Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
12. Dewi Fortuna.


__ADS_3

Mengikuti kebiasaan Baba dan Bunanya, pagi itu Jingga sudah selesai jogging. Seperti layaknya gadi seumuranya, sambil meminum air mineral yang dia bawa saat jogging di sekitar istana keluarganya, Jingga bermain ponselnya. 


Jingga senyum- senyum sendiri karena pagi- pagi sang idola gebetanya sudah menghubunginya, menanyainya dengan perhatian dan kasih sayang. Jingga membalasnya dengan penuh semangat. 


“Pagi Jingga” sapa tama dengan emoticon love.


“Pagi Kak Tama!” jawab Jingga berseri- seri. 


“Lagi apa nih?” 


“Lagi Jogging sama Mbak Mini (pengawal Jingga)” jawab Jingga.


“Kakak kangen nih, boleh kirim foto nggak?” 


Membaca pesan terakhir dari gebetanya Jingga terdiam. Jingga kemudian melirik ke mba Mini, pegawai yang ditugaskan Baba Ardi menemani Jingga. Peraturan Baba Ardi, Jingga dilarang kirim foto dirinya ke media sosial, atau ke orang lain selain keluarganya. Kalaupun Jingga melanggar, Jingga akan ketahuan, karena orang teknisi kepercayaan baba Ardi sudah menyadap semua aktivitas handphone Jingga. 


“Duh, kukirim nggak ya? Bisa jadi masalah kalau nggak dikirim, ahh tapi kalau nggak dikirim nanti Kak Tama marah dan nggak suka sama aku lagi?” 


Jingga diam membolak- balik ponselnya. Mbak Mini hanya terus memperhatikan majikanya itu. 


“Maaf Non, kita jalan paginya udah lama sepertinya, sebentar lagi waktunya sarapan pagi. Kalau kita belum sampai Tuan besar bisa marah lho Non!” tegur Mbak Mini melihat jam tanganya sudah menunjukan pukul 06.40. 


“Hhhh... masih seneng di sini akunya Mbak!” jawab Jingga masih suka menikmati udara luar. Jingga kini berada di taman kota. 


“Tapi kita harus segera pulang Non!” tegur Mbak Mini lagi. 


“Ya bentar lima menit lagi!” jawab Jingga ngeyel. 


Jingga memang anak Baba Ardi yang paling tidak suka dengan semua jam aturan di rumahnya, berbeda sekali dengan adiknya Nila yang sekarang di pesantren. Apalagi aturan baba yang berbunyi setelah adzan maghrib, semua anak- anak baba dilarang keluar rumah. 


Menurut Jingga itu aturan konyol, katrok dan sangat  kolot. Jingga dan keluarganya kan hidup di kota metropolitan. Seharusnya mereka ramah dengan kehidupan malam, apalagi hampir semua party yang dirayakan oleh teman- teman Jingga diadakan malam hari. 

__ADS_1


Tidak sekalipun Jingga pernah menghadiri acara kawanya. Jingga juga selalu dikatai anak sultan yang kuper oleh teman- teman yang selevel denganya. 


Jingga yang terbawa pergaulan menjadi benci Babanya. Bunanya setiap hari selalu menasehati Jingga kalau Babanya begitu karena terlalu sayang pada Jingga, tapi tetap saja, Jingga merasa tersiksa. Jingga ingin berontak, tapi kalau Jingga berontak, Jingga kasian pada Bunanya. 


Jingga kemudian melamun, memikirkan apakah akan mengirim foto atau tidak, entah kenapa meski benci babanya dan ingin teriak, saat hendak melanggar aturan babanya Jingga ada rasa takut.


Apa sebenarnya alasan baba Jingga, Jingga dilarang mengirim foto ke orang selain keluarganya. 


Jingga kemudian memutuskan untuk tetap patuh pada aturan keluarganya. Jingga menolak mengirim foto pada lelaki yang Jingga suka itu tapi tak kunjung menembaknya. 


“Maaf Kak Jingga malu kalau harus kiri foto!” jawab Jingga beralasan. 


“Video call boleh?” tanya Tama. 


Membaca pesan Tama Jingga langsung tersipu. Tama adalah cinta pertama Jingga, baru Tama lelaki yang berani mengajak Jingga video call. Sebelum mengiyakan Jingga berniat  memeriksa penampilanya. Jingga kemudian menyalakan kamera depanya. Jingga mengaca melalu kamera depanya itu. Tapi saat Jingga melihat kamera depan Jingga, fokus Jingga bukan ke wajahnya melainkan ke sosok di belakang Jingga. 


