
"Selamat pagi Nona Dokter!" sapa warga sekitar melihat Jingga lari pagi
"Selamat Pagi, Bapak!" jawab Jingga ramah.
Sudah satu minggu, cuaca di tempat Jingga selalu hujan, bahkan sempat gempa dan ada badai.
Tentu saja itu semua pengalaman pertama bagi mahasiswa, terutama Jingga. Berada di tempat terpencil jauh dari keluarga menghadapi situasi alam yang mencekam, benar- benar pengalaman luar biasa dan di luar ekspektasi untuk Jingga.
Dari kejadian itu, Jingga jadi berfikir kalau hal yang paling dekat dengan dirinya adalah kematian. Sekaya apapun Babanya, buktinya Jingga berteriak dan menangis Babanya tak mendengar dan menolong.
Semua tak berarti, hidup Jingga adalah milik Jingga apa adanya yang melekat di diri Jingga.
Yang bisa Jingga lakukan hanya gemetaran, berpegangan tangan dengan Yuri dan mengucap banyak kalimat doa dan mohon ampun sebanyak- banyaknya, fokus mempersiapkan hal terburuk dan berharap ada pertolongan.
Jingga hanya pasrah menyerahkan semua yang terjadi pada Tuhan. Mengikhlaskan segala kehidupanya pada Sang Pemilik alam.
Sejak saat itu juga, Jingga jadi teringat semua nasihat Bunanya, tentang pentingnya Jingga menutup aurat, untuk tidak membangkang dan lain sebagainya.
Jingga juga jadi tambah takut akan Tuhanya, tapi tetap saja, Jingga tidak ingin jika jodohnya itu Pak Rendi, Jingga mau sayang Baba tapi tidak mau sayang Pak Rendi.
"Maafin gue ya Yurii kalau gue ada salah, gue takut…!" ucap Jingga sambil menangis pertama kalinya melihat hujan badai.
"Sama-sama Kak! Kak jangan ngomong gitu! Kata warga ini biasa terjadi, semua akan baik- baik saja!" jawab Yuri memeluk Jingga.
Siska, Nita dan Prilly juga melakukan hal yang sama. Mereka meriung jadi satu di ruang tamu, menunggu badai reda.
Karena hujan badai itu pula, Nita, Siska jadi baik ke Jingga dan mereka saling bermaafan dengan tulus. Di waktu mereka terjebak di situasi antara hidup dan mati membuat semua ambisi dunia hilang. Mereka saling berpegangan satu sama lain.
Sangat disyukuri, gempa itu tidak terlalu kuat dan tidak diikuti tsunami. Hanya saja, mereka tetap berjaga untuk tidak tidur lelap selama kurang lebih 3 harian, takut takut ada gempa lagi atau ada badai lagi. Alhamdulillah, semuanya pun berlalu baik- baik saja. Kata warga situasi semacam itu memang sering terjadi, mereka sudah terbiasa. Toh apapun yabg terjadi semua sudah ada yang mengendalikan.
Hari ini langit begitu cerah, semalam juga meski hujan kecil tak ada gempa atau badai. Untuk mensyukuri karena cuaca kembali baik, Jingga dan Yuri bangun pagi dan berkeliling desa sebelum ke poskesdes dan ke sekolah.
"Ke dermaga Yuk!" ajak Jingga ke Yuri di tengah jalan.
"Kamu nggak ke poskesdes?" tanya Yuri.
"Bentaran doang!" ajak Jingga sangat ingin.
Selama beberapa hari hujan Jingga hanya ke sekolah dan di rumah, Jingga ingin melihat suasana yang lebih fresh.
"Oke!" jawab Yuri setuju.
Mereka kemudian menuju ke dermaga. Sesampainya di dermaga, mereka berdua terdiam melihat perahu bertandang dengan tali yang terikat kuat pada pohon besar dan beberapa patok di dekat suangai.
Dada Jingga bergetar melihat aliran sungai yang membentang panjang, kosong, tak ada orang datang ataupun bersiap pergi, padahal kan hari ini cerah.
"Kita udah dua minggu di sini. Tinggal dua minggu lagi kita balik ke kota!" ucap Yuri memecahkan lamunan Jingga dengan nada bahagianya.
Mendengar ucapan Yuri entah kenapa seperti ada pisau yang menyayat hati Jingga. Pemikiran Jingga tak searah dengan Yurim
"Benarkah hanya tinggal dua minggu lagi, Aku akan pergi? Apa itu arti nya Aku tidak bisa bertemu Adip lagi? Tidak bisakah lebih lama lagi, atau setidaknya cepatlah kembali Adip? Aku masih ingin bertanya banyak hal padamu!" batin Jingga menunduk dan menatap kosong ke arah hulu sungai.
Adip sudah berhari- hari pergi tak kunjung kembali.
"Kak!" panggil Yuri sambil menepuk bahu Jingga memecahkan lamunan.
"Ha…" jawab Jingga menoleh gelagapan.
