Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
119. Pemimpin tertinggi.


__ADS_3

"Kak Jingga kok kunjung datang? Gue nggak ngimpi kan?" gumam Amer di kamar teman Pak Anton.


Amer menepuk pipi dan tanganya. Dia melihat sekeliling benar- benar seperti di dunia lain. Dunia yang Amer tinggali di luar negeri penuh dengan hingar bingar, serba maju. Saat malam dimanapun tempatny sinar lampu berkilauan. Gedung- gedung berjajar tinggi lantainya juga bersih cemerlang.


Sekarang Amer tidak mendengar keramaian itu. Sekedar musik pun tidak. Yang ada suara serangga malam yang terdengar mesra saling bercanda ria dan bersahut- sahutan.


Entah hewan seperti apa, suaranya begitu nyaring. Jangkrik kah? Orong- orong kah? Atau katak? Dulu saat ziarah ke makam Oppa dari Buna di kota kelahiran Buna, Amer pernah mendengarnya, tapi Amer lupa.


Kamar Amer pun gelap, hanya ditemani temaram dari lentera yang terpasang di dinding kayu. Nyalanya kecil tapi harus berbagi ke seluruh ruangan.


Amer melihat jam tangan mahalnya. Adip dan tuan rumahnya bilang rumah Bu Bidanya dekat, hanya berjarak 2 rumah. Kenapa sampai 2 jam tak kunjung datang, suara kakaknya yang manja dan suka ketus juga tak kunjung dia dengar.


Amer kemudian bangun, dan ingin bertanya pada Pak Anton dan temanya. Rupanya teman Pak Anton kedatangan tamu.


"Ada apa Pak?" tanya Amer.


"Warga disuruh kumpul ke bukit pengampunan, ada ritual "ikah" di sana! Kita di sini saja!" ucap Pak Anton memberitahu Amer.


Teman Pak Amer itu sudah pergi. Sementara Pak Anton dan Amer sebagai tamu disuruh di rumah saja.


"Apa itu bukit pengampunan dan ritual ikah Pak?" tanya Amer lagi.


"Itu hukum adat di desa ini kalau ada warga yang terbukti melakukan pelanggaran adat termasuk zina akan dihukim di atas bukit, diikat di pohon pinang dan semua warga boleh memukulnya, berharap sebagai sarana agar semua diampuni atas dosa mereka!" tutur Pak Anton.


"Saya ingin lihat Pak!" jawab Amer.


"Jangan, ngeri. Nggak tega liatnya. Sudah kita di sini saja, sambil nunggu Kakak Ganteng!" jawab Pak Anton lagi.


Amer kemudian merebahkan badanya lagi, sementara Pak Anton menyeruput minuman hangat yang disediakan kawanya itu.


****


Di bukit ampunan.


Jingga masih terikat dengan kepala yang terus menunduk hampir mau jatuh karena tak sadarkan diri. Hanya Tama yang tahu obat bius jenis apa yang diberikan ke Jingga dan berapa lama akan bekerja. Yang pasti Jingga benar- benar seperti tertidur sangat pulas, bahkan seperti boneka tapi bernafas.


Adip yang sadar melihat itu terus mengeratkan rahangnya menahan perih dan emosi..Warga berkumpul mengelilingi mereka berdua. Semua tatapan warga menyiratkan sorot mata yang penuh gaairah siap menghajar dan memberi hukuman.


Padahal meski tak sederas tadi sore hujan masih terus turun.


"Ya Tuhan, hukum aku saja, tapi jangan hukum Jingga. Jingga memang yang terbaik Jingga tidur dan terbius, tolong bangunkan dia saat semua sudah baik- baik saja. Tolong kami, tolong kami, selamatkan Jingga ya Allah!" batin Adip berdoa dan terus meminta pertolongan pada Tuhanya.


Adip tak sedikitpun menatap warga. Adip merasa dirinya hanya berkomunikasi dengan Tuhan yang Maha mendengar. Lebih dari itu, Adip hanya melihat Jingga yang diikat erat ke pohon pinang tapi terus memejamkan mata. Bahkan warga menambahkan ikatan di bagian atas kepalanya karena Jingga seperti mau tergolek jatuh.

__ADS_1


"Teng... teng....!" salah satu warga memukul lonceng.


Ternyata ada yang lebih tua dari kepala suku yang membawa Adip tadi. Seorang lelaki tua berambut panjang dan putih keluar.


"Siapa namamu?" tanya laki- laki berambut putih itu menatap dingin ke Adip.


"Nama Saya Adipati Wirajaya!" jawab Adip dengan sangat tenang.