“Sopir sialan itu?” gumam Jingga menutup ponselnya melupakan Tama dan menoleh ke belakang. 


Dilihatnya laki- laki yang kemarin membohonginya tampak sedang berbicara berdiri dengan beberapa anak yang lebih muda duduk melingkar mendengarkanya. 


“Oke.. siap? Kita action! Dimulai dari hal kecil, mulai dari diri kita, yakinkan diri kita, kita adalah the agen of the change! Oke!” teriak laki- laki itu seperti memberi semangat ke adik- adik yang berkaos seragam.


“Oke!” jawab anak- anak itu kompak. 


“Yok yok yok, sebelum memulai aktivitas, yel yel dulu dong!” seru laki- laki itu lagi dengan gelak tawa dan nada bicara yang penuh semangat. 


Dan heranya anak- anak yang berjumlah sekitar 10 orang, sebagian berhijab besar, sebagian anak laki- laki. Mereka kemudian bangun, berkumpul dan meneriakan yel- yel yang membuat Jingga merinding. 


“Siapa dia sebenarnya? Gua nggak salah lihat kan? Iya bener itu dia? Si sopir yang bau keringat! Topinya sama. Gue nggak salah kok!” gumam Jingga lagi terus memperhatikan laki- laki bertopi itu. 


Setelah menyerukan yel- yel, ternyata pasukan laki- laki itu berpencar. Mereka memakai sarung tangan dan membawa keresek. Mereka melakukan bakti lingkungan membersihkan sampah- sampah yang berserakan. 

__ADS_1


Jingga benar- benar tertegun melihat kenyataan yang ada di depanya itu. Niat awal Jingga yang mau melabrak si sopir bau itu, karena setelah tanya ke temanya, tidak ada tarif angkot sebesar seratus ribu. Jingga merasa benar- benar dikerjai, tapi kenyataan sekarang membuat Jingga mengurungkan niatnya. 


“Non! Ayo pulang!” ajak Mbak Mini membuyarkan lamunan Jingga. 


“Ah iya mbak!” jawab Jingga. 


Jingga kemudian berbalik pulang, sambil berjalan sesekali Jingga menoleh ke belakang, dan saat Jingga hendak menyebrang dan menoleh, ternyata pria itu juga melihat Jingga, bahkan pria itu menganggukan wajahnya dan tersenyum ke Jingga. 


“Dia melihatku?” gumam Jingga salah tingkah. 


“Ayo Non!” ajak Mbak Mini menyebrang jalan. Jingga kemudian menyebrang jalan. Saat sudah menyebrang dan Jingga mencoba melihat dan mencari laki- laki itu, dia sudah tidak terlihat lagi. 


“Hhhh siapa dia? Siapa namanya? Kenapa saat memakai pakaian begitu dia terlihat keren sih?” batin Jingga lagi sambil berjalan. 


Ponsel di tangan Jingga terus bergetar, Jingga pun membukanya, ternyata Tama beberapa kali melakukan panggilan video ke Jingga, karena tidak diangkat Tama mengirim pesan lagi. 


“Oh my God..., aku udah cuekin Kak Tama, maaf kak!” gumam Jingga. 


Jingga kemudian mengirim permohonan maaf ke Tama. Jingga dan Mbak mini pun berjalan cepat agar segera sampai rumah. 


Kalau sampai jam sarapan Jingga belum ada di rumah, maka Baba Ardi akan mengeluarkan titah lagi. Jingga pasti akan dilarang olahraga diluar rumah, baik dengan atau tanpa pengawal. 


Melihat jam tangan sudah jam 7 lebih, Jingga dan Mbak Mini panik. Jam sarapan di rumah itu jam 7. Jingga dan mbak Mini sudah menyiapkan diri untuk dihukum. 


“Gimana Non, kalau Tuan besar marah?” tanya Mbak Mini pas udah sampai di depan gerbang. 


“Minta perlindungan sama Buna!” 


“Tapi kita udah fatal Non!” 


“Beralasan aja, diare, lama di kamar mandi, antri tadi, gitu!” ucap Jingga megajari pengawalnya berbohong. 

__ADS_1


“Ya, Non!” jawab Mbak Mini, dengan langkah tergesa mereka masuk ke rumah.


Rupanya dewi fortuna berpihak pada mereka, di meja makan masih sepi. Baba, Buna dan adik- adiknya ternyata setelah sholat subuh tidur lagi, jadi mereka kesiangan. 


__ADS_2