Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
202. Akad Resmi.


__ADS_3

Pagi harinya.


“Ini baju buat kita?” tanya Yuli mengernyit. 


“Udah dicoba muat apa enggak,” jawab Adip memeriksa.


Semalam ternyata, setelah mendapat laporan dari pegawai hotel, dan Baba berkunjung.


Mengetahui teman- teman Adip datang malam, tim Pak Dino menelpon Adip. Berapa rombongan yang Adip bawa.


Sesuai instruksi Baba agar tamu Adip tampak kompak. Pak Dino memesankan dresscode dari perusahaan tekstil Baba.


Dari kelas desain dan menjahit di yayasan Gunawijaya kan Baba bisa membuka pabrik garment dan beberapa toko pakaian. Kalau ada acara party, tinggal telepon aja, sudah ready stok. 


Adip pun memberitahu jumlahnya ada 30 teman.


Kamar yang Baba kosongkan kan ada 10 kamar dalam satu lantai, kalau 2, 2 muat 20. Tapi rupanya kamar di lantai itu ukuranya jumbo, muat 4 orang. Adip pun maksimalkan memilih temanya.


Adip ingin berbagi di saat bahagia. Adip memang selalu ingat teman- teman nya di moment keberhasilanya, dia tidak melupakan dengan teman- teman di kalangan bawah, meski dia sudah di atas dia tetap sama.


Dari pihak keluarga 2 perempuan dua cowok, Mang Jojo n friend. Dari anak- anak Bem 3 cewek 3 cowok, dari teman- teman pengamen 4 cowok, dari komunitas pecinta hewan 2 cewek dan 2 cowok, dari komunitas pelestari lingkungan perwakilan yang datang 1 cewek 2 cowok, dan dari ruang isnpirasi 4 cowok 1 cewek, dan teman sekelas Adip 2 orang, dari teman- teman mapala, 2 orang.


30 orang itu sebenarnya itu hanya teman- teman yang dekat dan intens. Yang lain masih banyak tapi datang di party saja. 


“Muat udah kita coba,” jawab Sarti. 


“Diip,” panggil Yuli mendekat.


“Apa?” 


“Ini beneran buat kita?” 


“Iya, biar seragaman nanti, kan bagus buat foto,” jawab Adip ikut aturan main Pak Dino dan anak buahnya. 


“Tau gitu aku nggak usah bawa baju yak,” ceplos Sarti senang. 


“Kalau buat kita aja sebagus ini, cuma- cuma lagi, apa kabar sasrahan kamu buat istrimu, Dip? Duh maaf ya.. kalau saranku jelek, gimana kalau istrimu nggak suka?” ucap Yuli terduduk lemas dan minder. Yuli kan yang bantu Adip pilihin baju sasrahan untuk Jingga. Baju pengiring dan baju sasrahan kualitasnya jauh.


Adip tersenyum. 


“Nggak usah khawatir, istriku tidak begitu kok, dia istri yang baik dan solekhah, dia akan pakai nanti kalau di kamar pas bareng aku, tenang aja,” jawab Adip menghibur Yuli yang mendadak minder. 


“Besok kenalin istrimu ya Dip,” 


“Pasti, besok aku ajak pulang dan menginap ke rumah Bapak kok,” jawab Adip lagi. 


“Salam buat istrimu, aku nggak sabar kenalan,” jawab Yuli dan Sarti.


Mereka semua menebak istri Adip sangat baik. 


Meski kadang Jingga terkesan sombong, tapi Adip yakin hati Jingga baik dan murni.


Apalagi dengan kebucinan Jingga, Jingga pasti akan nurut dinasehati untuk baik dengan teman- teman Adip. Semua udah teruji saat di pulau Panorama. 


Adip kemudian berpamitan pada  teman- temanya setelah memastikan teman- temanya siap.


Adip bersama, Emak dan Bapak mengikuti pegawai hotel untuk dirias MUA.


Di ruangan lain, Jingga bersama Nila, Bunga, Tari, Uti, Yuri, dan Lili. Jingga sudah mengundang Faya, Amora dan Joana, tapi mereka akan datang saat party saja. 


