Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
201. Masih Kuat


__ADS_3

“Gimana Dip?” tanya Mang Jojo, 


“Besok sidang di kantor polisi sama disuruh urus pajak,” jawab Adip malas lalu masuk ke mobil. 


“Lah tadi siapa yang telpon?” tanya Emak penasaran. 


“Ehm...,” Adip berdehem gerogi mendadak, Adip ingin juga Emaknya kenal dengan istri dan mertuanya, tapi Adip tetap ada keraguan dan takut, belum siap juga dengan respon kedua belah pihak juga kalau ketemu. Dari pihak Emak dan bapak akan syok atau tidak, lalu pihak Jingga akan menghina atau tidak?


“Siapa kok Emak denger ada suara perempuan kaya teriak- teriak gitu?” tanya Emak lagi dengan nada tidak suka. Emak dengar suara Jingga yang mengejek Adip.


Tuh kan, Adip jadi menelan ludahnya, istrinya kan memang bawel sangat, duh bahaya kalau Emaknya tau kelakuan istrinya yang manjanya nggak ketulungan, agresif dan kalau ngomong seenak jidat. 


“Ditanya kok malah diam?” tanya Emak lagi. 


“Istri Adip, dan mertua Adip, Mak,” jawab Adip akhirnya. 


“Oh... istrimu? Kenapa nggak bilang? Emak pingin lihat dan pingin kenal? Terus yang suara cempreng dan teriak sukurin- sukurin siapa?” tanya Emak lagi. 


“Gleg,” Adip mengulum lidahnya dan mengusap tengkuknya. 


“Adik Adip, Mak!” jawab Adip berbohong demi menutupi aib istrinya. 


“Oh... punya adik?” tanya Emak. 


“Punya Mak, Jingga anak pertama?” 


“Oh namanya Jingga?” pekik semuanya. 


“Ya...,” 


“Berapa Adikmu Dip?” tanya Yuli. 


“5 otewe 6,” jawab Adip lagi.


“What?” pekik semuanya melongo. 


“Udah sih nggak usah tanya- tanya, berdoa yuuk, berangkat yuk!” ajak Adip malas diwawancarai lagi. Padahal yang lain masih penasaran.


Setelah terdampar menunggu uji kelayakan kendaraan, mereka kembali berangkat ke hotel.


Sekitar 30 menit mereka sampai. Nampak hotel tinggi besar megah dan bertuliskan Gunawijaya di hadapan mereka. 


Emak sampai mendongak ke atas dan sakit lehernya melihat gedungnya. Pahatan hiasan dan tamanya juga sangat indah di taman dan pintu masuk. 


“Ini hotelnya, Dip?” tanya Sarti. 


“Iya?” 


“Mertuamu, pengusaha apa? Bayarin kita nginep di sini?” tanya Yuli lagi.


“Usaha apa ya?” jawab Adip mengalihkan. 


Si Sarti menyenggol, “Dokter juga soalnya,” bisik Sarti. 


“Emang Dokter spesialis apa?” tanya Yuli. 


Adip garuk- garuk kepala. Adip mau jelasin kalau mertuanya yang punya ini hotel, tapi nanti pasti keluarga dan temanya akan berespon berlebihan. Ah biar nanti tahu sendiri. Adip tidak mau bikin heboh apalagi bikin Emak sombong, syok atau minder. 


Adip hanya ingin di hari bahagianya berbagi dengan orang- orang yang sayang terhadap Adip secara tulus.


Adip ingin teman- temanya yang sudah lelah bekerja dan menghadapi kerasnya kehidupan, sesekali menikmati indahnya dunia dan teknologi, yang berbeda dengan dunia mereka. 


Itu bentuk kasih sayang Adip pada mereka yang di bawah.


“Nanti kalian tahu sendiri dan kenal sendiri, yah! Yang jelas insya Alloh pekerjaannya di jalur legal dan benar. Dah nggak usah tanya- tanya!” jawab Adip masuk ke parkiran. 


