Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
26. Pantes


__ADS_3

“Ayo naik!” ucap si Adip. 


Jingga diam menghela nafasnya, motor yang dibawa Adip besar, sementara Jingga memakai rok span. Jingga akan kesulitan, dan Jingga ragu kalau harus menggulung roknya.


“Ck! Buruan! Hitungan ke tiga nggak naik juga, tarif naik dua kali lipat!” ucap Adip lagi seenaknya.


Jingga yang sedang berfikir langsung melotot dan mengeratkan rahangnya.


“What? Eh lo gila ya, jadi cowok mata duitan banget! Nggak tau malu banget sama cewek main double tarif. Ingat ya lo utang ke gue! Utang! Gue gratis naik ojek lo! Hiish! Dasar!!” jawab Jingga marah- marah. 


“Hemm... gue nggak mata duitan, gue manusia yang berfikir visioner dan menghargai waktuku!” jawab Si Adip membela diri.  


“Hooh. Visioner weeek! Basi banget!" jawab Jingga menghina.


"Gue harus mikirin hidup gue jauh kedepan dan mempersiapkan setiap ada kesempatan!" jawab Adip lagi.


'Iiih, amit- amit, kenapa gue bisa ketemu manusia saraf, macam lo gini!” omel Jingga lagi.


“Yang harusnya amit-amit tuh gue. Kenapa gua ditemuin pelanggan serempong elu. Sudah berapa menit nih, aku berdebat dan menunggumu? Cepat naik!” bentak Si Adip sungguh kesal ke Jingga.


“Ya bentar, susah nih! Gue pake rok!” jawab Jingga cemberut dan mengeluh memperlihatkan penampilanya.


“Ya lagian lo mesen ojek pakai rok, ribet banget sih lo jadi cewek! Bener-bener ya!” jawab si Adip malah marahin Jingga lagi.


“Kok lo yang marah sih? Gue pelanggan nih! Gue laporin Lo!” jawab Jingga mengancam.


“Ya abis lo jadi cewek ribet banget, udah lo duduk menghadap kanan aja. Pegangan!” jawab Adip memberi solusi posisi Jingga naik motor.


“Ogah gue pakai celana legging kok!” jawab Jingga. 


“Nah itu ada solusi kenapa kelamaan mikir? Lelet lu!” ujar Adip lagi.


Mereka berdua masih tetap beradu pendapat nggak berangkat- berangkat. 


“Gue bukan lelet! Ya gue mikirlah, bokap dan nyokap gue kalau liat gue begini pasti bakal marah, bisa digantung lo sama bokap gue!” jawab Jingga lagi tidak mau dikatain lelet.


“Anak siapa sih lo sebenarnya? Gaya amat. Santai aja bokap lo ntar gue ajak ngopi, nggak ada gantung-gantungan! Buru naik!” jawab Adip lagi berkata santai.


Orang jalanan seperti Adip, semua manusia di matanya sama kedudukanya. Adip tidak takut siapapun. Adip juga bukan laki- laki yang mengelompokan manusia berdasar kasta dan kedudukan sosial ekonomi. 


“Iiih, ketemu bokap gue beneran baru tau rasa lo!” cibir Jingga menggulung roknya dan naik ke motor Adip. 


“Nih helm-nya, pakai yang bener!” ucap Adip memberikan helm. 

__ADS_1


“Bau banget sih helmnya, ogah make gue!” jawab Jingga jijik. Semua barang Jingga kan wangi, nah helm tukang ojek kan dipakai banyak orang. 


“Ya ampun Tuhan. Sumpah lo ya! Siapa sih lo sebenarnya? Anak sultan dari kerjaan mana sih lo? Siliwangi? Sunda kelapa apa mana? Lo itu penumpang gue yang paling rempong tau. Ni helm gue jemur rutin, gue bersihin, masih protes. Kalau lo mau helm yang wangi, bawa helem sendiri!” jawab Adip kesal dan marah ke Jingga. 


“Ya kan, rambut gue kan rutin gue crembath, nanti rambut gue jadi bau lagi!” jawab Jingga lagi dengan jujur dan polos.


“Nih pake plastik ini! Lo bungkus rambut lo itu biar nggak terkontaminasi helm gue. Di depan ada pos polisi. Bisa kena tilang lo kalau nggak mau pake helm!” ucap Adip memberikan platik kresek indomart bekas belanja, yang Adip letakan di dashboard motor. 


“Iiih! Yang bener aja gue pake ni kresek” Jingga hanya manyun dan mendesis. 


“Ya gue pake ni helm!” jawab Jingga memilih memakai helm yang menurutnya bau, tapi sebenarnya bau standar. 


“Ok! Duduk yang bener! Pegangan!” ucap Adip memberi perintah.


“Ya!” 


Jingga kemudian memegang saku jaket Adip. Adip pun melajukan motornya membelah jalanan ibukota dengan lincahnya. Sebenarnya ini juga pengalaman pertama Jingga naik motor.


Entah kenapa Jingga menikmati perjalanan kali ini. Jingga merasakan kesegaran alam dari hembusan udara, ada rasa sejuk dari pepohonan di pinggir jalan.


Jingga juga merasakan terik matahari, meski panas tapi karena bercampur angin membuat Jingga merasakan sensasi yang tidak pernah Jingga rasakan sebelumnya.