"Kak Jingga terlihat sangat sedih? 2 Minggu lagi kita pulang. Nggak krasa kan? Kita pasti bisa! Kita akan kembali berkumpul dengan keluarga kita!" ucap Yuri menghibur dan menyemangati dirinya sendiri ataupun Jingga.
Yuri mengira Jingga ingin segera pergi dan meninggalkan desa yang menakutkan itu saat ada badai. Yuri mengira Jingga sangat rindu dengan kehidupan mewahnya.
"Iyah!" jawab Jingga mengangguk tapi sayangnya Jingga sangat lesu mengatakan itu.
Bukan Jingga tidak kangen dengan keluarganya, adik- adiknya atau Buna, Baba, Oma Opa dan saudaranya. Entah kenapa Jingga justru membayangkan kepulanganya dihantui banyak hal mengerikan.
Kata pulang tidak menghadirkan wajah buna dan adik- adiknya, kata pulang Jingga yang datang bayangan dosen yang dia kesali itu. Jingga tidak ingin dikatai anak durhaka dan berdosa, Jingga sayang Baba dan Bunanya, tapi Jingga tidak mau menyerahkan hidupnya, masa depanya pada orang yang tidak dia cinta.
"Semoga di akhir bulan saat waktunya pulang, hujan datang lagi dan nggak ada perahu yang jalan ke kota!" batin Jingga dibalik anggukan dan senyum getirnya ke Yuri. Jingga tak ada solusi lain dari berharap waktunya di desa itu molor dan diperpanjang.
"Ayuk balik kak!" ajak Yuri ke Jingga.
"Ayuk!" jawab Jingga ikut.
__ADS_1
Mereka kemudian berbalik arah meninggalkan dermaga. Sambil jalan ke depan, tanpa Yuri tahu Jingga menoleh ke sungai dan perahu. Jingga berharap dari arah hulu datang perahu dari kota.
"Apa dia sudah berpindah ke desa lain? Atau dia menetap bekerja di kantor kota? Tapi kan PR di desa ini belum selesai, belum dimulai juga. Dia akan kembali kan?" batin Jingga masih berharap diberi kesempatan bertemu Adip lagi. Jingga pun membalikan wajahnya dan menatap ke depan berjalan menuju ke Poskesdes.
*****
"Sssssttt…Bang Adip tenang aja. Jangan sampai mereka melihat kita!" bisik Amer mengajak Adip menunduk dan jangan mengeluarkan suaranya.
"Oke!" jawab Adip mengangguk dan mengerti mau Amer.
Dalam hal menelusup dan kabur-kaburan Adip kan lebih jago dari Amer. Kini mereka berdua berlindung di belakang empang kayu di dekat sungai.
Sejak pertemuan pertama Amer dan Adip sore itu, Amer selalu menempel ke Adip. Meskipun beberapa hari ini mereka berdua yang mengendarai motor pinjaman harus dikawal dengan pengawal yang memakai mobil besar, meresahkan batin Adip.
"Apa ini tidak bermasalah untukmu dan Babamu selalu kabur dari pengawalmu?" tanya Adip.
"Amer mau jalan- jalan tanpa mereka, Bang!" bisik Amer ke Adip.
"Oke!" jawab Adip mencoba memahami Amer.
"Kata Bang, alamat yang diberikan Kak Rendi salah kan? Itu berarti mereka tidak akan bisa temukan kita kan?" tanya Amer.
Ternyata alamat yang dituliskan Rendi berbeda desa dengan desa Jingga, meski satu kecamatan.
"Tenang saja. Hari ini kita berangkat ke desa kakakmu tinggal. Semua sudah kamu siapkan,kan?"
"Siap Bang! Nih semua barangku udah di sini!" jawab Amer menunjukan tas ranselnya.
"Oke! Ayok!" ucap Adip.
Adip pun langsung mengajak Amer menyusup ke warga yang mengantri ke perahu. Mereka berdua langsung naik dan menyembunyikan wajahnya di balik hoody.
Perahu itu juga sudah penuh muatan langsung dan langsung berangkat. Sementara Pengawal Amer masih sibuk mencari mereka dengan mobilnya.
Padahal Amer dan Adip memakai motor sehingga melewati jalan- jalan kecil, jadi pengawal Amer kebingungan susah menemukan mereka.
"Wah seru ya Bang naik kapal begini?" ujar Amer duduk di samping Adip sangat menikmati perjalananya melewati sungai di tengah hutan itu.
Amer sangat berbeda dengan Jingga yang waktu pertama menunduk diam terus seperti orang ketakutan. Amer begitu bahagia, Adip pun tersenyum dan merasa senang, seakan Amer sungguhan adiknya yang baru dia ajak main.
"Sungguh?"
"Liat saja nanti!"
"Pantas Kak Jingga mau ke sini!" jawab Amer kemdudian.
Adip hanya mengangguk tersenyum, mengingat semua kelakuan Jingga.
