Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
174. Nikahkan kami sebagaimana mestinya.


__ADS_3

"Biar saya saja Pak," ucap Adip sopan ke Pak Dino dan Pak Nur yang tampak mau membersihkan rumah.


"Nggak apa- apa Den, ini tugas saya," jawab Pak Nur. Mereka kan memang terbiasa menyiapkan semua keperluan Baba.


"Bapak istirahat saja, memanjat bukit sejauh ini pasti lelah kan Pak. Saya saja yang kerjakan! Temani ayah mertua saja," jawab Adip dengan santun.


"Baiklah, terima kasih Den," jawab Pak Dino dan Pak Nur mengerti.


Dalam hati mereka berdua, mereka sangat suka jika orang seperti Adip menjadi atasanya.


Saat kemarin baru sampai ke desa Semilir, Adip sempat berfikir tinggal di situ, akan tetapi karena sendiri di atas bukit terlalu seram. Adip memilih tidur di gardu di tengah pemukiman warga.


Sekarang di gubug sudah ada karpetnya, ada sapunya juga. Amer pun membantu Adip bersih- bersih.


Sejak kenal Adip, Amer jadi lupa kalau dia itu Tuan Muda. Amer jadi lebih menghargai juga, meski Pak Dino abdi ayahnya, mereka lebih tua.


"Amer bantu, Bang!"


"Oke..," jawab Adip menyerahkan sapu ke Amer, sementara Adip mengambil gulungan tikar.


"Kalian belum pada mandi kan? Bawa baju ganti nggak?" tanya Adip perhatian sambil menggelar alas tembikar.


"Nggak Bang, baju kami di desa Teras. Iya ini belum ganti," jawab Amer mengeluh.


"Pakai bajuku mau? Kayaknya tubuh kita nggak jauh beda," jawab Adip menawarkan.


"Mau Bang!" jawab Amer.


"Oke tapi seadanya ya... Ayah mertua gimana sama Pak Dino mau juga?"


"Nggak usah ditanya Baba mah. Dia akan jawab nggak mau. Baba malu tuh ketemu Abang, tapi pasti mau kok!" jawab Amer malah mencibir ayahnya.


Adip ikut senyum- senyum mendengarnya.


"Kenapa kalian sampai ke sini? Apa kabar Jingga? Apa dia baik-baik saja? Aku sudah berjanji akan ke rumah kalian akhir bulan ini. Aku jadi terkesan tidak jentel kalau begini?" gumam Adip berbagi perasaan cerita pada adiknya.


"Gentle nggak gentle nggak ada yang berubah, tetep aja Kak Jingga obsesi sama kamu Bang," jawab Amer lagi dengan muka betenya kalau disuruh mengingat sifat kakaknya.


Adip jadi tersipu mendengarnya, betapa tidak, dicintai orang secantik Jingga merupakan anugerah terindah yang pernah Adip terima.


"Emang gimana ceritanya?" tanya Adip.


"Biar Baba yang ceritain ya. Baba pengen ngomong sama kamu Bang,"


"Oke...tapi sepertinya aku harus berhati-hati ya ngomong sama Babamu? Jadi gerogi nih!" tanya Adip lagi minta petunjuk ke adik iparnya.


"Nggak kok biasa aja. Sebenarnya Baba orangnya asik, tapi ya gitu, seperti yang Bang Adip lihat. Dia itu merasa tersaingi sama Bang Adip jadi sensi. Soalnya Bunaku lebih ngebela Abang," jawab Amer lagi.


Adip semakin dibuat GR sama Amer.


"Ah kamu bisa aja!" jawab Adip mengangguk dan menepukan kedua telapak tanganya kini rumah di atas bukit itu siap di huni.


"Udah biasa aja Bang,"


"Aku tunjukan tempat mandi kalian, abis ini sholat Ashar. Yuk!"


"Oke Bang...!"


Adip kemudian mengajak Baba dan yang lain ke pancuran yang dia temukan. Tempat romantis dia dan Jingga saat berdua. Pancuran air yang sejuk, tidak begitu besar, tapi cukup indah dan nyaman.


__ADS_1


Baba juga menyukai tempat itu. Badan mereka semua memang sudah lengket dan bau keringat. Melihat air seperti melihat surga. Kali ini Baba tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya. Baba langsung nyemplung, lupa kalau dia tidak bawa baju ganti.


Mereka pun jadi mandi bersama, cukup lama. Baru setelah mulai dingin, mereka beranjak dan Baba baru sadar.


"Ehm..., bajuku ternyata bau sekali," gumam Baba mengambil bajunya dan menciumnya.


"Mohon maaf Tuan, ini bajunya," tutur Adip tiba-tiba ada di belakang Baba menyodorkan satu kaos lusuh dan longgar serta celana pendek selutut.


"Ehm...," Baba berdehem dan menelan ludahnya.


Baba kemudian menoleh ke Amer dan yang lain, semua sudah berganti dengan pakaian yang Adip beri juga.


Style Adip kan memang hanya kaos oblong dan celana sedapatnya. Biasanya celana panjang, tapi kebetulan pas kotor.


