
Jingga terbelalak kaget mendengar kata Nila. Betapa tidak, seorang dia, yang 4 tahun lebih dewasa sebenarnya menikah belum siap.
Bagaimana bisa Nila yang baru mens dan puber pertama langsung menjatuhkan pilihan sama Om om dewasa yang menurut Jingga mengerikan, dan bersedia menikah. Jalan pikiran Nila tidak sampai untuk Jingga pikirkan. Jingga pun menganggap Nila cinta monyet.
"Nila nggak gila Kak. Insya Alloh Nila mantap!" jawab Nila.
Jingga menelan ludahnya merasa iba ke Nila. Sepertinya Nila sesat dan salah bergaul. Jingga kemudian mencengkeram kedua bahu Nila dan menatapnya tajam.
"Kamu sungguh, mau jadi istri Pak Rendi dan mau menikah denganya?" tanya Jingga lagi.
"Ya!" jawab Nila.
"Kenapa?" tanya Jingga memojokkan.
"Tidak ada alasan bagi Nila untuk menolak pria sebaik Kak Rendi. Dia sholeh, dia tampan, dia berbudi baik, dia dari keluarga yang bibit dan bobotnya baik, dia juga berilmu, perempuan normal akan bahagia dan tertarik dengan pria sepertinya!" jawab Nila berfikir rasional.
"Hoh," pekik Jingga menyeringai bagaimana bisa anak lulus SMP berfikir seperti Nila. "Nila. No. Kamu kebanyakan hidup di asrama dan tidak pernah melihat laki- laki. Please jangan bodoh. Menikah tidak hanya tentang itu! Masa depan kamu masih panjang!" ucap Jingga kali ini mengeluarkan sisi dewasanya.
"Terserah apa kata Kakak. Satu hal lagi, Nila bisa bahagiakan Baba dan bawa nama baik keluarga kita dalam hal ini! Pak Dhe Farid dan Baba akan tetap menjalin hubungan baik!" sambung Nila lagi beralasan.
"Hooh Nila, siapa yang racunin kamu berfikir begini? Baba dan Om Farid akan tetap baik tanpa kamu menikah dengan Pak Rendi. Kamu siapa yang ajarin?" tanya Jingga lagi.
"Tidak ada, ini pikiran Nila sendiri!" jawab Nila lagi.
"Nila, please! Kamu jangan gila. Ini pasti Baba kan yang suruh. Baba jahat banget sih demi ambisi korbanin anak gadisnya, jangan mau. Kamu masih kecil! Nggak boleh nikah!" gerutu Jingga mengira Nila dipaksa Baba.
"Baba tidak pernah menyuruh Nila, Kak! Ini keinginan Nila. Nila sudah akhil baligh!" jawab Nila membela Babanya.
"Whoah!" Jingga benar- benar terbengong mendengar kata Nila. Adiknya sangat aneh.
"Nila jatuh hati pada Kak Rendi, Kak. Nila ingin punya suami seperti Kak Rendi," ucap Nila lagi.
Jingga yang tahu kelakuan Rendi yang dengan percaya diri bilang akan melakukan apapun termasuk mengancam Jingga demi cinta ke Jingga, Jingga pun jadi kasian dan gemas ke Nila. Adiknya benar- benar bodoh menurut Jingga.
"Nila kamu jangan bodoh! Kamu masih muda Nila. Kelak kamu akan bertemu dengan banyak laki- laki yang lebih segalanya dari Pak Rendi. Pak Rendi tidak cocok denganmu! Menikah tidak sesimple itu! Jangan!" ucap Jingga menasehati.
"Yang menentukan cocok atau tidak cocok itu Alloh, Kak. Bukan kak Jingga!" jawab Nila malah menceramahi Jingga.
__ADS_1
"Nilaaa..., kamu itu masih sekolah. Kamu itu baru jatuh cinta kamu nggak tahu apa- apa! Kamu nanti juga akan jatih cinta lagi! Nggak! Kakak nggak setuju kamu nikah sama dia!" ucap Jingga tegas melarang Nila menikah dengan Rendi.
"Yang berhak mengatakan setuju dan tidak kan Baba, Kak! Kakak bukan karena cemburu kan larang aku?" jawab Nila lagi.
"Nilaa. Astaghdirulloh. Kamu kenapa sih?"
"Nila baik- baik saja Kak!"
"Nilaa... kamu belum tahu Pak Rendi. Kaka sayang sama kamu. Kakak nggak mau kamu menderita. Kakak mau yang terbaik buat kamu!"
"Nila akan bahagia Kak!"
"Bagaimana bisa kamu berfikir bahagia karena menikah, masuk SMA saja belum. Kamu itu gimana sih? Sekolah di luar negeri kok bukanya maju malah pemikiranya mundur?" omel Jingga lagi ke adiknya.
"Kakak... buat Nila menikah itu bukan halangan. Aku akan tetap melanjutkan sekolahku sampai kuliah nanti. Banyak teman- temanku yang dengan orang tuanya sudah dijodohkan sejak kecil, mereka bahagia!"
"Itu kan hanya kelihatanya, bagaimana kamu bisa simpulkan?"
