS_1


Nila menunduk lembut dan malu. "Yah!"


“Lupakan apa yang kamu lihat tadi. Seahrusnya kamu tidak boleh. Ini lah yang kakak sering bilang ke kamu. Menikah itu bukan hanya sekedar niat kamu bahagiain Baba, Nila. Menikah itu tentang hidup kamu. Untuk melakukan seperti apa yang kamu lihat tadi, orang itu harus dengan saling kenal dan cinta. Harus dilakuakn di usia yang sudah mumpuni,"


"Kamu masih sangat kecil, Pak Rendi sudah sudah dewasa dan berumut. Kalian juga belum saling kenal. Kakak minta sebelum terlambat. Kamu bisa menolak mau ibunya Pak Rendi dan Baba.. kakak masih berharap kamu matangkan dulu mentalmu, Nila! Kamu kelak bisa temuin jodoh kamu yang lebih baik dan kamu cinta!” tutur Jingga.


Jingga malah otaknya terhubung ke Rendi lagi. Berharap Nila berubah Nila pikiran.


Nila menunduk.  


Sayangnya lain kepala lain isi. Jika Jingga berfikir, Nila akan ngeri, illfell dan takut, membayangkan tidur dengan orang yang asing dan jauh lebih tua. Kenyataanya, Nila malah jadi timbul penasaran.


Ya iyalah beda, orang Jingga kan sama Pak Rendi kesal dendam sangat tahu watak Pak Rendi yang kaku, sementara Nila senang kagum karena hanya melihat tampangnya.


“Nila..., kamu dengar kakak?” tanya Jingga. 


“Ya Kak!” jawab Nila. 


“Kamu paham kan maksud Kakak?” tanya Jingga lagi. 


“Ya!” jawab Nila. 


“Pikirkan baik- baik, kalau kamu butuh bantuan Kakak, panggil Kakak, kakak akan bantu ngomong ke Baba dan batalkan perjodohan kalian!” tutur Jingga lagi pasang badan mengira Nila sependapat denganya.


“Ya Kak!” jawab Nila masih diam dan iya- iya aja.


“Kakak mau pulang ke rumah Bang Adip. Ya udah kakak turun ya!” pamit Jingga.


“Iya Kak!” 


*****


Di bawah 


Adip membawa koper berniat menaruhnya di motor.


Sesampaianya di motor, Adip langsung melotot tertawa dan garuk- garuk kepala.


“Hadeehh...,” gumam Adip.


Ternyata begini rasanya punya saudara banyak dan punya bocil. Adip pun jadi terbayang punya bocil sendiri. Bagaimana kalau sifatnya kaya Jingga ya.


“Maaf Den...,” tutur Mang Diman mengagetkan Adip. 


“Itu tadi, Den Biru dan Hijau yang mainan. Tuan Ardi sudah tahu kok, mau saya pindahkan tapi dikunci stang!” tutur Mang Diman lagi. 


“Nggak apa- apa, malah jadi keren ini motifnya,” jawab Adip bersikap positif motornya bercorak corat coret random.


Baba yang baru terima telpon dari anak buahnya mendengar Adip pun langsung mendekat. 


“Adip... kamu kok bawa koper?” tanya Baba. 


“Ya Ba... Adip sama Jingga mau bicara sama Baba dan Buna!” jawab Adip meminta ijin. 


Baba mengangguk. 


“Oke ayuk, mana Jingga dan Buna?” tanya Baba. 


Mereka kemudian masuk ke ruang santai lagi. Adip pun melirik ke atas menanti istrinya. tidak lama Jingga keluar. Buna juga ikut mendekat. 


“Ada apa Nggak? Kok kalian udah rapih? Mau berangkat sekarang? Nggak capek? Buna sama Baba rencana juga mau ikut jenguk Emak,” tanya Buna mengira Adip dan Jingga mau balik ke kampung Emak.


“Tama udah ketemu! Dia berusaha kabur lewat laut, anak bua Baba sudah bawa dia ke markas, baba tenaganya sudah berkurang. Amer dan Ikun baru berangkat kemarin, kamu kalau gatal mukul orang, datang aja nanti ikut Arlan,” ucap Baba menimpali memberitahu.


Baba Ardi menawarkan barangkali Adip ingin bermain dengan Tama. 


Adip sih udah pernah hajar Tama duluan sampai babak belur. Lebih puas malah karena satu banding satu di saat Tama sehat. Kalau sekarang tama sudah diborgol rasanya pasti beda. 


Jingga dan Adip lalu saling mengkode dengan tatapan mau jawab siapa dulu. Jingga pun memilih diam, biar Adip sebagai pemimpin yanh jawab.


“Adip sudah puas pukul Tama sebelumya Ba.. saat di pulau Panorama dan di Asrama. Ada hal lain yang harus Adip pikirkan,” jawab Adip bijak.


“Nggak nyesel kamu?” taya Baba. 


“Mukul orang yang sudah tak berdaya rasanya hambar Ba... tidak menggaairahkan, Adip percaya Baba,” jawab Adip santuy. 


“Oke... biar hukum Gunawijaya yang berjalan,” jawab Baba. Buna yang tahu hanya diam. 


Kebiasaan Gunawijaya, pertama kasih ampun serahkan ke polisi. Tidak mempan dan masih jahat, habisi dan lemahkan haratnya, kalau sekiranya baik dan tidak fatal, polisi yang adili. Tapi kalau parah dan membahayakan, orang Baba akan siksa si penjahat dulu sampai ada cacat, tapi tidak emninggal, baru serahkan ke polisi.


