
Baba pun pamit, desa selanjutnya adalah Desa tempat Tari tinggal. Sayangnya Adip melewati desa itu, dan tidak ada Adip juga.
"Kalau Bang Adip nggak ada di desa ini? Gimana Ba? Lanjut je desa lain atau balik tunggu Kak Jingga?" tanya Amer ke Baba. Amer mulai lelah, apalagi mereka lupa bawa baju.
"Lanjut!" jawab Baba mantap.
Amer pun tersenyum simpul. Rupanya Baba juga ikut tersihir, sampai Baba tidak risih belum ganti pakaian.
Mereka kemudian berjalan masuk ke warga. Benar sesuai kata Amer, tidak ada yang mengenal Adip di desa itu.
"Mungkin dia punya nama panggilan tukang sayur kali di sini?"gumam Baba asal.
"Tidak Ba, meski Bang Adip punya nama panggilan, orang- oranf tahu nama Bang Adip. Bang Adip memang belum ke sini," ucap Amer.
"Ya sudah ayo lanjut lagi!" ajak Baba.
Tapi saat mereka berjalan ada yang memanggil Amer.
"Dhek Amer," terdengar suara perempuan lembut memanggil Amer.
Amer menoleh, terlihat perempuan tomboy seumuran kakaknya. Amer tidak kenal tapi kenapa tahu nama Amer.
"Siapa ya?"
"Benar kan? Kamu adiknya Jingga. Aku pernah ,liat fotomu di ponsel Jingga," tutur Tari.
Amer dan Baba kemudiah mengangguk, lalu Tari mengajak mereka mampir. Tari juga memberikan jamuan makanan ala kadarnya. Olahan tepung dengan kuah kuning dan Ikan.
Meski aneh menurut Baba tapi cukup membuat mereka sehat dan kenyang.
Tari pun cerita banyak tentang dirinya dan Jingga, termasuk dirinya satu kelas, teman- teman Jingga dan awal mereka dekat.
“Ini minggu terakhir, kami di sini, Tuan!” tutur Tari di akhir cerita.
Baba ingin dengar cerita. Apa saja kegiatan yang dilakukan Tari di situ.
“Besok pulang naik apa?” tanya Baba perhatian saat tahu Tari sahabat putrinya.
“Kami pulang bersama rombongan, sama seperti saat kami berangkat,” tutur Tari.
"Oh gitu?"
Di kesempatan itu, Amer pun menceritakan tentang Jingga yang pulang. Tari rupanya sudah dengar kasus yang menimpa Jingga sampai dia menikah dari Nita saat mereka ke kota dan bertemu. Nita dengar dari Pak Anton dan Adip sendiri.
“Saya ikut prihatin mendengarnya, saya berdoa semoga Tama belum apa-apain Jingga dan Bang Adip datang di waktu yang tepat, Tuan. Saya bersaksi, Bang Adip tidak mungkin melakukan itu. Kami mengenal Bang Adip jauh sebelum ada acara ini diadakan, ruang Inspirasi ini juga gerakan yang diidekan dari Bang Adip selama jadi mahasiswa, Tuan."
"Ruang Inspirasi ini ada karena Bang Adip yang peduli pada daerah tertinggal, Bang Adip punya misi membangun bangsa dari lini terkecil, Bang Adip ingin ambil bagian dari membangun dari pinggiran,” tutur Tari dengan wajah sendunya dan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya Tari juga patah hati mendengar Adip menikah, tapi karena istrinya itu, Jingga, Tari bisa mengerti dan ikhlas.
“Ehm...” Baba pun hanya berdehem.
__ADS_1
Kenapa semua orang, baik- baikin Adip terus. Benarkah Adip sebaik itu? Kalau benar, berarti beruntung sekali putrinya mendapatkan suami seperti Adip.
Kalau benar sebaik itu, jangankan jadi mantunya. Baba juga mau mengikat orang seperti itu.
“Terima Kasih, Nak Tari,” ucap Baba terlihat dewasa.
“Saya mohon maaf, Tuan, saya sangat menyesalkan, tidak bisa menjaga Jingga. Kami paham dan mengenal Jingga di kampus, kami sangat mengerti, ini dunia baru untuk Jingga. Awalnya kami sudah mengingatkan Jingga untuk mematangkan niatnya ikut acara semacam ini, tapi Jingga berkata mampu, dan kami memang dituntut untuk mandiri tidak saling bergantung. Maafkan kami, Jingga sampai harus mendapatkan musibah itu,” tutur Tari meminta maaf. Tari tahu, Jingga polos sangat.
Hari kemarin, saat tari di kota, Tari berhasil membuka grup whastap kampus yang menggunjing Jingga. Itu sebabnya Tari bisa menebak maksud dan tujuan, orang tua Jingga ke desa.
“Tidak, apa- apa, kamu tidak salah apapun, terima kasih sudah menjadi teman baik untuk putriku,” tutur Baba lagi, kalau sedang berkata begitu, Baba terlihat adem dan tenang.
“Kami tidak menyangka, kalau Kak Tama sejahat itu. Kalau dekan tau apa yang dilakukan Kak Tama, pasti Kak Tama akan dikeluarkan dari kampus,” ucap Tari lagi.
Amer tersenyum, Ikun kan sudah mengerjakan bagianya.
"Keluarga kami ada yang mengurusnya kok, tenang saja," jawab Amer.
Setelah mengobrol dan makan dan istirahat. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke desa S sesuai petunjuk Tari, desa terdekat dengan desa Tari, desa dimana Adip dan Jingga dihukum.
