
"Iyaa.... Iyuuu... salim dulu sama Kakak dan Abang!" lerai Buna merasa malu dan tidak enak ke Adip. Padahal Adip biasa aja dan malah ketawa.
Adip pun mengucapkan salam dan bersalaman pada semua, ada Dokter Gery dan yang lain.
Iya dan Iyu kemudian melirik dan menatap Adip dengan tampang kesal dan iseng. Mereka tidak mau salaman ke Adip padahal yang lain salaman semua.
"Memang dia siapa Buna?" tanya Iya polos dan berani.
"Dia suami Kaka. Itu berarti dia jadi abangmu nanti!" ceplos Jingga sambil memberikan kursi ke Adip untuk duduk di dekat Amer berhadapan dengan Iya dan Iyu dan Ikun.
"Hoh!" pekik Iya dan Iyu tidak suka dan malah saling pandang langsung bersedekap.
Buna dan Jingga pun mengernyit dengan kelakuan si kembar. Mereka benar- benar ngeselin tingkahnya, mereka berdua kan juga mulutnya suka tidak bisa direm.
"Aku tidak suka kalau dia jadi Abangku!" celetuk Iyu dengan polosnya lagi.
"Sama! Kok nggak jadi Kakak keren yang pakai kacamata itu sih? Kan aku sukanya yang Kakak bawa mobil pas pagi- pagi itu!" sambung Iya.
Iya kan memang suka sama Rendi. Dulu Iya dan Iyu berdebat Rendi dan Baba tampanan siapa.
Jingga pun meradang mendengar dua anak yang sukanya isengin dia membenci suaminya. Semuapun jadi kikuk dan menoleh ke Adip.
Ikun terutama langsung memberi kode ke Iya dan Iyu untuk diam. Buna apalagi langsung menyeringai tidak nyaman. Baba dan Amer mah biasa aja malah sengaja ingin lihat respon Adip.
Sementara Oma Rita dan keluarga dokter Gery hanya tertawa. Yang berbeda Bunga. Bunga menatap Adip kasian.
"He... jangan dengarkan mereka ya! Mereka masih anak kecil!" ucap Buna tidak nyaman.
"Iya Buna.. nggak apa-apa kok!" jawab Adip biasa saja.
"Memang siapa Kakak keren berkacamata itu?" tanya Adip malah bercabda santai.
Adip benar-benar diuji mentalnya. Padahal keluarga Baba semua ngumpul di situ, Adip malah dipermalukan anak kecil.
"Iyaa. Iyuu... memang siapa yang kalian suka pakai kacamata itu? Nggak ada kakak berkacamata! Suami Kakak itu Bang Adip!" tanya Jingga ikut berkacak pinggang dan seperti biasa selalu terpancing emosinya. Padahal kan harusnya Iya dan Iyu anak kecil tidak harus ditanggapi serius.
"Yang pagi- pagi itu mau jemput Kakak itu. Keren sekali. Kata Buna itu calon Kakakku. Bukan dia!" celetuk Iya lagi menunjuk Adip. "Aku no suka dia!" lanjut Iya lagi bersedekap dan sok tidak mau melihat Adip
"Ehmm ehmm...," Adip yang tadinya santai dan anggap Iya Iyu omongan biasa, sekarang melirik ke Jingga kode cemburu. "Kamu ternyata suka dijemput orang? Pria berkacamata itu siapa emang? Pak Rendi? Atau Tama?" bisik Adip.
"Nggak ada.... mereka ngawur," jawab Jingga berbisik lagi
"Kak jangan dengerin Iya Iyu... Udah ayo duduk. Makan aja kita! Kalian anak kecil diam. Bang Adip mulai sekarang jadi kakak kalian. Ucapkan salam!" celetuk Amer.
"Nggak mau!" tolak Iya dan Iyu tidak mau melihat apalagi bersalaman dengan Adip.
"Iiih kalian!" desis Jingga geram ingin meremas kedua adik songongnya tapi di situ banyak orang.
