Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Bocah...


__ADS_3

Fitrahnya perempuan, Alloh beri hati yang lembut dan sangat sensitif. Apalagi terhadap buah hati dan orang yang mereka sayang.


Konon, bagi ibu, kebahagiaan buah hatinya lebih penting dari kebahagiaanya sendiri. Begitulah yang Buna rasa mendengar putrinya mau ditinggal. Padahal baru kemarin anak dan menantunya memibya setelah ini Jingga harus menempati rumah Adip.


Buna saja tidak pernah bisa jauh dari suaminya lebih dari satu minggu. Buna juga paham betul bagaimana pria dan perempuan yang sudah menikah dan tahu nikmatnya melakukan penyatuan cinta bila satu minggu tidak mendapatkanya.


Sungguh, Buna tidak sanggup jika harus melihat Putrinya sakit dan bersedih menahan rindu kelak.


Oma pun demikian. Apalagi, Oma yang merawat Jingga dari kecil yang memanjakanya melebihi Buna. Mungkin kasih sayang Oma ke Baba Ardi dibanding ke Jingga lebih besar ke Jingga. Bahkan mungkin, dengan Baba Ardi lebih pekaan Oma. 


Mendengar cucu kesayanganya yang seharusnya sedang berbulan madu, menikmati indahnya cinta, tiba- tiba harus ditinggal untuk waktu yang tidak sebentar bagi Oma. Oma tidak terima dan mencemaskan cucunya. 


Oma tidak setuju, Adip pergi. 


Tidak sedikit orang yang berpacaran, sudah tunangan ataupun menikah berakhir tidak baik jika mereka LDR. Pikiran Oma pun bercabang kemana- mana. 


“Tanggung jawab bagaimana, Dip? Itu hanya kesepakatan kerja. Kamu bisa mengundurkan diri! Kamu bisa membatalkanya,” sanggah Oma. 


“Iya, Nak... kalau boleh Buna tahu, memang berapa gaji kerja di sana? Kamu bisa kan batalkan kontrakmu? Berapa pinaltinya? Buna bayar!” sambung Buna. 


Kali ini sifat rasional Buna terkalahkan oleh rasa sayang dan khawatir terhadap Putrinya.


“Ya, benar, kamu tidak usah khawatir, di sini pekerjaan banyak, Nak. Kamu bisa buka klinik hewan, atau mau lanjut sekolah boleh, kamu mau spesialis apa? Suka bagian hewan apa? Ternak? Peliharaan? Laut? Atau mau kerja di laboratoriun veteriner pusat? Baba akan bantu kamu masuk sana!” imbuh Oma lagi.. 


Oma dan Buna ingin Adip dan Jingga hidup tenang di ibukota.


Adip mendengarkan dengan seksama, menunduk tersenyum. 


Rupanya menikahi Jingga bukan hanya Jingga yang harus disepahamkan dan dirayu hatinya agar mengerti mau Adip. Tapi Adip juga harus menakhlukan ibu, nenek dan mungkin sebentar lagi, Baba ikut- ikutan. 


Sejauh ini sih Baba masih diam, berharap Baba mengerti Adip dan setuju dengan pendapat Adip. 


Ya, perkara menikah memang bukan hanya dua insan dan dua hati, tapi dua keluarga.


Dalam setiap keputusan meski idealnya hak Adip dan Jingga yang memutuskan, tetap kedua orang tua pasti akan peduli dan ikut andil.


“Ehm...,” Adip berdehem mengambil jeda untuk menjawab. 


“Maaf, Oma... Buna..., pekerjaan Adip di sana bukan tentang masalah uang, atau seberapa nominal yang Adip terima atau berikan jika Adip mengambil pinalti membatalkan kontrak, ini tentang janji dan amanah yang sudah Adip ikrarkan dan Adip mulai,” jawab Adip tegas. 


