
Di Istana Gunawijaya
Meski sudah melewati usia matang, perbedaan pendapat tetap selalu mewarnai kehidupan rumah tangga dan membuat suasana tegang.
Di kamar besar itu, meski satu ranjang, suami istri itu saling diam. Bahkan mereka saling membelakangi satu sama lain.
Begitu mengetahui putri kesayanganya tidak ada di rumah, Baba Ardi begitu marah. Hanya saja, istrinya sedang hamil, kedua mertuanya di rumah, Nila sang putri kesayangan juga ada di dekatnya. Baba Ardi tidak bisa melampiaskanya seperti biasa. Baba Ardi hanya mendiamkan Istrinya selama dua hari ini.
Baba Ardi menghabiskan banyak waktunya di kantor. Ke rumah hanya saat malam dan sudah lelah langsung tidur.
Baba Ardi tetap Baba Ardi yang mendominasi, meski dia terkesan diam dan tak bisa melampiaskan marahnya, tapi Baba Ardi tidak mau tunduk dengan pendapat mertuanya. Baba Ardi merencanakan sesuatu, kini sudah tersusun rapi di kepalanya tanpa ada orang yang bisa menebaknya.
Didiamkan suami tercintnya, Buna Alya pun begitu sesak dan tersiksa. Sebagai seorang istri yang solikhah dan patuh, apalagi memasuki usia senja. Kemarahan suami adalah malapetaka.
Sebenarnya Buna juga hafal dengan sifat sang lelaki yang selalu membuatnya merasa menjadi makhluk paling sempurna itu, hanya saja kali ini, Baba Ardi tak mudah ditakhlukan sepeti biasanya.
“Maaas!” panggil Buna dengan suara lembutnya.
Buna Alya menggeser tubuhnya perlahan, Buna menghadap ke suaminya yang membelakanginya. Buna Alya kemudian menelusurkan tangan lentiknya yang sudah bertahun- tahun dia abdikan menjadi tangan telaten yang mengurus suami dan anak-anaknya.
Malam kemarin, Buna Alya sudah melakukan hal yang sama, tapi Baba Ardi tidak merespon dan pura- pura tidur.
Buna Alya tidak menyerah, untuk merayu suaminya. Siang tadi, Buna Alya sudah mengikuti mau Baba untuk bertemu dengan calon besanya, Buna Alya berharap emosi suaminya sudah berkurang. Buna Alya berharap malam ini suaminya akan luluh dan kembali membuka komunikasi denganya.
20 tahun lebih mereka hidup bersama, Baba Ardi tak bisa marahan lebih dari 1 hari. Satu hari saja, Buna Alya marah Baba Ardi akan sangat gila dan kelimpungan,tapi kali ini sudah dua hari Baba Ardi mendiamkanya.
Buna Alya yakin suaminya juga tersiksa menahan marahnya, Buna Alya yakin malam ini akan berhasil meguraikan kemarahan itu menjadi ampunan atas nama cinta yang menciptakan kehangatan.
Sayangnya, Baba Ardi belum menjawab dan masih diam.
“Maaas,” panggil Buna lagi mengeratkan pelukanya, Buna tidak lagi memperdulikan rasa malunya, apalagi gengsi, toh Buna sudah mengeluarkan 6 anak Baba. Buna menenggelamkan wajahnya ke punggung bidang suaminya yang selama 20 tahun ini menjadi tempat berlindungnya.
Baba masih tetap tidak bergeming, Buna pun tidak menyerah. Buna menggerakan tanganya ke bawah, digerakanya lembut dan perlahan menyusuri perut suaminya yang sedikit lebih menggembung dari saat Baba masih muda, meski masih tergolong rata juga.
__ADS_1
Tangan Buna pun berhasil meraih sesuatu di pangkal sana, yang ternyata dia memberontak dari sang empunya. Buna Alya pun tersenyum menang.
“Suamiku memang sangat keras kepala? Bener kan dia belum tidur!” batin Buna.
“Baba Sayang!” bisik Buna ke telinga suaminya sambil tanganya bergerak membelai lembut si Pendekar sakti yang mengantarkan Jingga dan adik- adiknya ada di dunia ini.
Jurus Buna memang jitu, Pendekar itu berespon, mengeras, masih tetap gagah dan si Tuanya juga, tangan Baba langsung bergerak, menggenggam tangan Buna. Baba kemudian membuka matanya dan membalikan badanya menghadap ke Buna yang menempel di punggungnya.
Buna langsung menyunggingkan senyumnya yang penuh sihir itu. Senyum yang mempunyai keindahan abadi dan tak lekang oleh waktu dan usia.
“Hmmmm!”
“Maafin Lian, Maas! Udahan dong marahnya!” ucap Buna dengan suara manjanya.
Baba Ardi diam. Tulang rahangnya yang mulai di tumbuhi rambut putih itu masih mengatup dan tegas. Guratan ketampananya masih terpancar, Baba Ardi menatap Buna dengan tatapan yang sama, masih penuh dengan cinta.
