Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
58. Ketemu Adip


__ADS_3

Jingga dan Tari menghentikan langkahnya di depan dapur. Seseorang telihat berjalan ke arah Jingga. Tari mengangguk dan memberikan kode. Ini ketiga kalinya langkah Tari dan Jingga dihentikan orang.


"Selesaikan urusan Lo!" bisik Tari


"Jangan tinggalin gue!" Bisik Jingga.


"Kalau dia macem- macem tendah aja scrotumnya, terus kamu teriak dan lari!" bisik Tari lagi memberikan tips agar tidak dijajah oleh laki- laki.


"Tapi Rii!" bisik Jingga lagi. Menahan Tari, tapi Tari terus berjalan.


Tama pun terlihat lebih sabar menunggu Jingga. Jingga kini berdiri masih takut.


"Kakak Minta maaf!" ucap Tama.


"Iyah. Jingga juga minta maaf!" jawab Jingga.


"Whatsap kamu nggak bener kan?" tanya Tama mulai meninggi.


Jingga diam lagi gelagapan. Meski Jingga juga enggan dengan Pak Rendi.Tapi demi agar Jingga tidak di adukan ke Babanya dan dijemput pulang. Jingga harus jelaskan ke Tama tentang Pak Rendi dan putuskan hubungan dengan Tama.


"Itu benar Kak!" jawab Jingga.


Tama yang tadinya lunak dan berniat ingin membuat Jingga nyaman lagi, karena memang wataknya kasar emosinya naik lagi. Tama mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tanganya.Tama menatap Jingga dengan sorotan mata penuh emosi.


Tama kembali menggerakan tanganya meraih dagu Jingga. Tama menaikan dagu Jingga agar wajahnya mendongak menatapnya.


Jingga jadi kembali ketakutan. Bahkan Jingga mengingat pesan Tari. Kalau Tama mau kasar lagi. Harus tendang pangkal pahanya.


"Tatap mataku!" ucap Tama.


"Aku minta maaf Kak!" ucap Jingga berusaha tetap menyelesaikan masalahnya dengan jalan yang benar meski ketakutan.


"Apa ini artinya kamu mempermainkan aku?" tanya Tama.


"Nggak, Kak! Jingga nggak bermaksud seperti itu!" jawab Jingga.


"Terus semudah ini kamu bilang putus? Iya?" tanya Tama lagi.


"Kak, Baba Jingga, Baba Jingga yang atur semua ini, Jingga minta maaf!" ucap Jingga jujur.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Tama lagi.


Jingga terdiam. Harus bohong agar Tama segera melepaskanya, atau jujur Jingga belum menyetujui perjodohan itu. Jingga hanya ingin putus karena ternyata sifat Tama amatlah buruk dan menakutkan.


"Jawab!" tanya Tama sedikit membentak.

__ADS_1


"Iya, aku menyukai Pak Rendi!" jawab Jingga bohong.


Di saat seperti itu, Tama merasa sangat terhina dan dipermainkan Jingga.


Tama tiba- tiba mencengkeram bahu Jingga.


"Kak sakit!" keluh Jingga dan berusaha menepis tangan Tama.


Tapi Tama tidak menghiraukan dan justru maju mendekap Jingga kencang. Teori Tari yang mengajarkan untuk menedangnya Jingfa tak sehebat itu.


"Kamu nggak bisa putusin aku! Aku nggak mau putus Jingga, Kamu milikku!" Ucap Tama memeluj Jingga seperti orang kesetanan.


Jingga pun memberontak dan minta tolong. Sayangnya lampu belum menyala, dan anak- anak kembali ke kamar di lantai dua.


"Lepas Kak.Tolong!" teriak Jingga.


"Kemon Baby, tenanglah. Aku hanya ingin memelukmu. Kamu pacarku kan?" ucap Tama lagi dengan nada yang sangat mengerikan.


"Nggak bukab pacaran seperti ini yang Jingga mau. Aku mau kita putus.Lepas!" Ucap Jingga berkelit berusaha melepaskan tubuhnya.


Tama pun semakin kuat memegang tangan Jingga agar tidak kabur.


"Bug!" tiba- tiba dari belakang seseorang menendang Tama, memecah konsentrasi Tama.


Apa segitu obsesinya Tama dengan Jingga. Tama kan terpelajar dan anak orang kaya juga.Kenapa Tama seperti itu. Jingga menyandarkan badanya di tembok dekat dapur.


Tari sudah pergi.Jingga pun menunggu dan memperhatikan dua laki- laki yang sekarang bertengkar karenanya. Jingga tadi langsung lari jadi belum lihat siapa yang menolongnya. Sekarang lah Jingga memperhatikanya dengan baik.


"Adip" gumam Jingga seketika jantungnya berdetak tak beraturan. "Dia sungguhan ada di sini?"


****


Tama langsung menoleh keseseorang yang menyerangnya dari belakang.


"Siapa lo!" bentak Tama.


"Ini asrama Bung, jangan berbuat keributan di sini!" ucap Adip dengan santainya.


