
Jingga menghampiri Amer yang sudah menunggu. Kakak beradik yang kakinya sama- sama terluka kini impas satu sama lain.
“Kaki kakak kenapa?” tanya Amer.
Jingga melirik ke Adip malu. “Nggak apa- apa, ayo bangun, lukamu sepertinya mulai infeksi!” tutur Jingga lebih khawatir ke Amer.
“Ya.. ayo!” jawab Amer memang ingin segera ke perkampungan.
Mereka berdua berjalan berdampingan di depan, menyusuri jalan setapak turun dari bukit. Jalan indah yang berpagarkan bambu yang disusun warga.
Semalam suasana gelap jadi mereka tidak bisa menikmati pemandangan, saat pagi begini ternyata sangat indah. Beberapa bunga liar, ada yang berwarna oren, ada yang putih, tumbuh sesuka hati mempercantik alam di pulau Panorama itu.
Amer dan Jingga berjalan di depan, Sementara Adip mengalah berjalan di belakang. Sepanjang jalan, Adip hanya bisa menatap istrinya itu dengan banyak pikiran.
Untuk saat ini, Jingga tak terlihat sedih lagi seperti semalam. Benarkah Jingga bahagia karena menikah denganya? Betapa senangnya Adip, jika Jingga tak keberatan menjadi istrinya dan sungguhan menjadi istrinya, untuk seterusnya.
“Seandainya saja benar pernikahan kita untuk seterisnya. Sungguh aku juga ingin terus menjadi suamimu sampai akhir hayatku. Tidak pernah terbayangkan, kumiliki wanita, secantik dirimu Jingga!” batin Adip dalam diamnya melihat senyum Jingga saat berbicara dengan Amer.
Adip kemudian mengalihkan tatapanya dan berfikir lagi. Akankah Adip tetap bisa membuat Jingga tertawa terus? Hidup Adip keras, Adip miskin.
Bagaiamana dia akan menceritakan apa yang dia temui. Bagiaman pula Adip akan menghadapi keluarga Jingga.
"Huuuft," Adip menghela nafasnya menyerah.
Setelah beberapa menit mereka sampai ke perkampungan. Tempat pertama yang mereka tuju adalah rumah Bidan Risa.
Satu- satunya orang yang mereka harapkan bisa mengurangi rasa sakit Amer dan mengobati luka mereka. Bidan Risa juga penduduk yang menerima mereka dengan pemikiran terbuka.
“Selamat pagi!” sapa Adip selaku ketua rombongan.
Mereka mengetuk rumah pribadi Bidan Risa karena melihat tempat prakteknya masih tutup.
“Pagi...!” jawab seseorang dari dalam, dan membukakan pintu.
Alhamdulillah bidan Risa sendiri yang membukakan pintu. Bidan Risa juga sudah mengenakan pakaian dinas rapih.
“Kalian! Ayo masuk!” jawab Bidan Risa ramah dan mempersilahkan duduk.
Rumah Bidan Risa sudah permanen dan tidak rumah panggung. Ruang tamunya pun sudah ada bangkunya dan tidak lesehan.
“Maaf pagi- pagi mengganggu Anda, Bu Bidan!” tutur Adip sebagai orang tertua dan yang memimpin rombongan.
“Nggak apa- apa! Kaki kamu kenapa?” jawab Bidan Risa langsung salah fokus dan tertuju pada kaki Amer yang berbalut pakaian.
“Itulah tujuan kami, kami mau meminta tolong untuk obati kaki adik saya!” tutur Adip, lagi.
“Oh yaya. Ayo ke poskesdes!” ajak Bidan Risa.
__ADS_1
Mereka kemudian ke poskesdes desa S. Menggunakan prosedur yang benar dengan sarung tangan steril dan obat- obatan yang tersedia, Bidan Risa membuka balutan luka di kaki Amer.
Amer dan Adip juga menceritakan kronologi lukanya kaki Amer.
“Aaaakk aauh! Sakit Bu...” keluh Amer berteriak saat Bidan Risa menyentuh kaki Amer.
“Kenapa nggak kesini dari semalam sih?” tutur Bidan Risa melepaskan tanganya.
“Maaf, kami pikir ini luka biasa, semalam kita panik juga terhadap Kak Jingga jadi, saya tidak begitu memperhatikan luka saya!” jawab Amer.
“Gimana dengan luka adik saya, Bu? Kakinya baik- baik saja kan?” tanya Jingga khawatir karena kaki Amer bengkak.
“Duh, maaf ya, yang bagian atas ini harus dijahit! Sepertinya salah satu jari atau bagian telapak kaki ada nagian yang retak!” ucap Bidan Risa melihat bentuk kaki Amer, bagian atas tampak luka menganga, dan bagian jarinya ada tanda jari fraktur.
“Hhhhh....!” Jingga Amer dan Adip hanya saling tatap dan menghela nafasnya sedih.
“Hari ini, aku akan mengambil vaksin, stok obat dan laporan bulanan. Aku jahit luka luarnya, kamu ikutlah aku ke kota!” tutur Bidan Risa ke Amer.
“Tapi Bu Bidan!” bantah Amer merasa keberatan meninggalkan kakaknya.
“Apa aku boleh menemaninya? Aku ingin visum!” tanya Jingga kemudian.
“Untuk apa?” tanya Bidan Risa.
