
Di Kamar Om Dika
“Mas menyesal karena benar- benar nggak bisa nemuin kontak Kak Maharani,” tutur Om Dika duduk di ranjang kamar dengan tatapan sedihnya.
Nama ibu kandung Adip Indira Maharani.
“Aku sejak awal liat suami Jingga kok feelku kuat ya Mas. Apalagi setelah tahu Adip itu yatim piatu, dia bukan cuma mirip wajahnya, badanya cara bicaranya mirip banget sama Mas Indra,” tutur Dokter Dinda ngotot.
Meskipun pernikahan Dokter Dinda dan Om Dika terpaut usia lumayan jauh dan Dokter Dinda lebih tua, rumah tangga mereka tetap harmonis.
Dokter Dinda sangat menghormati suaminya meski lebih muda. Dokter Dinda juga, dekat dengan saudara- saudara suaminya. Termasuk orang yang bernama Indra itu.
“Tapi masa Mas Ardi nggak cari tahu tentang asal usul calon menantunya sih?” gumam Om Dika lagi.
“Ehm... denger- denger Jingga kaya ibunya dulu, nikahnya karena skandal,” ucap Dokter Dinda tidak nyaman menceritakan jeleknya kawanya itu. Meski skandalnya adalah skandal tidak jelas dan sesungguhnya masih dalam koridor yang baik.
“Tapi keliatanya, suami Jingga baik dan lurus, masa iya terlibat skandal?”
“Bukan skandal begitu? Mereka difitnah katanya, Alya sama Kak Ardi kan dulu juga gitu, akal- akalaanya Mas Ardi bikin skenario biar dinikahkan. Mereka nikahnya privat, makanya udah hamil Jingga baru tuh ngaku, kalau mereka udah nikah, nurun nih anaknya. Mereka menikah karena Jingga dijebak sama temanya. Adip nolongin dinikahkanlah mereka,” tutur Dokter Dinda bercerita.
“Kamu tahu darimana?”
“Siapa lagi kalau bukan Anya, tadinya Jingga mau dinikahkan sama sepupunya Kak Farid,” jawab Dokter Dinda lagi.
“Oh gitu, tapi masa iya sih, sekelas Mas Ardi nggak cari tahu dulu siapa calon mantunya?” gumam Om Dika lagi.
“Ya nggak tahu, wong Jingga udah nikah duluan di pulau Panorama,” jawab Dokter Dinda lagi.
“Tunggu, pulau Panorama?” pekik Om Dika. Salah fokus dengan Pulau Panorama.
“Iya...," jawab Dokter Dinda mengangguk kemudian ingat hal lain. "Oh iyaa... Mas Indra kan juga gugur di sana. Apa Adip merantau ke sana karena Bapaknya juga? Duh Mas, fiks deh. Adip itu saudara kita yang selama ini kita cari,” tutur Dokter Dinda semakin yakin, kalau Adip adalah keponakanya yang hilang jejak.
“Ya ya!" jawab Om Dika mengangguk sekarang yakin juga. "Ya sudah kita tunggu, jawaban Mas Ardi besok,” jawab Om Dika.
“Oke, aku yakin sih firasatku tidak melenceng, kali ini Mas. Adip saudara kita!”
“Aamiin, tapi Kak Maharani kenapa tidak datang? Seharusnya dia bersama Adip? Kemana Indira?” tutur Om Dika lagi. Nama Adik Adip Indira Prameswari Putri Wirajaya.
“Nama lengkap Adip siapa sih?” tanya Dokter Dinda cerdas.
“Iya yah? Dengan tahu nama Adip kan harusnya kita bisa dengan mudah, Om Indra sering panggil anaknya Wira sih, bukan Adip. Tanya Mas Ardi aja, kita tadi nggak ikut akad jadi nggak tahu,” jawab Om Dika.
Di hiasan dekor resepsi hanya bertuliskan Adip Jingga. Jadi Dokter Dinda dan Om Dika ada yang ngeh.
"Kita tanya Mas Ardi yuk!"
“Tapi udah malam. Udah besok aja. Nggak enak ganggu malam- malam,”
“Ya udah yuk tidur yuk!” ajak Om Dika pada istrinya itu.
"Ya, Alloh semoga benar, Adip itu si Wira jagoan kita!"
"Aamiin,"
*****
Di Kamar Baba.
Baba keluar dari kamar mandi setelah menggosok gigi, cuci muka dan berwudzu. Meski anak- anak sudah pulang ke rumah, Baba dan Buna tetap tinggal di hotel bareng Adip dan Jingga.
Baba dan Buna menghormati para tamunya, termasuk keluarga Adip. Tentunya Baba dan Buna sudah punya kamar khusus yang tidak pernah dipesan orang lain di hotelnya itu.
