Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
41. Fatma


__ADS_3

Jingga kalah telak pada siang itu. Mobil Pak Rendi sampai di dekat kedai makan dekat dengan apartemen Rendi. Di situ rupanya Ibu dan Kakak Rendi sedang makan. Fiks , Jingga nggak bisa kabur. Padahal rencananya begitu mobil berhenti Jingga mau lari. 


“Yang pakai hijab coklat, itu Ummiku, yang hijab Biru adikku, namanya Fatma!” ucap Rendi sambil masuk ke parkiran. 


“Nggak nanya!” jawab Jingga kesal dan Bete, bahkan Jingga hampir mau nangis. 


Rendi hanya terus menatapnya tajam. 


“Kalaupun kamu tidak suka, tolong bawa nama baaik Buna dan Babamu! Bersikaplah dewasa dan manis, oke?” ucap Pak Rendi enteng. 


Menurut Jingga Pak Rendi benar- benar tidak punya perasaan. Air mata Jingga yang dia tahan akhirnya keluar dan menetes juga. 


“Kenapa sih Pak, Bapak ngelakuin ini? Aku nggak mau nikah sama Bapak, please dong Pak, jangan kaya gini! Aku nggak mau ketemu sama ibu bapak!” ucap Jingga memohon, Jingga benar- benar mentok dan rasanya kesal sekali. 


Melihat Jingga menangis sebenarnya ada rasa bersalah di hati Pak Rendi, tapi tetap saja Rendi merasa yang dia lakukan benar. Di keluarga Rendi hampir semua menikah dengan jalan perjodohan, karena di keluarganya dilarang pacaran. Jadi Rendi sangat percay Jingga kelak akan luluh. 


“Menangislah! Keluarkan semua emosimu, ini tissunya, setelah itu baru kita turun!” ucap Rendi dengan tanpa rasa dosa. 


“Woah!” Jingga benar- benar dibuat semakin kelu. Ada orang sedatar dan senyebelin Rendi, udah tau ada perempuan menangis, bukanya menghibur dan mencoba mengerti malah memberinya tisu dan menyuruh menyelesaikan tangisnya. 


“Oh my God! Akan jadi seperti apa pernikahanku apa nanti? Pak Rendi terbuat dari apa sih?” batin Jingga kesal sambil menggigit bibirnya. 


“Kamu nggak mau mempermalukan Baba dan Bunamu kan? Yuk turun yuk! Fatma mau kesini tuh!” ucap Rendi lagi. 


Rupanya adik Rendi mengenali mobil Rendi, adik Pak Rendi itu terlihat meyambut kedatanganya. 


Fatma gadis yang manis, kulitnya sawo matang bersih, bibirnya tidak terlalu mancung, tapi bibirnya sangat imut dan manis. Fatma mengenakan hijab panjang sampai menutupi pahanya, sangat anggun. Ya, Fatma kan anak Kyai. 


Melihat penampilan Fatma, Jingga sedikit kaget. Jingga belum tahu seluk beluk keluarga Pak Rendi. Tidak ada yang salah, karena pilihan Baba Rendi  memang selalu mencari bobot, bibit dan bebet yang baik. Apalagi Jingga tahu, Pak Rendi ada kenal dengan sahabat ayahnya. Dari segi kualitas, diyakini Pak Rendi bukan orang asal. 


Sekali lagi, Jingga tidak butuh itu. Bahkan anak Presiden sekalipun Jingga tidak peduli dan tidak mau. Jingga ingin lari dari hidupya sekarang itu. 


Jingga tidak menjwab da masih menunduk berusaha menghapus air matanya. Rendi dengan sabar menunggu Jingga. Adik Rendi pun sampai dan mengetuk pintu mobil Rendi. 


“Assalamu’alaikum Mas!” ucap Fatma. 


Rendi melirik ke Jingga, mengkodenya agar jangan menangis lagi. Rendi kemudian membuka jendela kaca mobilnya. 

__ADS_1


“Waalaikumsalam Dhek!” ucap Rendi ramah ke adiknya itu. 


“Hai Kak!” sapa Fatma dengan riang dan ceria, ternyata adik Rendi sangat baik dan ramah. 


Dalam otak Jingga seperti ada yang berbisik. Entah darimana ada banyak kata yang datang.


“Jangan jawab Jingga, bersikap ketuslah. Buatlah kesan buruk agar mereka tidak setuju terhadap perjodohanmu!” 


Jingga seperti ingin menuruti kata itu, tapi entah kenapa nurani Jingga tidak kuasa melawan perintah otak Jingga yang jahat itu. Wajah Fatma begitu baik dan tulus, Jingga merasa tidak enak jika harus bersikap acuh tak acuh. 


Meski Jingga sempat diam, berfikir dan tampak canggung, bahkan Rendi sempat khawatir. Akhirnya Jingga balas menyapa juga. 


“Hai!” jawab Jingga akhirnya. 


