
Seketika lampu menyala, memberikan terang pada gelap yang menguasai malam, menyingkap keindahan yang sempat tersamarkan. Kini keasrian tempat mereka berada kembali nyata. Membuat mereka bebas saling menatap tanpa ada samar dan keraguan. Membuang semua takut dan suasana seram menjadi hilang.
Jingga berdiri di tempatnya. Berpijak pada bebatuan yang disusun rapih di temani beberapa
tumbuhan yang tumbuh dengan cantik, menghiasi halaman dapur asrama.
Jingga berdiri mematung dengan nafas yang menderu dan dada yang mengembang penuh takjup tak menyangka. Semua tanya tersusun rapih dan semua terjawab dalam satu kata.
“Adip?” gumam Jingga. "Iya benar, dia si tukang ojek aku tidak salah? Kenapa dia ada di sini? Jadi dia yang dibicarakan Tari?" Jingga memastikan penglihatanya tidak salah.
“Ehm!”
Laki- laki itu hanya berdehem, menggerakan kornea matanya sangat pelit dan mahal, memastikan gadis
yang dia tolong baik- baik saja.
Entah karena malu atau kesal, atau ada hal
lain. Adip enggan menyapa Jingga, dan bersikap tidak pernah bertemu Jingga.
Adip hanya menggerekan kepalanya peregangan setelah baru saja mengeluarkan tenaga dalam menghajar junior angkuh dan sombong. Adip berjalan santai meninggalkan Jingga.
Jingga mengkerucutkan bibirnya, kecewa. Bukankah Adip menolongnya karena Adip peduli? Kenapa pergi gitu aja?
Bukankah mereka saling kenal, beberapa kali bertemu dan bersama? Tidakkah Adip ingin menyapa dan menanyai kabarnya.
“Sombong banget sih!” gerutu Jingga kesal melihat Adip berjalan menjauhinya.
Entah kenapa ada rasa sakit yang menelusup dan mengiris pedih hati Jingga. Ada rasa sesak yang membuat Jingga merasa tak berharga. Sebelumnya dirinya kan beberaapa kali mengatai Adip dan meremehkanya. Kenapa sekarang jadi begini?
Jingga pun ingin hipotesanya benar. Jingga tidak mungkin salah orang. Adip si tukang ojeknya adalah seseorang yang membuat Tari rela mengorbankan waktu santainya ikut bergabung dalam suasana berisik si penggemar bola.
Jingga juga ingin dirinya ternyata sedikit lebih akrab dengan pria yang disanjung sahabatnya itu.
Nyatanya, setelah Jingga memastikanya dengan benar, itu pria yang Jingga temui, Jingga malah dicueki.
“Adip, tunggu!” panggil Jingga nekat memanggil nama pria itu.
Rasa kesal dan sesak karena dicueki ternyata mengalahkan gengsi dan keangkuhan Jingga.
Jingga menoleh ke kanan dan ke kiri. Suasana asrama di depan dapur umum itu sepi. Jingga
pun berlari mendekat ke Adip yang tampak berhenti.
Kini mereka saling berdekatan dengan posisi Adip menghadap ke depan dan Jingga di belakanya. Adip kemudian menoleh ke Jingga.
“Huft... kenapa jadi canggung begini sih?” batin Jingga menetralkan rasa gemetaran yang datang
menyerangnya. Meski wajah dan suaranya sama, Adip yang Jingga temui sebagai supir sialan dan tukang ojek nyebelinya sangat jauh berbeda. Adip yang dia lihat sekarang terlihat lebih keren dan dewasa. Satu lagi, Adip tampak berwibawa, tapi sejak awal sudah terlihat begitu.
__ADS_1
“Apa?” tanya Adip masih dengan gaya cueknya.
“Ehm!” dehem Jingga malu.
Jingga kemudian mengangkat wajahnya dengan senyum ragu dan mengernyitkan matanya. Jingga yakin Adip mengingatnya. Jingga pun merasa dirinya salah, sudah beberapa kali menghina Adip.
“Makasih ya!” ucap Jingga polos dengan senyum rasa bersalahnya.
Jingga tampak sangat imut dengan wajah begitu.
Jingga diam berharap Adip membalas ucapanya dengan ramah dan akrab, seperti sebelumnya.
Sayangnya Adip hanya menatapnya dengan bibir saling mengatup dan bergerak naik ke atas sedikit, menandakan senyum masamnya. Jingga pun semakin sakit dengan sikap Adip itu.
“Di sini bukan tempat untuk kecentilan dan obral kecantikan! Lain kali nggak usah daftar kalau nggak
ada niat yang baik! Jangan memancing orang berbuat jahat!” ucap Adip tiba- tiba, dengan rangkaian kata yang membuat Jingga menelan kepahitan.
“Hah? Apa? Aku kecentilan?” jawab Jingga bertanya dan menunjuk dirinya sendiri merasa tersinggung dengan pernyataan Adip. Jingga kan hanya berterima kasih. Kenapa jawabanya begitu.
“Sekarang waktunya istirahat, lihatlah tidak ada perempuan yang berekaliaran sepertimu! Di sini bukan tempat buat pacaran. Kejahatan itu ada karena ada kesempatan!” ucap Adip lagi.