Tanpa ragu Buna Alya kembali memeluk suaminya dengan leluasa meski Baba Ardi tak mengeluarkan sepatah katapun. Bagi Buna si dia masih merespon berarti Baba Ardi hanya masih tertutup gengsi saja.
“Ingat, Mas, Alloh itu sesuai prasangka hambaNya!” bisik Buna di sambil menghirup aroma keringat suaminya yang menenangkan baginya.
Buna pun menengadahkan mukanya menatap suaminya. Lalu Buna mengeluarkan tanganya membelai wajah suaminya.
“Baaa...dengerin Buna!” ucap Buna kini tanganya menangkup kedua pipi Baba agar menatapnya.
“Kepergian Jingga, itu artinya protes Jingga betapa dia ingin diakui kalau dirinya sudah menjadi perempuan dewasa. Lihatlah uban Baba yang mulai tumbuh, kita sudah tidak lagi muda, Ba... anak kita juga sudah dewasa. Rasanya memang baru kemarin Buna mengejan dan mendengar tangisnya, tapi lihatlah, Jingga udah mau jadi dokter, Jingga berhak menemukan jati dirinya!” ucap Buna lirih.
“Bagaimana kalau ada yang jahatin anak kita Bun? Bagaimana kalau ada binatang buas yang membahayakannya? Bagaimana kalau anak kita kelaparan? Bagaimana kalau anak kita sakit? Bagaimana dia tinggal di sana? Bagaimana kalau dia jatuh cinta dengan orang yang salah? Dan bag?” ucap Baba Ardi mengeluarkan keparanoidanya melebihi perempuan.
“Sssst!” Buna pun langsung menggerakan jari telunjuknya ke bibir Baba Ardi agar diam.
“Kan udah Buna bilang? Positif thingking! Prasangka dan ucapan itu doa. Bicara yang baik- baik. Kalau Baba khawatir, kenapa whastap Jingga nggak baba balas pas kemarin ada signal? Baba dengar kata Nak Rendi kan?” tanya Buna lagi.
“Hhhhhhh” Baba hanya menghela nafasnya lembut, mendengarkan perkataan istrinya, takut akan kebenaran istrinya, ingin mempercayai, tapi hati Baba begitu sulit setuju.
__ADS_1
Bagi Baba Jingga seperti harta berharganya yang ingin terus dia genggam.
Jingga seperti warna langit yang begitu indah dan hanya butuh waktu sebentar untuk bisa Baba lihat. Seperti warna Jingga di pagi hari yang hanya ada saat fajar datang. Warna yang bisa kita lihat dengan mengorbankan kehangatan tempat peraduan.
Seperti warna Jingga di sore hari, jika kita tak berhenti sejenak meluangkan waktu untuk memandang, warna itu akan pudar menghitam bersama malam.
Baba takut tak melihat itu lagi, Baba ingin terus ada dan berdiri menikmati Jingga itu sebelum malam merebutnya. Baba tak ingin melewatkanya meski sedetik.
“Rendi udah jelasin kan? Jingga ditempatkan di desa yang kelompoknya perempuan semua, desa yang paling banyak dengan tempat wisata, desa yang ada komplek muslimnya, desa yang aksesnya mudah untuk ke kota. Satu bulan itu nggak lama Ba!” tutur Buna lagi mencoba meyakinkan suaminya. Rendi sudah menjelaskan keamanan Jingga. Tentu saja sebelumnya semua itu Adip yang mengusahakanya.
“Buna bilang satu bulan nggak lama? Baba seperti kehilangan Anak Bun, kita tidak bisa menghubunginya! Baba nggak bisa tidur tenang!” jawab Baba lagi sekarang baru menyesal karena saat tensi emosinya turun mencoba membalas pesan putrinya malah suda tidak tersambung.
Saat kemarin Jingga menelpon dan pamit, Baba emosi dan marah ingin menghukum Jingga , Buna atau keluarga lain dilarang komunikasi. Sekarang Baba benar- benar sungguhan tak bisa komunikasi.
“Ubah mindset Baba tentang pikiran buruk, Ba! Bayangkan putri kita di sana tertawa bersama teman- temanya, mengerti kehidupan luar, belajar mandiri dan dewasa. Jingga bermanfaat untuk banyak orang, disayang banyak orang, gitu Ba, nanti satu bulan nggak kerasa! Insya Alloh Jingga kembali ke kita!” tutur Buna lagi.
“Nggak, Baba nggak bisa tenang, Baba harus kirim orang menyusulnya!”
“Ba....!”
“Baba juga akan segerakan tanggal pernikahan mereka!”
“Babaa!”
*****
Terima kasih mau baca.
Hihi
Doain Alloh kasih otak hayal author yang baik untuk menamatkan cerita ini ya, hehehe.
Maaf lagi ini Up nya agak siangan.
__ADS_1
Buat semangat author sll komen dan like ya.
makasihhh.