Baba pun langsuny mengambil ponselnya, memberikan perintah eksekusi ke anak buahnya. Kasih Acc para bodyguard Baba yang bertindak. Tidak lupa memerintah Dino tikung dan kuasai semua usaha Tama.


“Satu lagi, Ba... Bun!” tutur Adip lagi. 

__ADS_1


“Apa?” 


“Adip ke Emak besok pagi, malam ini Adip mau pamit,” tutur Adip lagi. 


“Pamit?” tanya Buna. 


“Jingga kan sekarang sudah jadi istri Adip. Adip mohon ijin ke Baba dan Buna, ijinkan Adip, mulai sekarang tentang Jingga, kuliah Jingga, makan Jingga dan tempat tinggal Jingga, jadi tanggung jawab Adip,” tutur Adip pelan dan mantap. 


“Ehm... ehm...,” Baba berdehem dan menegakan Badanya. 


"Kamu mau nanggung kuliah Jingga?" tanya Baba.


"Iya Ba?"


"Kamu sudah tahu berapa uang semesteenya?" tanya Baba memastikan. Baba hanya berfikir gaji Adip kan hanya 5 juta.


Jingga dan Adip kan sudah berdiskusi, tadi di kamar. Hitung- hitungan, Adip merelakam uang tabungan yang Adip ingin untuk lanjut S2 nya untuk Jingga saja.


"Sudah, Ba!"


"Maaf Nak Adip... Bukan ayah Jingga ragu. Tapi sungguh, Jingga kan anak Baba dan Buna..Pendidikan Jingga masih tanggung jawab kami, nggak apa- apa kita yang tanggung pendidikan Jingga sampai lulus," sahut Buna.


"Nggak apa- apa Buna. Insya Alloh Adip mampu. Ijinkan Adip memenuhi tanggung jawab Adip," jawab Adip lagi.


"Kamu beneran punya uanh. Maaf setahu Baba gajimu, baru 5 juta kan. Jingga kebutuhanya banyak," jawab Baba.


"Bang Adip punya usaha dan tabungan, Ba!" jawab Jingga menyahut.


"Usaha? Tabungan?" tanyq Buna dan Baba kaget.


"Bang Adip punya rumah juga. Jingga mulai nanti malam pulang ke rumah Abang," jawab Jingga.


"Rumah....," pekik Oma nimbrung.


"Iya Oma...," jawab Jingga dan Adip.


"Maaf. Meski tidaj besar dan baru merintis, Adip punya rumah kecil di pinggir sungai Jernih di kecamatan Batu. Adip buka usaha aneka keripik," jawab Adip lagi


Baba dan Buna mengangguk


"Kalau gitu ajak kita kerumah kamu. Kita antar kalian pulang!" jawab Oma.


"Boleh," jawab Adip.


Sore itupun Baba Buna, Nila, Iya Iyu dan Nila antar Jingga ke rumah Adip. Adip sendiri naik motor di depan naik motor sebagai penunjuk jalan.


Sesampaianya di pabrik Adip Baba dan Buna melongo.


Baru 4 tahun Adip buka usaha, tapi sudah berkembang. Padahal hanya modal 20 juta itu juga dari hasil ikut lomba.


Karyawan Adip pun berkumpul. Rata- rata ibu-ibu, sebagian masih ada keluarga dan pulang ke rumah. Sebagian ada orang tunawisma yanh tidur di rumah petak yanh Adip sediakan. Mereka yang rawat rumah Adip juga.


Adip ternyata juga punya anak buah, lebih tepatnya geng angklung pengamen jalanan. Mereka anak muda jalanan uang juga siap jaga Jingga.


Baba dan Buna pun takjup.


Jika orang lain punya uang di belanjakan untuk kebutuhan gaya, seperti mobil, baju- baju mahal dan sebagainya. Adip setiap keuntinganya langsunh dibelanjakan untuk perkembangan.


Adip tak punya mobil tapi untuk beli tanah dan alat-alat pendukunh produksi. Jadi usahanya cepat berkembang.


"Sejak kapan kamu punya usaha ini Dip?" tanya Baba


"Dari awal Adip kuliah, Ba. Tapi Adip nggak sendiri," jawab Adip.


Ada 3 otak berjalanya usaha Adip. Satu teman perempuam satu laki- laki.


Baba dan Buna pun percaya pada Adip. Buna yakin Jingga bisa mandiri.


"Baba ijinkan Jingga tinggal di sibi. Tapi Baba juga ijin ada satu orang keperrayaan Baba jaga Jingga, biar dia juga kerja di sini!"tutur Baba meminta.


Baba punya sati bodyguard peremluan yang selama ini kawal Jingga. Baba kan belum kenal teman-teman Adip.


"Ya, Ba!" jawab Adip..


Adip pun menjamu mertuanya di rumah kecilnya.


Baba dan Adip jadi ngobrol panjang. Mereka berdua pun nyambung bahas masalah usaha dan peluang.


Saat itu juga Baba pesan banyak untuk stok hotel Baba dan resto- restoran Baba.


Bukanya obrolan keluarga mereka malah seperti dua CEO besar dan kecil yang meeting buat keaeoakatan kerja. Tentu saja Adip hadirkan bagian marketingnya.


Sementara Buna, Oma, Nila, Jingga Iya dan Iyu di dalam nonton tivi sambil makan malam apa adanya. Makanan beli di pinggir jalan.

__ADS_1


Sekitar jam 10 malam Baba dan rombongan pulang. Mereka juga janjian besok pagi mau ke kampung Emak.


__ADS_2