Buna tampak melamun meski sudah di atas kasur. Buna bersandar sambil memegang ponselnya.
__ADS_1
“Buna nungguin Baba ya? Masa nggak mau kalah sama anaknya?” tanya Baba ke GR an.
“Apaan sih Ba?” tanya Buna mengernyit, apa maksud Baba nggak mau kalah sama anaknya.
“Buna nggak kangen apa sama Baba?” tanya Baba Ardi mendekat ke Buna dan langsung memeluknya. Buna hanya diam.
“Baba udah nikahin putri kita dengan pujaan hatinya sesuai mau Buna. Baba udah usaha kasih pesta yang terbaik untuk putri kita dan Buna. Baba juga mau Buna kasih yang terbaik buat Baba,” tutur Baba ke Buna.
Rupanya Baba yang tidak mau kalah dengan anaknya.
“Hmmmm,” Buna hanya berdehem sudah hafal dengan suaminya.
“Baba ingin, Buna yang aktif ya,” tutur Baba lagi.
“Buna udah tua Ba.... nggak lihat perut Buna buncit begini? Sekuatnya ya,” jawab Buna.
“Oke,” jawab Baba mengangguk dan mulai membelai rambut Buna dan mendaratkan bibirnya ke bibir Buna.
Tapi sayangnya Buna tampak pasrah dan tak berespon aktif seperti sebelumya. Meski sudah tua, biasanya Buna selalu kasih servise maksimal untuk Baba, makanya anaknya sampai 7.
“Buna keliatan sedih? Ya udah Baba nggak maksa kalau Buna nggak mau,” tutur Baba peka.
“Maaf Ba, Buna kepikiran pertanyaan Dinda dan Mas Dika,” jawab Buna jujur mengutarakan kegalauanya.
Jika sedang gelisah, Buna memang tidak bisa menunaikan kewajibanya dengan maksimal.
Baba ikut terdiam dan menegakan tubuhnya untuk duduk bersandar. Baba ikut berfikir.
Baba dan Buna memang hanya memastikan orang tua kandung Adip orang baik- baik, itu sarat pokok. Saat tahu Adip anak asuh Abah Anwar dan perjalanan karirnya lurus lalu melihat perangainya cocok, Baba menghentikan orangnya Pak Dino untuk cari tahu lebih banyak.
Karena anak- anaknya sudah lenfket bak perangko, Baba langsung fokus ke acara nikahan dan urus masalah Rendi.
Ikun sendiri Baba tugaskan urus masalah Tama. Bagi Baba dan Buna awalnya menganggap tidak terlalu penting mengorek tentang orang yang sudah meninggal. Buna takut menyakiti Adip. Yang penting kan Adip bisa bahagiakn Jingga, begitu fikir Baba.
Tapi sekarang, pertanyaan Om Dika dan Dokter Dinda membuat Baba dan Buna berfikir dan peduli.
“Kenapa kita nggak cari tahu dari awal ya Bun?”
“Katanya orang tua Adip, prajurit Ba..,”
“Baba tahu itu, hanya saja kita tidak detail tahu asa usul orang tua Adip,”
“Apa kita temukan saja Adip dan Mas Dika biar mereka ngobrol sendiri?”
“Baba tanya Dino dulu, Sayang.” Tutur Baba memiringkan badanya hendak mengambil ponsel.
Melihat hal itu, Buna langsung mencegah dengan ide bangun mencium bibir Baba dan tanganya terulur meraih sesuatu di bawah Baba.
“Buna mau?” tanya Baba jadi batal ambil ponsel.
“Pak Dino udah sangat pusing siapin resepsi Jingga. Pak Dino hebat lho dalam waktu dua hari bisa kerahin tim membuat pesta se perfect ini. jangan ganggu mereka ya. Kasian Mbak Risa mereka juga butuh q time," tutur Buna memikirkan hal Pak Dino.
"Ya. Sama Baba juga butuh Q time dengan Buna," jawab Baba kumat lagi.
"Kita tanya Adip langsung saja ya. Biar besok Dinda dan Dika yang bicara tatap pada Adip,” tutur Buna bijak.
Buna tahu, andalan Baba apa- apa Pak Dino. Dari bujang sampai sebentar lagi punya cucu. Buna salut ke kesetiaan Pak Dino, tapi suka kasian.
“Iya...” jawab Baba tersenyum patuh.
Baba patuh, sebab Buna pandai mengalihkan fokus Baba, kini tangan Buna mulai beraksi mengelus dan menyapa teman kesayanganya. Buna tahu apa yang diinginkan suaminya setelah satu bulan ini mereka banyak berseteru.