"Aku sudah baca banyak buku. Aku ingin menikah dini, semakin cepat, semakin aku akan terjaga dari maksiat. Jadi aku akan bisa menjaga pandanganku pada orang lain. Aku tidak perlu harus mengenal banyak laki- laki,"
"Aku akan lebih fokus dalam hafalanku dan sekolahku. Aku juga akan lebih terjaga Kak karena aku sudah punya suami. Aku akan masuk ke pesantren milik orang tua Pak Rendi. Dan kalau sudah lulus nanti aku baru aku akan ikut beliau!" jawab Nila lagi dengan lancar.
"Dan yang paling penting, Baba dan Pak Dhe Farid tetap terjaga silaturrahimnya! Baba senang terhadapku,"
"Nilaa. Menikah itu bukan mainan!" ucap Jingga lagi. "Masa depanmu masih panjang!"
"Apa bedanya dengan kakak? Kakak juga masih kuliah kan? Kenapa Kakak memilih Bang Adip? Kenapa kakak yakin terhadapnya? Kenapa kakak menikah?" tanya Nila malah menskak Jingga.
Jingga pun semakin gemas ke Nila, tapi tidak bisa berkata- kata.
"Yang membolak balikan hati kita itu Alloh, Kak! Apa sih tujuan hidup kita? Ujung dan pangkal kehidupan kita itu apa? Nila tahu, menikah itu bukan mainan dan menikah adalah ibadah. Nila ingin dapatkan surga ditempuh dengan jalan itu. Nila sudah memenuhi syarat itu kok. Sebentar lagi kan Nila dewasa. Tentang keturunan dan pendidikan kita bisa membuat kesepakatan dan rencana!" ucap Nila lagi.
"Siapa yang mengajarimu bicara begini, Nila? Iiih" tanya Jingga lagi.
"Tidak ada?"
"Kenapa kamu ingin menikah muda. Bukan, kamu bukan hanya menikah muda. Kamu masih terlalu dini. Meski kakak masih kuliah. Kita berbeda. Kakak sudah 20 tahun!" ucap Jingga lagi.
__ADS_1
"Karena buat Nila pernikahan itu mulia. Apa yang haram jadi halal. Banyak kemuliaan di dalamnya. Nila ingin raih semua itu. Dan yang utama, Nila sayang Baba. Nila sayang Pak Dhe Farid. Nila juga mau menuntut ilmu di pesantren Kak Rendi!" ucap Nila lagi.
"Kakak nggak mudeng sama omongan kamu. Kakak cuma nggak pingin kamu menyesal. Pak Rendi itu sangat kaku, Nila. Dia ambisius, dia disiplin. Dia juga sudah dewasa. Kakak nggak mau kalau kamu menikah denganya kamu akan sakit hati!" ucap Jingga lagi.
Nila malah tersenyum
"Tanpa menikah dengan Pak Rendi, kita memang harus disiplin kan Kak. Dan tidak ada hal yang membuat kita sakit saat kita yakin semua hal yang terjadi di dunia itu adalah yang terbaik dari yang Maha Pencipta. Tujuan kita kan mencari ridzoNya. Jadi tidak akan ada yang sakiti kita!" ucap Nila lagi.
Jingga benar- benar dibuat pusing dengan ucapan Nila. Bagi orang seperti Jingga ucapan Nila terlalu naif dan tidak masuk akal. Tapi nyatanya, Nila memang begitu isi otaknya.
"Apa Buna sudah tahu keinginanmu?"
"Sudah!"
"Gleg!" Jingga pun menelan ludahnya lagi, keluarganya sudah benar- benar aneh. Kenapa Buna tak memberitahu Nila. Jalan pikiran Nila buat Jingga salah.
"Apa Buna setuju?" tanya Jingga menelisik.
"Buna patuh apa kata Baba," jawab Nila percaya Bunanya patuh dengan ayahnya.
Jingga kemudian terduduk lemas tidak tahu bagaimana cara kasih tahu Nila. Prinsip mereka memang berbeda.
"Kakak ingatkan sekali lagi, pikirkan keputusanmu. Kakak tidak mau kamu menyesal Nila!" ucap Jingga memijat keningnya
"Kakak jangan pikirkan aku. Kakak cukup pikirkan bahagia dengan pernikahan Kaka!" ucap Nila lagi.
Jingga kemudian hanya melirik ke Nila. Di saat bersamaan pintu kamar Jingga diketuk. Jingga pun membukakan pintu ternyata Adip.
Nila pun menundukan pandanganya dan pamit ke Jingga.
"Kakak sudah selesai kan? Nila keluar ya. Ada suami Kakak!" ucap Nila lagi.
"Ya!" jawab Jingga mengangguk.
Nila pun pergi. Sementara Adip dan Jingga saling pandang.
Wajah Jingga benar- benar lesu dan pusing. Jingga khawatir Nila salah jalan.Jingga malah terbengong dan tidak menyuruh Adip masuk.
__ADS_1
Sementara Adip masih cemburu. Tapi Baba suruh Adip pamitan ke Jingga kalau mau pulang. Kamar Jingga kan hak Adip juga swbagai suami Jingga.