Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
215. Buna harus kasih Tabu Jingga


__ADS_3

“Berangkat jam berapa Dip?” tanya Baba mengelap mulutnya denga tissu seletah selesai menghabiskan makanya. 


“Sekarang Ba.. kita siap- siap terus berangkat,” jawab Adip sopan.


“Duh... Tante belum berkemas, tunggu Tante dulu ya.Kita harus ikut, Om Dika harus selesaikan masalah ini, kita juga perlu bertemu dengan Emak Bapakmu!” sela Dokter Dinda panik belum siap- siap jika harus pergi sekarang.


“Ya, Tante, Dika dan Jingga tunggu Tante,” jawab Adip sopan. 


“Oke... kita ketemu di loby bawah!” jawab Baba sambil menngangkat lengan melihat jam tanga mahalnya. “1 jam lagi cukup? Atau kelamaan?” tanya Baba. 


“Cukup!” jawab Om Dika. 


“Gimana Dip?” tanya Baba ke Adip.


“Adip ikut, aja Ba! Satu jam juga nggak apa- apa!” jawab Adip. 


“Oke... satu jam kita ketemu di bawah!” jawab Baba memutuskan. 


“Oke!” 


Setelah sepakat janjian mereka bersiap kembali ke kamar masing- masing.


Adip beangun dan beranjak lebih dulu mengajak Jingga Saat Om Dika bangun dan hendak berjalan menjauh dari meja makan, Baba menahanya. 


“Dik...,” panggil Baba. 


“Ya Mas... ,” jawab Om Dika.


Baba langsung memeluk dan merangkul Om Dika. Baba rupanya ingin meluapkan rasa syukur dan syoknya dengan kenyataan yang baru dia hadapi. 


Kenyataan tentang Uwak Adip tak menyurutkan bahagia Baba.


Buna dan Dokter Dinda sedikit tersentak melihat adegan Baba dan Om Dika.


“Terima kasih... terima kasih ya. Rasanta seperti mimpi!” ucap Baba terharu menepuk lengan atas Om Dika. 


“Terima Kasih kenapa Mas? Aku yang terima kasih!” 


“Kita sekarang besan Dik. Pernikahan ini akan mengekalkan persahabatan kita. Aku benar- benar bersyukur dan sangat bahagia,” tutur Baba kali ini tumben- tumbenan melow, sampai Baba berkaca- kaca. 


“Woaah...,” Buna terhenyak, pemandanganan di depanya pemandangan langka. Akhirnya Buna bisa melihat suaminya bersikap dengan suasana hati lembut dan sensi. 


“Ya Mas. Aku juga, sangat senang. Aku berterimakasih Mas. Berkat Jingga. Aku menemukan anak lanangku, yang Aku kira tidak mau mengenal keluarga bapaknya lagi. Aku juga tidak menyangka dan sangat bahagia, dia tumbuh sempurna, dengan semua kelebihanya, terima kasih sudah menerima dia jadi keluarga Mas Ardi, terima kasih sudah mengundang kami,” 


“Aku juga terima kasih, Putriku akan dijaga oleh anak kalian yang begitu baik, kita besan sekarang, kita besan!” tutur Baba memeluk lagi. 


“Ya... Mas! Kita keluarga beneran sekarang!” jawab Om Dika membalas pelukan Baba. 


“Heleeehh... kenapa kalian jadi terlihat sweet begini sih?” gumam  Buna geli lihat suaminya yang kelakuannya suka buat Buna tepuk jidat pagi ini terlihat begitu berbeda. Melow.


“Tapi aku juga seneng banget Al, meski kenyataan tentang Adip membuat geram, tapi itu tak mengurangi bahagiaku. Anakmu sekarang jadi anakku juga,” tutur Dokter Dinda mendengar cinbiran Buna. Dokter Dinda kan juga bahagia dan jadi iri ke suaminya ingin peluk Buna.


“Kamu tuh, sukanya begitu, suamimu ini sangat bahagia! Apa kamu tidak bahagia, kita sekarang besanan?” tutur Baba dengar sambil mengurai pelukan dengan Om Dika.