Sebelum berganti pakaian dengan baju kebaya untuk akad, Jingga pun foto- foto dulu dengan teman- temanya.


Buna melihatnya tersenyum lega. Meski harus dengan drama di fitnah di Pulau Panorama. Jingga terlihat bahagia merasakan prosesi pernikahan layaknya gadis lain, tak seperti Buna. 


“Kakak cantik, banget,” ucap Nila memeluk Jingga dari belakang. 


Jingga tersenyum, Jingga mau jawab, kamu juga, tapi tiba- tiba senyum Jingga redup mengingat Rendi.


Nila terlihat sangat antusias melihat orang menikah, tapi Jingga tidak mau Nila menjadi pengantin sepertinya dalam waktu dekat.


“Iyah... ini berkat adek Kakak yang baiknya minta ampun, makasih ya, Sayang!” jawab Jingga akhirnya memilih ucapan terima kasih saja ketimbang balas pujian. 

__ADS_1


MUA kembali menyentuh Jingga untuk merampungkan hiasan hijabnya dan menyuruh Jingga ganti baju. 


“Masya Alloh, ponakan tante seperti barbie...selamat ya Sayang,” tutur Tante Intan datang membawa dua kado besar besama Om Yogi. 


“Makasih, tante, Om!” jawab Jingga. 


“Sini tante bantu, pakai gaunya,” tutur Tante Intan sebagai desainer pernikahan Jingga hari ini. 


“Iya Tante,” 


“Tante udah lihat suamimu barusan. Ponakan tante pinter ih milih suaminya. Meni ganteng pisan, gagah Ngga'” puji Tante Intan ke Jingga karena barusan ikut memastikan penampilan Adip pas.


Suami Tante Intan kan B aja, jadi lihat Adip, tante Intan ikut senang. 


“He... makasih, Te,” jawab Jingga tersipu.


Iyalah, kalau Adip nggak ganteng, Jingga nggak bucin dan terkintil- ******. Adip kan juga terlahir dari bibit unggul. 


Tante Intan pun menata gaun Jingga dengan baik. 


“Dah..penghulunya udah dateng, tunggu dipanggil ya!” tutur Tante Intan memberi bocoran.


“Ya, Tante,” 


“Di temani siapa?” 


“Bunga sama Nila,” jawab Jingga.


Bunga dan Nila nanti yang gandeng Jingga ke depan menuju meja pelaminan. 


Para Oma dan Oma sudah stay nunggu di depan ruang untuk ijab, qobul versi KUA.


Buna, Baba, dan dua couple twins versi besar dan kecil juga sudah berkumpul selesai sarapan. Teman- teman Adip menunggu aba- aba, kalau Adip sudah siap mereka ikut mengantar Adip. 


“Gila, Bro...keren lo,” puji teman Adip. 


“Foto, dong Bang! Pumpung nggak ada bininya, nggak apa- apa lah, nggak jadi foto jadi sepasang pengantin, foto jadi pengiring aja!” celoteh Tita si anak Bem yang suka tanpa tahu malu godain Adip. Tapi sudah Adip anggap adik.


Mereka pun pada berfoto ria, dengan gaya- gaya anak muda pada umumnya. Lalu bergantian, meski belum sampai pelaminan, Adip sudah lelah duluan diajakin narsis teman- temanya. 


“Tuan, Adi sudah Siap?” tanya panitia. 


Pasukan Adip yang rusuh mendadak diam seketika. Adip dan emak bapak menoleh. 


“Ya!” jawab Adip. 


Rupanya tamu undangan yang ditunggu sudah datang, yaitu penghulu dan saksi. Abah juga sudah datang, tadi sempat menyapa. 


Abah sampai lemas mau pingsan pas tahu ternyata Tuan Ardi Gunawijaya itu mertua Adip. Bapak dan Emak semalam sudah bertemu tapi belum tahu kalau Besanya pemilik hotel. Pas Abah Anwar beritahu siapa Ardi Gunawijaya, Bapak dan Emak juga langsung syok dan memukul Adip.


