
Jingga masuk ke kamarnya dengan perasaan marah teramat sangat. Bayangkan saja, dari pagi sudah dibuat kesal oleh tingkah adiknya, sampai kampus menemui dosen menyebalkan diberi hukuman pula.
Siangnya bertemu dengan laki- laki yang tega mengerjai dan membohonginya, udah gitu teman- temanya meninggalkanya dan sekarang sampai rumah orang tuanya bertengkar karena dirinya. Jingga benar- benar merasa sendiri, tersiksa dan kesal dengan keadaanya.
“Hughs... hughs... hugs...” Jingga menangis sesenggukan di kamar sambil tidur tengkurap memeluk bantal.
Umur Jingga 20 tahun, tapi pengetahuanya, cara Babanya memperlakukanya seperti Jingga masih usia SD. Jingga kemudian mengambil ponselnya, Jingga berniat menghubungi oma Mirna, tapi belum sempat tersambung, pintu kamarnya diketuk.
Jingga tau itu pasti Bunanya. Jingga memang sayang dan kangen dipeluk Bunanya, Jingga kemudian membuka pintu dan membiarkan Bunanya masuk, lalu mereka berdua duduk di kasur Bunanya.
“Buna udah sehat?” tanya Jingga melihat Bunanya pucat dan memegang infus.
“Nggak apa- apa, Buna baik- baik saja, putri Buna kenapa matanya sembab begini, huh?” tanya Buna Alya lembut menyentuh pipi Jingga yang mulus.
“Hiks... hiks...”
Jingga menangis lagi dan memeluk Buanya. Buna Alya menyambut pelukan putrinya dengan hangat dan membelai rambut putrinya yang masih diikat dengan gelang karet dari pria menyebalkan yang mengerjainya.
“Putri Buna kok tumben bau keringat begini?” tanya Buna jujur.
Jingga memang selama ini perfekcionist seperti Babanya. Semua barangnya harus yang berkualitas nomor satu, sangat bersihan, alergi debu, dan selalu wangi. Makanan yang sudah disentuh orang selain Bunanya, Jingga jijik dan tidak mau memakanya. Tempat makanpun dia pilih sesuai standarnya.
Masalah penampilan dari atas sampai bawah harus rapih dan wangi. Setiap minggu rutin perawatan. Di kamar, di mobil, di tasa semua peralatan make up dan parfum selalu tersedia, bahkan Bunanya yang sederhana kalah. Jingga belajar dari Omanya, jadi aneh menurut Buna Alya karena hari ini Jingga tampak kusam dan. bau.
“Huh... huh... huh... Jingga beneran bau ya Bun?” Jingga menciumi dirinya sendiri, ternyata Jingga memang bau.
“Huaa... pantes, pantes pantes! Ah Buna Jingga malu!” Jingga menangis lagi dengan keras dan menutup mukanya.
Karena dimanja, Jingg menjadi perempuan yang cengeng. Bunanya pun menatap putrinya dengan heran. Apa yang sebenarnya terjadi dengan putrinya.
“Ya sudah berhenti dulu nangis, sekarang sudah sore, biar wangi, Jingga mandi dulu, Buna tunggu di sini ya! Buna udah lama nggak main di kamar Jingga, Buna mau rebahan dulu ya!” tutur Bunanya lagi menenangkan Jingga dan menyuruhnya mandi agar bersih, badan enteng dan pikiranya selow.
__ADS_1
“Ya Buna! Bunanya jangan pergi dari kamar Jingga, Jingga nggak mau ketemu Baba!” ucap Jingga lagi sambil manyun.
"Lhoh kok nggak mau ketemu Baba?"
"Jingga denger kok Bun. Jingga nggak mau dijodohin, titik!" ucap Jingga lagi protes dengan mulut manyunya.
Buna Alya kemudian tersenyum, mengerti bagaimana perasaan putrinya. Buna Alya memandang putrinya yang cemberut dengan penuh sayang.
"Ya udah sana, mandi dulu, abis itu sholat, kita ngobrol ya. Ngomong-ngomong anak Bunda udah makan belum?"
"Belum, ya udah Jingga mandi dulu ya Bun!" jawab Jingga.
"Ya... "
Jingga masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. Bunanya kemudian beristirahat di kamar putrinya itu.
Sebenarnya Buna cukup lemah dengan kehamilanya, tapi sebagai seorang ibu sebagaimana lelahnya, sebagaimana keadaan dirinya sendiri, anak adalah prioritasnya.
Buna Alya selalu berusaha bersikap adil dan bijak memberikan kasih sayang pada putra putrinya, meski masih saja buat mereka kadang merasak waktu Bunanya terasa kurang.
Niat mau ngobrol dengan Bunanya pun tertunda lagi, Jingga tidak berani membangunkan Bunanya meski sudah sore. Dengkuran halus dari Buna menyiratkan betapa lemah keadaan Bunanya sekarang.
