Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
158. Baba berhianat


__ADS_3

Di Kampus kedokteran ternama di Ibukota. 


Jam 09.00 pagi sebelum kuliah dimulai, Tama dan teman organisasinya hendak rapat membahas mau mengadakan suatu acara seminar.


Hanya saja, Tama sudah datang teman- temanya tak kunjung datang. 


Tama kemudian menelpon dua teman dekatnya yang bernama Tiko untuk menemuinya. Tama merasa marah dan tidak dihargai sahabatnya. Tidak lama Tiko dan Adit datang. 


“Kok kalian baru datang sih?” omel Tama. 


Sayangnya teman Tama justru tersenyum mengejek. Tentu saja Tama tersinggung. 


“Kalian kenapa? Ini mau pada serius nggak sih untuk acar besok? Kalian nggak ada yang jelas tau nggak!” tanya Tama baper. 


“Huh... gue yang harusnya tanya. Lo yakin masih mau di sini?” tanya Tiko menantang.


“Apa maksdu lo?” 


“Dasar Lo Tam, nggak jelas jadi orang! Munafik! Parah lo!” ucap Adit mengejek Tama.


“Eh kalian apa- apaan sih?” tanya Tama tidak mengerti. 


“Lo itu ngecewain kita tahu? Apa ini? Siap- siap aja lo, dilengserin dari jabatan Lo di Bem!” ucap Tiko lagi. 


“Gue nggak ngerti, apa sih maksud Lo?” tanya Tama semakin emosi.


“Nggak usah sok amnesia deh. Lo cek ponsel lho!” ucap Tiko. 


“Dasar lo, Fuuuck!” umpat Adit ke Tama pergi. 


Tama berdiri sendiran merasa kesal dan sakit hati. kemudian Tama memeriksa media sosialnya, mata Tama terbelaalak, aibnya dia update sendiri tanpa sepengetahuanya. 


Screenshootan Tama menjelek- jelekan kampusnya sendiri yang dibilang kampus uang. Lalu percakapan dirinya sebagai ketua Bem yang dikagumi, rahasia dia dipilih jadi ketua BEM karena bayar teman-temanya. Lalu beberapa chatingan dia minta bocoran kunci jawaban ujian. Parahnya percakapan, saat dirinya berkencan dengan salah teman mahasiswa yang tidak lain Amora teman Jingga. 


“ShIIIIT! Siapa yang hack Ig dan Twitter gue?” batin Tama kalangkabut, mukanya langsung merah.


Tama keluar dari beskam yang dari tadi dia menunggu, saat berjalan melewati sekelompok teman- teman Tama, dulu yang kagum ke Tama sekarang semua memandang jijik. 


Meski Tama jahat sungguh hal ini menyiksa mentalnya, dulu dipuja kini dijauhi. 


Bahkan tanpa Tama tau ternyata teman- teman Tama sudah bergerak membahas acara seminar sendiri tanpa melibatkanya. Tama tak dianggap, tak dihargai dan dicueki.


Saat Tama masuk dan ingin bergabung, semua memandang Tama kesal dan menjauh. 


“Sebaiknya selesai acara seminar kita perlu rapat rombak pengurus deh!” sindir teman Tama berjalan berbisik dan menyenggol bahu Tama. 


“Apa maksud kalian?” tanya Tama berbalik tidak terima. 


“Cih...!” teman Tama malah meludah. 


Tama geram dan emosi, mau memukul, dis teman Tama yang dulu rival calon ketua BEM, sekang pun menantang tidak takut. 


“Kamu bongkar sendiri aibmu? Jadi ini topengmu? Kamu pikir teman- teman mau punya ketua sepertimu?” lanjut teman Tama yang bernama Radit. 

__ADS_1


Tama emosi dan justru memukul Radit yang diam- diam memimpin rapat bersama teman- teman tanpa melibatkan Tama. 


Mereka berdua kemudian adu jotos di kampus. Mereka membuat kehebohan, akan tetapi semakin meyakinkan orang-orang kalau Tama tak baim, sampai mereka berdua  dibawa ke kantor dekan.


Dekan yang juga ikut baca status Tama semakin membela Radit dan bahkan memberi hukuman ke Tama. Lebih dari itu, lusa Dekan dan pengurus mau melengserkan Tama. 


“Kurang ajaar, siaaall!” umpat Tama di dalam mobil merasa terhina san dihancurkan. Hari ini Tama tidak berani lama- lama di kampus karena sekarang namanya sudah tercoreng. Niat Tama permalukan Jingfa justru kini Tama yang rasakan.Jingga kan masih belum beeangkat.


Bahkan berita Tama mengalahkan isu tentang Jingga. 


“Gue harus tangkap siapa yang hack gue, siaalallan Anjjjing” 


Bukanya Kuliah, Tama pergi mencari temanya yang ahli IT. 


**** 


Di restoran mewah Baba Ardi. 


Baba, Amer, Rendi, Fatma dan Umi Rendi berkumpul. 


Amer, Baba suruh menjelaskan detail. Amer pun menceritakan kejadian yang menimpa kakaknya. 


“Saya kenal dengan anak ini! Saya juga percaya dengan cerita Amer!” potong Rendi di sela penjelasn Amer mengenai kejdian kalau Jingga diberi racun Tama. 