Bapak dan Emak sampai sekarang terdiam gemeteran tidak menyangka dan tidak percaya kalau besanya yang punya hotel pemilik Gunawijaya Grup. Pantas saja Adip boleh bawa rombongan dan disewakan satu lantai. 


Lebih syok lagi saat teman- teman Adip melihat banyak wartawan dan kamera.


Para pengawal juga memberi jalan tamu VVIP. Ternyata tamu VVIP itu saksi nikahan Adip, yaitu Pak Presiden, Pak Jaka Susila Wibawa. Diiringi para menteri yang ternyata saudara Jingga, dan teman- teman Baba Ardi, Dokter Gery dan beberapa menteri yang lain. 


“Hooh... aku nggak ngimpi kan?” gumam Yuli dadanya dheg- dhegan dan sesak nafas saat mengintip dari sisi ruangan melihat rombongan tamu VVIP datang. 


Para WO kemudian menuntun Adip yang sudah rapih menggunakan jas warisan dari Baba untuk menuju meja ijab qobul didampingi Bapak dan Emak.


Emak malah terisak dan kakinya gemeteran pas mau bangun hampir jatuh dan sempat buat heboh. 


“Mak tenang, Mak," ucap Adip. "Mohon tunggu sebentar, ya, ini Mak saya!” tutur Adip ke pihak WO tidak malu mengenalkan Maknya yang kampungan. Adip menenangkan Emaknya yang sedang syok dan gemetaran dulu.


“Ini bukan mimpi kan Dip? Itu Pak Presiden?” tanya Emak. 


“Bukan, Mak, ini pernikahan anak Emak, Adip mau Emak juga saksikan pernikahan Adip, nafas panjang Mak, yuk bangun yuk! Bismillah,” ucap Adip menenangkan Emaknya. 


Setelah dipijat- pijat, dielus- elus dan ditenangkan, Emak bisa bangun mendampingi Adip menuju ruang Ijab qobul.


Ruanganya terpisah dari ruang resepsi. Ini terlihat lebih privat, simple dan elegan tapi cukup lega. Mengingat ruang hikmad dan hanya tamu- tamu penting. Muat sekitar 100 orang saja. Tapi sepertinya banyak kursi kosong.

__ADS_1


Teman- teman Adip sudah duduk di kursinya masing- masing dengan kamera On, mereka siap menyambut dan mengabadikan moment Adip. 


WO pun membimbing Jingga yang masih di dalam ruang rias untuk membacakan permintaan maaf, terimakasih dan doa ke kedua orang tua memakai mic sebelum akad.


Suara Jingga terdengar merdu dan syahdu, ada bagian penyebutan kata maaf yang diiringi suara bergetar, bahkan terdengar alami karena Jingga juga diberitahu ada moment itu baru tadi pagi. Yang mendengarnya jadi ikut terharu. 


Setelah itu giliran Adip yang diberi kesempatan untuk memohon ijin dan meminta maaf, sebelum akad.


Emak dan Bapak tak bisa berkata- kata, hanya mematung mengikuti arahan WO. 


Setelah itu Jingga dituntun keluar, didampingi dua adik manisnya beserta twins couplenya.


Semua tamu pun terkesima melihat Jingga bak Putri kerajaan, yang parasnya sangat anggun.


Sudah memang badan Jingga tinggi dan hidung mancung, ditambah polesan MUA handal, Jingga seperti barbie hidup berjalan, malah lebih cantik dari Barbie. 


“Itu mantuku, apa bidadari,” gumam Emak Adip bibirnya meleyot meleyot lagi ingin menangis haru. Dengan artis idola emak, masih cantikan mantunya. 


Yuli dan Sarti juga bergidik, “Duh...sasrahan Adip muat nggak ya? Dibuang nggak ya? Istri Adip kaya artis,” batin Yuli masih saja minder. 


Tapi semua teman Adip tersenyum haru. Adip memang baik, pekerja keras, pemurah, ngalahan dan ringan tangan. Adip memang pantas dan wajar mendapatkan pendamping secantik Jingga. Ya tentunya banyak juga kekurangan Jingga yang orang lain tidak tahu. 


