
“Buna… kenapa makan di ciini?” tanya Iya.
“Buna suka di kamar Iya..., Iya mau makan di bawah? Sana nggak apa- apa makan sama Kakak yaa!” ucap Buna.
“Tidak mau. Iya tidak mau makan kalau Buna nggak tulun dan makan di bawah!” jawab Iya mode ngambek.
Sudah tiga hari ini, Jingga belum ada kabar baik dari orang suruhan di pulau P pulau S ataupun ibukota. Entah itu dari anak buah Baba atau anak Buah Opa Nando dan Pak Dhe Gery, bahkan Pak Dhe Farid dan keluarga Rendi yang tahu ikut mencari.
Buna juga masih marah pada Baba. Tidak hanya mendiamkan, tapi Buna tidak mau keluar kamar selama tiga hari ini.
Buna sebenarnya ingin keluar dari rumah, hanya saja Buna sadar, dirinya sekarang orang besar dan sudah tua.
Buna bukan lagi Buna istri yang labil seperti dulu. Jika Buna keluar rumah akan membuka aib keluarga mereka yang selama ini semua orang tahu menjadi keluarga bahagia, tenang, kompak bahkan dijadikan keluarga idaman.
Kolega Baba, teman- teman Buna, saudara- saudara mereka semua mengagumi keluarga Baba dan Buna. Buna yang berpendidikan tinggi tapi mendedikasikan hidupnya untuk anak- anak. Baba yang menjadi ayah disegani, sukses dalam berbisnis.
Dari rahim Buna terlahir anak- anak yang cantik, tampan sholeh dan semua berprestasi.
Buna memang selalu menanamkan kasih sayang di keluarga, mendidiknya dengan ilmu dan kelembutan. Buna juga selalu mengajak diskusi anak- anaknya. Kalau pun ada, beberapa waktu Jingga ada perbedaan pendapat dengan Baba, Buna bisa menengahi.
Ini pertama kalinya, kehendak Jingga dan Baba benar- benar krusial dan tidak bisa disatukan. Jingga yang biasanya marah- marah sendiri tapi endinganya nurut atau membuat kesepakatan, kali ini benar- benar tidak bisa disatukan.
Anak- anak lain jadi bingung sendiri, suasana rumah tegang.
Rencana Ikun mau mengerjai Tama pun berhenti, meski begitu, Ikun masih mempermainkan Tama dengan mengirim foto aib Tama.
Di meja makan.
“Baba cuapin Iyu!” ucap Iyu rewel.
Karena Buna sedang marah, Iyu maunya sama Baba terus.
“Suapin Buna. Minta Buna turun ya!” ucap Baba mau curang menggunakan anaknya.
“Sama Baba!”
“Baba nggak bisa suapin, minta sama Buna ya!”
“Hemmmm!”
__ADS_1
“Susul Iya, bilang Buna kalau Buna tidak turun, Iyu nggak mau makan gitu!” rayu Baba lagi.
Nila, hanya bisa menahan sesak tak berkesudahan, melihat ayahnya. Pulang dari negeri orang berniat melanjutkan sekolah di rumah agar kumpul dengan keluarga dan orang tua, yang ada di rumah, orang tuanya malah bertengkar dan ada masalah.
Amer dan Ikun pun tak bisa mencegah atau tegur Baba mengajari Iyu merayu Buna. Amer dan Ikun membiarkan Baba melakukan segala cara agar Buna luluh.
Mereka kesal dengan Baba, tapi tentang Jingga yang belum ditemukan juga membuat mereka frustasi. Mereka juga ingin keluarganya kembali akur dan memcahkan masalah bersama.
Mereka sudah merayu Buna untuk turun keluar kamar dan membuka diskusi tapi Buna masih menjawab belum bisa liat Baba.
Baba sendiri tidak beranjak dari depan kamar Iya Iyu, tempat sholat kamar mandi dan meja makan. Bahkan Baba dan Buna pernah dorong- dorongan pintu sehingga membangunkan Iya dan Iyu. Tetap saja Buna memilih diam, lalu berbaring di kamar anak- anakya itu.
Baba jadi seperti gelandangan.
“Biar Nila yang panggil Buna, Ba!” celetuk Nila akhirnya ikut campur dan ingin bantu.
