Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
172. Silahkan istirahat, saya tinggal dulu


__ADS_3

"Selamat datang di desa Semilir Tuan," tutur Adip tenang dan sedikit memberikan senyum hormat ke Baba Ardi yang menampakan wajah dinginya.


Adip dalam hati ingin tertawa, "Wah Tuan Ardi persis Jingga"


Jingga si gadis cantiknya yang seringkali membuatnya gemas dan mengaduk- aduk perasaanya, hidungnya, kulitnya, diamnya matanya, Adip pastikan itu. Jingga memang sedikit berneda dari Amer. Termasuk sifatnya, gengsian.


"Ini Bang Adip Ba..., Bang Adip, Baba ingin bertemu denganmu," celetuk Amer memecahkan suasana dengan wajah riangnya.


Amer kan berfikir Baba sudah setuju, orang tadi juga sudah mengakui jadi mertua Adip.


Sayangnya Baba yang sedang tengsin mendelik kesal ke Amer, kan jadi turun harga dirinya kalau sampai Adip tahu Baba sangat ingin bertemu dengan Adip.


Adip sendiri mengangguk santai, sebenarnya tidak mengira kalau Baba sampai terbang ke pulau Panorama. Suatu kehormatan untuk Adip yang seharusnya berjuang lebih dulu.


"Perkenalkan nama saya Adipati, Tuan. Senang bisa bertemu dengan Anda," tutur Adip lagi kali ini mengulurkan tangan untuk mengajak bersalaman.


"Hemmm...," sayangnya Baba hanya berdehem dan matanya sok sokan melihat sekeliling tidak mau bersalaman.


Amer pun menelan ludahnya dan memiringkan sudut bibirnya berdecak, mulai nih suami Buna, kumat.


Amer kan juga sudah paham watak Babanya sendiri. Meski begitu, Amer tetap sayang Baba, karena tanpa Baba nggak akan ada Amer, Baba juga selalu memberikan yang terbaik untuknya. Amer pun memilih jadi penonton liat sandiwara Babanya.


Meski sedang dikerjai, Adip peka, masa tamu jauh, calon mertua disuruh berdiri di dekat kebon. Adip tak tersinggung, menarik tanganya santai. Adip percaya diri, kalau Baba benci Adip untuk apa jauh- jauh mencarinya.


"Suatu kehormatan, Tuan Ardi datang ke sini. Mohon maaf harus bertemu saya bertemu saya di ladang terik dan kotor ini, mari berteduh ke gubuk kami, silahkan," ucap Adip mempersilahkan dengan hormat lalu tersenyum ke Amer.


"Ayuk Mer!" ajak Adip.


"Ya Bang! Ayo Pak Dino, Pak Nur, Pak Anton," ajak Amer ke kedua karyawan Baba.


Pak Dino dan Pak Nur mengangguk,Pak Anton memilih bergabung bersama tetangga desa.


Adip kemudian mendekat mensejajari Amer yang sudah akrab.


"Ke rumah di samping Bu Risa ya Mer, aku pamitan dulu ke warga, mau ada perlu juga!" bisik Adip menunjukan rumah singgahnya di dekat pustunya Bidan Risa.


"Siap Bang!" jawab Amer.


Sebagai seorang yang mempunyai adab, apalagi Adip yang bertanggung jawab. Adip kemudian berpamitan pada warga untuk istirahat menemui tamunya sebentar.


Adip juga memberitahu dulu, arah mau Adip, bagaimana bentuk selokan saluran kotoran ternak agar nanti terkumpul bersih bisa dimanfaatkan dan tidak mencemari lingkungan.


"Jadi sini dibuat agak miring bambunya ya Pak. Segini," tutur Adip sebelum pergi dan sebelum warga memaku kayu dan bambu.


"Ya Kakak,"


"Saya tinggal dulu ya,"


"Ya,"


Warga mengerti dan saling bertanya siapa mereka. Adip hanya menjawab keluarga Jingga, gadis yang pernah ada di kampung Semilir itu yang hampir mereka lempari dengan batu.


