Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
72. Kaya Jin


__ADS_3

Pagi datang lebih cepat dari biasanya, Jingga terbangun lebih awal. Jika di istana Babanya Jingga terbangun karena mendengar alarm dari jam weker cantik di atas nakasnya, kini Jingga terbangun karena suara merdu dari ayam- ayam yang berlomba mencari makan. Ya itulah alarm paling mahal pemberian Tuhan yang tidak Jingga miliki, sayangnya di situ Jingga tidak mendengar suara adzan.


"Emmmmtt," Yuri pun merentangkan tanganya membuka selimutnya sehingga mengenai Tari. Mereka berempat tidur berbagi dalam satu selimut.


"Tangan mu lho!" ucap Tari menyingkirkan tangan Yuri. Suara Tari ikut membangunkan Lili.


"Uuuh, ini jam berapa sih?" tanya Jingga ikut terbangun.


"Nggak ada jam. Hapeku mati. Jam tanganku di tas, coba lihat, di Tas!" jawab Tari masih memejamkan mata tidak rela tidurnya diakhiri.


"Ishh...!" desisi Jingga dan Yuri baru tahu Tari ternyata begitu suka tidur.


Jingga pun bangun dan mencari jam tanganya.


"Masih jam 3 malam!" jawab Jingga sambil menguap dan menggaruk kepalanya, tapi Jingga melihat ke celah jendela kayu langit mulai memutih, hijaunya pohon mulai terlihat dan melambai menawarkan kesegaran.


"Jamku eror apa ya?" tanya Jingga tidak sadar dirinya berbeda daerah dan jam tanganya belum dia atut ulang.


"Hemmm, sama!" jawab Yuri.


Tari yang masih ingin tidur tapi sudah terlanjur bangun mendengar percakapan kedua temanya itu jadi gemes.


"Haissh!" Tari kemudian mendesis dan terpaksa bangun.


Yuri dan Jingga menoleh ka Tari heran.


"Kalian itu selama ini sekolah sampai SMA ngapain aja sih di sekolahan?" tanya Tari emosi.


Jingga dan Yuri diam, Tari bangun tidur langsung marah. Sementara Lili memelih cuek dan menarik selimutnya lagi.


"Kita itu ada di pulau P. Waktu kita di rumah di sinu itu beda dua jam. Oneng!" lanjut Tari memberitahu


"Astaghfirulloh, iya ya! Hahaha! Aku baru ingat kita sekarang berbeda pulau!" jawab Jingga untuk pertama kalinya tertawa menyadari kebodohanya.


"Hiiisshh!" Tari dan yang lain kemudian melirik Jingga dan memanyunkan bibirnya mencibir.


Mereka kemudian membuka jendela kayu di sisi dinding kamar mereka. Benar ternyata sudah subuh, bahkan subuhnya sudah mau habis, terlihat langit mulai menguning. Jingga dan Tari pun buru- ke kamar mandi.


Saat keluar kamar mereka baru sadar, dimana kamar mandinya? Ini kan rumah panggung? Semalam kan mereka bersih- bersih di sumur dekat gereja.

__ADS_1


Jingga dan Tari pun berjalan menyusuri rumah itu dan menemukan, pekerja ketua suku di situ tampak sedang menyapu. Jingga dan Tari pun bertanya.


"Maaf Bu..mau tanya. Kamar mandinya dimana ya?" tanya Jingga.


"Di bawah sana, itu rumah bilik itu!" ucap pekerja menunjukan sebuah gubuk di bawah sana yang berbeda bangunan.


Jingga dan Tari menelan ludahnya, tak seperti di kota atau di hotel di setiap kamar ada kamar mandinya. Untuk mendapatkan air mereka harus turun dan berjalan ke luar rumah.


"Terima kasih Bu!" jawab Jingga dan Tari.


Mereka kemudian menuruni tangga rumah itu dan berjalan ke arah kamar mandi. Di sepanjang jalan ada beberapa hewan anjing dan ayam yang bermain dengan bebas. Jingga si anak Baba Ardi yang dengan kucing saja alergi apalagi anjing liar langsung berpegangan kencang ke Tari.


Apalagi saat Jingga turun hewan- hewan itu mengeluarkan suaranya, seperti mengenali orang asing.


"Tari aku takut!" Bisik Jingga tidak berani melangkah.


"Aih. Aku juga nggak pernah piara anjing gimana nih? Hush hushh!"usir Tari menggerakan tanganya menyuruh hewan itu pergi.