Angin yang bertiup ikut menyebarkan aroma tubuh Adip, kali ini Adip tidak bau keringat, tapi ada aroma parfum. Sepertinya untuk pekerjaanya kali ini Adip sudah mandi dulu. 


“Dia sudah pakai parfum rupanya.” Jingga tersenyum menghirup aroma parfum dari jaket Adip. 


“Itu Jingga kan? Gue nggak salah liat kan? Sama siapa dia?” batin orang itu dari mobil.


Tapi Adip memakai helmnya rapat dan melajukan mobilnya cepat sehingga orang itu tidak berhasil memfoto atau mengenali Adip. 


Orang itu yang tidak lain Tama langsung meraih ponselnyaa dan berniat menghubungi Jingga. Sayangnya ponsel Jingga sengaja Jingga matikan agar tidak terlacak Baba atau anak buahnya. Jingga tidak mau ketahuan keuar dari kampus. 


****


Di Istana Gunawijaya. 


Buna Alya sudah cantik dengan dress mahal dan manisnya dengan jilbab pashmina ala selebgram. Meskipun Buna sudah tua, Buna selalu terlihat muda dan cantik. Kini Buna siap mengantar dua putra kembarnya ke sekolah Paud. 


“Jangan lari- lari sayang... Buna nggak bisa kejar kalian! Buna ketinggalan nih jadinya” ucap Buna ke Iya dan Iyu di halaman rumah.


Buna mengingatkan agar anak- anaknya tidak terlalu aktif dengan bahasanya. Sebab kalau anaknya diingatkan dengan bahasa, jangan lari- lari nanti jatuh atau hati- hati nak, maka anak- anak Buna Alya justru akan berlari kencang. 


Mendengar keluhan ibunya, Hijau dan Biru berespon berbeda. Mereka sayang Bunanya. Mereka berhenti dan menunggu Bunanya.  

__ADS_1


“Maaf Buna! Iya deh, Iya dan Iyu pelan aja jalanya!” jawab Hijau berbalik dan menggandeng tangan Bunanya. 


Buna Alya kemudian tersenyum manis ke putra kecilnya itu. 


Di saat yang bersamaan sebuah mobil minicooper masuk ke halaman rumah Tuan Ardi. Buna Alya baru melihat mobil itu. 


“Tunggu Nak! Sepertinya kita kedatangan tamu, siapa ya?” ucap Buna menghentikan langkah putra kembar yang berpegangan tangan denganya itu. 


“Huh!” Hijau dan Biru berhenti melihat ibunya kemudian melihat mobil yang datang. 


Mobil itu berhenti dengan pelan. Pintu terbuka dari dalam mobil. Buna Alya terkesima, seorang laki- laki tampan bertubuh tinggi tegap dan berkemeja rapi keluar dari mobil itu. 


Laki- laki itu mirip sahabat suaminya Kak Farid. Hanya saja laki- laki ini style nya lebih modern. Kulitnya lebih terawat bahkan aroma wanginya dari kejauhan sudah tercium. Sepertinya ini sesosok mantu idaman yang diceritakan Baba Ardi, Pak Rendi, saudara sepupunya Farid yang katanya anak Kyai. 


“Selamat Pagi Nyonya!” sapa Pak Rendi sopan. 


“Pagi!” jawab Buna Alya. 


Kedua anak kembar Buna Alya saling pandang setelah memperhatikan Pak Rendi, kemudian mereka saling berbisik. 


“Siapa dia? Dia keren ya? Aku kalau besar mau seperti dia!” ucap Hijau. 


“Ah tidak, lebih kerenan Baba Ardi, aku mau seperti Baba Ardi saja kalau besar nanti!” jawab Biru. 


“Ehm!” Buna Alya berdehem dan memberikan senyum canggung ke tamunya, mendengar percakapan putra kembarnya. 


Sementara Pak Rendi yang dipuji anak kecil tersenyum. 


“Hai anak pintar, selamat pagi!” sapa Rendi memberikan senyum tampanya. 


“Hai Om, pagi juga!” jawab Hijau dan Biru polos memanggil Rendi Om.


Dipanggil Om, Rendi sedikit tersengging dan menelan ludahnya, tapi tetap tersenyum. Rendi kan calon kakak mereka bukan om mereka. 


“Maaf anda siapa ya? Ada perlu apa datang ke tempat kami? Maaf suami saya tidak di rumah!” tanya Buna Alya sopan. 


“Maaf sebelumnya, perkenalkan, saya Rendi Akbar Pratama. Orang tua saya memanggil saya Akbar, teman- teman memanggil saya Rendi, benar dengan Nyonya Ardi Gunawijaya?” tutur Rendi sopan memperkealkan diri ke calon mertuanya. 


“Oh iya benar, saya istri Mas Ardi, ada yang bisa saya bantu?”


“Saya diberitugas Tuan Ardi, selama beliau belum kembali saya antar jemput putri anda, Jingga!” 


“Ouuh Jingga, yaya!” jawab Buna Alya mengangguk.

__ADS_1


Tebakan Buna Alya benar. Ini dia calon mantunya, tapi kemudian Buna Alya menarik senyumnya. “Pantes Jingga berangkat pagi- pagi” batin Buna. 


Jingga sudah berangkat Pak Rendi telat. Sepertinya Jingga jauh lebid cerdas dari Bunanya.


__ADS_2