"Pakailah Tuan, setidaknya untuk malam ini, biar pakaian Tuan Ardi saya cucikan dulu. Besok bisa dipakai lagi," tutur Adip sopan.


"Ya," jawab Baba dingin.


Akhirnya Baba mau tidak mau memakai baju Adip. Hanya saja mereka bertiga tidak ada yang memakai ****** *****.Hihi, untuk hari itu, biarkan burung mereka bebas bergerak.


Adip meminta Amer mengajak orang tuanya pulang duluan, sementara Adip dengan senang hati mencucikan pakaian orang tuanya dan menjemurnya di dekat gubuk.


Malam itu, setelah sholat Isya, mereka pun berkumpul di depan gubuk dengan Adip menyalakan api dan membuat makanan dari bahan yang tadi dia beli dari Bu Nisa, Singkong dan Burung hutan.


Kini waktunya Adip dan Baba tinggal berdua. Baba pun mendekat ke Adip yang tampak membereskan sisa makanan.


"Ehm...,kita perlu bicara," ucap Baba mulai melunak dan tidak kaku lagi karena sore ini Adip terlihat banyak membantunya.


"Ya, Tuan." jawab Adip bangun dari jongkoknya dan membersihkan kedua tanganya yang kotor terkena arang.


Mereka kini duduk berdampingan di atas batu menghadap ke bulan di atas laut di pesisir pulau Panorama.


"Terima kasih Tuan, sudah bersedia mengunjungi saya kesini. Kata Amer anda ingin menemui saya. Maafkan saya yang terlambat datang ke ibukota," tutur Adip membuka pertanyaan serius.


"Aku ke sini bukan untuk menemuimu, tapi Putriku," jawab Baba lagi ternyata masih tidak mau terlihat ingin menemui Adip.


"Ya, saya tahu itu," jawab Adip.


"Kudengar kau menikahi putriku,"


"Ya, Tuan. Mohon maaf atas...," ucap Adip menjawab tapi belum selesai langsung dipotong Baba.


"Kenapa kamu berani menikahinya? Apa yang kamu inginkan dari Putriku? Kau tidak tahu siapa aku?" tanya Baba lagi menyerobot.


"Ehm...," Adip berdehem mengambil nafas. Pertanyaan Baba sedikit mengundang tanda tanya, pertanyaan simple tapi Adip butuh hati- hati menjawabnya. Ini pertanyaan dari seorang ayah soalnya.


"Apa kamu merasa sudah memilikinya hanya dengan mengucap ijab qobul di depan warga, meski itu tanpaku? Memang kamu sudah mendapat ijinku?" lanjut Baba lagi menyerbu Adip dengan banyak pertanyaan.


Baba seperti dendam sekali pada Adip. Adip diam sekejap langsung diserbu lagi.


"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap putriku? Ingat selama aku masih hidup hanya aku yang berhak menikahkan putriku, pernikahanmu belum atas ijinku!" tutur Baba terdengar emosi.


Adip pun memilih diam sejenak menjaga hatinya tetap tenang, biar tuntas sekalian pertanyaan Baba. Tapi sepertinya Baba terhenti di situ.


Adip pun mulai menjawab.


"Apa sudah selesai pertanyaanya, Tuan?" tanya Adip perlahan melirik mertuanya.


"Hmmm," jawab Baba.


Adip menegakan badanya menatap mertuanya.

__ADS_1


"Baiklah, saya ijin menjawab Tuan," tutur Adip sopan.


"Hemm,"


Adip kini menatap bulan duduk di samping Baba.


"Tidak ada alasan untuk saya menolak menikahi Jingga pada saat itu. Pertama, tentu saja nyawa Jingga dan nyawa saya lebih penting, Tuhan memberi kita hidup bukan untuk meninggal sia- sia di atas kesalahpahaman buah dari fitnah yang keji kan?"


"Kedua, bertemu denga Jingga, mengenalnya, melihat senyumnya adalah takdir terindah yang pernah Tuhan beri untuk saya. Jadi saya menikahinya dengan tanpa pengharapan apapun kecuali ingin melihatnya tetap hidup dan kembali tersenyum,"


"Saya tidak pernah mempunyai perasaan memiliki apapun di muka bumi ini, semua yang kita genggam bukan benar- benar milik kita, tapi milik Tuhan. Jingga bukan milik saya dan tidak akan menjadi milik saya. Jingga hidup dengan nafasnya yang digengganTuhan. Jingga juga bisa berfikir merdeka tanpa harus dikekang. Saya selalu memperlakukanya dengan hormat, dia bukan milik saya," jawab Adip panjang dan berhasil membuat wajah Baba memucat. Baba kan yang selama ini merasa Jingga miliknya.


"Saya mohon maaf jika anda tidak berkenan saya menikahi Putri Anda. Saya tidak bermaksud lancang karena semua terjadi di luar kendali saya, tapi," lanjut Adip lagi dengan tenang, akan tetapi Adip terhenti.


"Tapi apa?" tanya Baba.


"Saya mohon, perkenankan pernikahan kami, biarkan kami menikah dengan seharusnya dan sepantasnya, beri kami restu dan nikahkan kami," tutur Adip lagi kini menatap ke Baba dengan berani.