"Sebentar kok Pak. Nanti saya kembali lagi ke sini," tutur Adip ramah setelah membersihkan tanganya.


Sementara Baba jadi uring-uringan lagi. Kenapa Adip menyuruh Amer dan rombongan jalan sendiri, seharusnya kan Adip merebut perhatianya, mengantarnya.

__ADS_1


"Kamu hafal desa ini Mer?" tanya Baba sambil berjalan.


"Kan Amer Bang Adip dan kak Jingga di sini 3 hari, Ba! Nanti Amer ajak Baba ke tempat Kak Jingga dihukum," jawab Amer.


"Hmmm. Terus itu kemana itu si Adip itu, anak kurang ajar, bukanya temani kita, malah kita disuruh jalan duluan," omel Baba sok sokan marah.


Padahal Baba ingin lihat mantunya lebih dekat dan lebih lama. Baba suka kalau lihat Adip gelagapan, sayangnya Adip tetap tenang dan malah buat rombongan Baba mandiri.


"Hemmm, mungkin Bang Adip lagi ada perlu Ba, sama warga, kita tunggu aja,"


"Masa kita ke rumah orang tanpa tuan rumah. Nanti kita dikira pencuri lagi,"


"Nggak Ba, nanti ada Bidan Risa. Rumah yang Bang Adip maksud juga cuma gardu kosong tempat petani biasa berteduh," jawab Amer.


"Heeh," pekik Baba kaget sampai berhenti.


Yang benar saja si Adip itu menyambut calon mertua kehormatan hanya di gubug tempat petani berteduh.


Tapi kan memang Adip memang tak punya rumah. Rumah dinas Adip yang benar itu di kota, di balai veteriner. Adip bertugas meneliti kesehatan hewan- hewan, kasih penyuluhan agar hewan- hewan ternak tumbuh sehat dan siap makan.


Tugas Adip mengobati jika ada yang sakit, akan tetapi karena warga sama sekali belum tahu apapun, berawal dari O belum tahu ilmunya Adip bertanggung jawab mengajari dari hal yang paling awal, rermasuk membuat rumah ternak yang sehat dan keliling-keliling desa.


Jika di kota Adip tak perlu menginap sebab ada motor dan perjalanan jalur darat, karena di pedalaman, Adip harus bermukim, sebab perjalanan di pedalaman penuh resiko, lama dan melelahkan.


"Udah sampai kok. Tuh rumahnya!" jawab Amer menunjuk sebuah gubug panggung yang terbuat dari Bambu, di pinggir jalan menghadap ke tebing.


"Gleg," Baba menelan ludahnya, melihat gubug itu, kecil.


"Ayo Ba..." ajak Amer.


Mereka pun menuju ke gubug itu dan meluruskan kakinya.


"Bug," Baba memukul Pak Dino tidak suka kalau Pak Dino memuji- muji.


"Nyaman gimana? Apaan masa calon mantu biarin kita terdampar begini?" gerutu Baba.


"Hemmmm," Pak Dino, Pak Nur dan Amer hanya berdehem tidak mau menanggapi.


Di gubug itu tidak ada sekat, di pojokan terlihat sajadah, mushaf, sarung dan satu tas punggung milik Adip.


Adip benar- benar seperti pengembara. Untuk makan, mandi dan buang air kan Adip ke rumah Bu Risa.


Di saat Baba dan yang lain beristirahat, Adip terlihat di ujung jalan berjalan mendekat dan di tanganya ada dua kresek.


Rupanya, berbeda dengan pikiran Baba, Adip mampir dulu ke rumah warga yang jual kelontong untuk membeli minuman dan camilan. Adip tahu mertuanya pasti haus.


"Maaf lama menunggu ya?" tutur Adip ramah.


"Tidak Bang, darimana Bang?" tanya Amer.


"Dari rumah Bu Nisa...," jawab Adip santai sambil membuka isi kreseknya dan menyajikanya pada Baba dan kedua karyawanya.


"Silahkan diminum Tuan, mohon maaf tempatnya memang seperti ini, semoga tetap nyaman untuk istirahat," tutur Adip ramah.