Hal itu membuat Ibu Rendi geram, akan tetapi bagi Baba menyenangkan. Untuk Amer sendiri bingung. Amer  baik ke Baba dan Rendi selalu ceritanya terpotong sampai di Jingga dibawa ke pohon pinang, tidak sampai di menikah. 


“Terima kasih, atas kepercayaanmu, Nak Rendi!” ucap Baba ke Rendi. 


“Saya akan menemui Jingga jika Jingga sudah baikan, Tuan. Saya tidak bermasalah dengan berita ini!” tutur Rendi lagi mantap menunjukan ke Baba kalau Rendi masih ingin memperjuangkan perjodohanya. 


“Oke... terima kasih atas pengertianmu, berarti pertemuan kita bisa dicukupkan?” tanya Baba. 


Amer semakin bingung. 


“Cerita Amer, tentang Bang Adip dan Kak Jingga belum selesai Ba!” celetuk Amer. 


“Penjelasanmu sudah cukup, kok Dek! Saya juga ada kelas mengajar, terima kasih” jawab Rendi tersenyum, dengan gayanya yang kaku. 


“Glek!” Amer menoleh ke Babanya marah. “Keapa inti dan tujuan amanah Buna dan Jingga untuk membatalkan tunangan berbalik jadi hanya pelurusan masalah dan konfirmasi saja?” 


Sayangnya Baba seperti tidak peduli. Mereka tetap ramah san saling berpamitan. 


“Ba.. baba  apaan sih?” tanya Amer. 


“Apa apaan gimana?” 


“Baba kok nggak sampaikan kalau perjodohanya batal?” tanya Amer. 


“Rendi ter yata tetap terima Jingga, Baba terharu dan suka, biar saja tetap lanjut!” jawab Baba egois. 


“Baa...Kak Jingga dan Bang Adip udah nikah! Kak Jingga sakit lho Ba!” ucap Amer akhirnya melawan Babanya. 


“Baba tidak enak mau cerita, kan Baba yang ajakin buat perjodohan ini, Kkakmu dan anak itu kan menikah tanpa Baba, sudah tidak sah!” jawab Baba lagi. 

__ADS_1


“Baa... Kak Jingga sakit dan cintanya sama Bang Adip!” ucap Amer lagi. 


Baba tidak menjawab dan hanya membuang nafas kasar lalu berjalan melewati Amer. 


“Aku harus bilang ke Buna dan Kak Jingga, Baba ini gimana sih?” gerutu Amer ikut- ikuta benci Babanya. Semua anaknya tahu, Babanya jalan pikiranya suka nyeleneh dan egois. 


**** 


Di Rumah Besar Gunawijaya. 


Nila, Oma Rita diantar, Opa Nando, Oma Mirna Nurmalasari dan Bunga cucu kesayangan tiba di rumah. 


Bunga dan Oma Nurma mendengar tentang Jingga jadi ingin menjenguk, tapi mereka sepakat untuk tidak beritahu Oma Rita kalau Jingga baru saja sakit. 


**** 


Di kamar Jingga. 


“Beneran Bun, Baba mau batalin perjodohan Jingga?” tanya Jingga setelah sadar. 


“Iya... habiskan makananya, Aaak satu suap lagi!” ucap Buna Alya. 


Meski sudah puber, kenal Adip dan ngebet nikah, tapi saat di rumah dan sakit begitu Jingga tetaplah anak Buna yang sama seperti Iya dan Iyu. Jingga bermanja bahkan makan disuapi Bunanya. 


Begitu Jingga membuka mata, Jingga dan Buna saling berpelukan dan cerita keluh kesahnya. Betapa Jingga sangat ingin bertemu Adip. Tapi Jingga benci Babanya yang keras kepala. 


Buna pun memberitahu, kalau Babanya sedang menemui keluarga Rendi. Asal Jingga semangat, mau makan dan tidak melakukan hal bodoh. 


“Makasih Buna!” jawab Jingga menerima suapan Buna. 


“Semoga Pak Dhe Rendi, Budhe Anya dan keluarga Rendi bisa terima keputusan ini. kalau memang, alasan si Adip itu tidak punya Uang. Buna malah ingin, Baba yang temui Rendi ke sana!” tutur Buna memikirkan nasib putrinya. 


Jingga tersenyum girang. 


“Iya Bunaa... Jingga setuju, jemput Bang Adip, sekalian berlibur ke pulau Panorama di sana sangat indah pemandanganya Buna!” sahut Jingga dengan mata berbinar- binar. 


“Benarkah sangat indah?” 


“Huum?”


“Pantas putri Buna jatuh cinta!” 


“Aah Buna, Jingga kangen Bang Adip!” 


“Kalau mau menikah udah puber begini! Ilangin manja dan bodohnya! Nanti illfeel lho suamimu!” tutur Buna memberitahu. 


“Buna!” 


“Heheh..” 


Anaka dan ibu itu malah saling ledek. Setelah Buna banyak menasehati, Jingga jadi semangat lagi. Kedua perempuan itu saling bersenda gurau berpikir harapan bahagia mereka akan terwujud. 


Mereka tidak akan ada yang mengira kalau Baba mereka berkhianat. 

__ADS_1


“Sudah- sudah, nanti kalau Oma Rita ke sini, kamu harus happy, jangan buat Oma sakit!” 


“Siap Buna! Eh itu kayaknya mereka udah pulang!” tutur Jingga. 


__ADS_2