“Jadi ini desa dimana Jingga tersesat?” tanya Baba.
“Iya Ba...,”
“Dermaganya memang mirip ya?” tutur Baba.
“Semua tempat di daerah sini kan memang mirip, Ba,” jawab Amer.
Pak Anton pun menepikan perahunya. Baba meihat ke sekeliling lagi.
“Yang tahu tempatnya Bang Adip, Ba...tapi katanya di daerah sini,” jawab Amer.
Amer pun membuka ponselnya.
Baba yang merasa sakit hati, sudah sampai situ, akhirnya meminta menunda ke warga dan mencari gubuk naas itu.
Amer mengangguk, menyusuri jalan di tepi sungai itu. Amer kan juga sempat melihat foto ancaman Tama yang ditemukan Ikun. Amer menyamakan latar tempat itu.
“Ini Ba... gubuk tempat kakak dijahati, ini barang- barang Kak Jingga,” ucap Amer menemukan sandal Jingga dan sisa barang belanjaan Jingga.
Baba ikut melihat sekeliling. Tak ada rumah lagi, di tengah hutan. Sangat mengerikan dan sangat mungkin terjadi kejahatan.
Meski Adip tidak melihat baju- baju Jingga malam itu, entah kenapa Tuhan tunjukan, baju- bau Jingga yang dibuang Tama pada Baba.
“Kurang Ajjjar!” gumam Baba menatap pedih membayangkan anaknya diperlakukan tidak baik.
Baba kemudian memfoto tkp dan bukti- buktinya. Baba juga menemukan bungkus obat yang Tama gunakan, setelah sebelumnya Adip ambil bekas spuitnya.
“Ambil ini semua, Din,” ucap Baba.
Setelah merasa cukup, Baba meminta meninggalkan gubuk itu, Baba tidak sanggup lama- lama membayangkan kejadian yang menimpa putrinya.
__ADS_1
Amer masih ingat jalan desa, Amer berjalan di depan menuju ke desa. Ternyata benar, Adip ada di desa itu.
Karena sebelumnya Adip sudah berkunjung di desa itu meski sempat menbuat kesalah pahaman, tapi Adip jadi terlihat lebih akrab dengan warga desa.
Baba menghentikan langkahnya. Dada baba bergetar tidak bisa diucapkan melihat apa yang di depan matanya.
“Itukah anak itu? Anak yang akan membawa putriku?” gumam Baba Ardi.
Di depanya terlihat seorang pemuda gagah yang warna kulit dan rambutnya berbeda sendiri dengan orang- orang di sekitarnya.
Adip terlihat sedang memegang sebuah meteran tanah, berdiri dengan pembatas batu. Peluh keringat terlihat membanjiri keningnya. Adip terlihat begitu tenang berwibawa, dan perkasa.
Adip bersama warga bergotong royong. Adip sebagai pemimpin, memberi intruksi, dengan suara lantangnya, mengarahkan, dimana dan bagaimana akan dibuat selokan agar air kotoran hewan ternak nantinya bisa diambil dengan mudah, bisa dimanfaatkan.
Baba menyaksikan sendiri bagaimana dan seperti apa, pekerjaan menantunya itu.
“Bang Adip,” panggil Amer dengan wajah berbinar. Akhirnya ketemu juga.
Tidak hanya Adip, tapi semua pekerja menghentikan aktivitasnya dan menoleh.
“Dheg,”
Adip tertegun sesaat melihat siapa yang datang.
“Amer,” gumam Adip.
Akan tetapi sedetik kemudian, jantung Adip memompa lebih cepat melihat pria berkemeja rapi, meski sudah dua hari tidak ganti tetap terlihat rapi, badan Baba kan juga tinggi sedikit buncit sekarang. Wajahnya sangat mirip dengan pujaan hatinya.
“Gleg,” Adip menelan ludahnya terbengong. Adip kemudian meletakan alat pekerjaanya dan menepukan kedua tanganya membersihkan kotoran. Adip berjalan mendekat pada tamunya.
Amer juga berjalan mendekat diikuti Baba, Pak Dino, Pak Anton dan pengawal. Amer langsung berjalan memeluk Adip.
“Apa kabar Bang? Sehat?” tanya Amer ramah.
“Kamu tau darimana aku di sini? Apa kabar Kakakmu? Jingga baik- baik saja kan? Kenapa kamu ke sini? Apa dia ayahmu?” tanya Adip langsung menanyakan istrinya dan menebak pria di belakang Amer.
Amer melepaskan pelukanya tidak menjawab dan menoleh ke ayahnya.
Adip menganggukan kepala sebagai tanda hormat. Adip tahu itu pasti Tuan Ardi Gunawijaya, dengan berjalan tenang dan tubuh tegap, Adip menghampiri Baba.
“Selamat Siang, Tuan,” sapa Adip membungkukan kepala memberi hormat.
“Ehm...,” Meski tadi pagi sudah keceplosan bilang dirinya mertuanya Adip, tapi Baba jadi salting dan tengsin sebagai mertua.
Baba mau jual mahal, dan mengerjai Adip. Baba tidak mau terlihat murahan terhadap pria yang mau menandinginya, eh sudah mengalahkanya merebut hati Jingga dan Buna ding.
*****
Hehehehe
Jangan tanya visual Adip ya....
__ADS_1
Pokoknya kerenlah ganteng, tapi wajah indo asli kok. Banyak contoh di dunia nyata pemuda berprestasi Kaya Adip.
Author 2 tahun belakangan jarang nonton drama atau film jadinsusah suruh cari visual. Khayalin sendiri2 yaaa... Hehehe