Pak Dino dan Pak Nur mengangguk tersenyum, menerima suguhan Adip tapi Baba jual mahal.

__ADS_1


"Mari silahkan diminum, Tuan," sapa Adip lagi ke Baba.


"Hmmmm," jawab Baba.


Selain Baba semuanya sudah membuka bungkusan air yang bentuknya aneh itu dan meminumnya.


Ternyata isinya air kelapa, Pak Dino pun menikmatinya dengan lahap.


Sementara Baba masih liat saja.


Baba sangat kesal, rencana Baba kan ingin bicara empat mata dengan Adip di sebuah ruangan dan memberinya soal ujian calon mantu.


Kenapa malah mereka ditaruh di gubuk kecil tidak ada sekat yang mau tidak mau tercipta suasana santui dan akrab, kan nggak kan seru kalau Baba mau sok galak mewawancai Adip.


"Oh ya, Pak, daritadi belum kenal dengan Bapak- bapak tampan ini, boleh kenal Pak? Dengan Bapak siapa? Kenalkan saya Adipati," tutur Adip mengajak kenalan ke Pak Dino dan Pak Nur dengan gaya santainya dan mengulurkan tangan.


Adip sudah ajak kenalan Baba dengan sangat sopan, Baba mengacuhkan sampai Adip menarik tanganya lagi, ya sudah Adip ajak kenalan yang lain saja.


Biar saja Baba jadi nggak punya teman.


Adip tak gentar sama sekali, tapi Adip malah ingin tertawa, ternyata Babanya Jingga tidak seram tapi lucu seperti Jingga yang suka ambekan, begitu pikir Adip yang dewasa.


"Saya Dino,"


"Nur," jawab Pak Dino dan Pak Nur menyambut Adip ramah tapi semua jadi kikuk sama Baba, karena Baba jadi tak punya teman.


"Dari Ibukota, berangkat hari apa Pak? Naik apa?" tanya Adip mengobrol santai sambil membuka bungkusan camilan.


"Kita udah dari 4 hari yang lalu Bang, muter- muter desa cari Abang, kita ke desa Teras dulu," jawab Amer.


"Hehehe," Adip malah tertawa. Tentu saja Baba tambah gemas dan kesal.


"Maaf ya jadi ngrepotin, aku memang ingin selesaikan tugas satu bulan ini, target bulan depan sudah jadi kandang semua. Biar segera dikirim isinya di bulan kedua atau ketiga, jadi aku nggak fokus satu desa, keliling deh!" tutur Adip lagi mengobrol biasa dengan Amer dan yang lain, sama sekali belum bahas tentang Jingga.


"Oh.. gitu," jawab Amer.


"Ayo silahkan dimakan Pak, ini makanan khas sini lho," tutur Adip membuka bungkusan gorengan tepung dicampur kelapa.


"Ehm....," Baba yang daritadi diam jadi berdehem.


Baba ingin Amer dan yang lain pergi, tapi kenapa malah bersantai dan akrab langsung ma Adip.


Pak Dino dan Pak Nur tidak peduli Baba,malah ambil makanan Adip.


"Oh iya... hari sudah sore. Baiknya kalian menginap di sini ya," ucap Adip mwmberi saran.


Pak Dino tidak bisa menjawab dan menoleh ke Baba.


"Kita ikut aja baiknya gimana Bang," celetuk Amer menyerobot sebelum Baba menjawab.


Amer tidak mau kalau Baba yang menjawab keputusanya jadi kacau.


"Oke... kalau gitu, silahkan istirahat dulu, mangga, dimakan dulu seadanya, aku tinggal dulu ya!" ucap Adip pamitan lagi ke tamunya.


"Oke Bang," jawab Amer biasa saja.

__ADS_1


Akan tetapi Baba tambah kesal lagi.


"Benar- benar mantu kurang ajaar, bisa- bisanya dia ninggalin tamunya, mertuanya lagi." batin Baba. Bukanya Baba yang kerjain Adip, tapi Adip yang cuekin dan mngerjai Baba.


__ADS_2