Buna ikut tersenyum menangkap signal dari Baba.
__ADS_1
“Buna di atas ya, matikan lampunya,”
“Iya...Buna juga mau Bontot kita ini tetap aman, Ba,” jawab Buna megibaskan rambutnya dan membuka kancing bajunya.
Sebagai pasangan senior, Baba dan Buna kan sudah mahir dan urat malunya hilang, jadi Buna sudah cekatan, sat set.
****
Di kamar Adip.
Bukan tempatnya yang kurang nyaman. Karena untuk Adip yang terbiasa tidur beralaskan kayu, berAC kan angin malam pegunungan dan ditemani suara jangkrik atau orong- orong, tidur di kamar hotel sangatlah mewah dan lebih dari nyaman, apalagi dipeluk Jingga.
Seharusnya sedari tadi, Adip sudah terlelap. Tapi rupanya Adip terjaga. Padahal sekarang sudah pukul 3 dini hari.
Meski laki- laki dan selalu menampakan muka tenang, tapi manusia tetaplah manusia. Adip mempunyai hati dan rasa.
Pertanyaan Baba dan pernyataan Baba tentang mobil Adip sedikit menggelitik hati Adip. Ada rasa haru, Baba perhatian dan ingin urus mobil yang sangat berharga untuk Adip.
Di sisi lain, Baba jadi mengingatkan Adip pada orang tuanya. Orang tua yang Adip hampir lupa bagaimana suaranya. Di hari bahagia seperti pernikahan, setiap anak pasti merindukan orang tuanya.
Meski ada Emak dan Bapak yang mendampingi, meski ada Abah dan Umi Anwar yang mengawasi, Adip tetap rindu pelukan ayah kandungnya dan rengkuhan tangan hangat ibu kandungnya.
“Hhhhh...” Adip menghela nafasnya pelan, agar Jingga tak terbangun.
Dalam remang kamar hotel, tanpa Jingga tahu, air mata Adip menetes dan keluar dari pelupuk matanya.
Sebagai laki- laki, Adip tak mau larut dalam kesedihan. Adip segera menyekanya dan membuka matanya.
Tangan halus Jingga tampak melingkar memeluknya. Hembusan lembut nafas Jingga juga bisa Adip rasakan. Adip tersenyum dan membelainya rambut Jingga.
Hidup Adip sekarang tak akan kesepian lagi, dia akan punya pasangan yang mengisi hatinya, Adip bersyukur akan hal itu.
Pelan- pelan Adip mengangkat tangan Jingga. Lalu Adip menyalakan lampu dan berniat ingin menenangkan hatinya. Adip bangun dan duduk di sofa, menghabiskan minuman yang tadi dia ambil.
Adip membuka dompetnya lagi, mengambil potongan foto keluarga yang dia simpan.
“Wiranya Bapak, sekarang sudah jadi suami, Bu... Pak,” gumam Adip dalam hati.
“Ibu sama Bapak pasti senang kan? Maaf aku tidak mengikuti jejak Bapak. Aku memilih jalan pekerjaanku sendiri. Oh ya mertua Wira sangat kaya, aku juga sudah bekerja. Istriku sangat cantik dan lucu, aku tidak perlu lagi kan bertanya pada Uwak tentang Bapak dan Ibu?” batin Adip tersenyum sendiri.
Sebagai anak didik Abah Anwar yang patuh, Adip bangun dan ke kamar mandi. Ketimbang meraih rokok, Adip memilih mengambil air wudzu dan sholat sunnah.
Hal itu membuat Adip kembali segar, sedih Adip juga hilang.
“Emmmmt,” Jingga terdengar menggeliat dan sedikit meracau tidak jelas.
Adip pun menoleh menatapnya. Adip kemudian melipat sajadah dan sarungnya hendak kembali naik ke kasur.
Di tatapnya Jingga sangat imut berbaring setengah melongo saking lelapnya, rambutnya yang tergerai sedikit berantakan membuat Jingga nampak seksi.
Tatapan Adip kemudian turun ke bawah, baju tidur Jingga yang longgar menampakan dada mulus Jingga, bahkan ada dua gundukan daging yang tampak menyembul dan menantang.
“Gleg,” Adip menelan ludahnya, itu kan squissy menggemaskan yang sempat Adip pegang tadi siang. Adik kecil Adip bangun lagi.
*****
Lanjut di episode selanjutnya. langsung double kok.
Kakaaak. Please yang single dan puasa, skip yaa. Dosa tanggung bareng2. Hahaha.
Oh ya. Untuk author remahan yang nggak pemes kaya aku. Semangatku koment dan dukungan dari Kakak pembaca. Jadi tetap sll kasih vote like dan koment yaa.
__ADS_1