Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
183. Diusir Baba


__ADS_3

Saat di desa Semilir dan perjalanan ke desa Teras, Adip merasa tenang, karena Jingga masih pada sifat agresifnya. Adip kan juga sedang pedekate dengan Baba, jadi Adip tidak begitu memperhatikan Jingga dan fokus ke Baba.


Akan tetapi sekarang perjalanan ke kota, setelah merasakan kacaunya didiamkan dan dimarahi Jingga, hati Adip pun gundah tak bisa fokus lagi. Apalagi tadi belum benar- benar komprehensif mengobati marahnya Jingga, sudah harus terjeda.


Kini sepanjang jalan tatapan Adip tak bisa lepas dari curi- curi pandang ke istrinya yang terus mengatupkan bibirnya kencang.


Jika sudah begitu, meski bulan bersinar penuh dan utuh di atas mereka. Meski bintang bertaburan berkelap kelip, dunia Adip menjadi gelap, hatinya menjadi gelisah. Rasanya ingin memeluk Jingga dan memaksanya tersenyum lagi.


Sayang.. di samping Adip ada Baba, di dekat Jingga ada Amer, Pak Dino dan pengawal yang lain. Adip harus mengkotak- kotakan privasi urusan hati.


"Sabar Adiiip... sabar. Nanti pasti akan ada waktu berdua," batin Adip mengulum lidahnya melirik ke Jingga yang menatap ke bulan, kain jilbab pashminanya berkibar anggun terkena angin malam.


Saat Jingga menyibakan kain itu, hidung mancung dan bibir penuh sensualnya terpampang, pahatan mahakarya Tuhan yang terlihat begitu indah tersaji untuk Adip pandang.


Sungguh jika tidak ada Baba, Adip pastilah mendekat, mendaratkan kecupan hangat di pipi mulus dan kencang itu. Lalu memberikan dekapan pada Jingga agar tidak kedinginan dan mereka bisa memandang bulan dengan nyaman bersama.


Sayangnya Adip hanya bisa menelan ludahnya dengan hati yang berkecamuk, merasa sangat kecewa karena belum bisa menyembuhkan luka kecewa istri cantiknya. Apalagi sekarang hanya bisa menahan sabar, mencoba memberikan komunikasi via hati tanpa kata hanya lewat sorot mata.


Sayangnya sorot mata itu tak dihiraukan Jingga.


Baba masih stay duduk di dekat Adip dan menghalangi mereka berdekatan dengan banyak pertanyaan yang mungkin kalau dicatat ada banyak pertanyaan yang sama.


Akan tetapi sebagai anak yang berbakti demi masa depan yang indah dan lebih lama, Adip harus bersabar meladeni Baba.


"Aku mau kopi. Buatkan kopi untukku," tutur Baba memerintah.


"Gleg," Adip menelan ludahnya. "Aduh, kalau Baba ngopi tambah nggak bisa tidur, akan semakin panjang malamnya," batin Adip lagi siap- siap jadi teman begadang Baba.


"Ya Ba!" jawab Adip mau tidak mau patuh.


Adip kemudian berbalik ke belakang, mengambil bekal perlengkapan perjalananya.


Adip tidak menyiakan kesempatan, saat berbalik melewati Jingga, dia pun berbisik. Bahkan Adip sengaja menuang kopinya di dekat Jingga.


"Langit malam sudah gelap, jangan nambahin gelapnya dunia dengan bermuram durja begitu. Senyumlah sedikit," bisik Adip merayu.


"Apa sih? Berisik!" cibir Jingga masih suka sekali cemberut.


Pokoknya seharian ini Jingga benar- benar gondokan seujung- ujung, dari ujung kepala sampai ujung kaki mungkin. Perjuanganya menyeberangi lautan seakan- akan, serasa Jingga tak berarti. Padahal nyatanya berarti.


Hanya saja Jingga tidak tahu kalau Babanya bisa lakukan apa saja dan sudah menyiapkan pernikahan yang tidak hanya sah agama tapi negara.


Bahkan Baba sudah berfikir jauh ke depan untuk kehidupan Jingga dan Adip beserta anak cucunya.


"Ck... senyum sama suami itu pahala, lho. Udah malem masuk yah. Di luar dingin!" bisik Adip lagi.


"Suka- suka aku lah. Nggak usah sok peduli!" cibir Jingga lagi malah pipinya semakin menggembung karena bertambah marahnya.


Adip menatapnya gemas. Coba saja di situ hanya ada mereka berdua pastilah Adip langsung bangun memeluk Jingga, menoel ppipinya dan melahap bibir Jingga itu dengan bibirnya.


Adip pun hanya bisa menelan ludahnya menahan sabar, membuang semua angan itu. Melampiaskan semuanya dengan alunan denting ujung sendok yang memutar di pangkal gelas. Aroma kopi pun menyebar.


"Mau kubuatin nggak?" tanya Adip lagi.


"Gak!" jawab Jingga ketus.


"Oke. Kalau mau buat sendiri ya!" tutur Adip lagi.