Jingga pun langsung diam dan menunduk. Mulut Jingga tercekat dan seperti terkunci tidak bisa
berkata- kata lagi. Ya Jingga harusnya berdiam diri di kamar.
Yang pasti rasanya sakit sekalai dikatai begitu. Jingga kan tidak pernah keluar malam, selama di Ibukota, bahkan Jingga dikatai kuper, dan sekarang ada orang yang mengatainya kecentilan hanya karena Jingga di luar. Jingga di luar juga karena Tari, Jingga hanya ikut saja.
Jingga sangat angkuh dan sombong melihat jijik ke Adip.
“Tunggu!” panggil Jingga lagi. Adip berhenti lagi, tapi tidak menoleh.
“Aku tidak kecentilan, aku ke sini tadi menamani temanku! Tapi dia kembali ke kamar duluan” ucap Jingga menjelaskan.
Sayangnya Adip tidak merespon dan kemudian jalan lagi.
“Ish, tidak bisakah kau berjalan pelan dan sedikit ramah padaku!” panggil Jingga lagi, semakin dicueki semakin membuat Jingga ingin memastikan.
Adip menghentikan langkahnya lagi tiba- tiba sehingga Jingga hampir menabraknya.
“Apa katamu?” tanya Adip.
“Ehm, apa kamu veteriner yang aktif di Mapala?” tanya Jingga ragu dan terbata. Jingga ingin
memastikan dia adalah orang yang kata Tari keren.
Adip tidak menjawab dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
“Penting yah? Kenapa memangnya?” tanya Adip tiba- tiba.
__ADS_1
“Mmmm, kamu masih mengingatku kan? Kamu tukang ojek yang pagi itu kan?” tanya Jingga lagi dengan ragu- ragu.
“Ehm ehm..." Adip berdehem membuang muka sok dingin.
"Apa alasanku perlu mengingatmu?” tanya Adip jual mahal dengan nada dingin dan ekspresi santainya. Hal membuat Jingga mendelik dan mendengus kesal.
Jingga kan jadi terkesan kepedean dan murahan. Kepalang tanggung, pumpung tidak ada orang,
Jingga tidak menyerah untuk memastikan.
“Sungguh kamu tidak mengingatku?” tanya Jingga lagi dengan ragu.
Adip melirik ke Jingga. Jingga tampak sangat polos dan semakin menggemaskan buat Adip saat itu.
Sebenarnya kalau respon Jingga sama angkuhnya seperti saat Jingga di ibukota, Adip ingin mengakui dan menagih tagihan ojek motornya. Sayangnya malam ini Jingga terlihat lemah. Jingga terlihat masih gemetaran dengan apa yang menimpanya. Adip memilih tidak mengajaknya bertengkar dan mengerjai Jingga saja.
“Terlalu banyak orang yang kutemui jadi aku tidak begitu mengingatmu. Untuk apa juga aku mengigat- ingat wajah orang yang tidak ada hubungan denganku. Tapi memang aku tidak asing, kamu mirip dengan seseorang yang kutemui waktu itu, orang itu pelit dan tidak tahu terima kasih, dia juga sedikit bodoh!” jawab Adip lagi.
“Hoh? Oh ya?” tanya Jingga kembali dibuat kesal dan malu. “Benarkah dia mengingatku seperti itu? Menyebalkan!”bbatin Jingga menatap Adip dengan mulut mengekerucut.
“Iya, apa kamu perempuan yang seperti itu juga?” tanya Adip mau meledek Jingga lagi.
“Nggak! Aku nggakvbodoh, aku juga baru saja mengucapkan terima kasih karena kamu sudah
menolongku!” jawab Jingga.
“Ok syukurlah kalau begitu, kamu hanya mirip saja. Sudah cukup? Jangan panggil aku lagi, masih ada
yang harus kukerjakan!” jawab Adip.
“Tidakkah kau bertanya padaku kenapa aku tau namamu?” tanya Jingga lagi masih ingin membuktikan Adip itu si tukang ojek.
“Hampir semua orang di sini memanggilku Bang Adip, jadi wajar kan kamu tau namaku!” jawab Adip lagi masih terus ingin mengerjai Jingga.
Jingga kemudian diam dan kalah telak. Karena Jingga diam Adip melangkah lagi berjalan.
“Aku takut, antarkan aku ke kamarku!” ucap Jingga lagi dengan nada manjanya. Entah kenapa Jingga
tidak tahu malu begini.
Sayangnya kali ini Adip tidak berhenti ataupun menoleh lagi. Adip malah mempercepat langkahnya dan menghilang saat berbelok ke gedung Asrama yang lain Adip langsung naik ke
tangga menuju ke kamarnya.
Sekali lagi Jingga dibuat seakan menjadi gadis tak berarti karenanya. Jingga menoleh ke kanan dan
ke kiri memang sepi. Jingga pun berjalan setengah berlari menyusuri teras asrama dan menuju ke kamarnya.
“Di dunia ini nggak mungkin kan ada dua orang berbeda yang nama dan wajahnya sama!” batin Jingga.
__ADS_1
“Benarkah dia mengingatku sebagai perempuan bodoh dan pelit, ah menyebalkan sekali!” batin Jingga sambil berjalan.