Ikun pun langsung menutup mulut Iya dan Iyu disuruh jangan berisik dan bersikap baim.
"Kakak kacamata itu akan tetap jadi kakak kalian kok kalian tenang aja. Abang Adip juga kakak kalian," celetuk Nila menengahi.
"Ngek!"
Semua langsung menatap Nila dengan penuh tanda tanya. Terutama Jingga.
"Nila apa yang kamu katakan? Nggak ada Kakak Kacamata itu bukan kakak kalian!" pekik Jingga
"Ehm...!" Baba akhirnya buka suara.
"Sudah.. jangan berisik, makan dulu. Baba juga lapar. Adip dan Jingga baru sampai lelah dan lapar kan? Jangan banyak ngobrol. Panggil Oma dan opa Nando!" ucap Baba mengambil piring dan menyerahkan piring ke Buna untuk diambilkan nasi.
Amer pun bangun memanggil oma kalau Adip sudah sampai dan waktunya makan bersama.
__ADS_1
"Om... Bu.. Ayo makan!" tutur Baba ke opa Aryo dan Oma Mirna yang datang.
Oma Mirna pun tersenyum menyapa Adip dan Jingga. Lalu mereka duduk dan makan.
Meski Baba mengalihkan pembicaraan tapi Jingga tidak sembuh penasaranya. Jingga pun menatap Nila dengan seksama lalu menyenggol Buna.
"Buna apa maksud Nila?" tanya Jingga berbisik.
"Makan dulu. Layani suamimu. Nanti Baba marah," bisik Buna tidak mau bahas Nila.
Jingga pun diam dan ingin mematuhi ibunya. Sayangnya baru mau Jingga meladeni Adip, Adip sudah mengambil makanan sendiri.
"He....," Jingga nyengir ke suaminya.
"Maaf ya, nggak kuambilin," bisik Jingga
"Aku bisa sendiri, ambilin aja, Kakak berkacamata!" jawab Adip berbisik dan menyindir Jingga.
"Ish...," desis Jingga mengernyit lalu kakinya menginjak kaki Adip.
Adip hanya menahan sakit dengan mengerutkan dahinya.
"Aku nggak suka Pak Rendi ih!" gumam Jingga cemberut.
"Oh Pak Rendi!" jawab Adip lagi dengan anggukan meledek.
"Ehm... makan ya makan jangan berisik!" ucap Baba memberi peringatan lagi dengan menyindir.
Adip pun diam dan melanjutkan makan, begitu juga Jingga. Semua jadi diam dan menikmati makan dengan hikmad. Yang di meja utama Opa Nando.
Selesai makan Adip kemudian mendekat dan ngobrol dengan Opa dan Pak Dhe Gery. Sementara Baba meminta waktu mengobrol dengan Buna.
"Aku ikut senang kamu jadi keponakanku," tutur Pak Dhe Gery.
"Saya juga tidak menyangka akan seperti ini, Dokter!" jawab Adip.
"Apa saat ke rumah kita, kalian sudah saling mengenal? Kenapa tidak cerita ke kita?" sahut Opa Nando.
"Saya tidak tahu kalau Jingga adalah keluarga Dokter Gery dan cucu Opa saat itu," jawab Adip.
"Berarti sudah kenal?"
"Belum kenal baru bertemu beberapa kali!" jawab Adip.
"Oh ya dimana?"
"Di seleksi ruang Inspirasi!" jawab Adip kikuk.
Adip malu kalau Adip jadi tukang ojeknya Jingga sebelum waktu itu bertemu dengan dokter Gery.
"Oh... yaya!" jawab Opa Nando.
Tidak lama Baba pun ikut bergabung lalu mengumpulkan para tetua keluarga untuk membahas perniakahan Jingga dan Adip.
Sementara Amer, Ikun, Jingga, Nila dan Bunga berkumpul di ruang tengah.
"Kakak nggak ikut gabung mereka!" tanya Amer ke Jingga.
Jingga kemudian melirik ke Nila dan Bunga yang keduanya sedari tadi diam, seperti mendiamkan Jingga.
