
"Mwah. Abang kangen sama kamu," tutur Adip di layar telepon.
"Jingga juga Bang!" jawab Jingga.
"Ya udah bentar lagi, Bang Adip berangkat..Kamu hati- hati yah!"
"Iyah, Bang Adip yang hati- hati. I love you!"
"I love you too!" jawab Adip mengakhiri telepon.
Siang itu.endingnya Nila belanja sendiri tanpa dampingan Jingga. Karena begitu Jingga menutup ponselnya, Nila ternyata sudah duduk manis mendekap belanjaanya yang sudah tertutup.tas.
"Gleg!" Jingga menelan ludahnya.
Tidak sadar Jingga telponan menghabiskan waktu berpuluh puluh menit.
"Sudah Kak? Kita pulang yuk!" ajak Nila.
"Kamu udah selesai?" tanya Jingga.
"Udah!"
"He... maaf ya. Kakak lama ya?" tanya Jingga nyengir
"Nggak apa- apa!" jawab Nila dewasa.
Ya Nila anak kecil tapi setiap tindak tanduknya tertata dewasa. Kalau posisinya dibalik, pasti Jingga marah- marah harus nungguin orqng telponan di tengah keramaian orang.
Mereka kemudian berangkat ke rumah. Betapa kagetnya Jingga dan Nila. Rendi tampak berbincang dengan Oma di teras. Akan tetapi saat Jingga dan Nila turun tatapan Rendi langsuny tertuju pada Jingga bukan Nila.
Merasa dipelototi, Jingga langsung peka dan memilih pamit ke kamar. Biar saja Nila dan Rendi ngobrol sama Oma.
****
__ADS_1
Dua hari berlalu. Ini hari terakhir Adip menelpon Jingga.
"Abang berangkat ya Sayang... belajar yang rajin!"
"Iyah!" jawab Jingga.
"Pokoknya begitu ada signal. Bang Adip janji langsunh telepon kamu!" tutur Adip.
"Huum,"
"Doain Bang Adip sehat terus yah!"
"Iyaah!" jawab Jingga.
"Daah i love you!" tutur Adip menamgakhiri teleponya.
"Jangan ditutup!" sahut Jingga cepat.
"Huh?"
Meski lewat telepon, Jingga ingin melihat sampai akhir, sampai Adip tak terlihat oleg signal.
Tidak peduli dikata lebai.Jingga memang sangat lebai. Sampai- sampai detik terakhir Adip hilang jarinhan Jingga record, Jingga screenshoot.
Jingga tidak tahu kapan lagi Adip ke kota setelah itu. Foto Adip itu berharga untuk Jingga.
Setelah signal menghilang, seperti saat di bandara, barulah Jingga meneteskan air matanya. Rasanya berat sekali.
Akan tetapi kemudian Jingga tersadar, jika Jingga di sini menangis akan memberatkan hati dan langkah Adip.
Jingga dan Adip percaya kini hati mereka terhubung satu sama lain. Jika,Jingga gelisah dan sedih, Adip di sana juga merasakan sedih. Begitu juga dalam keadaan tenang dan bahagia.
Jingga pun memilih berusaha tenang dan pasrah. Menyerahkan Adip pada Sang Pemiliknya, Alloh Subhanahu Wataala.
__ADS_1
"Ya Alloh, aku percaya, Bang Adip selalu dalam penjagaanMu. Tolong lindungi dia, jaga dia!" batin Jingga menggenggam ponselnya.
****
Satu hari berlalu.
Baba pulang bersama rombongan perusahaan dari mengantar Adip dan bertemu denhan beberapa kolega dan pejabat di Pulau Panorama.
Baba tidak banyak bercakap, begitu sampai rumah hanya langsung mencium tangan dan kaki Oma. Lalu memeluknya tanda hormat.
Meski sering berbeda pendapat. Baba juga selalu hormat pada Oma. Bagi Baba Oma Rita adalah pintu surga dan pintu keberhasilanya. Setelah itu Buna.
Bunalah yang selalu menekankan itu pada Baba.
Setelah ke Oma, baru Baba memeluk Buna. Mencium perut Buna yanh membesar, setelah itu baru ke anak- anaknya.
"Doakan semua berjalan lancar Oma ,Buna!" tutur Baba.
"Ya!"
"Baba yakin Adip mampu!" jawab Baba
Jingga dan Buna mengernyit.
"Mampu untuk apa Ba?"tanya Jingga.
"Nanti semua proyek di sana di bawah kekuasaan Adip!" jawab Baba.
Buna dan Oma mengangguk, sementara Jingga speechless. Baba ternyata sejauh itu mempercayai Adip. Memberikan modal trillyunan agar Adip membangung surga indah di pulau Panorama. Tentunya Baba dan Adip dibantu dengan beberapa tenaga ahli dan handal.
****
Pernikahan Nila dan Rendi pun tak dapat dihindarkan.
__ADS_1
Pagi harinya setelah Baba tiba, Nila dan Rendi menikah.
Jingga tak berkomentar apapun, selain mendoakan Nila. Akan tetapi Jingga tak sekalipun bisa tersenyum sebab di acara ijab qobul pertama.Rendi sempat salah menyebut nama Jingga.