Jingga diam tidak menjawab membawa emosi. Ingin minta Adip temani dia, tapi gengsi.


Adip malah bangun dan membawa kopi itu untuk Baba.


Jingga kembali dicueki lagi.


"Iiih!" Keluh Jingga meremas ujung bajunya sangat kesal.


Tak hanya Adip, Jingga pun ingin berdua, duduk di sisi perahu indah itu, menatap bulan dan bercengkerama.


Yang ada, Jingga seperti tawanan dan orang asing. Menjadi mahkluk wanita satu- satunya dan tidak ada yang mengerti maunya. Baba benar- benar memonopoli Adip dan tak ada celah sedikitpun untuk Jingga. Jingga tak diajak mengobrol.

__ADS_1


Amer malah asik sendiri dengan dunia gamenya. Beberapa pengawal Baba termasuk Pak Dino sudah mengeluarkan dengkuran halus.


Saat kemarin berangkat Baba kan ketidurran dan dimaki Amer. Maka perjalanan pulang kali ini Baba bertekad untuk berjaga dan menikmati perjalanan mengarungi sungai besar di tengah hutan di bawah sinar rembulan itu.


Dan yang kena imbasnya Adip dan Jingga. Hehe.


"Kopinya, Ba," tawar Adip menyodorkan secangkir kopi yang sudah dia buat dengan tanganya.


"Ya," jawab Baba dingin menerimanya dengan tenang.


Baba pun meneguk pelan, sambil menikmati kopi itu.


"Belajar dari mana kamu membuat kopi ini?" tanya Baba melirik ke Adip.


Meski enggan memuji, tapi Baba sangat menyukai kopi buatan Adip. Kopi Adip memang kopi racikan Adip sendiri. Belum tahu Baba, kalau mantunya pemuda dengan seribu talenta.


"Dari teman Ba," jawab Adip tersenyum.


"Temen?"


"Kalau malam, pas nggak ada agenda, Adip bantu- bantu jualan kopi di emperan depan kampus Ba," tutur Adip bercerita.


"Oh!" jawab Baba manggut- manggut.


Sungguh Baba ingin memuji tapi entah kenapa mulutnya terasa berat sekali mengucap.


"Nggak kemanisan kan Ba? Baba nggak punya diabetes kan? Apa malah kurang gula?" tanya Adip pelan takut ada yang salah dengan racikanya.


Beberapa orang kan juga suka kopi pahit. Adip sendiri membuatnya dengan sedikit gula sehingga tercipta rasa asam- asam pahit kopi.


"Tidak, ini cukup, pas. Aku sehat kok, lihat sendiri. Bunanya Jingga merawatku dengan sangat baik. Apa kau tahu? Jingga sebentar lagi akan punya adik lagi," tutur Baba malah membanggakan diri ke memantunya.


Bagi Baba di usianya yang tua tapi masih bereproduksi adalah prestasi, padahal bagi Jingga dan yang lain itu menggelikan. Duh.


Adip tersenyum.


"Ya Ba... Jingga pernah cerita itu," jawab Adip.


"Saudara banyak Ba. Di pesantren di kosan. Di sekre organisasi semua saudara," jawab Adip ngeles.


Adip kan memang punya rumah organisasi yang banyak. Semua menganggap Adip kakak dan panutan.


"Aku tidak tanya itu!" jawab Baba mendelik kesal.


Adip tersenyum


"Kalau dari bapak dan ibu. Adip punya satu, tapi sudah meninggal, dari Abah Anwar, saya punya 2 saudara laki- laki dan satu perempuan, dari Mamak dan Bapak tidak ada Ba," jawab Adip kali ini menjawab benar.


Abah Anwar adalah orang tua asuh Adip yang seorang kyai dan mensekolahkan Adip. Mamak dan Babak, petani yang merawat Adip saat bayi pas ditinggal meninggal ibunya. Adip anak sebatang kara yang hampir meninggal karena terbuang.


Baba tersenyum mendengarnya dan menepuk bahu Adip.


"Jingga punya 7 saudara. Kamu tidak akan kesepian setelah sampai rumah," tutur Baba lagi.


Seakan Baba senang saat tahu Adip tak punya siapa-siapa. Adip pun mengangguk tersenyum hormat.


Adip sangat yakin dari awal. Dibalik tampang menyebalkan Baba, tersimpan sejuta cinta yang tidak bisa diterjemahkan dengan kata- kata dan sekarang mulai terbaca. Itu sebabnya Adip selalu santai menghadapi Baba.


Sebab Adip yakin, orang sebaik Amer, gadis selugu Jingga tidak mungkin berasal dari keluarga jahat. Apalagi berkaca pada Oma Mirna Nurmalasari dan Opa Nando yang tetap rukun di usia senja.


Adip dan Baba pun meneguk kopi bersama, mengobrol banyak. Sementara Amer malah sudah meringkuk, dengan mulut melongo dan alunan nada halus yang membuat Jingga kesal.


Lama kelamaan Jingga tidak kuat dicueki. Akhirnya Jingga membuang marahnya dan mendekat ke Baba.