“Bahagia Mas, bahagia. Makanya dulu jangan suka ngeyel. Coba kalau kita nurutin Baba! Nyesel pasti kan? Hmmm,” jawab Buna mau buka kartu Baba. 


“Emang Mas Ardi ngeyel gimana Mbak?” tanya Om Dika penasaran.


“Mas Ardi, hampir mau pisahin Jingga sama Adip!” jawab Buna ledek Baba.


“Buuun!” potong Baba malu mengingat kesalahanya. “Sekaranng kan nyatanya udah nikah, Buna nggak lihat kemarin Baba jadi wali Jingga, udah sih. Jangan dibahas. Dah pokoknta Buna bener terus!” jawab Baba malu. Sekarang sih bilang begitu tapi nanti ke Nila pasti keras lagi.


“Sudah- sudah... benar Mas Ardi, yang penting mereka sudah menikah!” lerai Om Dika. 


“Semoga Jingga segera dikaruniai Putra ya Al,” ucap Dokter Dinda nyeletuk.


“Tidak! Jangan dulu!” jawab Buna cepat


“Kenapaa?” tanyaDokter Dinda. 


“Ehm...,” Buna berdehem malu, Buna kan juga lagi hamil. 


“Jingga masih kuliah, biar selesai dulu kuliahnya!” jawab Baba cepat ,bantu Buna.


“Helehh..., gampang itu. Kita siap rawat anak Jingga kok. Anak Jingga kan cucu kami!” jawab Om Dika. 


“Adip  juga harus selesaikan kontraknya! Kasian kalau ldr hamil,” jawab Buna lagi.


“Iih udah sih! Kenapa ini kita yang ributin hamilnya Jingga sih? Kan yang nikah Jingga dan Adip, kita orang tua tunggu aja kabar baik dari mereka,” jawab Dokter Dinda mengakhiri percakapan ttg Jingga.


“Ya...benar!” jawab Om Dika. 


Buna mendadak panik membayangkan kalau dirinya dan Jingga hamil bersama. Apalagi kalau Jingga putus kuliah. Tidak, Buna harus kasih tahu Jingga untuk menunda. 

__ADS_1


“Ya sudah, katanya satu jam harus kumpul di bawah, kelamaan ngobrol nanti malah nggak jadi pergi lho!” ucap Buna cepat. 


“Ya.. ya sudah, duluan ya!” jawab Dokter Dinda. 


“Ya..” jawab Buna. 


Dokter Dinda dan Om Dika berjalan cepat meninggalkan Buna dan Baba. 


“Ba..,” panggil Buna mengkode.


“Ya..!” 


“Jingga sama Adip udah begituan belum ya?” tanya Jingga tiba- tiba. 


“Aish kamu... Bun, memang kamu dulu nolak suami, sampai suami pergi nggak ditanya dan mulur- mulur seminggu. Anak Baba perempuan cerdas, dia pasti sudah menyenangkan suaminya. Tidak lihat rambut Adip basah, kerudung Jingg juga terlihat basah?” jawab Babapercaya diri.Jingga dibanding Buna memang jauh. Buna dulu jual mahal galak. Kalau Jingga agresif. Tapi Baba tidak tahu kalau anaknya tidak sekuat Buna menahan perih.


Jingga memang lupa bawa hair dryer sehingga rambutnya yang tebal susah kering. Baba tidak tahu kalau anaknya jahat,  mendorong paksa suaminya saat sedang menancapkan pedang sekuat tenaga dan harus berakhir sia- sia. 


“Haduh...,” Buna malah mengaduh kecewa. 


“Kok haduh sih?” tanya Baba. 


“Ih Baba... Adip sama Jingga udah paham belum mereka? Kalau dimasukin di dalam terus hamil gimana?” tutur Buna, khawatir. Buna tidak tahu kalau Jingga juga sejak tadi mencarinya ingin berguru. 


“Ya baguslah, kita punya cucu!” 


“Tapi Buna lagi hamil juga Ba,” 


“Nggak apa- apa, nanti anak kita jadi aunty cantik dan Imut,” jawab Baba santai. 