"Nggak usah sok ikut campur lo. Lo nggak tahu siapa gue?" jawab Tama sombong.


"Gue nggak perlu tahu siapa lo. Yang gue tahu. Lo laki- laki pecundang yang nggak tahu adap dan tatakrama!" jawab Adip lagi sangat santai.


Sementara Tama terus termakan emosi.


"Ini urusan gue. Dan Jingga pacar gue. Lo nggak berhak ikut campur urusan gue!" ucap Tama setengah berteriak

__ADS_1


"Terserah gue nggak peduli dia istri lo, pacar lo atau adik lo. Yang gue denger dia minta tolong. Dan dia perempuan. Di sini di asrama. Inu haknya gue untuk ikut campur!" jawab Adip lagi


"Eh lo pikir lo siapa di sini? Apa peduli gue sama Lo!" jawab Tama emosi dan gemash ke Adip. Tama pun melayangkan tonjokan mengarah ke Adip.


Adip yang terbiasa bergaul dengan semua orang termasuk anak jalanan dengan tenang langsung mengkis tangan Tama. Justru memberikan pukulan balik, pelan tapi mantap langsung membuat Tama berdarah.


Tama pun langsung memegang pipinya dan bersiap memberikan pukulan. Tama melayangkan pukulan dengan emosi. Adip yang tenang langsung menangkapnya dan memelintir balik. Sehingga Tama kesakitan.


"Gue kasih pilihan ke lo. Lo dengerin gue, balik ke kamar lo dan nggak usah bikin keributan. Atau Lo mau, digebugin seisi asrama kalau gue teriak dan kasih tahu kelakuan lo? Hah. Lo dari kampus mana sih? Pulang aja deh lo, Nggak usah ikut acara ini!" ucap Adip berbisik memperingati sambil memelintir tangan Tama.


"Aaak, gue nyerah!" Tama pun langsung kalah dan kesakitan.


"Jawab dulu lo dari kampus mana?" tanya Adip lagi.


"Gue bukan peserta Ruang Inspirasi, goblok!" jawab Tama masih dengan emosi.


"What?" tanya Adip mengendurkan pelintiran tanganya. Tama pun langsung menghindar. Heranya Tama masih congkak ke Adip.


"Bukan level gue ikut acara begituan. Jadi lo nggak usah ngancem gue!" tutur Tama dengan sombong padahal dirinya sudah dikalahkan Adip.


"Ngapain lo di sini? Jangan bilang lo peserta Rakernas perhimpunan mahasisiwa? Atau peserta gerakan bangsa sehat?" tanya Adip.


Jadi dalam satu waktu itu, ada 3 event yang akan diberangkatkan ke pulau P dengan pesawat gratisan dari pemerintah itu.


Yang pertama para pekerja yang lulus seleksi Gerakan Bangsa Sehat, mereka anak- anak yang sudah lulus dan akan bekerja kontrak satu tahun di pedalaman seperti Adip, berjumlah 5 orang.


Kedua peserta Ruang Inspirasi yang berjumlah ratusan orang tapi akan dibagi ke banyak pulau, hanya 30 orang yang akan ke pulau P, itu juga nanti dibagi perkecamatan. Yang terakhir peserta himpunan pengurus BEM dari universitas yang ada acara temu dari perwakilan Bem_ bem di seluruh negeri, berjumlah sekitar sekitar 25 orang.


Asrama mereka sebenarnya berbeda gedung dan lantai. Tama seharunya ada di lantai 3. Adip di lantai dua tapi di gedung berbeda dengan tempat Jingga. Para dosen pemateri pun punya tempat khusus satu gedung dengan Adip tapi beda lantai. Karena hitunganya Adip sudah calon pekerja bukan mahasiswa.


"Menurur lo. Gue yang mana?" jawab Tama lagi dengan sombong.


"Kasian sekali organisasimu jika kamu peserta rapat tahunan?" ejek Adip pelan tapi tajam. Adip kan dulu juga mantan ketua Bem di kampusnya jadi Adip tahu.


Mendengar pernyataan itu Tama jadi menciut. Adip langsung bisa menebak.


"Yang pasti gue nggak selevel sama lo. Jadi jangan halangi gue!" ucap Tama lagi masih besar nyali.


"Gue nggak peduli level lo. Gue pastiin sepulang dari sini lo lengser dari jabatan Lo. Dan lo gue kasih pilihan gue teriakin atau balik lo ke kamar!" bentak Adip lagi.


"Oke gue balik ke kamar gue!" jawab Tama, melirik ke Jingga.


Jingga masih berdiri memperhatikan Tama dan Adip. Ternyata kata Tari salah. Tama hendak ke pulau P ada acara Bem. Dan Adip apa dia peserta yang akan mengabdi di pedalaman selama setahun atau sebulan sama sepertinya?


Saat Tama berjalan menjauh. Lampu menyala sehingga Adip dan Jingga bisa saling tatap dengan jelas.

__ADS_1


__ADS_2