Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
170. Saya Mertuanya


__ADS_3

Sudah terlanjur basah, Baba sudah pergi sejauh itu, meski terasa berat, mau tidak mau Baba ikut ide anaknya.


Kali ini karena mereka hanya pergi ke antar desa melewati sungai kecil yang arusnya juga aman. Mereka hanya menggunakan perahu sederhana, tanpa mesin.


“Kita hanya naik perahu ini?” tanya Baba agak aneh.


“Ya, Ba!” 


“Ada pelampungnya nggak? Bahaya nggak?” tanya Baba khawatir, kalau di tengah jalan olenng bagaimana?


“Udah, Ba... santai aja, Baba kan jago renang?” ledek Amer ke Baba menyindir.


“Ehm,”


Baba berdehem mendadak tengsin, iya yah, Baba kan ayahnya anak- anak. Dulu Baba yang selalu memotivasi anak- anak bujangnya untuk berani. Baba juga yang ajarin putra putrinya berenang. Buna kan tidak begitu pandai. Jadi harus berani.


“Oke,” jawab Baba lagi bersikap kembali santai tidak mau harga dirinya turun.


Pak Dino hanya senyum- senyum sendiri. Semakin tua Baba semakin labil. 


Tidak berapa lama mereka sampai di desa P, tetangga desa T yang Pak Anton sebutkan kemungkinan Adip sedang menyelesaikan tugasnya di situ.


Desa P desa tempat dimana Adip, dititipi Tuhan untuk membawa hidayah pada sebagian warganya memeluk Islam.


Di desa itu juga mempunyai daya tarik keindahan alam yang tak jauh berbeda dengan desa lain. Sungai jernih dan sangat asri. Baba kembali dibuat terpesona. Apalagi itu desa yang terhubung ke laut yang pasirnya masih putih dan alami. 



Seperti sebelumnya, Baba malah memperlamban langkahnya, mengambil kesempatan memvideo dan mengambil gambar keindahan- keindahan itu.


Entah mau ditunjukan pada istrinya, entah mau dirapatkan dengan bawahanya, atau sekadar mengambil kenangan, hanya Baba yang tahu. 



Pak Anton pun mengantar Baba, Amer, Pak Dino dan satu pengawal ke warga. Baba yang sudah terwakili Amer, sekarang tinggal jadi bos, tapi juga anak buah dan pengikut Amer.


Amer yang mewakili rombongan bertanya dan berbincang dengan warga. 


“Oh... anda mencari, Nak ustad? Baru kemarin beliau pamit, itu proyeknya...,” jawab salah seorang warga menunjuk beberapa warga sedang bergotong royong membuat sebuah ternak. 


Bulan pertama ini Adip memberi penyuluhan, bulan selanjutnya evalusai proses jadi di semua desa sama baru tahap membangun. 


“Nak Ustad?” gumam Baba bertanya dalam hati. Ada saja sebutan untuk Adip itu. 


“Oh gitu? Kira- kira bang Adip ke desa mana ya?” jawab Amer kecewa. Entah ada di desa mana Adip sekarang. Sepertinya akan membutuhkan perjalanan panjang cari Adip yang keliling.


“Kemungkinan ke desa samping, kalau nggak desa S desa Q,” jawab warga.


Amer menelan ludahnya.


Benar- benar Adip seperti sedang mengerjai rombongan Baba. Amer pun mengangguk berterima kasih. Meski masih muda, Amer pembawaanya dewasa.


“Terima kasih, Pak!” tutur Amer. 

__ADS_1


“Sama- sama, Kakak!” jawab warga.


Amer menilhat jam tanganya, sudah lewat waktu dzuhur tapi mereka belum makan siang dan dzuhuran, perjalanan dari desa T ke desa P lumayan melelahkan.


“Oh iya Pak, mohon maaf di sini, dimana ada warung makan ya Pak?” tanya Amer ke warga.


“Maaf Kakak, di desa semua penduduk masak sendiri jadi tidak ada yang jual makanan,” jawab warga. 


"Gleg" Amer menelan ludahnya melirik ke Babanya, kasian sekali Baba dan Pak Dino dibuat kelaparan dan lelah seharian. Sudah tua harus diet tapi kasian juga.


“Kalau masjid, di sebelah mana ya Pak?” tanya Amer lagi.


Warga kemudian menunjukan mushola kecil, yang dulunya hampir mati, tapi dihidupkan dan diramaikan lagi oleh Adip, meski hanya dengan waktu singkat.


“Kebetulan kami juga belum sholat, mari sekalian kita jamaah bersama, saya tunjukan tempatnya,” jawab warga. 


Warga itu juga mengajak temanya untuk menyempatkan waktu sholat. 


“Kamu yang jadi imam,” ucap salah seorang warga. 


“Kamu saja yang lebih tua,” 


“Hai tidak begitu, kata Kakak Ustad Adip, siapa yang bacaanya lebih bagus itu boleh, saya kan baru belajar,” jawab salah seorang warga lagi. 


Rupanya beberapa pemuda yang baru sempat istirahat itu, murid Adip. Baba pun diam- diam mendengarkan dan memperhatikan, apalagi saat mereka menyebut nama Adip. 


Satu point lagi bertambah untuk Baba, sepertinya pria yang bernama Adip itu seorang yang juga taat beribadah dan mempunyai visi berdakwah. 


