Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
188. Ada Syaratnya


__ADS_3

"Hiks.... hiks.....," Jingga menangis di ujung perdebatanya.


Adip dan Jingga meminta supir menghentikan mobilnya beberapa meter di depan Istana Baba Ardi.


Mereka sudah hampir sampai. Tapi Adip dan Jingga belum menemukan kata sepakat.


Mendengar permintaan Adip tadi Jingga mengernyit dan berfikir. Bagaimana bisa di Ibukota, Jingga berhenti memakai kartu black card dari Babanya yang selama ini tidak ada habisnya ingin apa saja bisa lalu beralih tunggu transferan dari Adip.


Mereka berdua kemudian berdebat. Jingga meminta keringana bagi Adip. Harta Baba kan buanyak, kalau bukan anaknya yang menikmati lalu mau untuk apa.


Adip pun meminta waktu, mematangkan rencana hidupnya sebelum benar- benar bertemu keluarga besar Jingga. Adip tidak mau kalau Jingga tidak patuh ke depanya Adip menjadi suami yang takut istri hanya menjadi boneka tak berdaya dan hilang gagahnya.


Adip kan juga ingin menoreh sukses sendiri. Meski suatu saat nanti tetap dapat jatah waris dari istrinya setidaknya ada hal yang Adip tunjujan ke anak cucunya siapa ayahnya dan bagaimana ayahnya. Tidak semua tentang Kakeknya.


Untuk pertama kalinya, Adip dan Jingga beradu pendapat dan saling bersitegang terkait prinsip. Padahal memasuki usia pernikahan baru sampai di emperan.


Sopir dan pengawal Baba tidak berani berkomentar. Dalam hati mereka semua hanya membatin bingung. Adip ini bodoh atau hebat. Punya mertua konglongmerat malah menantang bahaya. Bahkan dalam percakapanya Adip setengah menantang Jingga, lanjut atau end.


"Hoooh...," Adip menghela nafasnya hanya bisa melirik ke Jingga yang terisak karena mempertahankan pendapatnya. Kali ini Adip sedikir tega, tidak kasihan atau takhluk terhadap tangisan Jingga.


Bagi Adip masa depan jangka panjang sebagai lelaki di hargai sebagai pemimpin dengan sekedar membiarkan Jingga menangis lebih besar.


Benar sesuai prediksi Adip. Mereka akan banyak menemui perselisihan, Jingga wataknya tak semanis rupanya. Akan banyak perbedaan yang mereka hadapi.


"Kalau memang kamu tidak bisa. Sebelum pernikahan kita sah di atas kertas dan kita akan terikat banyak aturan dan hukum. Kita bisa pikirkan ulang, Jingga! Apa kamu benar- benar serius siap jadi istriku?" ucap Adip serius menimbang Jingga lagi.


Ternyata Adip juga ingin menunjukan wibawanya sebagai laki- laki yang tegas dan berprinsip. Adip tidak ingin bermain- main dalam pernikahanya.


"Mereka orang tuaku, apa salahnya kalau aku menikmati kepunyaan orang tuaku? Mereka tidak merendahkanmu hanya karena membiayaiku. Aku anaknya!" jawab Jingga masih berusaha mempertahankan pendapatnya.


Jingga kan wataknya juga keras. Tidak mudah langsung berkata ya ketika menemui perbedaan pendapat.


"Tapi ketika menikah itu beda lagi Jingga. Tolong mengertilah! Hargai keberadaanku, biarkan aku melakukan tugas dan kewajibanku sebagai suamimu, setelah menikah kamu tanggung jawabku!"


"Terus bagaimana dengan kuliahku? Kuliahku butuh uang banyak!"


"Aku kan tadi sudah bilang. Aku sanggup dan aku akan berusaha! Semua itu tergangtung kepercayaanmu! Kuliahmu tinggal 1 tahun lagi kan?"


"Tapi kalau Baba ngasih uang dan Baba ingin menunjukan perhatianya. Masa iya aku tolak?" jawab Jingga lagi, pokoknya Jingga juga bukan perempuan yang se bodoh kelihatanya.


"Kamu kan bisa katakan kalau kebutuhanmu sudah cukup, aku akan nafkahi kamu," tutur Adip lagi bersikeras.


"Tapi kan selama aku selesein kuliah aku masih tinggal di rumah Baba. Masa aku nggak boleh terima apapun dari Baba?" jawab Jingga lagi masih ngeles.


"Kos- kosanku dekat dengan kampusmu! Aku punya satu rumah yang tempatnya aman dan strategis, kamu bisa belajar mandiri di situ! Satu tahun itu tidak lama Jingga, sebentar lagi kamu koas! Tolong belajarlah!" ujar Adip lagi ingin istrinya benar- benar mandiri.


"Tapi itu nggak masuk akal, Adip!" jawab Jingga lagi sampai memanggil suami dengan sebutan nama.


"Kamu di pulau Panorama. Aku disuruh tinggal di kosan kamu. Dan aku makan dari uang transferan kamu. Kan lucu, apa salahnya aku tinggal di rumah Baba!" jawab Jingga lagi.

__ADS_1


Adip diam, dalam hal mereka masih LDR memang akan sulit jika memaksa Jingga lepas dari orang tuanya 100%. Tapi mau Adip, Jingga belajar mandiri dan jadi perempuan tangguh.