“Kak Jingga ya? Kenalin aku Fatma! Turun yuk! Fatma nggak sabar buat ketemu Kak Jingga!” ucap Fatma lagi dengan penuh semangat. 


Rendi pun tersenyum menatap Jingga. Rendi berharap, hati Jingga terbuka. Rendi berharap Jingga mengerti, bahwa dirinya akan dimuliakan di keluarga besarnya. 


Jingga masih canggung dengan keramahan Fatma, Jingga kemudian menoleh ke Rendi dengat tatapan getir. Rendi memberi anggukan senyum. Sekali lagi, Jingga tak kuasa mengacuhkan gadis selembut Fatma. 


“Iyah!” jawab Jingga membuka pintu mobil. 


“Kak Jingga ternyata jauh lebih cantik dari di foto!” ucap Fatma lagi. 


Jingga sebenarnya risih, Jingga ingin menepis tangan Fatma dan berkata. 


“Ngapain sih pegang- pegang. Siapa eloh?”


Entah kenapa, bibir Jingga terpatri, susah sekali mengatakan itu, bahkan tanganya seperti lemah dan nurut aja digandeng Fatma. Mereka berdua berjalan di depan Rendi menghampiri perempuan paruh baya yang memakai hijab panjang juga. 


“Ummi, ini calon mantu Ummi!” ucap Fatma percaya diri. 


Ummi Pak Rendi menatap Jingga dari atas sampai bawah. Jingga menjadi semakin tidak nyaman, sepertinya Ibu Rendi tak seramah Fatma. 


“Silahkan duduk Nduk Ayu!” tutur Ibu Rendi. 


Jingga diam tidak menjawab iya karena hatinya berkecamuk, tapi badanya tetap ikut, duduk. Rendi kemudian menyusul. Rendi datang langsung mencium tangan Umminya itu. 

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, Mi!” ucap Rendi sopan. 


“Waaalaikum salam Nak!” jawab Umi Rendi sambil melirik Jingga, karena seharusnya Jingga juga mengucapkan salam dan bersalaman, tapi dari tadi Jingga malah mematung. 


“Maaf Jingga, masih gerogi Mih!” ucap Rendi kemudian mengerti dan berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi. 


Umi Rendi mengangguk dan tersenyum. 


“Kak Jingga jangan takut  ya sama Ummi, Ummi nggak galak kok, kita santai aja!” ucap Fatma menambahi. 


“Ummi, bisa mengerti kok. Terima kasih ya sudah mau datang!” tutur Umi Rendi sangat lembut dan baik. Ternyata penilaian Jingga salah.


Sungguh tidak ada cacat, di antara kedua keluarga Rendi ini. Pasti akan bahagia orang yang menjadi istri Rendi, tapi tetap saja Jingga merasa, itu bukan tempat Jingga. 


“Maafkan saya, Bu!” ucap Jingga akhirnya membuka mulut, sebab kalau diam terus Jingga juga akan tersiksa karena menjadi pusat perhatian. 


“Sudah makan? Makanlah lebih dulu, maaf Ummi pesankan menu ini, ini menu kesukaan Rendi, kamu bisa mempelajarinya, kalau kamu tidak suka , pesan menumu sendiri ya!” tutur Ummi Rendi 


“Ummi terbaik, selalu tau mau Rendi! Ini enak lho Dhek, coba ya!” jawab Rendi ramah menunjukan penghargaanya pada ibunya. Kemudian Rendi juga bersikap manis pada Jingga dengan panggilan seenak jidat Rendi, padahal belum ada kesepakatan. 


Jingga mendelik kesal sebentar. Rendi saat di kelas dengan Rendi yang ada di hadapanya sangat jauh berbeda. 


“Iya!” jawab Jingga akhirnya. 


“Ummi bisa mengerti kecanggunganmu, Nak! Dulu Ummi juga begitu dengan abah, tapi kalian harus belajar ya! Oh ya, setau Ummi, ibumu berhijab kan?” tutur Ummi kemudian memcahkan suasana sehingga membuat Jingga terbelalak. 


“Iya Ummi. Buna Alya berhijab kok, setelah menikah nanti, Jingga juga!” jawab Rendi menyela. 


Gleg 


Jingga langsung menalan salivanya. Tidak ada yang salah memang dari percakapan Rendi dan Ibunya tapi apa ini? Ini hidup Jingga kenapa kalian sok ngatur. Jingga memang akan memakai hijab nanti, tapi bukan keran Rendi dan ibunya. 


“Jika sudah saling mengenal, segerakan menikah ya. Nggak baik kalian berdua- duaan begini lama- lama!” ucap Ummi Rendi lagi. 


“Ya Ummi, ayah Jingga akan segera bahas ini bareng Abis sepulang dari negara T!” jawab Rendi lagi. 


Jingga terus menunduk seperti ingin menangis lagi. 

__ADS_1


“Apa- apain ini? Kenapa semua orang seperti seenaknya saja mengatur hidup Jingga tanpa persetujuanya?”


__ADS_2