Laki- laki itu diam lalu memperhatikan Jingga.


"Kami tidak melakukan apapun Tuan. Tolong jangan hukum kami!" ucap Adip memohon bisa melihat dari wibawa dan bagaimana warga memperlakukanya orang di depanya sangat dihormati.


Sayangnya belum orang itu menjawab, banyak warga sudah berteriak dan sepakat memberi hukuman ke Adip dan Jingga.


"Hukumm... hukum!" bahkan sebagian sudah melemparkan batu kecil mengenai dada Adip dan juga Jingga.


Adip bisa merasakan pedas, heranya Jingga benar- benar diam seperti tak merasakan apapun, Jingga teranestesi.


Tapi Adip bisa melihat perut Jingga dan lengan Jingga yang terbuka tampak lebam. Saat sadar nanti Jingga pasti merasa sakit.


"Tenang- tenang!" ucap laki- laki berambut panjang itu.


"Percayalah Pak! Kami tidak melakukan apapun!" teriak Adip memohon.


"Akui saja anak muda. Kami tak akan membunuh kalian. Kami hanya ingin memohon ampun dan pembersihan desa kami!" ucap Pak Berambut putih itu.


Mendengar itu Adip diam dan berfikir sepertinya pembelaan Adip tak didengar.


"Saya siap menerima hukuman. Tapi tolong jangan hukum.teman saya!" ucap Adip menawar.


"Tidak bisa!" jawab Pria berambut putih itu.


"Saya mohon Pak. Kasihani teman saya. Dia tidak sadarkan diri. Dia dijahati dan dilecehkan. Dia hanya korban!" lanjut Adip terus memohon berharap Jingga selamat.


"Tidak bisa, hukuman harus tetap berjalan!" jawab laki- laki itu lagi.


Lalu warga berteriak.


"Bukaaa... buka...!"


"Mulaiii mulaai!"


Mendengar itu Adip langsung panik. Apalagi dua orang maju seperti siap hendak meucuti kain Yang Adip dan Jingga kenakan.

__ADS_1


"Saya mohon, jangan lepaskan kain pelindung twman saya!" ucap Adip lagi meminta untuk terakhir kalinya.


Pria berambut putih itu diam kemudian mengangguk.Lalu memberi kode agar Adip saja yang dilucuti.


Kedua warga yang hendak melucuti Adip pun maju. Pertama melepas ikat pinggang Adip. Adip pun pasrah menerima hukuman itu. Setelah itu melepas celana panjangnya. Kini Adip setengah Buugil. Hanya tersisa kain pembungkus pusakanya.


Para warga pun sudah bersiap dengan batu di tanganya menatap gemas tidak tahan ingin melempar ke tubuh Adip.


4 mata di tengah keramaian itu terbelalak melihat wajah Adip dan Jingga.


"Tunggu!" teriak kawan Pak Anton dan Bu Bidan desa.


Lelaki berambut putih itu menoleh ke teman Pak Anton dan Bu Bidan.


"Ada apa?"


"Sepertinya apa yang diutarakan pemuda ini benar. Dia tamuku yang baru datang dan mencari gadis ini! Dia sepertinya tak melakukan apapun!" ucap teman Pak Anton.


"Benar, gadis ini seperti dalam pengaruh obat. Boleh saya memeriksanya terlebih dahulu?" tanya Bu Bidan lagi sangat iba melihat Jingga.


Siang tadi Bu Bidan sempat bercakap dengan Jingga dan ingat betul Jingga pergi bersama Tama. Bu Bidan juga salah satu saksi Adip sedang kebingungan mencari Jingga.


Teman Pak Anton dan Bu Bidan juga tau, kalau pakaian yang menempel di tubuh Jingga punya Adip. Itu berarti Adip berusaha menutupi dan menyelamatkanya.


Si bapak berambut putih itu diam, kemudian meminta saran kepada para lelaki yang memakai topi simbul atasan suku.


"Baik, silahkan!" ucap laki- laki tua berambut putih yang ternyata pemimpin tertinggi warga primitif itu.


****


Maaf tepatin janji double Upnya tengah malam.


Oh iya.


Marhaban ya ramadhan ya Kakak semuaanya yang beragama muslim


Author mohon maaf atas segala salah.


Terima kasih mau baca kehaluan randomku. Ambil baiknya buang jeleknya.


Semoga kita semua bisa maksimal ibadah di ramadhan sekarang.


Selamat menjalankan ibadah ramadhan ya.

__ADS_1


**Author usahain tetep Up. Tapi nomer satu tetep kehidupan nyata... hehe. Maaf yaa.


__ADS_2