Jingga dan Adip pun kini duduk berdampingan di depan penghulu di tengahnya ada Baba, lalu di saksikan Pak Presiden dan Pak Kyai Omnya Om Farid alias bapaknya Rendi, sayangnya Rendi belum nongol batang hidungnya. 


Dengan mengucap bismillah dan Syahadat, untuk kedua kalinya, Adip mengikrarkan ijab qobul untuk dirinya sendiri dengan Jingga Pelangi Putri Gunawijaya.


Adip menjabat tangan Baba dengan mantap dan mengucapkanya dengan lantang dan tenang.


Mas Kawin Adip kalung emas putih seberat 9,5 gram dengan liontin isi peluru dan cincin nikah seberat 3 gram dengan batu alam berwarna biru berkilau. Tidak banyak tapi semua mempunyai sejarah. 


Peluru itu ternyata peluru yang ditemukan di tubuh Ayah Kandung Adip saat dioperasi. Peluru itu dirawat ibu Adip dan dijadikan liontin kalung. Kalung itu, oleh Ibu Adip dipakaiakan di Adip dan tak ada yang boleh mengambilnya sampai Adip dewasa. 


“Bagaimana? Sah?” tanya Penghulu. 


“Sah...,” jawab semua saksi. 


Buna, Oma, Emak dan teman- teman Adip semua mengucap Syukur dan meneteskan air matanya tanda harus dan bahagia. Kini Adip dan Jingga sah di mata hukum dan negara. 


Adip dan Jingga kemudian berfoto, lalu Jingga mencium tangan Adip dan Adip mencium kening Jingga. Setelah itu mereka bersama- sama mencium tangan para orang tua , saksi- saksi dan tamu privat.


Semua pun mengucapkan selamat dan berbahagia. Buna pun menyambut baik Emak Adip, tapi Emak Adip sejak semalam didatangi keluarga Baba ngomongnya gemetaran dan gerogi. 


Di lanjut acara adat dan foto bersama.


Selanjutnya Baba mempersilahkan tamu privat itu ke meja jamuan, ruangan ijab pun bubar bersiap untuk acara resepsi yang dibagi 2 sesi, sesia siang dan sesi malam di sebuah ballroom hotel yang sudah dihias seperti istana dan taman. Sebenarnya ballroom hoten Gunawijaya bisa menampung 5 ribuan orang jika standing party, untuk banquet 2000 an orang. 


Melihat tempat yang di gunakan dan siapa Baba, undangan 2000 memang terlalu sedikit.


Akan tetapi, mengingat waktu persiapan yang singkat, di dalamnya juga banyak stand makanan, spot foto, panggung musik dan panggung pengantin, agar tetap mewah elegan dan lega, Baba hanya mengundang 2000 dibagi dua sesi. 


“Ciee udah sah niiih,” goda Amer dan Ikun mendekat ke Jingga di ruang rias.


Kini Adip dan Jingga dirias bersama, Jingga pun menempel nggak mau jauh- jauh dari Adip. Jingga masih mengajak Adip selfie selfie bebas dengan ponselnya. 


“Apaan sih lo!” jawab Jingga tersipu. 


“Selamat ya Bang, selamat semoga bertahan mengurus kakakku yang lemot dan bawel ini,” ucap Amer iseng menyindir Jingga. 


“Ih...,” Jingga langsung pukul tangan Amer. 


Ikun sih tetap stay cool menyalami Adip dan memluk pundaknya mengucapkan selamat. 


Setelah kasih kado ke kakaknta mereka pergi.


“Sayang, kita sholat dulu, yuk!” ajak Adip ke Jingga. 


“Huh? Sholat? Sholat apa? kan belum dzhuhur?” tanya Jingga bengong. 


“Sholat sunnah setelah akad sekalian dzuha juga. Kita berdoa sama Alloh, semoga pernikahan kita selalu mendapatkan perlindungan dan RidzoNya. Yuk!” ajak Adip.


Jingga tersenyum bangga bersuamikan Adip, sebelum MUA datang, Jingga patuh ke Adip, ikut Adip masuk ke sisi ruang rias, mengambil air wudzu dan menunaikan sholat sunnah bersama. 

__ADS_1


__ADS_2