
"Maaf Nak Rendi, Jingganya sudah berangkat!" tutur Buna Alya dengan senyum masamnya.
"Oh... gitu?" jawab Rendi mengangguk kecewa.
"Iya. Katanya ada ujian atau apa gitu"
"Oh iya sekarang memang jadwal ujian, Nyonya. " jawab Rendi sambil berfikir, meski benar hari ini Jingga ujian. Tapi jadwal Jingga masih nanti siang.
"Katanya takut telat gitu, jadi dia berangkat buru-buru!" jawab Buna Alya lagi.
"Oh iya!" jawab Pak Rendi dengan hormat dan tersenyum masam.
"Oh ya. Ini malah berdiri di luar. Mari masuk dulu. Sudah sarapan belum?"
"Terima kasih Nyonya. Sepertinya Nyonya Alya dan adik-adik mau ke sekolah saya pamit dulu!" jawab Rendi.
"Oke. Maaf ya.Tidak sopan, tamu malah nggak disuruh masuk!" ucap Buna Alya merasa tidak enak.
"Tidak apa. Kalau begitu, selamat pagi, Assalamu'alaikum." tutur Pak Rendi mengundurkan diri.
"Waalaikum salam!"
Buna Alya pun menunggu Rendi masuk ke mobil dan pergi baru menyusul ikut ke mobil.
"Om itu siapa Buna?" tanya Hijau.
"Jangan panggil Om! Panggil Kak!" jawab Buna Alya geli sendiri mau punya mantu.
"Kok Kak sih Bun? Dia kan kaya Om Dion!" ucap Hijau menyamakan tingkat ketuaan Rendi dengan Dion asisten Tuan Ardi.
"Iya, Kak itu untuk Kak Amer dan Kak Ikun!" jawab Biru lagi dengan polosnya.
Mendengar perkataan anak-anaknya Buna Alya jadi ingin tertawa. Lagian Baba Ardi ada ada saja mau menjodohkan Jingga dengan pria matang.
"Dia calon kakak kalian!" ucap Buna Alya.
"What? Apa maksud Buna?"
"Iya, kalau Tuhan menghendaki, Baba Ardi ingin kakak yang tadi jadi kakak kalian!?" ucap Alya memberitahu, berniat agar kalau Rendi datang lagi Hijau dan Biru bisa bersikap baik dan tidak aneh-aneh.
"Maksudnya gimana Bun? Iyu kan kakaknya udah banyak. Iyu udah punya kakak 4, Iyu nggak mau punya Kakak lagi. Maunya adek!" jawab Biru polos.
Buna Alya tertawa lagi. Iya kan Biru memang sebentar lagi mau punya adek.
"Maksud Buna. Kalau Tuhan menghendaki, itu calon suami Kak Jingga, yang nanti jadi Kakak kalian!" tutur Buna Alya lagi.
"Oh, iya Hijau tau! Jadi Om yang keren tadi mau jadi suami Kak Jingga, yeey Hijau suka!" jawab Hijau histeris.
"Uh, apa sih Iya nih! Nggak Iyu nggak suka sama Om tadi. Kata Iyu Kak Jingga nggak cocok sama Om tadi! Iyu nggak setuju!" ucap Biru polos. Buna Alya yang mendengarnya jadi mengernyitkan dahi.
"Cocok!" sanggah Hijau.
"Nggak!" bantah Biru.
"Cocok!" Ucap Hijau lagi kekeh.
"Nggak! Titik!" balas Biru sama-sama kekeh
__ADS_1
"Pokoknya Iya suka Om itu jadi kakak Iya!" ucap Hijau lagi.
"Iya ini apaan sih. Nggak Iyu nggak suka!"
"Huh!" Hijau kemudian bersedekap kesal memalingkan muka dari Biru.
"Huh, Iyu nggak mau ngomong sama Iya!" balas Biru melakukan hal yang sama
Kedua anak kembar itu malah jadi berantem gara-gara Rendi. Buna Alya hanya tersenyum dan memijat pelipisnya. Pertengkaran dua anak kembarnya memang sudah jadi makanan keseharian Buna Alya.
"Kalian kok malah jadi berantem sih?" tanya Buna ke kedua putra kembarnya.
"Buna, Iya sebbel sama Iyu! Om yang tadi kan keren!" ucap Hijau mengadu.
"Nggak Buna. Kerenan Baba Ardi. Iyu mau Kak Jingga menikah dengan orang keren kaya Baba!" jawab Biru polos.
Meskipun Biru suka ngeyel diam-diam Biru sangat mengidolakan Babanya.
"Hhh." Buna Alya hanya menghela nafasnya.
"Sayang, kalian nggak usah bertengkar. Kak Rendi kan baru mau jadi calon. Yang tentuin itu Kak Jingga dan Tuhan. Kalian jangan bertengkar!" ucap Buna lagi
"Tapi Hijau mau!"
"Iyu nggak mau!"
Kedua anak kembar mereka masih terus berdebat.
"Gini-gini. Yang tentuin jadi atau tidaknya Kak Rendi jadi kakak kalian kan Tuhan. Biru dan Hijau berdoa aja sama Tuhan. Biar nanti Tuhan yang tentuin, mau kabulkan doa siapa?" tutur Buna Alya lagi.
"Doa Biru yang dikabulkan!"
