Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
180.Aku mau tinggal di sini


__ADS_3

Baba dan Adip sampai di aula desa tempat mereka menikah. Jingga, Amer, Pak Nur terlihat duduk dan istirahat. Sementata Pak Dino tampak berkeliling dan memfoto tempat itu.


Melihat Adip tiba, Jingga langsung bangun bersiap- siap. Jingga sangat bersemangat dikira akan menikah di situ lagi.


Sayangnya saat mereka masuk dan menemui kepala desa. Jingga dilrang Baba.


"Kamu ngapain ikut-ikutan?" tanya Baba


"Lah kan yang mau menikah Jingga, Ba," jawab Jingga.


"Balik, tunggu sama Amer sana!" tutur Baba.


"Kok gitu?" tanya Jingga tidak terima.


Adip yang di belakang Jingga pun mengkode dengan senyum. "Sudah, patuhi Baba! Nggak usah protes!" bisik Adip.


Jingga hanya mengkerucutkan bibirnya. Kenapa sekarang jadi berbalik Baba jadi kompak dengan Adip malah Jingga yang daritadi dicueki.


"Issshhh," desis Jingga.


Adip tetap berlalu meninggalkan Jingga dan Amer disuruh menunggu di luar. Katanya urusan orang dewasa dan laki- laki.


Baba, Adip dan Pak Dino menemui kepala desa dan berebrapa warga termasuk guru tua. Entah apa yang mereka bicarakan, lama sekali.


Tapi Jingga tak kunjung dipanggil. Padahal Jingga sudah menunggu, sampai mereka terlihat berjabat tangan dan keluar, Baba malah mengajak Jingga ke acara lautt.


"Kita mau kemana Ba?" tanya Jingga.


"Ikut saja!" jawab Baba.


Jingga kemudian mendekat ke Adip dan menarik ujung kemejanya agar menepi, berhenti dulu dan berjalan paling belakang.

__ADS_1


"Kita jadi nikah nggak sih? Kita mau kemana?" tanya Jingga berbisik.


Adip jadi gemas sendiri, Jingga yang tadinya terlihat jutek diam dan menghinanya tukang ojek kenapa yang dibahas nikah terus. Bahkan Adip kira mendapatkab Jingga itu sangat sulit, sekaranf kebalikan.


"Auuuh," pekik Jingga Adip justru memencet hidung Jingga.


"Apaan sih?" tanya Jingga.


"Segitu cintanyakah kamu sama aku? Apa karena aku terlalu tampan? Buru- buru banget?"


"Kok tanyanya gitu? Emang kamu nggak cinta aku dan nggak ingin nikah ma aku? Kita itu di phpin sama status, sebenarnya pernikahan kita sah nggak sih? Kan lega kalau udah jelas! Aku ingin kejelasan!" jawab Jingga malah tersinggung.


"Emang kalau kita nikah lagi dan sah sekarang kamu mau apa sih?" tanya Adip mengerlingkan mata nakalnya dan mendekat ke Jingga.


"Ehm...," Jingga yang polos diperlakukan seperti itu jadi ketakutan sendiri dan memundurkan langkahnya.


Adip pun tertawa melihat ekspresi Jingga yang mendadak pucat.


"Yang penting sekarang aku ada di dekatmu dan kita bersama!"


"Ya tapi kan...,"


"Nggak usah buru- buru! Kamu Siapin diri kamu ana! Banyak makan dan minum! Jangan ngeluh capek, kalau udah nikah beneran," bisik Adip nakal malah membercandai Jingga.


"Huh?" pekik Jingga melotot. "Apa maksudnya jangan mengeluh kelelahan?"


Adip tersenyum lagi.


Jingga kan ngebet- ngebet nikah sebenarny tidak tahu dengan pasti inginya apa. Niat Jingga kalau udah nikah nggak akan ada ancaman Rendi lagi.Terus Jingga juga bisa pamer ke teman-temanya kalau Adip miliknya.


Jingga belum tahu seberapa dasyat dan sakitnya malam pertama.Jingga belum kewajiban dan banyak resiko yang harus dia tanggung setelah menjadi istri.

__ADS_1


"Sudah ayo ikut Baba, kita tertinggal jauh!" ajak Adip meraih tangan Jingga.


Jingga masih seperti orang bingung asal ikut saja. Di laut ternyata sedang ada festival orang adat. Seperti melakukan tari- tarian khas daerah situ dan makan bersama.


Meskipun hal itu tak sesuai keyakinan Adip dan Baba mereka tetap menghormati undangan. Ternyata tanpa Jingga tahu. Baba dan Pak Dino beserta Adip menemui warga yang malam berbincang dengan Tama dan melakukan penggerebekan Adip dan Jingga.


Baba merekam, mengumpulkan bukti dan menghubungkan setiap kejadian. Ternyata Baba ingin sebelum Adip dan Jingga menikah resmi, mereka akan membersihkan nama Adip.


Selain itu, Baba dan Pak Dino mengambil gambar menjalin silaturrahim dengan para tetua desa.Baba dan Pak Dino berencana setelah pulang ke Jakarta akan mengusulkan menjadikan kematan itu sebagai destinasi wisata.


Setelah merasa cukup mereka pun pamitan dan bertolak ke desa Teras.


"Lah ini beneran udahan kita nggak jadi nikah?" tanya Jingga kecewa.


Kenapa pertemuanya dengan Kepala desa dan guru Tua tidak ada pembahaaan nikah sama sekali. Padahal kan Jingga jauh- jauh datang untuk pembahasan itu. Jingga tidak tahu rencana Babanya.


"Jadi, Sayang.... sabar!" bisik Adip.


"Terus kita mau kemana?"


"Pulang!"


"Pulang kemana?"


"Ke rumah lah!"


"Huh? Rumah mana? Aku kan mau tinggal di sini sama kamu jadi istri kamu!"


"Pletak," kali ini Adip menyentil kepala Jingga.


"Sudah jangan banyak protes!"

__ADS_1


__ADS_2