“Seleksi penerimaan karyawan kontrak di daerah tertinggal butuh agenda, tahap dan prosedur yang melibatkan banyak orang. Adip sudah tanda tangan bersedia menjalankan tugas di sana. Pekerjaan Adip di sana, juga tak semata tentang nominal rupiah,” 


“Adip bertanggung jawab dalam suatu wilayah kerja. Adip menghadapi banyak orang yang semua mempunyai hati dan harapan. Bagaimana mungkin Adip meninggalkan mereka begitu saja, saat Adip berhasil mendorrong mereka untuk semangat membangun perubahan dan merajut mimpi mereka?” jawab Adip tenang. 


Emak yang masih terbaring ikut mendengarkan, Baba dan Bapak juga tetap tenang. Jingga yang semalam sudah ditenangkan memilih tidak komentar meski hatinya goyah ingin rayuan Buna dan Oma berhasil. 

__ADS_1


Nila bersama maid dan adik- adik di luar.


Oma dan Buna pun masih belum puas. 


“Tapi kan, banyak Dip, veteriner lain, kamu mundur kan mereka bisa cari pegawai lain. Di sana juga banyak penyuluh kan?” tanya Buna ngeyel. 


“Iya... di sini banyak orang yang masih nganggur, kamu mundur saja. Biar orang lain yang menggantikanmu!” jawab Oma masih kekeh. 


Adip tersenyum lagi. 


“Seperti yang saya sampaikan tadi, Oma, Buna. Seleksi penerimaan karyawan seperti ini, prosedurnya banyak. Tidak bisa serta merta seperti perekrutan karyawan di kafe atau pabrik. Minat pelamar kerja di sana juga sangat sedikit, Adip saja tidak punya saingan. Kalau Adip keluar, berarti proyek dan rencana yang sedang dirintis ya berhenti, padahal, masyarakat di sana sudah semangat. Mereka percaya ada Adip, berharap banyak pada Adip. Adip tidak mau memutus mimpi mereka,” jawab Adip lagi. 


“Tapi kamu jadi meninggalkan istrimu, kamu berjauhan sama istrimu! Kamu tega Jingga sendirian di rumahmu itu?” sanggah Oma lagi. 


“Hanya satu tahun, kan Oma..., insya Alloh kelak kita akan berkumpul lagi. Bukankah dalam hidup dalam mencapai apa yang kita ingin perlu adanya perjuangan? Adip percaya Jingga mampu melewati perjuangan ini!” jawab Adip. 


“Semoga saja, tapi bagaimana kalau...,” gumam Oma lagi tapi terhenti karena takut bicara kotor. 


“Maaf Oma Buna... Saya percaya Jingga dan saya juga berharap Jingga percaya saya. Adip akan pegang kepercayaan ini." tutur Adip menatap Jingga.


"Hhhh...," Oma dan Buna hanya menghela nafasnya.


"Jingga percaya Bang Adip, Buna.. Oma," sahut Jingga merasa perlu karena suaminya mengedipkan mata menunggu jawabanya.


Kali ini Buna dan Oma terdiam.


"Kamu bersedia kan Sayang?" tanyq Adip lagi.


"Iyah!" jawab Jingga.


Adip pun bercerita tentang perjuanganya selama ini.


Buna dan oma semakin tercekat. Apalagi saat Adip cerita, kalau ruang inspirasi itu adalah program dari kementerian saat berdasarkan rapat dan usulan proposal yang pernah diajukan Adip bersama penggerak muda lainya. 


Buna dan Oma sekarang mengerti, Adip bukan karyawan pemerintah kontrak biasa. Itu hanya sebagai batu loncatan untuk Adip mengenal letak geografis, dan kehidupan sosial budaya di sana. Bahkan Adip juga sambil dakwah di sana. Sebab banyak orang juga yang belum mempunyai agama di sana. 


Adip ingin setelah kontrak membuka lapangan kerja dan menetap di sana. Dan itu akan dibantu, Baba, Om Gery tentunya pemerintah setempat dan perusahaan lain rekan Baba. Baik perusahaan asing atau lokal. 