“Isshh Baba, Buna nggak mau Jingga putus kuliah!” 


“Udah, Buna jangan banyak khawatir. Mereka udah pinter! Anak jaman sekarang!” jawab Baba santay, menyamakan dirinya yang sudah pro dan flamboyan dalam hal bereproduksi dan mencetak anak. Baba tidak tahu anak dan menantunya sedang dilanda musibah ketidak tahuan dan kebodohan yang menyiksa. 


“Hhh..., Buna harus kasih tau Jingga,” batin Buna  kekeh merasa harus ngobrol dengan Jingga. 


**** 


Di kamar Adip. 


Jingga sepanjang jalan tidak mau dilepaskan genggamanya dari Adip. Bahkan di lift Jingga cium- cium tanga Adip dan memeluk lenganya erat.


Jingga pikir suaminya sedih jadi Jingga ingin Adip bahagia kalau ada dia di sampingnya. Jingga tidan tahu sikapnya buat Adik kecil Adip bangun.


Adip juga jadi risih dilihat- lihat pegawai hotel, bukan Adip tidak cinta, tapi menurut Adip Jingga lebay. Maunya Adip nanti di kamar, sepuasnya Adip juga ingin peluk Jingga.


“Ehm sayang. Lepas dulu," bisik Adip.


"Kenapa?"


"Kamu nggak malu diliatin orang begini?” bisik Adip sambil berjalan.


“Kok tanyanya gitu? Emang Abang malu? Jingga kan begini karena Jingga cinta suami Jingga, Jingga cinta sama Bang Adip! Aku mau Bang Adip bahagia!” jawab Jingga manyun.


“Nggak malu Sayang, Bang Adip, tanya aja! Bang Adip seneng kok! Tapi ini banyak orang!” jawab Adip kalem berusaha mengerti istrinya dan mengajari Jingga.


“Ihhh,” keluh Jingga malah tersinggung dan menghempaskan tangan Adip padahal mereka kan sudah hampir sampai di kamar mereka.  


“Hhhh...,” Adip menghela nafas.


Mulai kan giliran masuk ruang privasi malah ambek dan menjauh. 


“Krek..,” Adip memilih menahan sabar dan segera membuka pintu kamar setelah sampai.


Jingga yang tesinggung melenggang berjalan masuk dengan wajah manyun.


Adip hanya bisa menggelengkan kepala, beginilah menikahi Tuan Putri, Adip harus ekstra sabar. 


Jingga masuk dan duduk di sofa dekat kasur dengan wajah manyun. Adip kemudian menyusul dan duduk di samping Jingga. 


“Maaf,” tutur Adip lembut merayu. 


Jingga masih manyun. 


“Maaf Sayang.. jangan manyun gitu dong! Abang cuma tanya.” rayu Adip lagi. 


“Nggak! Abang ternyata malu jalan gandengan sama Jingga,” gerutu Jingga dengan lucunya. Jingga amat tersinggungan sekarang. 


“Astaghfirulloh... siapa yang bilang malu? Abang seneng banget lah digandeng istri Abang yang cantik ini, cuma...” rayu Adip lagi bicara sangat pelan.


“Bohong! Bang Adip itu maunya jalan sendiri- sendiri. Biar bisa tebar pesona sama orang, abang nggak cinta sama Jingga!” gerutu Jingga lagi.


"Abang cinta banget sama kamu! Astagah!"

__ADS_1


"Bohong!"


"Terus gimana cara buktiinya?Ya udah terserah deg nanti mau gandeng terus. Katany mau bulan madu malah ambek!" jawab Adip.


"Abang sakitin Jingga," ucap Jingga lagi.


“Hhhh...,” Adip menghela nafasnya bingung mau ngomong apa lagi. Adip pun mengambil langkah jurus sentuhan. 


Adip berusaha meraih tangan Jingga. 


“Nggak usah pegang- pegang!” gerutu Jingga mode ngambek. 


"Abang minta maaf Sayang. Abang cuma tanya. Iya...iya nanti boleg gandeng lagi!"


"Hhhh...," Jingga masih manyun.