"Guukk guuukk guuukk!" sayangnya anjingnya .alah mennggonggong lagi.


"Aduh gimana ini? Anjing kita mau wudzu mau kencing dan cuci muka, kita lewat dulu ya!" ucap Jingga dengan polosnya berusaha mengusir anjing itu.


"Aduuh gimana niih? Lari aja apa gimana?" tanya Jingga panik mereka terjebak diteriaki 3 anjing.


"Kalau kita lari nanti kita dikejar, Ngga" jawab Tari.


"Aduh... terus gimana?" tanya Jingga lagi semakin panik.


Jingga bahkan gemetaran, entah kenapa para pekerja dari ketua suku juga tak ada yang keluar membantu. Tari dan Jingga sama- sama muslim jadi tidak paham menangani hewan seperti anjing.


Di saat mereka berdiri terpaku gemetaran bahkan hampir menangis. Anjing- anjing itu berhenti mennggonggong dan berjalan melewati mereka.


Tari dan Jingga menelan ludahnya dan menoleh ke belakang mengikuti arah anjing itu berjalan.


"Siyag....siyag...lai pose lai pose! Bener kan itu?" Terdengar suara pria bertanya pada rekanya sambil tersenyum dan memberi makan anjing itu. Dua lelaki itu tampak makai kaos dan celana kolor dengan santai memberi hewan itu makanan.


"Hoh...!" Tari pun menghela nafasnya lega.


"Pria itu lagi!" gumam Jingga mendadak salah tingkah dan menelan ludahnya lalu menundukan wajah menyembunyikan wajah merahnya yang hampir menangis.

__ADS_1


"Bang Adip makasih ya! Untung ada Bang Adip!" ucap Tari dengan wajah ceria dan sumringahnya.


"Kalian ngapain berdiri di situ pagi- pagi begini?" tanya Adip menjawab sambil melempar semua makanan anjing yang terntayata ikan goreng.


"Kita mau wudzu, Bang! Tapi anjing- anjing itu malah ngegonggong kek mau gigit kita!" jawab Tari.


Mendengarnya Adip dan temanya yang ternyata namanya Pipiso, dia orang asli daerah situ yang bekerja sebagai penjaga puskesmas.


"Oh...! Wudzu mau sholat subuh?" tanya Adip sedikit menyindir karena langis mulai cerah.


"He, kita kira masih petang! Bang Adip sendiri mau kemana?" jawab Tari nyengir sementara Jingga diam saja dari tadi.


"Ooh! Biasa jalan- jalan!" jawab Adip mengangguk sama sekali tidak mau menoleh ke Jingga.


"Nona jangan takut. Mereka tidak akan menggigit. Kalau mau jalan - jalan saja!" sahut Pipiso teman Adip yang berkulit lebih gelap dari Adip. Padahal dibanding Tama dan Rendi, Adip juga paling dekat.


"Oh gitu? Makasih ya. Udah tolongin kita!" ucap Tari lagi.


"Sama- sama Nona. Nanti akan terbiasa kok!" jawab Pipiso lagi.


"Di desa kalian nanti akan lebih banyak banyak dan lebih galak. Kalian harus terbiasa!" ucap Adip lagi.


"Iya Bang!" jawab Tari.


"Ya udah sana buruan wudzu! Keburu keluar tuh matahari. Jadi dzuha entar!" ucap Adip memberitahu ke Tari.


"Ya Bang. Ayo, Ngga!" jawab Tari mengangguk, lalu berjalan meenggandeng Jingga.


Tari pun berjalan dengan gembira sementara Jingga berjalan menunduk.


"Kenapa dia kaya Jin sih selalu ada tiba- tiba" batin Jingga sambil berjalan tanpa Tari tau.


"Untung ada Bang Adip ya Ngga? Dia cakep kaan? Dia senior yang gue ceritain. Seneng banget gue!" gumam Tari dengan ceria tapi Jingga malah melamun hal yang lain, dan Tari dicueki.


"Ngaak!" panggil Tari lagi.


"Eh ya? Ada apa?"


"Itu tadi, Bang Adip yang gue ceritain. Cakep kaan?"tanya Tari lagi.

__ADS_1


"He.... iya iya cakep!" jawab Jingga nyengir. "Iya cakep, tapi dia beneran si supir dan tukang ojek itu bukan sih?" batin Jingga.


__ADS_2