“Untuk membuktikan kebenaranya pada masyarakat adat! Aku juga ingin tahu apa yang terjadi padaku!” jawab Jingga dengan wajahnya penuh harap.
Sayangnya Bida Risa malah tertawa kecil ke Jingga, Jingga pun jadi mendengus lesu.
Jingga pun langsung terdiam menunduk lemas.
“Kalian berdua sedang dihukum oleh orang adat mengerti? Bisa marah mereka kalau melihat kalian keluyuran. Bersihkan lututmu, kembalilah ke bukit. Kalian tetaplah tinggal di gubuk itu! 3 hari tidak lama kok” ucap Bidan Risa lagi..
“Iya!” jawab Jingga.
“Nanti kubawakan bahan- bahan makanan dari sini!” ucap Bidan Risa lagi sangat baik.
“Ya!” jawab Jingga lagi.
“Pumpung masih luka baru, lukamu harus segera diobati, jika tidak akan tambah parah dan sakit terus!” tutur Bidan Risa sekarang tertuju pada Amer.
Jingga kemudian mendekat ke Amer dan mengelus bahunya tanda sayang.
“Pergilah, kakak akan baik- baik saja!” tutur Jingga pelan.
“Yang penting dirontgen dan dibidai dulu untuk memastikan luka di jari- jarimu, jika dipaksakan takutnya tambah parah pasti akan sangatmenyiksa, nanti sore kalau tidak hujan kau akan kembali kok!” tutur Bidan Risa memberitahu Amer.
“Baik, Bu!” jawab Amer patuh.
__ADS_1
Bidan Risa pun melakukan pertolongan pada Amer dengan membersihkan luka terbuka Amer dan menjahitnya. Setelah itu merapihkan peralatan dan mencuci tangan.
Bidan Risa kemudian kembali berpamitan, ke rumah pribadinya mengambil beberapa barang yang perlu dibawak ke kota kecamatan.
“Bu Bidan!” panggil Jingga menghentikan langkahnya.
“Ya!”
“Maaf, pakaian saya dimana ya? Saya butuh pakaian ganti!” tutur Jingga mengira bajunya ada di Bu Bidan Risa, semalam kan yang membantunya Bidan Risa.
Bidan Risa kemudian menoleh ke Adip dengan penuh tanya, pakaian yang ada di Jingga kan pakaian Adip.
“Ehm...!” Adip berdehem tidak nyaman. “Bu.. bidan, mohon maaf, tolong pinjamkan pakaian untuk istri saya selama 3 hari di sini!” tutur Adip kemudian.
“Oh iya, saya ambilkan dulu ya, ayo ikut, biar kamu pilih sendiri yang pas di tubuhmu! Kamu juga harus bawa bahan- bahan- makanan!” jawab Bu Bidan Risa ramah.
Jingga kemudian mengikuti Bidan Risa masuk ke dalam rumah pribadinya. Sekarang Amer berdua dengan Adip.
“Maafin kami, ya Bang!” ucap Amer kemudian memecahkan keheningan, Amer menampakan rasa bersalahnya.
“Hoh? Maaf kenapa?” tanya Adip tidak pernah merasa disalahi Amer dan Jingga.
“Maafkan saya dan kakak saya, kami merepotkan Bang Adip!” tutur Amer lagi.
Adip yang tadinya berdiri tegang kemudian mengulum lidahnya tersenyum dan bergerak maju duduk di kursi mendekat ke meja periksa tempat Amer berbaring.
“Merepotkan bagaimana?” tanya Adip santai.
“Bang Adip harus menanggung hukuman gara- gara kakak saya, dipukuli warga, harus menikahi kakak saya, dan menjalani hukuman ini!” tutur Amer lagi menunduk, sebagai wali dan adik Jingga Amer merasa berhutang pada Adip.
Adip kemudian menepuk bahu Amer.
“Tak apa, aku tidak pernah merasa direpotkan karena ini!” tutur Adip dengan tatapan dewasanya ke Amer.
“Terima kasih sudah menolong kakak saya. Tolong jaga kakak saya. Maafkan semua sifat merepotkanya, jika kakak saya benar diperkosa dia pasti sangat terluka!” tutur Amer lagi.
“Ehm...!” Adip pun berdehem, “Kamu tenang saja, kakakmu aman bersamaku, aku akan jaga dia!” jawab Adip memastikan.
Meski belum berani mengungkapkan, tanpa Amer suruh, Adip pasti akan menjaga Jingga dengan sepenuh hatinya. Tanpa paksaan dan tanpa beban, tapi dengan penuh cinta.
“Terima kasih, Bang!” jawab Amer tersenyum ke Adip.
“Kau akan bertemu dengan dokter Reza, dia adalah teman Tama. Kalau tidak bersembunyi di rumah warga, aku yakin Tama kembali ke kota!” ucap Adip memberitahu.
Amer mengangguk, dia ingat nama itu, mantan pacar Jingga yang berbuat kurang ajar ke Jingga.
“Aku pastikan dia mendapat pelajaran dariku!” jawab Amer mengepalkan tanganya.
__ADS_1
“Aku sempat memukul pelipis dan mukanya. Luka di bagian pelipis lumayan. Jika kau melihat lelaki dengan luka itu berada di puskesmas, apalagi dia bersama dokter yang bernama dokter Reza. Dialah orangnya!” tutur Adip memberitahu.
“Siap Bang!”