"Kenapa Buna harus hamil lagi sih? Bukan Jingga nggak suka punya adik lagi, tapi Jingga nggak tega Bun, liat Buna begini. Hh.. Baba tuh sebenarnya mikirin Buna nggak sih?" gerutu Jingga memperhatikan Bunanya.
Buna Jingga tubuhnya kecil mungil, memang baby face, tapi tetap saja usianya sudah tidak muda lagi. Kehamilan Bunanya sangat beresiko. Baba Ardi tidak paham tentang kesehatan jadi seneng- seneng aja istrinya hamil terus, tapi Jingga tau resiko apa saja hamil di usia lebih dari 40 tahun. Jingga jadi khawatir.
"Semoga Buna tetap sehat Bun. Jingga mau Buna selalu temani Jingga. Buna, ibu terbaik buat Jingga." lirih Jingga.
Jingga meraih tangan Bunanya, seperti kebiasaan Jingg saat kecil. Jingga sangat suka tangan Bunanya, Jingga dulu tidak bisa tidur kalau tidak memegang atau memeluk tangan Bunanya, sampai sekarang pun Jingga suka sekali menggenggam dan mencium tangan Bunanya itu.
Di mata Jingga, tangan Bunanya itu tangan ajaib dan hebat yang selalu bisa menjadi obat buat Jingga saat menyentuh Jingga. Jingga ikut berbaring di dekat Bunanya sampai maghrib tiba, meski Jingga tidak jadi curhat, tapi sedih Jingga terobati dengan pelukan Bunanya.
__ADS_1
Di lantai bawah, adik- adik Jingga juga sudah ribut kecarian Buna mereka. Baba Ardi pun dibuat tidak sabar menghadapi anaknya sendiri yang nakalnya minta ampun, untung rumahnya luas jadi mereka punya tempat untuk mengeksplor keaktifan Biru dan Hijau saling melempar barang karena berjelahi.
"Biru! Hijau! Cukup! Baba belikan mainan bukan untuk dihancurkan dan berantakan begini!" omel Baba Ardi karena Baba baru saja membelikan mobil remote mahal malah dijadikan rebutan dan bahan lempar- lemparan oleh kedua anak kembarnya itu. Mobil-mobilan mereka pun sudah hancur padahal baru sehari beli.
"Baba galak!" jawab Hijau cemberut dimarahi Babanya.
"Iya Baba galak. Iyu mau ke Buna aja!" sahut Biru.
"Ck. Hh!" Ardi hanya berdecak, memijat pelipisnya dan menghela nafas. Ardi menahan sabar terhadap putranya sendiri yang selalu menolak kalau diasuh oleh dirinya.
Sebenarnya dengan anak-anaknya menjauh, menguntungkan untuk Ardi, karena Baba Ardi cukup sibuk dengan pekerjaanya. Biasanya ada istrinya, tapi istrinya berpamitan tidak mau diganggu hendak menyelesaikan masalah dengan putrinya, mau tidak mau Ardi harus bisa mengendalikan kedua putranya.
Baba Ardi yang sedang menyeleksi kandidat laki-laki yang akan dijodohkan dengan Jingga pun batal karena Hijau dan Biru ribut terus.
"Buna di kamar Kakakmu! Buna sedang berbicara penting, Hijau dan Biru harus patuh sama Baba, rapikan mainanya! Baba hukum kalau nggak nurut!" omel Baba Ardi lagi tidak tau cara menakhlukan kedua putranya.
"Huh, Baba jahat, Baba nggak sayang sama Iya dan Iyu," jawab Hijau lagi merasa Babanya hanya terus mengancam dan memarahi.
"Iya! Iyu nggak mau main sama Baba!" imbuh Biru setuju dengan saudaranya.
Ardi menggelengkan kepalanya, kalau dalam hal melawan Ardi mereka kompak sekali. Kenapa masih kecil anaknya sudah pandai melawannya.
"Baba jahat ngapain? Baba kan cuma minta kalian bereskan mainan. Sebentar lagi mau magrib. Jangan ribut terus! Jangan buat Baba pusing, oke!"
Ardi hanya bisa marah- marah lagi pada anaknya, tentu saja, mereka berdua kemudian berespon menangis secara kompak.
"Huaaa..... Baba nakal, Baba galak!" isak kedua anak Ardi.
"Haish!" Ardi kemudian hanya mendesis frustasi.
"Yaya, Baba salah, Baba minta maaf kemarilah. Jangan nangis lagi!" tutur Ardi merentangkan kedua tanganya untuk menggendong kedua anak kembarnya.
__ADS_1
Hijau dan Biru pun mendekat pada ayahnya, meski galak mereka tetap luluh pada ayahnya, dengan tangan Baba Ardi yang masih kuat Ardi menggendong Hijau dan Biru di kanan kiri, tentu saja bukan untuk ditenangkan tapi Ardi berjalan membawa kedua anaknya ke kamar Jingga agar bertemu Bunanya.
"Ayo kita ke Buna!" tutur Ardi ke Hijau dan Biru. Mendengar kata Buna mereka berdua langsung diam dan bahagia lagi.