Bingung mau ngomong apalagi dengan Jingga dan tidak sabar, Adip langsung maju dan mendesak Jingga agar berbaring di sofa dan Adip menindihnya. 


“Abang...!” pekik Jingga gelagapan. Kini mereka berhimpitan dan behadapan sangat dekat bahkan bisa berbagi nafas.


“Kamu nggak percaya, Bang Adip cinta sama kamu?” tanya Adip. 


“Ehm...,” Jingga malah mengkerut, jantungnya Jingga jadi berdebar- debar. 


“Abang cinta banget sama kamu,” ucap Adip lagi. 


“Ehm... ya tapi?”


“Apa perlu, Abang cium kamu di depan umum?” 


“Nggak gitu!” 


“Lah terus gimana biar kamu percaya?” 


“Jingga percaya, tapi jangan gini Bang sesek!” jawab Jingga berusaha mengambil nafas, karena Adip memang benar- benar menghimpit Jingga


“Katamu, istri Abang ini cinta sama Abang kan?” tanya Adip menjauhkan badanya tapi tanganya mulai bergerilnya. 


"Iya!" jawab Jingga. Jingga makin gelagapan, menyadari tangan Adip bergerak di bali kerudungnya.


Rupanya selama ini diam- diam Adip menahan rasa, sangat ingin dan suka dengan sesuatu yang menonjol yang Jingga sembunyikan dibalik pakaian atas depanya.


“Abang...,” pekik Jingga mulai geli- geli tapi bulu kuduknya berdiri seperti ada banyak kupu- kupu menari.


“Satu jam cukup kan? Katamu tadi ingin bulan madu sama Anang kan?” tanya Adip lagi. 


“Ehm...,” Jingga tidak menjawab malah sedikit menggeliat kegelian.


Rupanya tangan Adip berhasil membuka resleting gamis atas Jingga. Tangan Adip berhasil menelusup masuk dan menangkup salah satu squissy Jingga. Pas ditangan Adip.dan Adip meremassnya lembut.


“Cukup... bu- at ap- pa Baaang?” tanya Jingga pelan sambil menahan geli dan merinding keenakan.


Jingga tidak menolak dan membiarkan tangan Adip masuk ke mangkuk cembungnya. 


“Kamu udah bisa jalan cepat, berarti udah nggak sakit lagi kan?” bisik Adip lagi, tanganya mulai memilin tombol ajaib Jingga. 


Jingga tidak menjawab dan terlihat menelan ludahnya sambil menggeliat. 


Adip tersenyum senang lalu mengeluarkan tanganya lagi. 


“Sambil nunggu Om Dika kita coba lagi yuk!” ajak Adip sumringah.


“Hoooh?” pekik Jingga terbengong. Mau- mau tapi takut. 


Adip tidak menjawab dan memilih membuka jilbab Jingga. Lalu mengangkat Jingga ke kasur. 


“Abang...,” 


“Katanya yang kedua itu udah nggak sakit,” bisik Adip sambil merebahkan Jingga ke kasur. 


Resleting Jingga yang tadi dibuka masih belum ditutup sehingga mainan Adip yang tadi masih menyembul mengintip. Adip pun membukanya sempurnya dan kembali melanjutkan permainannya.


Jingga tidak menolak dan mebiarkanya. Sebab Jingga juga marasa ingin Adip mengulang apa yang dilakukanya semalam. 


Adip bahkan menenggelamkan wajahnya dan menghisap gemas. 


“Abaang...” desah Jingga tidak tahan saat Adip gemas. 


Alih-alih membuang sedihnya, Adip ingin melampiaskan dengan bermain dan bermanja dengan istrinya. merasa cukup bermain denga squisshi cantiknya. Adip menyingkap gamis Jingga ke atas hendak memeriksa sesuatu yang dia buat berdarah tadi malam


Akan tetapi belum jadi lihat, tiba- tiba.


“Thiiing thoong!"

__ADS_1


"Jingga... ini Buna!" terdengar suara Buna di luar.


"Buna Bang!" pekik Jingga cepat membetulkan pakaianya dan segera bangun.


__ADS_2