"Asik banget sih? Ngobrol apaan? Jingga nggak diajakin," ucap Jingga mendekat ke Babanya.


"Kamu baru sampai tadi pagi kan! Sana masuk istirahat! Tidur, sudah malam!" jawab Baba seperti biasa, tidak bisa memberikan perhatian dengan manis.


"Iiih. Baba!" keluh Jingga lagi semakin bertambah kesalnya. Setelah mengumpulkan semua tenaga membuang gengsi mendekati Adip dan Baba di saat aksi marahnya, Jingga malah diusir Babanya pula.

__ADS_1


Kalau saja meninggal tidak sakit dan setelah itu ada kesempatan kedua Jingga rasanya mau lompat dan mencebur ke sungai.


Setidaknya kalau ayah dan suaminya tak mengajaknya ngobrol ada ikan- ikan yang mengajaknya berenang.


"Tidak baik perempuan begadang. Jangan ngeyel!" ucap Baba lagi.


"Jingga nggak ngantuk, Ba!" jawab Jingga membantah.


"Kalau kamu sakit, Bunamu yang akan marahin Baba!" jawab Baba lagi.


Adip hanya menjadi pendengar dan garuk- garuk kepala. Jika dengan Babanya saja Jingga ngejawab, siap- siap nih, sebagai suami Adip harus menyiapkan kesabaran berlapis untuk mendidik Jingga.


"Bentar aja Ba! Pelit banget sih. Pengen gabung bentar aja nggak boleh," cibir Jingga lagi.


"Ehm!" Adip berdehem, dalam hati kasian sangat istrinya itu, sejujurnya Adip ingin berkata. "Baba kan sudah tua, Baba aja yang istirahat. Biar kami yang di sini," Lalu Adip mendekap hangat Jingga masuk dalam pelukanya.


Sayang... sebelum Baba mengulurkan tangan di depan penghulu dan membubuhkan tanda tangan di berkas KUA, Adip harus bertahan dalam kesabaran panjang. Endingnya Adip memilih diam saja.


"Sakit jangan salahin, Baba lho ya!" jawab Baba ke Jingga lagi.


"Ya...!" jawab Jingga.


Jingga kemudian duduk di samping Baba. Baba di tengah Adip dan Jingga.


Jingga pun usil mengambil kopi Babanya dan meneguknya sedikit.


"Huek, kok gak manis sih Ba?" keluh Jingga.


"Ya kamu, kopi Baba diminum!" jawab Baba menarik cangkirnya tidak rela kopinya diambil.


Melihatnya Adip gemas, lalu tanganya menjulur di belakang Baba, mencubit pinggang Jingga tanpa sepengetahuan Baba. Jingga hanya berespon mengernyit dan menangkis tangan suaminya sehingga tangan mereka malah terpaut. Tapi segera mereka lepaskan saat Baba hampir menoleh.


"Baba kan sama Buna nggak boleh ngopi banyak- banyak. Ba!" celetuk Jingga membocorkan rahasia Babanya mengacuhkan perhatian Baba.


"Uhuk... uhuk...," Adip langsung terbatuk, mana tahu kalau Baba dilarang ngopi. "Baba nggak boleh ngopi?" tanya Adip, dari tadi pagi ngopi terus.


"Ah itu Bunamu saja yang kelewat cerewet. Baba udah bertahun-tahun nggak ngopi. Udah diam aja kamu!" jawab Baba mendadak pucat seperti maling ketahuan.


"Jingga kasih tahu Buna lho!"


"Baba baik- baik aja kok! Nggak usah ember kamu!"


"Bodo. Jingga mau bilang ke Buna. Buun Baba ngopi Buun!" tutur Jingga meledek Babanya dengan gaya centilnya dan mengerlingkan matanya.


Sungguh Adip yang mencuri pandang ke Jingga sangat senang melihat Jingga tak cemberut lagi.


"Berani bilang. Nggak tak nikahin kalian!" ucap Baba mengancam. Itu senjata paling ampuh Baba.


"Ehem... ehem....," Adip pun berdehem keras.


Sementara Jingga manyun.


"Baba mah sukanya gitu!"


"Udah sana masuk!"


"Bentar Ba. Jingga mau tanya!"


"Tanya apa?"


"Pas pengantin baru. Baba sama Buna honeymonth kemana?"


"Baba sama Buna honeymoonth di apartement!"


"Lah kok gitu?" tanya Jingga cemberut. Adip ikut penasaran. Masa orang sekaya Baba nggak ada honeymoont.


"Lah, Baba sibuk gantiin Opa. Bunamu sibuk intership. Tau- tau kamu ada, ya nggak ada honyemoont!" jawab Baba lagi.


"Hemmm," gumam Jingga.

__ADS_1


Sementara Adip menggigit bibirnya menahan tawa dan memilih mengacuhkan pandangan ke tempat lain. Secara tidak langsung pertanyaan Jingga menjelaskan kalau isi otak Jingga adalah honemoonth.


"Sudah sana masuk!" usir Baba ke Jingga..


__ADS_2