
"I love you," bisik Adip ke telinga Jingga yang masih di bawah kungkunganya.
Wajah Adip menampilkan wajah penuh klimaaks kepuasanya. Pedang saktinya masih menancap di lubang surga Jingga, masih berkedut mengeluarkan cairan berharganya.
Selepas sholat subuh, Adip benar- benar menuntut haknya dan Jingga juga senang hati memberikannya.
"I love you too Bang," jawab Jingga juga berekspresi sama. Suara Jingga terdengar, lemas, mereka sama- sama berkeringat meski masih di pagi petang. Tapi Jingga tetap tersenyum. Senyum penuh cinta dan juga pelepasan.
Sejurus kemudian, Adip mencabut pedangnya, beralih dari atas tubuh Jingga dan berbaring di sampingnya.
Jingga dan Adip sama- sama memusatkan perhatian ke benda kecil di pangkal paha Adip yang tadimya kaku keras berubah mengkerut.
"Hehe...," mereka saling pandang dan tersenyum lucu.
"Sekarang udah kebayar kan?" tanya Adip ke Jingga.
"Iyaah,"
"Kalau pagi begini Bang Adip lebih sehat dan bisa bertahan lama," jawab Adip lagi dengan senyum nakalnya.
"Iiiishh," desis Jingga malu. Tapi kemudian Jingga termenung dan mendadak berubah ekspresinya.
"Mandi Yuk!" ajak Jingga.
"Ayuk. Tapi tumben ajak mandi duluan?"
"Jingga masakin Bang Adip yah!" tutur Jingga
"Yakin?" tanya Adio.
"Hmmm, Yakin!" jawab Jingga mengangguk.
"Okeh? Tapi ngomong- ngomong masak apa?" tanya Adip ragu.
Jingga tidak menjawab dan memilih bangun lalu memunguti pakaianya, mukenahnya yang berantakan pula.
"Ada deh. Yanh penting ayo turun dan masak!" jawab Jingga.
Adip hanya mengangguk..Kapan lagi Jingga ada inisiatif masakin Adip.
Mereka kemudian mandi, untuk yang kedua kalinya kesampaian mandi bersama. Ternyata mandi bersama sebagai suami istri itu menyenangkan dan membuat Jingga dan Adip ingin lagi.
__ADS_1
Tidak terlalu lama, mereka kemudian keluar dan turun.
Jingga turun masih sekitar pukul 05.40 menit. Waktu yang biasanya Jingga masih tidur. Masakan juga belum matang. Asisten rumah tangga baru bersih- bersih dan mulai masak.
Para asisten rumah tangga kaget Jingga dan suaminya turun masuk ke dapur.
"Non Jingga? Den Adipati? Ada yang bisa kami bantu?"
"Bibi dan yang lain kerjain yang lain aja. Pagi ini yang masak Jingga bi," ucap Jingga.
Asisten rumah tangga Jingga menelan ludahnya.
"Non Jingga mau masak?" tanya mereka agak ragu.
"Iyah! Kenapa ragu ya aku bisa masak..Sudah sana pergi!"
Jingga malah mengysir semua penghuni dapur..Sebenarnya mereka bingung dan ragu. Apa iya Jingga nisa masak. Kalau nggak mateng kan kasian Baba Ardi, Buna Oma dan yang lain
"Kenapa kok berhenti dan bengong. Pagi ini percayakan sama Jingga. Udah sana- sana pergi!" usir Jinyga mempertegas.
Sebagai bawahan asisten rumah tangga Jingga tak bisa menolak..Meski sambil menelan ludah mereka menurut pergi.
Adip yang di belakang Jingga pun mengernyit.
"Yakin!" jawab Jingga mulai mengambil apron dan memakainya.
"Kamu mengusir mereka lho. Di rumah ini ada Baba, Buna, Oma dan adik-adik. Kalau buat Bang Adip nggak apa- apa, Bang Adip makan apapun. Tapi...," tutur Adip terpotong Jingga yang langsung menutup mulut Adip.
"Ssssstt diam, dan lihat saja!" ucap Jingga.
Adip menasehati Jingga takut makanan Jingga nanti tidak bisa dimakan.
"Oma udah tua lho, Sayang," ucap Adip menasehati lagi.
"Kenapa? Bang Adip ragu Jingga bisa masak?"
Adip diam tidak menjawab takut Jingga marah.
"Jingga.memanh belum pernah mencoba. Tapi selama tinggal denhan Nita, Siska, Tari dam temen- temen Jingga suka lihat cara mereka masak kok..Jingga pasti bisa, apalagi di sini sayur dan bahan lengkap. Bang Adip jadi juri sekaligus asisten Jingga aja!" tutur Jingga lancar dan mengerlingkan mata centilnya.
Adip cukup speechless dan menelan ludahnya.
__ADS_1
"Setuju nggak?"
"Oke! Mang mau maaak apa?"
"Sesuai yang udah disiapkan Koki kita aja.. Kayaknya ini bisa dibuat sup ayam dan tumisan jawab Jingga,"
"Yakin bisa?"
"Bisa... Jingga kan mau masak buat suami tercinta. Kasih bekel juga!" jawab Jingga lagi.
"Oke lets go!" jawab Adip.
Entah bagaimana ceritanya dan asal muasalnya. Pagi itu juga Jingga nekad. 1 hari terakhri di rumah Baba sebelum Adip berangkat Jingga masak untuk Adip.
Ternyata benar,Jingga mengingat semua yang emak ajarjan dan kebiasaan Nita di Pulau Panorama.masak..
Jingga meski biasanya diam terlihat tak bisa apa-apa tapi otaknya merekam
Adip sendiri tidak menyangka. Meski beberapa hal Adip ajarin dan bantu Jingga. Tapi Jingga benar-benar bisa meracik bumbu masak beserta isinya.
Adip hanya tinggal mencicipi dan menilai..Meski tak seenak Emak dan Adip. Tapi masalan Jinhga layak dimakan.
"Gimaba Bang?" tanya Jingga ke Adip yang mencicipi kuah sop Jingga.
"Istri Abang hebat banget! Ini sempurna. Tambahi garam sedikit sama bumbu masak!" jawab Adip halus
Jingga manyun katanya semputna tapi masih suruh nambahin
"Ya! Seberapa segini?"
"Jangan banyak-banyak dikit aja" ucap Adip memberi tahum
Jingga pun membenahi masakanya. Adip mencixipi lagi.
"Deliciosa!"
"Oke ayuk kita sajikan. ini kejutan yah!" tutur Jinhga senang
Jingga mengambil alat tempat makan
"Kejutan apa?" tanya Buna datang
__ADS_1
"Buna...," pekik Jingga menileh