Meski sebetulnya, Baba, Amer dan Pak Dino lebih tahu dari warga kampung mereka lebih memilih menghormati warga kampung. 


Mereka pun sholat. Setelah sholat, Baba melihat ke sekeliling dinding mushola. Ternyata di dinding ada beberapa tulisan, yang di bawahnya ada nama Adip.


Rupanya Adip sempat meninggalkan kenang- kenangan petunjuk jumlah rakaat sholat dan waktu sholat buat para adik- adik pemuda di desa itu.


Saat membacanya, hati Baba jadi tergetar, tapi Baba tidak berkomentar apapun. Penasaran Baba terhadap Adip pun bertambah, seperti apa rupa pria yang mencuri hati Putrinya.


Salah satu warga yang sempat mendengar Amer tanya warung makan dan melihat ekspresi Baba yang mulai terlihat letih, ada yang peka. Mereka pun menawarkan bekalnya bekerja untuk di makan di teras mushola. 


“Makan dulu, kakak, mamah saya bawakan saya masakan banyak,” ucap warga ramah menawarkan. 


Amer dan Babab saling pandang, melihat bungkus makanan dari dedaunan mereka agak ragu. Tapi tiba- tiba perut mereka berbunyi, akhirnya mereka pun mengangguk dan bersedia makan makanan dari warga yang sedang membuat kandang. 


“Kalau boleh tau? Bapak- bapak dan Kakak ini siapanya Kakak ustad?” tanya warga. 


“Saya adiknya,” jawab Amer spontan. 


“Oh...adiknya.. yaya pantas Kak, sama- sama ganteng, Kakak ini,” ucap warga memuji. 


Baba jadi mendelik, enak saja. Amer kan ganteng karena Baba kenapa dismakan sama Adip yang berhasil ngalahin Baba diketusi Buna dan Jingga. 


Akan tetapi Baba tak bisa berkutik dan hanya diam mendengarkan warga menceritakan Adip dengan tulus tanpa disuruh.


Anak muda itu merasa senang, hanya beberapa hari Adip menginap dan tinggal bersama mereka adip sangatlah rajin, ramah dan bersemangat. Adip juga mengajak mereka untuk beribadah dengan baik.

__ADS_1


Sambil makan Baba mendengarkan dengan seksama. Meski tak diakui, ada rasa bangga yang menyelinap.


Setelah kenyang, mereka melanjutkan perjalanan ke desa Q. 


Sesampainya di desa Q sudah ashar dan hampir maghrib. Akan tetapi keberuntungan masih belum berpihak pada mereka.


Kalau saja pertama kali mereka tiba di desa itu, mereka akan bertemu Adip, rupanya Adip meninggalkan desa itu tadi pagi. 


Karena sudah hampir malam, mau tidak mau mereka bermalam di salah satu warga di desa Q. Baba pun terpaksa harus menginap di rumah kayu, kecil dan berdebu. 


Di desa Q itu, rupanya Adip punya nama baru lagi, namanya Kakak Guru. Gara- garanya saat Adip tiba di situ, sekolah di situ murid- muridanya pada pulang dengan ekspresi sedih, karena guru mereka tak datang dan kurang.


Sebelum menunaikan kewajiban mensukseskan memberi donasi hewan ternak dan pemberdayaan ternak. Adip membenahi semangat sekolah anak-anak.


Adip pura- pura jadi guru gadungan dan mengajak anak- anak kembali ke sekolah. Tentunya terlebih dahulu Adip menemui kepala sekolah setempat.


Jadi pagi jadi Guru singkat, malamnya baru memberi penyuluhan pada Bapak- bapak petani.


Entahlah setiap hari, Adip punya nama baru. Padahal Adip berkunjung ke desa, hanya beberapa hari saja.


"Sebenarnya apa pekerjaan Adip ini sebenarnya?" batin Baba.


Keesokan paginya mereka pun berpamitan. 


“Kalau boleh tahu? Pak Ardi ini sebenarnya, siapanya Kakak guru?” tanya warga sambil menyerahkan bekal makanan karena Pak Dino selalu memberi uang terima kasih ke warga yang menolongnya. Jadi warga juga ingin memberi timbal balik.


Kemarin mereka hanya mengenalkan dari kota, dan mencari Adipati. 


“Saya mertuanya,” jawab Baba spontan, keceplosan


Pada saat ditanya kebetulan Amer sedang menyeruput segelas air. Jadi yang ditanya Baba. 


“Uhuk... uhuk...,” Amer pun jadi kesedak mendengar perkataan Baba. Kemajuan, Baba sudah mengakui Adip menantunya. Amer pun tersenyum.


“Oh, ternyata, Kakak Guru sudah menikah?” 


“Sudah,” jawab Baba lagi. 


“Oh... yaya,” jawab Bapak tua itu kecewa, dan tiba- tiba terdengar gelas jatuh dari dapur, rupanya Bapak tua itu punya putri juga yang naksir Bang Adip. 


*****


Hahaha


Makasih yang udah baca cerita anehku ini.


Gampang ditebak sih sebenarnya alurnya, ahh tapi nggak apa- apalahnya semoga bisa dinikmati kehaluanku.


Hari ini double Up lagi. Insya Alloh release nanti sore. Sekitar jam 19.00


Yang penting selalu koment, like, dan Vote yaaa.


Love you Kaaak

__ADS_1


__ADS_2