Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
154. Perang dingin.


__ADS_3

Di Pulau Panorama, Adip yang hatinya sudah penuh dengan kepasrahan dan keyakinan pada Alloh Subhanallohu Ta'ala, bahwa setiap nafas yang dia hembuskan, detak jantungnya yang terus berirama sudah ada jaminan dan ketentuan, tetap tenang dan hatinya bebas bahagia.


Adip tidak terusik dan tidak sekalipun memikirkan bahwa di luar sana teman- temanya sedang menggunjingnya, menjatuhkanya dan memfitnahnya secara keji.


Bagi Adip, hidupnya adalah sebuah kesempatan, kesempatan untuk dia berbuat baik. Kesempatan buatnya dia berbuat sesuatu yang bermanfaat, dan menorehkan sejarah.


Termasuk terselenggarakan, ada gerakan ruang Inspirasi juga berkat proposal yang Adip ajukan ke kementerian Pendidikan saat dirinya rapat bersama para dosen dan ketua yayasan mewakili persatuan ketua BEM seluruh universitas di negaranya.


Terhadap Jingga, bagi Adip, Tuhan ijinkan bisa melihat bidadari seindah Jingga, menikahinya meski seaaat dan di bawah tangan, memeluknya dan bersamanya mesku sejenak juga sudah anugerah. Sementara memilikinya adalah sebuah keajaiban yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Bukan Adip tidak mau memperjuangkan, tapi Adip ingin menjalaninya dengan santai tapi pasti. Adip percaya jodoh dan takdir Tuhan tidak pernah salah.


Adip tidak ingin berambisi terhadap hal dunia yang terlalu tinggi dan membuatnya lelah berlari, yang pasti aksi pada waktu yang sudah dia rencanakan. Gagal atau berhasil tidak Adip pikirkan, karena bagi Adip, dirinya besok masih diberi nafas atau tidak juga tidak tahu. Semua itu kuasanya Alloh.


Adip hanya ingin harinya, di depanya, dia maksimalkan berbuat baik, bernafas bebas dengan hati dan bahagia, beribadah sebaik- baiknya.


"Bukan begitu, Pak. Ini seperti ini, ikuti saya! Bagian runcingnya yang kokoh besar untuk di bawah, lalu atasnya begini," tutur Adip pada warga.


Adip sedang mengajari warga untuk menyusun bambu, membuat kandang ayam bertingkat. Adip menghabiskan waktunya sibuk bersama warga. Adip fokus menjalankan amanat pekerjaanya, memberikan ilmu pada masyarakat agar bisa memberdayakan sumber daya alam dan hewan ternak untuk ketahanan pangan.


Adip juga ingin turut serta memberantas gizi buruk dan ekonomi rendah.


"Begini Kakak?" tanya warga.


"Ya siiip!" jawab Adip.


Setelah dzuhur tiba Adip juga mengajak masyarakat yang tadinya ibadahnya kurang untuk berjamaah.


Meski jumlah orang muslim yang tahu aturan agama belum genap 40 orang, Adip tetap mengajak warga sholat jum'at dan mengajarkanya.


Di sela- sela itu, Adip juga mengajari warga yang belum tahu agama tentang islam itu apa.


"Saya merinding dengar Kakak Tampan ini, bacaan apa yang tadi Kakak ucapkan?" tanya salah satu warga ke Adip.


Adip tersenyum.


"Itu tadi adzan! Panggilan buat umat muslim, menyempatkan waktu kita untuk beribadah sholat!" jawab Adip.


"Kenapa, kita harus sering ibadah di siang begini Kakak? Kita kan harus bekerja dan istirahat? Buang waktu kan?" tanya warga lagi.


"Sini Kaka, duduk sini. Minum dulu!" ajak Adip santai mengajak warga untuk dia ajak bicara agar mendengarkan dengan santai dan bisa menerima penjelasan Adip.


Adip memang bukan ustad, jadi Adip berdakwah dengan jalan pertemanan, halus tanpa memaksa.


"Terima kasih Kakak!" jawab Warga mendekat.


Adip pun memulai misinya.

__ADS_1


"Begini Kaka. Seperti halnya alam, bumi laut, langit, matahari, bulan dan bintang, semua ada karena ada yang menciptakanya Kaka, dia adalah Tuhan, Tuhanku Alloh. Mereka mempunyai waktu terbitnya sendiri siapa yang mengatur?" tanya Adip lagi.


Warga itu diam masih belum tahu arah Adip.


"Semua itu ada yang mengaturnya, Alloh. Sama seperti hidup kita. Kita diberi nafas, diberi hidup diberi tangan diberi lidah untuk merasa itu berkat Alloh. Banyak banget kan yang Alloh kasih semua gratis. Masa hanya menyempatkan waktu sebentar untuk sholat nggak bisa?" lanjut Adip.


"Hemmm!"


"Pekerjaan kita, kalau kita ikuti tidak akan habisnya, terus ada, padahal waktu kita belum tentu terus ada. Ingat semua dari kita akan mati. Dan saat kita mati, apa pekerjaan kita akan kita bawa dan tolong kita?"


"Tidak Kakak!"


"Nah, saat kita mati, yang akan tolong kita ibadah kita. Di Ibadah kita juga, kita bisa meminta dilancarkan pekerjaan kita pada Tuhan kita. Meminta agar hidup kita bahagia Kak, sehat juga, pekerjaan kita berhasil juga!"