"Tidak. Kakak ingin bicara dengan kamu Nila, dan kamu juga Bunga!" ucap Jingga bermode galak sebagai cucu tertua.
Nila dan Bunga malah menunduk. Amer dan Ikun pun mengernyit dan menoleh ke Bunga dan Nila dengan tatapan tanda tanya.
__ADS_1
"Serius amat?" cibir Amer.
"Bunga minta maaf Kak!" ucap Bunga akhirnya berani speak up duluan dan meminta maaf meski di depan para sepupunya.
"Wuooh!" pekik Ikun dan Amer siap jadi penonton saudara perempuanya.
"Minta maaf kenapa?" tanya Jingga.
"Maaf Bunga kemarin terbawa emosi. Bunga salah udah ngata- ngatain kak Jingga. Bunga bahagia kok dengan pernikahan Kak Jingga dan Bang Adip! Bunga udah nggak suka lagi kok sama Bang Adip. Bunga mau fokus kuliah!" ucap Bunga berbesar hati.
"Haishh... kalian! Para perempuan memang ya! Sukanya berdrama," cibir Amer bangun mulai malas melihat perdebatan tentang cinta dan para perempuan.
Jingga terharu dengan kebaikan Bunga.
"Makasih, Kakak maafin kok!" jawab Jingga.
"Kak Jingga sebaiknya keluar deh mending sana ikut bahas pernikahan Kakak? Sudah jangan bahas beginian. Geli tauk!" ucap Ikun menimpali lagi.
"Nggak, diam kamu!" jawab Jingga galak. "Kakak percaya Baba dan Buna mereka pasti udah urus semua. Kakak mau bicara sama Nila!" jawab Jingga lagi menatap Nila.
Nila pun menunduk seperti takut.
"Nila ikut Kakak ke kamar!" ucap Jingga mengajak Nila.
"Ngoming di sini aja kenapa?" tanya Ikun
"Ke kamar!" ucap Jingga.
Nila pun bangun dan mengikuti Jingga.
Bunga dan yang lain sekarang tak bisa melerai atau ikut campur. Mereka memilih membiarkan kakak adik berbeda sifat itu ngomong 4 mata. Meski mereka juga sebenarnya kepo.
"Liat mata Kakak!" tutur Jingga setelah sampai di kamar. Tapi Nila masih menunduk.
"Apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Jingga serius.
Nila masih menunduk.
"Jawab kakak. Kenapa kamu bilang ke Iya dan Iyu kalau Pak Rendi tetap akan jadi Kakak mereka?" tanya Jingga.
Nila masih diam dan memilin ujung jilbabnya.
"Nilaa! Jawab Kakak!" ucap Jingga sedikit memaksa.
Nila akhirnya mengangkat wajahnya. Jika pada Buna dan Baba Nila berani lancar mengungkapkan perasaanya tapi pada Jingga Nila ragu, malu dan takut. Nila tahu Rendi sukanya Jingga.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Jingga kaget.
Nila gemetaran.
"Kamu tahu kan, Kak Jingga nggak akan menikah dengan Pak Rendi Kakak udah menikah dengan Bang Adip. Kenapa kamu bilang begitu ke Iya dan Iyu? Kakak nggak suka mereka dekat- dekat dengan Pak Rendi," tutur Jingga lagi.
"Baba udah setuju Kak!" ucap Nila akhirnya menjawab.
"Setuju apa? Baba setuju kok aku sama Bang Adip," jawab Jingga mengernyit dan heran dengan jawaban Nila.
"Nila ingin jadi istrinya Pak Rendi!" ucap Nila lagi. "Baba setuju, kita udah bahas sebelum Baba jemput Kakak!"
"Wuah!" pekik Jingga matanya langsung melotot syok kaget dan tidak percaya.
"Nggak mungkin, kamu sadar kan Laa dengan ucapan kamu?" tanya Jingga sambil menggelengkan kepalanya.
Tapi Nila malah meneteskan air mata
__ADS_1