Akan tetapi seperti sebelumnya, Adip distop satpam, dan ditanya- tanyai, dikira salah masuk.


“Duh... kita nggak boleh masuk lagi ya?” ucap Sarti panik lagi dan minder. 


“Tenang aja,” jawab Adip. 


Adip langsung mengeluarkan KTP nya, dan fotonya. Seketika satpam langsung berubah sikap dan ekpresi.


“Oh maafkan kami Den? Maaf! Mari ikut kami!” ucap satpam langsung hormat pada Adip, meski wajahnya agak syok melihat mobil Adip. 


Sekarang mereka berganti mengarahkan Adip agar parkir di jajaran direksi dan petinggi. Bapak, Mang Jojo dan yang lain jadi pada bergumam heran. 


“Mereka nggak tahu, Adip calon pengantinya sih? Sekarang udah tahu,” gumam Emak dan Sarti. 


Tidak lama Adip memarkirkan mobilnya, di samping Adip berjajar, mobil BMW, Fortuner, dan Pajero. Mobil Adip mobil keluaran tahun 1987 yang bagian bawah mobil catnya ada yang mengelupas dan berkarat.


Tapi meski Uwak tak pernah bercerita, kata tetangga dan bukti STNK mengatakan, itu satu- satunya bukti otentik peninggalan ayah kadung Adip. 


“Udah... udah... aman kok! Yuk turun!” ajak Adip,  


Mereka pun turun. 


“Astaghfirulloh,” pekik Emak berjingkat kaget hampir jatuh.


Begitu membuka mobil karena gugup dan melamun Emak kaget di depanya berdiri pegawai hotel dengan seragam rapih, menunggu rombongan turun hendak melayani keluarga Adip. 


“Selamat, Siang.. tuan Nyonya. Kami siap membantu. Ada barang yang bisa kami bawa?” sapa pegawai hotel ramah. 


Emak Adip dan yang lain bukanya menjawab malah melongo dan saling bengong.


Pak Dino sudah memberitahu, besan Baba bukan dari kalangan pengusaha atau pejabat, jadi meminta pihak hotel memberikan service bantuan maksimal, tidak boleh melecehkan, kalau bisa lebih prima dari pelayanan pejabat yang serba bisa. 

__ADS_1


“Ada di bagasi!” ucap Adip yang menjawab. 


Mang Jojo pun membuka mobil dan menunjukan barang- barangnya.


Pegawai hotel dengan sigap membawakan barang- barang Adip. Emak dan Bapak semakin melongo. Mereka biasa melayani bukan dilayani.


“Mereka temanmu Dip? Kamu kenal?” bisik Emak ke Adip heraan. 


“Mereka pelayan Mak, sudah kita ikuti saja!” jawab Adip.


"Oh!"


Mereka pun berjalan mengikuti pegawai hotel, agar ditunjukan jalan menuju kamar mereka. Dalam hidup mereka, ini pertama kalinya mereka menginjakan kaki di hotel. Emak sepanjang jalan pun bengong menatap gedung megah yang tembok dan lantainya berkilauan.


Untungnya Pak Dino sudah menginstruksikan pegawai hotel, keluarga Adip diberi jalan khusus. 


“Weh... ini yang namanya lift kaya di pelem ya Dip?” bisik Mak Adip lagi memegang kemeja Adip pas masuk lift takut. 


“Iya Mak!” jawab Adip dengan nada sayang pada Emaknya. 


Tidak lama lift terbuka, mereka sampai di sebuah lantai yang di depanya ada ruangan indah berlantai permadani, di tengahnya ada meja besar ditaruh Bunga Anggrek bulan yang indah, dindingnya kaca- kaca mengkilap. Di tembok juga tertempel lukisan- lukisan antik. Lalu di atas ada ukiran indah berbunyi, Gunawijaya. 


Rupanya itu lobby resepsionis di kamar VVIP. Petugas pun meminta kunci kamar ke Adip berjumlah sepuluh kamar. Mereka membebaskan Adip membawa siapa saja dan terserah membaginya.