"Eits bertengkar lagi. Kalau kalian bertengkar terus malah nanti nggak ada yang dikabulkan! Tuhan kan nggak suka kalau ada orang bersaudara bertengkar!" tutur Buna Alya.
"Terus gimana biar dikabulkan Bun?" tanya Hijau.
"Kalau doa kita nggak dikabulkan terus yang jadi suami Kak Jingga siapa?" tanya Biru nimbrung.
"Biar doa Hijau dikabulkan Hijau harus jadi anak baik, anak sholeh, nggak nakal nggak suka bertengkar rajin sholat dan nurut sama Buna dan Baba. Untuk Biru kalau , doa kalian nggak ada yang dikabulkan berarti jodoh Kak Jingga, bukan Kak Rendi bukan juga orang keren kaya Baba, bisa lebih buruk dari Kak Rendi dan Baba!" ucap Buna Alya dengan ekspresi ngeri.
"Kalau gitu, aku mau doaku dikabulkan!" ucap Biru.
"Aku juga!" sahut Hijau.
Meski mereka berdua suka isengin Jingga, dua anak kecil itu ternyata sayang Jingga dan ingin kakaknya dapat suami yang keren dan baik. Mereka tidak mau suaminya kakaknya jelek.
"Kalau gitu, kalian berdua harus berlomba jadi anak baik ya! Biar doa kalian dikabulkan, oke?"
"Oke Buna!" jawab mereka kompak.
"Ya udah! Kalian akur dong, ayuk salaman!"
"Hemmm" kedua anak itu masih gengsi.
"Kan nanti yang nentuin Tuhan. Jadi apapun kehendak Tuhan, Hijau dan Biru harus tetap baik. Katanya mau doanya dikabulkan. Ayo baikan!" ucap Buna merayu.
"Ya Bun!" jawab mereka kompak. Mereka kemudian ciis tanda akur lagi.
__ADS_1
"Gitu dong!" tutur Buna Alya bahagia.
Mereka pun akur lagi menikmati perjalanan ke sekolah.
****
Jingga dan Adip sampai di parkiran kampus Universitas Negeri yang dominan banyak fakultas pendidikanya. Kalau kampus Jingga kan kampus Negeri juga, tapi Fakuktas kedokteran.
Jingga turun dengan hati-hati. Lalu melepas helmnya, dan merapihkan rambutnya.
"Nih helmnya!" ucap Jingga ketus.
"Taruh spion!" jawab Adip cuek malah Adip membuka helmnya juga.
"Ish, hih!" desis Jingga kesal.
Ini orang nggak ada pengertianya sama sekali ke Jingga. Jingga meletakan helm sesuai permintaan Adip dan Jingga berlalu pergi.
"Eh. Mau kemana! Tunggu!" panggil Adip menghentikan langkah Jingga.
"Apalagi!" bentak Jingga cemberut.
"Bintang limanya udah belum?" tanya Adip.
"Huh! Ya ampun!" keluh Jingga lagi, tapi memang Jingga belum menghidupkan ponsel dan klik bintang 5.
"Cepat kasih bintang lima!" bentak Adip.
"Ya ya, nanti aku kasih bintang!" jawab Jingga.
"Nggak nanti. tapi sekarang!" perintah Adip lagi.
"Ih maksa banget sih. Aku telat nih. Ponselku mati. Nanti aku kasih bintang deh. Janji!"
"Nggak percaya gue! Pokoknya kasih bintang sekarang nggak mau tau!"
"Sumpah lo ya. Tukang ojek nyebelin banget! Aku bilang nanti ya nanti!" jawan Jingga kekeh.
"Eh kamu udah nggak bayar masih aja ya, ngelunjak!" ejek Adip.
"Astagah, masa bodo deh. Lo pilih nanti gue kasih bintang atau nggak sama sekali. Telat nih gue!" tutur Jingga balik membentak, dan nekat mau pergi.
"Dasar cewek songong!" desis Adip kesal.
Adip pun membuka jaketnya dan berjalan ke arah yang sama dengan Jingga.
"Ya Tuhan, Lo nyusul gue dan ikutin gue cuma buat dapet bintang 5, niat banget sih Lo? Iya nanti gue kasih bintang 5. Hape gue mati!" ucap Jingga ngatain Adip saat mereka masuk ke lift bersama. Jingga kan mau menyalakan ponsel kalau tujuanya udah selesai.
"Siapa yang ikutin Lo. Pede banget lo!" jawab Adip cuek.
"Terus lo ngapain ke sini? Lo nggak narik orderan lagi?" tanya Jingga heran. Kenapa Adip ikut masuk ke kampus dan naik lift.
"Serah gue lah, kepo Lo!" jawab Adip dengan muka nyebelin.
Jingga pun naik darah mendengar jawaban Adip. Tapi Jingga hanya bisa mengeratkan rahangnya dan berharap segera sampai di lantai yang dituju. Berdua dengan Adip sangat menyebalkan.
Kalau diperhatikan setelah jaket hijau bercap logo ojek onlinenya dilepas, Adip memang terlihat tampan. Kini Adip mengenakan kemeja dan celana chinos kain. Adip juga mengenakan celana sneakers keren, tidak mahal sih, tapi bukan sepatu tukang ojek pada umumnya.
__ADS_1