"Dalam ibadah kita juga berterima kasih atas hidup kita, jadi ibadah di tengah pekerjaan kita itu penting. Satu lagi, Saat kita mengambil air wudzu dan melakukan gerakan sholat, tubuh kita juga seperti diberi kebugaran lagi, setelah lelah bekerja! Jadi Sholat itu seperti kesempatan kita untuk mengambil ulang semangat!"


"Benarkah?"


"Iya, coba saja!"


"Aku tidak bisa melakukanya apa itu namanya?"


"Wudzu dan Sholat!"


"Ajarkan Kakak!"


"Kakak agamanya apa dulu?"


"Kalau gitu, kakak harus beragama dulu!" jawab Adip.


Meski tidak sengaja, dalam satu siang itu, dengan modal bismillah dan hati yang tulus. Adip berhasil membawa hidayah untuk 3 warga yang ikut bergotong royong membuat kandang peternakan ayam di desa tetangga desa T.


Pagi kemarin setelah berpisah dengan Jingga, ke desa T Adip hanya mengambil pakaian dan berpamitan pada warga. Warga desa T juga sedang melakukan proyek yang Adip ajarkan.


Siangnya Adip ke desa tetangga, memperkenalkan diri dan memberikan beberapa penyuluhan. Sebagian warga sudah kenal Adip dari cerita warga desa T, sehingga mereka percaya Adip, memudahkan Adip juga.


Siang itu Adip langsung eksekusi. Adip memang bergerak cepat agar dalam satu tahun mengabdi target PR tercapai.


Adip kan juga punya PR bulan depan ambil libur memperjuangkan masa depan calon ibu untuk anak- anaknya.


Adip berencana berkeliling ke semua desa di kecamatan itu, tidak hanya desa P atau S atau T. Planning Adip. Yang terpenting diajari pendidikan dasaranya, diajari sampai bisa, setelah dianggap bisa Adip tinggal, biarkan mereka berproses tanpa Adip.


Adip pindah ke desa lain agar semua berjalan dan tidak fokus ke satu desa. Minggu berikutnya Adip evaluasi mengulanh dari desa awal, lalu maju ke tahap selanjunya. Adip ingin semua desa berproses dan berjalan dalam satu waktu.


Setiap desa pun mempunyai kearifan lokal sendiri. Meski nanti dalam beradaptasi akan butuh waktu berbeda, Adip pun siap. Adip melakukanya dengan bahagia.


__ADS_1


Ilustrasi perjalanan Adip dari desa ke desa. Hehehe maaf foto asal comot di instagram.


****


Di Ibukota


Sudah dua hari Baba dan Jingga yang sama- sama keras saling mempertahankan pendapatnya masing- masing.


Anak dan Ayah itu sama- sama melakukan aksi mogok bicara dan mogok bekerja. Keduanya hanya mau berbicara dengan Buna. Buna pun jadi jembatan untuk dua orang itu.


Baba dua hari tidak ke kantor dan tidak menerima telpon dari manapun, sebelum Jingga mau divisum.


Info terakhir, Ibu Rendi sudah tiba di Ibukota dan mengajak keluarga Baba berdiskusi tentang kelanjutan perjodohan Jingga.


Baba malu, mau bertemu jika belum punya bukti, putrinya hanya korban. Putrinya masih suci dan tidak rendahan. Pokonya Baba tidak mau keluarganya direndahkan dan harus tunjukan buktinya.


Sementara Jingga ngotot tidak mau divisum dan mengurung diri di kamar. Jingga tidak peduli apa kata orang. Jingga malah senang jika ibu Rendi membatalkan. Itu kan tujuanya.


Sayangnya Oma Rita dan Nila masih di rumah sakit. Kalau Oma di rumah pasti Oma ada di kubu Jingga.


Buna yang sedang hamil hanya bisa menahan sabar menghadapi suami dan anaknya. Buna memilih mempertahankan kewarasanya, menunggu siapa yang mau mengalah dulu di antara anak dan ayah itu.


"Haaah!" Buna menghela nafasnya merasa pertarungan sengit anak ayah itu harus diakhiri. Buna pun mendatangi ruang semedi suaminya.


"Mau sampai kapan Ba? Baba ngurung diri di ruang kerja begini?" tanya Buna.


"Kenapa sih Bun? Punya anak susah sekali diatur? Kenapa sulit banget suruh Jingga visum?" jawab Baba.


"Lhoh kok tanya Buna?"


"Kan Jingga anak Buna!"


"Buna hamil dari siapa?"


"Baba!"


"Ya itu ngaku. Menurut Baba sifat Jingga begitu dari siapa?" jawab Buna.


Baba diam menelan ludahnya salah tingkah.


"Apa visum itu menyakitkan? Bagaimana proses visum? Kok anak kita bilang mau divisum si laki- laki bernama Adip itu?" tanya Baba polos.


Buna pun tersenyum geli, mau menjelaskan. Kenapa Baba nggak mudeng juga.Tentu saja sebagai perempuan yang punya cinta inginya yang memastikan, membuka dan menengok ladang surganya ya hanya suami tercintanya. Seperti Buna.


"Baba searching aja di internet!" jawab Buna.


Buna ingin Baba mikir lagi, masa iya relain Jingga yang masih gadis barangnya di lihat- lihat banyak orang di rumah sakit. Itu kan hak asasi Jingga.

__ADS_1


Jadi seharusnya Baba menghargai privasi Jingga. Seharusnya ini juga kesempatan melihat ketulusan keluarga Rendi terhadap Jingga.


Buna belum mengatakan pada Baba dan ingin Baba mikir dulu.


__ADS_2