Untuk kamar Adip sendiri ternyata sudah dipesankan kamar pengantin yang di dalam kamarnya terhubung dengan kolam ke arah luar. Hotel Gunawijaya memang di desain ala- ala hotel di santorini.


“Terima kasih, 3 kamar cukup, Mas” jawab Adip ke pelayan menolak.


“Tidak, apa- apa Tuan, bawa saja kuncinya. Barangkali masih ada tamu yang belum sampai. Satu hari ini Tuan Dino sudah bebaskan semua kamar blok ini untuk keluarga Tuan Adipati,” tutur Pelayan memberitahu. 


"Jadi harus diisi?" tanya Adip.


"Sebaiknya begitu," jawab pelayan.


Bapak dan yang lain yang mendengar langsung melongo, Adip sendiri menelan ludahnya.


Baba kalau udah kumat loyalnya kan memang sangat loyal. Baba hanya ingin menghormati besanya. 


Keseharianya omset hotel Baba selalu hampir penuh. Beramal satu hari tak berasa untuk baba. Toh di lantai lain masih full dan ramai pengunjung.


“Oke,” jawab Adip mengangguk tidak banyak bicara.


Adip jadi ingat teman- teman komunitas pengamen angklungnya, ingat teman- teman organisasinya. Sayang kalau Baba udah kosongin kamar tapi nggak dipakai.


Abah Anwar dan Uwak sudah diundang tapi Abah tak bisa meninggalkan kewajiban mengajar, kalau Uwak jangan ditanya. Padahal harusnya mereka bisa ikut menginap.


“Barang- barang ditaruh di kamar, mana Tuan?” tanya pelayan yang membawa tas emak dan sasrahan. 


“Di kamar ujung dulu, kumpulin di situ!” jawab Adip memberikan kunci satu kamar ujung. 


“Maak,” panggil Adip


“Sini kumpul!” ucap Adip mengumpulkan keluarganya.


“Kalian mau kamar sendiri- sendri apa dua- dua?” tanya Adip menawarkan.


“Dua- dua!” jawab anak- anak cepat, mereka takut kalau sendirian. 


“Oke. Ini kuncinya,” ucap Adip menyerahkan kartu satu- satu ke Bapak, Mang Jojo dan Yuli. Sayangnya semuanya bingung bagaimana bukanya, mereka kan pedana. Akhirnya Adip dengan sabar bukain satu- satu. Mereka pun beristirahat. 


Keluarga Adip benar- benar speechless tidak bisa berkata-kata setelah masuk ke kamar mereka. Rasanya masih seperti mimpi. 


Sementara Adip masuk ke kamarnya sendiri, dan langsung merebahkan badanya.


Tidak ada yang melihatnya, Adip terlentang memandangi langit- langit ruangan sambil meneteskan air mata. Adip masih tidak mengerti dengan takdirnya. 


Pertemuanya dengan gadis bodoh, judes dan cerewet di mobil merah saat itu membawanya pada takdir ini.


Saat itu dia disuruh kerja oleh Uwaknya, padahal hari itu Adip harusnya menghadiri acara makan- makan bersama teman kampus di restoran keren, sebagai perpisahan setelah wisuda. 


Adip patuh ke Uwaknya, tidak ikut makan - makan.Hari itu katanya dua karyawan pengangkut padi sakit.


Ternyata kepatuhan Adip meski diperlakukan tidak baik, mengantarkan Adip bertemu dengan Jingga si gadis bodoh dan ceroboh. 


“Bapak..., Emak... semoga kalian bahagia,” ucap Adip dalam hati. 


Adip kemudian mengambil dompetnya dan memandang foto masa kecilnya.


Ada satu lembar foto hitam putih yang sudah mulai kabur. Sepasang suami istri, ayah Adip mirip Adip, tinggi, tegapz gagah dan berahang tegas tapi manis. Ibu Adip, ibu muda yang manis dengan rambut pendek tersenyum imut. Ibu Adip tak seperti Jingga yang hidungnya mancung, Ibu Adip berhidung mini tapi manis. 