"Ehm...," Baba berdehem lagi, sebenarnya Baba jadi merasa tidak nyaman dan kikuk diperlakukan seperti itu.


Baba kan tidak pernah meminta Buna begitu ke Oma.


"Percaya diri sekali kamu memintaku menikahkanmu dengan Putriku. Memang apa yang kamu tawarkan untuk bisa menjadi menantu dan membuat putriku bahagia?" tanya Baba lagi mulai masuk pertanyaan sulit.


Kali ini Adip gelagapan, Adip kan tidak punya apa- apa selain cinta dan kepercayaan. Tapi kan itu semua terlalu klise untuk dijadikan jawaban. Adip jadi berfikir keras.


"Mohon maaf Tuan, saya tidak punya apun yang bisa saya tawarkan. Karena bagi saya, pernikahan bukan kesepakatan bisnis, atau jual beli yang harus tawar menawar dan menimbang untung dan rugi. Sesuai ilmu yang saya pelajari, pernikahan itu sebuah tahapan hidup yang rosul kita contohkan dan anjurkan. Sebuah tahapan yang merupakan ibadah mulia, utama dan bisa menyempurnakan separuh ibadah kita," jawab Adip tenang dan cukup menyentil hati Baba yang selalu memathok semua hal seperti saat dia membuat kesepakatan bisnis.


"Di mata saya, Jingga memenuhi semua kriteria perempuan yang rosul contohkan untuk bisa saya nikahi, terlebih Jingga juga ingin saya menjadi suaminya, saya ingin menikahi Putri Anda dengan alasan itu semua." lanjut Adip lagi dengan percaya diri.


"Ehm...," kali ini Baba terdiam.


Jawaban Adip terlalu teoritis, tapi cukup membuat Baba tersinggung.


"Saya butuh jawaban yang realistis. Saya ayah Jingga, saya paham betul sifat Putriku yang begitu boros, bagaimana kamu akan menghidupi Putriku, memenuhi kebutuhanya dan menjamin kebahagianya, jika menikah denganmu?"


"Jujur saya saya tidak bisa menjawab pertanyaan Tuan yang satu ini," jawab Adip jujur sudah frustasi dengan pertanyaan Baba yang satu ini, tapi Adip santai.


"Heh...," pekik Baba. Sebenarnya kan Baba sudah suka sama Adip, Baba ingin ngetes, tapi kenapa malah begini.


"Maaf Tuan," jawab Adip polos.


Baba pun jadi meradang, padahal kan mimpi Baba ingin jawaban seperti dulu Bang Dika. Menjawab dengan kerja keras dan lain- lain.


"Begini kau ingin aku menerimamu jadi mantuku? Hohhh. Benar- benar bisa- bisanya semua orang menganggapmu hebat dan aku hampir percaya. Jadi kamu benar- benar tidak siap bertanggung jawab terhadap putriku dan menafkahinya? Kalau begitu ceraikan dia, aku tidak mau mengesahkan pernikahan kalian!" tutur Baba panjang dan emosi, sampai Amer dan Pak Dino dengar dan mengintip.


Adip diam menghela nafasnya.


"Mohon maaf Tuan, jika anda menyuruh saya menceraikan Jingga, itu berarti anda sudah mengakui pernikahan kami. Dan Anda menunjukan saya jalan yang dibenci Tuhan itu juga tidak benar bukan? Saya tidak akan mengikutinya, karena saya ingin Jingga tetap jadi istri saya."


"Saya tidak bilang saya tidak mampu bertanggung jawab dan menafkahinya. Pertanyaan anda bagaiamana saya bisa menjamin kebutuhan dan kebahagiaanya dengan sifatnya yang boros. Saya tidak menjawabnya, sebab, hanya Tuhan yang bisa menjamin kebahagiaan seseorang,"


"Akan tetapi sebagai suami, saya akan menunaikan kewajiban saya bekerja dan memberinya nafkah. Saya berjanji itu,"


"Saya tidak bisa menjawab bagaimana saya memenuhi kebutuhanya yang boros, karena saya tidak akan melakukan itu. Akan tetapi sebagai suami, saya akan membimbing Jingga bagaimana membelanjakan harta agar hisab kami nanti ringan. Bagaimana mengenal kebutuhan dan keinginan,"


"Untuk menjamin kebahagiaan Jingga, saya tidak bisa menjawabnya tanpa Jingga. Karena saya tidak punya toloknukur bahagianya Jingga, Jingga yang bisa jelaskan."


"Saya hanya bisa bergandengan tangan bersama Jingga membangun dunia seperti yang kami impikan. Bukan hanya saya, tapi kami, saya dan Jingga. Karena saya juga tidak bisa menciptakan bahagia sendiri," jawab Adip mengakhiri jawaban panjangnya.


"Gleg," Baba terdiam lagi, kali ini benar- benar terskak dan tidak ada materi untuk bertanya lagi.

__ADS_1


"Saya mohon, beri restu untuk kami, nikahkan kami sebagai mana mestinya, Tuan," tutur Adip mengambil kesempatan.


__ADS_2