“Kamu yakin bisa?”
“Yakin!” jawab Nila.
Nila pun naik ke atas, menemui Bunanya. Nila bisa mendengar, adik kecil mereka si Iya ternyata juga sedang merayu Buna.
“Tidak mau!” jawab Iya dan Nila kompak.
“Nila!” pekik Buna tumben Nila tidak berkata iya dan baik, Buna.
“Nila nggak mau bantu adik- adik, dan urus Oma kalau Buna tidak turun dan temui Baba!” ucap Nila mulai protes.
“Nila....!”
“Mau sampai kapan sih Bun? Buna dan Baba marahan begini? Sama saja kan? Buna dan Baba marahan Kak Jingga tetap pergi dan belum ketemu?” ucap Nila lagi.
“Buna dosa lho Bun, diamin suami lebih dari tiga hari!” ucap Nila lagi mengeluarkan ilmu dan pemahaman yang dia dapat.
“Nilaa!”
“Maafin Nila Bun, tapi apa dengan Buna dan Baba marahan begini menyelesaikan masalah? Nggak kan?” ucap Nila lagi.
“Buna itu kesal dengan Babamu, Nak. Buna ingin Babamu mengerti. Apa kamu tahu perasaan kakakmu dan buna? Apa kamu tidak iba dan ingin kakakmu bahagia? Apa salahnya Kak Jingga memilih Adipati ketimbang Rendi, hanya karena Adipati sudah tak punya orang tua kandung?”
__ADS_1
“Adipati itu bukan orang sembarangan. Dokter Gery juga udah cerita. Dia bukan veteriner saja, dia ternyata mantan ketua Bem di kampusnya, bukan kampus sembarangan lagi. Dia jadi ketua di forum pemuda tunas Bangsa, dia juga founder komunitas alam lestari, lalu ketua pemuda pecinta binatang dan penyelamat kucing liar dan masih banyak lagi,"
"Buna sudah cari banyak hal tentang Adipati itu, kenapa Babamu masih saja tertutup hatinya? Babamu perlu diberi peringatan! Apa kurangnya Adip?” tutur Buna menggebu membela Jingga.
Adipati memang anak yang Buna cari.
“Nila tahu Buna... Nila juga ingin Kak Jingga bahagia, tapi bukan dengan cara bertengkar dengan Baba begini! Baba dan Buna ingin pastikan Kak Jingga dimana kan? Nila punya solusi, Nila akan bantu Kak Jingga, ayo turun dan kita selesaikan masalahnya!” ucap Nila lagi.
Buna masih diam.
“Apa perlu Nila kasih tau Oma Rita?” lanjut Nila lagi mengancam.
“Bagaimana caramu bantu?” tanya Buna.
“Ayo turun! Bun! Kira diskusikan bersama!” ucap Nila.
Buna pun akhirnya patuh pada Putrinya yang baru saja mendapatkan menstruasi dua kali.
“Ikat rambutnya Bun!” ucap Nila mengingatkan.
Selama dua hari mengurung diri di kamar, Buna sangat pucat, rambutnya dibiarkan terurai berantakan seperti gelandangan. Tak ada sapuan warna di bibirnya.
Sayangnya Buna diam, menampik pemberian anaknya, memilih turun apa adanya. Heranya, semua anaknya tak ada yang takut dan tetap cinta Buna.
Mereka berdua pun turun ke meja makan yang di situ, Baba, Ikun dan Amer sudah menunggu.
****
“Apa? Apa yang kamu katakan, Nila?” pekik semua orang di meja makan.
“Tidak... Oma tidak setuju!” pekik Oma mendengar pernyataan Nila.
Karena semua sudah frustasi, baik di Pulau Panorama atau di ibukota tidak ada Jingga. Semua jadi khawatir.
Musibah yang menimpa mereka membuat semua menyatu dalam khawatir yang sama.
Buna yang marah, Baba yang keras dan pihak Oma berkumpul.
Ternyata saat Buna turun, setelah terjadi beberapa diskusi keuarga, Opa Nando sekeluarga datang, menyatakan menyerah dan hendak diskusi baiknya bagaimana cara menemukan Jingga.
__ADS_1
Semua kaget mendengar pernyataan Nila yang menawarkan diri menemukan solusi membantu Jingga.