Mendiang Adik Adip masih bayi, Adip juga masih balita belum sekolah. 


“Benarkah Uwak itu saudaraku, Yah?” batin Adip dalam hati. 


Adip yang sudah dewasa, sebenarnya juga menaruh curiga. Ayah Adip bukan orang sembarangan, dulu juga punya rumah dinas besar dan punya pelayan, meski pindah- pindah tugas. Tapi dengan jabatan ayah Adip, seharusnya Ayah Adip punya tabungan dan tidak sedikit.


Adip terlalu kecil untuk mengingat dan tahu, tahunya Adip hanya ibunya sakit, adiknya juga sakit sepeninggal ayahnya.


Ibu dan adiknya m kemudian meninggal dan dimakamkan di kampung. Ayah Adip sendiri dimakamkan di Pulau Panorama, dekat dengan tempat tugasnya. 


Adip pernah terbersit ingin menanyakan tentang seluk beluk orang tuanya dan harta peninggalanya. Akan tetapi Abah selalu menasehati. 


Harta kita yang sesungguhnya, bukan harta yang ditumpuk dan dikumpulkan. Tapi harta yang kita pakai, yang kita makan, yang kita sedehkahkan untuk amal baik.


Untuk menanyakan sesuatu yang tidak jelas keberadaanya dan akan menimbulkan persengketaan, adalah sia- sia. Suatu keriganan juga Adip kan tak usah pusing mengelola harta di usia sekolah.


Sebelumnya Uwak Adip pernah ditanya Abah, katanya uang ayah Adip untuk pengobatan emak dan adiknya, sudah habis.

__ADS_1


Nasehat Abah, yang penting Adip bisa makan itu sudah cukup. Jangan risauakan harta yang tak menjadi milikmu, ada Alloh yang menjamin kehidupan Adip di masa depan.


Tugas Adip melakukan kewajiban Adip yang ada di depan dengan baik. Saat menjadi siswa ya jadilah siswa yang baik. Saat jadi santri ya jadi santri yang tekun, saat bekerja ya bekerjalah dengan tanggung jawab. Selebihnya tidak usah dipikir. 


Abah juga pasang badan untuk bantu Adip meski Bapak dan Emak Adip miskin. Yang penting pesan Abah Adip, jadilah manusia yang jujur, yang sayang sesama makhluk dan berusaha jadi orang bermanfaat meski itu hal kecil. 


“Kriiing...,” suara telepon membuyarkan lamunan Adip.


Adip pun menyeka air mata yang membasahi pipinya. 


Diusapnya layar androidnya. 


“Kangeen,” 


Tanpa salam tanpa sapaan, di layar ponsel Adip terlihat gadis cantik terlihat berbaring di kamar dengan rambut terurai indah melontarkan rasa rindu dengan bibir manyunya. Adip jadi tersenyum gemas. Jingga memang selalu menggemaskan dan membuat Adik kecil Adip jadi berdiri.


“Bohong! Tadi, nyukurin aku kok, katanya sukurin aku ditilang,” jawab Adip mencibir ajak bercanda Jingga meseq.


“Iiiih ya abisnya gitu, dibilangin bawel,” ucap Jingga lagi. 


Adip hanya tersenyum, tidak tahu Jingga, mobil tua itu mobil penuh cinta untuk Adip. 


“Kalau nggak ada mobil itu, kita nggak ketemu Sayang, jangan durhaka kamu!” jawab Adip. 


“Hehe... udah sampai di hotel? Sama siapa aja?” tanya Jingga. 


“Sama Mertuamu, nanti kamu kenalan ya sama mereka!” ucap Adip. 


“Sekarang aja!” ucap Jingga tidak sabaran. 


“Nggak sopan kenalan pertama lewat telepon,” jawab Adip. 


“Yaya! Eh Baba sama Buna sama Oma mau kesitu,” 


“Oh iya? Kapan?"


"Katanya mau nyapa besan. Abis pengajian!"


"Ok. Katanya di rumah lagi ada pengajian, kok kamu malah di kamar?” tanya Adip ke Jingga. 