"Tapi kan kamu bisa Jingga, belajar mandiri kalau memang kamu mau. Aku akan sampaikan ini pada Baba dan Bunamu. Kosanku juga dekat dengan pesantren kecil, kamu bisa banyak belajar di situ! Tari dan yang lain juga kos tidak jauh dari situ. Biar kamu tak selalu dilayani orang lain," ucap Adip lagi masih ingin mempertahankan pendapatnya juga.


"Tapi...,"


"Ya sudah terserah kamu. Aku tekankan di sini. Kalau kamu mau menikah denganku! Jadilah istriku, jadi seorang istri Adipati Wirajaya. Jika kamu masih ingin jadi putri Babamu. Aku akan pamit baik-baik Babamu dan aku antarkan kamu sekarang, kita sampai di sini saja!" ucap Adip tegas.


"Baaang," rengek Jingga lagi kali ini benar- benar bingung dan cinta Jingga diuji.


"Aku beri waktu 5 menit!" jawab Adip dingin.


Jingga diam dan berfikir lama dengan derai air mata. Jingga tidak menyangka kenapa Adip tiba- tiba jadi galak dan keras begitu. Jingga kira menikah itu bahagia terus dan semua indah.


Tapi Jingga juga takut, kalau Adip benar- benar akan pamitan dan mentalaqnya secara agama. Jingga akan kehilangan Adip. Lalu Jingga akan menikah dengan Pak Rendi, terlalu seram untuk Jingga, jika dibanding dengan hidup miskin.


Lebih seram lagi kalau Jingga nanti melihat Adip menikahi orang lain. Apalagi jika itu Bunga atau Tari. Jingga tahu Tari kan wonderwoman, pasti dia akan sangat setuju dengan semua permintaan Adip.


Jingga tidak sanggup melihat Adip dipegang- pegang orang lain, apalagi kalau Adip memperlakukan orang lain dengan manis dan baik.


Otak licik Jingga pun datang. Adip tidak melarang kan kalau Bunanya jenguk Jingga atau adik- adiknya bantu Jingga. Adip kan juga tidak melarang Jingga main ke rumah orang tuanya.


Adip ingin Jingga mandiri tidak dilayani pelayan, biar Adip yang biayai kuliah Jingga sampai selesai. Meninggalkan semua fasilitas Baba. Masih ada celah untuk Jingga, toh Adip kan akan jauh. Jingga masih boleh berhubungan dengan adik- adiknya kan.


Jingga pun tersenyum dalam hati. Apapun nanti yang dihadapi, Jingga mau menikah dulu yang penting, pikir Jingga cerdik.


"Bagaimana? Apa kamu tetap ingin menikah denganku?" tanya Adip.


"Apa kamu sudah siap belajar mandiri dan patuh terhadapku?"


"Ya! Aku mau. Aku akan tinggal di rumah yang kamu pilihkan dan kembalikan kartuku ke Baba diganti dengan atm darimu," ucap Jingga akhirnya.


Adip pun tersenyum lega. Lalu Adip memeluk Jingga dan mengusap kepalanya.


"Terima kasih, Sayang! Setelah menikah nanti aku akan ijin ke Baba dan diskusikan ini,"


"Iyah! Tapi aju juga punya syarat!" jawab Jingga.


"Apa?"


"Kamu cuma buat aku. Harus setia ke aku. Daan!"


"Daan apa?"


"Aku masih boleh berhubungan dengan orang tuaku kan? Aku masih boleh berhubungan dengan keluargaku adik- adikku dan oma opaku?"


"Ya bolehlah. Tapi ingat jangan suka minta- minta!"


"Ya!" jawab Jingga.

__ADS_1


Adip pun tersenyum senang.


"Ya udah ayo, kita masuk!"


"Tunggu!"


"Apa?"


"Ingat kataku tadi?"


"Apa?"


"Tuh kan lupa!"


"Lupa gimana?"


"Tuh kan. Kamu pengen aku tinggalin semuanya demi kamu. Tapi kamu lupa sama keinginanku!" ucap Jingga kali ini balas ngambek.


"Maaf aku sungguh lupa. Kamu ingin apa? Yang mana?"


"Yang tadi di pesawat!" jawab Jingga cemberut mode On


Jingga baru tahu kalau sifat dan ego laki- laki itu tinggi. Maunya diikuti tapi lupa mau orang lain.


"Ehm...," Adip pun berdehem dan berfikir apa mau Jingga.


"Pokoknya harus ingat!" ucap Jingga lagi.


"Kasih klu!"


"Kalau nanti masuk rumah!"


"Oh ya. Gandeng kamu?" tanya Adip senang ketemu apa yang Jingga ingin.


Jingga pun tersenyum mengangguk.


"Iyah!" jawab Jingga.


"Oke!" jawab Adip, senang sekali Adip, menyenangkan Jingga dan membuatnya patuh semudah itu.


Adip kemudian menyeka air mata Jingga. Tidak menyangka Jingga benar- benar secinta itu ke Adip.


"Ya sudah ayo kita masuk!" ucap Adip.


"Jalan, Pak!" ucap Jingga ke supir.


*****


Hehehehe....

__ADS_1


Kira-kira apa respon Baba dan Buna ya dengar keinginan Adip.


__ADS_2