“Kamu dengar Jingga apa kata suamimu?” tanya Buna sambil terisak. 


“Ya Buna,” jawab Jingga. 


“Kalau memang ini keputusan kalian, Buna bisa apa? Buna cuma berdoa, langkah kalian berhasil,” tutur Buna. 


"Aamiin,"

__ADS_1


“Hhhh...,” Baba menghela nafas. 


“Sudah menjadi pilihanmu kan menikah dengan bocah ini? Baba sudah pilihkan suami yang akan banyak kasih kamu kemudahan, tapi kamu pilih bocah ini. Berarti kamu nggak boleh ngeluh dan cengeng!” ucap Baba ke Jingga dengan kata mengejek tapi mengandung arti besar. Kali ini Baba tidak sepaham dengan Buna dan tumbenan agak tega.


Baba kali ini terpengaruh Adip, saatnya mendewasakan Jingga


“Bang Adip bukan bocah, Ba!” jawab Jingga tidak terima.  


“Kalau kamu pingin, suamimu ini, jadi orang besar bukan bocah lagi kamu juga harus punya pengorbanan yang besar. Sekarang kamu sudah menjadi istrinya,"


"Baba berharap kamu bisa jadi istri yang baik, yang mendoakan suamimu dan mendukung suamimu. Dan kamu Adip. Baba atau karyawan Baba akan sering ke sana. Bulan depan semua sudah harus dimulai proyeknya. Baba akan tembusi dan temui pihak terkait. Sekali saja kamu berani melanggar kepercayaan putriku, bbukan hanya proyek kita yang akan berhenti. Hdupmu juga!” tutur Baba tidak main- main mengancam Adip. 


Adip tersenyum mengangguk. 


“Adip janji akan jaga kepercayaan Baba dan Jingga,” jawab Adip. 


Setelah berbincang dan setuju, Adip kemudian memeluk Emak.


Dengan tanganya yang masih terluka. Emak pun meraih tangan anak kecilnya itu dengan lembut. Emak meneteskan air mata melepas anak kesayanganya. Lalu Emak menatap Jingga.


“Maafin anak Emak ya, Nak Jingga! Menikah denganya memang tidak mudah, dia suka nyusahin orang!” tutur Emak pelan menasehati dengan nada bercanda. 


“Nggak, apa- apa Mak, Jingga cinta sama Bang Adip!” jawab Jingga. 


Setelah lama menjenguk Emak dan Bapak, Baba pun bangun dan berpamitan.


Akan tetapi sebelum pergi, Baba sudah menyeleseaikan administrasi biaya perawatan Emak. Bahkan Baba meminta jangan pulangkan Emak sebelum benar- benar kering dan sembuh luka bakarnya. 


Baba pun memastikan pekerjaan polisi dan Om Dika.


Sesuai dengan keinginan Adip juga, Baba setuju, toko Uwak tidak disits atau ditutup tapi diambil alih atas nama Adip, hanya saja Mang Udin, Mang Jojo Yuli dan yang lain yang kelola. 


Penanggung jawabnya bukan lagi Adip atau Uwak, tapi Abah Anwar. Adip mau toko Adip menjadi donatur pondok Abah Anwar.v


Malam itu bersama Baba dan Buna, Adip dan Jingga meninggalkan Bapak dan Emak lagi. 


“Kemarin kan nggak jadi nginep di rumah Baba. Malam ini nginep di rumah ya.” Pinta Oma ke Jingga dan Adip. 


Adip dan jingga saling lirik. “Duh nggak bisa main sepuasnya kek kemarin?” batin Adip. Kalau di rumah sendiri kan mau di ruang tamu di kamar dimana saja dengan gaya apa jadi.


“Ya Oma,” jawab Jingga. Adip pun patuh.


Sesampainya di rumah Baba, ternyata ada tamu yang sudah menunggu.


"Umminya Pak Rendi?" gumam Jingga langsunh kesal. "Ngapain mereka ke sini?"

__ADS_1


__ADS_2