“Kangen Abang, kalau telpon di bawah digangguin Iya dan Iyu, Buna sama Oma juga suka nguping, kasih kiss dong!” ucap Jingga dengan wajah tengilnya senyum senyum dan agresif, membuat Adip yang melihatnya gemas. 


“Ishh. Besok pagi kan kita ketemu, ditabung dulu kangenya, biar banyak! Sana turun ikut ngaji!” tutur Adip memberitahu. 


“Udah banyak banget kangenya, nggak muat inih!”


"Ya udah ikut kesini!"


“Kan kita dipingit, katanya,” jawab Jingga.


"Oh yaya. Yaudah matiin telponya!"


“Nggak mau masih kangen! Oh ya Abang undang siapa aja?” 


“Teman- teman kampus ma anak Bem. Eh, Abang ajak teman- teman angklung kesini boleh?” 


“Boleh dong, sekalian buat isi acara juga boleh, teman Abang yang suka di perempatan itu kan?” 


“Iya, kok kamu tahu?” 


“Hehehe aku dulu suka liatin Bang Adip,” jawab Jingga akhirnya ngaku. 


“Dasarr kamu, diam diam ya. Ya udah sana ngaji! Udah dulu ya!” ucap Adip. 


“Yah masih kangen,"


"Besok ketemu! Daah!" jawab Adip menutup teleponya.


Ternyata di rumah Jingga, juga ada acara siraman, dan pengajian. 


Adip kemudian menunaikan sholat, lalu menelpon teman- temanya.


Bukan aji mumpung, tapi Adip tak mau pemberian Baba mubadzir, Baba sudah menutup orderan hotel untuk hari ini jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan.


Adip juga rindu dengan teman- teman kuliahnya dan teman komunitasnya. Libur Adip kan singkat kapan lagi ketemu.


Meski nanti sekamar berempat orang, yang perempuan berdua, mereka pasti bahagia kumpul bareng nginep di hotel mewaah. 


Teman- teman Adip yang lebih dulu liatt berita memang sudah menyiapkan baju kondangan dan kado. Begitu dikabari resmi oleh Adip mereka langsung antusias otewe ke hotel Baba.


Sekitar Abis Isya rombongan Baba pun menyapa orang tua Adip. Kini teman- teman Adip akhirnya tahu siapa mertua Adip. Mereka berbagia.


Malam sebelum penganten, teman- teman Adip pun mengerjai Adip. Lalu mereka bersenda gurau layaknya calon penganten yang lain.


Meski Udin dan Mang Jojo berbeda kelas, karena mereka cerewet dan pandai melawak, mereka tetap bisa bergabung bersama teman- teman Adip. 


****


Di Balkon Kamar.


“Hahhh... Emak bersyukur Pak, sungguh Alloh itu adil, akhirnya Adip merasakan apa yang seharusnya dia dapatkan,” ucap Emak ke suaminya meneteskan air matanya. 


“Apa yang sudah menjadi hak, meski diambil orang, kalau ikhlas, Alloh akan menggantinya lebih. Adip sudah lama berpuasa dan menderita, sekarang saatnya memanen, dia pantas dapat ini semua,” jawab Bapak mengintip Adip yang sedang tertawa bersama teman- temanya di kafe hotel di lantai bawah. 


“Semoga Adip bisa jadi orang yang bermanfaat dan sukses ya Pak, nikmat yang dia terima tidak buat dia tamak dan serakah, tapi untuk manfaat!” tutur Emak lagi, di hatinya masih tetap terselip Adip jadi orang sukses di atas kakinya sendiri. 


“Aamiin. Anak kita anak sholeh. Insya Alloh Adip tetap jadi orang yang baik. Ya sudah kita tidur, Yuk! Pumpung di hotel, kaya orang- orang!” ajak Bapak mengerlingkan matanya ke Emak. 

__ADS_1


“Bapak ih... udah tua juga, emang masih kuat?” 


“Kuat!” jawab Bapak tersenyum.


__ADS_2