Sore itu, setelah berfikir dan membuang egonya. Adip jujur ke Amer kalau dirinya mengenal Jingga bahkan satu desa. Amer menyambutnya sangat bahagia. Selain itu Adip juga mengikhlaskan kalau memang Jingga harus pulang jika itu terbaik.
Bagi Adip, mencintai dalam diam akan tetap indah. Adip percaya, yang memberikan cinta adalah Allah. Yang akan membuat pergi dan menggantikanya juga Alloh. Adip memilih memasrahkan semuanya pada Alloh.
Melihat Jingga tersenyum begitu cantik dan anggun, juga Adip maknai sebagai anugerah dari Alloh karena dia diberi kesempatan melihat indah ciptaanya.
Adip percaya, tidak semua keindahan harus dia miliki. Adip juga percaya, apa yang memang digariskan untuknya tak akan melewatkanya, begitu sebaliknya. Jadi Adip tetap memilih menyimpan cintanya dalam diam, biar nanti Tuhan yang tentukan.
****
Sesampainya gubug kecil yang difungsikan sebagai klinik itu, beberapa warga ternyata sudah menunggu.
Keahlian dan kepekaan Jingga pun diasah secara paksa. Meski begitu Jingga sangat hati- hati dan selalu menyempatkan membaca dari buku yang dia bawa. Jingga sadar jalur dia jalur darurat, jika ada orang lain Jingga tidak boleh melakukan itu.
Hari ini ada tiga pasien myalgia, 2 ispa, 3 diare dan 1 suspek typus. Jingga bersyukur dari ke sembilan pasienya semua keadaan umumnya bagus dan Jingga bisa menanganinya.
Sejak saat itu meski bukan mahasiswa kesehatan, Yuri selalu menemani Jingga, Yuri juga bantu- bantu Jingga meski hanya mencatat data pasien.
"Udah selesai, pulang yuk!" ajak Yuri setelah pekerjaanya selesai.
"Ayuk!" jawab Jingga.
Di saat Jingga menutup pintu poskesdes dari arah depan terlihat seorang suami menggendong istrinya tergopoh- gopoh. Jingga kenal siapa mereka.
"Ngga' itu kan yang kasih kita makanan banyak?" bisik Yuri ingat. Pasien itu sudah dua kali berobat.
__ADS_1
"Iyah!" jawab Jingga tanpa menoleh ke Yuri dan segera membuka pintu lagi memberikan jalan pada suami dan istri itu.
Jingga gelagapan dan keluar keringat dingin, sepertinya dugaan diagnosa Jingga tempo hari benar. Ibu itu punya penyakit yang lumayan serius, apalagi ini kedatangan yang ketiga kalinya.
"Auuuh sakit dokter… sakit sekali perut saya!" rintih ibu itu.
"Iya Bu.. iya. Baring dulu ya, saya periksa!" jawab Jingga ramah.
Yuri pun membantu menyiapkan kasur kayu yang tersedia sebagai tempat Jingga memeriksa. Suami ibu itu pun membaringkan istrinya pelan.
"Saat minum obat istri saya sembuh, tapi obat habis istrinya saya kambuh lagi, Nona!" tutur Bapak itu.
Jingga mengangguk dan memulai melakukan serangkaian pemeriksaan sederhana. Jingga yakin diagnosanya benar.
Jingga kemudian memberikan injeksi pereda nyeri, lantas mempersilahkan suami ibu itu duduk.
"Duduklah Pak!" ucap Jingga.
"Ya.. Nona dokter!" jawab Suami ibu itu mengikuti Jingga.
"Sebelumnya saya minta maaf, harus sampaikan ini" tutur Jingga memulai.
"Kenapa Dokter? Istri saya kenapa?"
"Seperti yang saya sampaikan awal, Pak. Tapi itu baru dugaan saya. Belum tentu benar, tapi harus diperiksa lebih lanjut melalui pemeriksaan darah dan rontgen, agar ketemu pasti apa penyebab istri bapak sakit terus. Setelah itu dilakukan tindakan agar bisa sembuh dengan baik," ucap Jingga ramah dan penuh penekanan layaknya dokter profesional, padahal amatir.
Teori pengalaman lebih berarti dari ilmu teori memang banyak benarnya, meski keduanya harus bersamaan saling melengkapi.
"Tindakan apa Dokter?" tanya suami itu dengan ekspresi tegang.
"Ya bisa operasi atau pengobatan lain, dengan obat yang lebih bagus, lengkap dan tepat. Kita di sini obatnya terbatas, Pak!" ucap Jingga menerangkan dengan empati.
"Dan apa yang akan dilakukan nanti, itu semua tergantung hasil pemeriksaan istri Bapak. Jadi harus diperiksa dan dipastikan dulu. Pemeriksaan itu hanya ada di kota. Dokter di kota nanti yang menentukan!" lanjut Jingga lagi.
"Maksud Nona Dokter istri saya harus ke kota?"
"Iya Pak!" jawab Jingga mengangguk lembut.
Bapak itu terlihat menunduk lesu.
"Saya akan temani Pak!" ucap Jingga lagi tersenyum.
Bapak itu belum menjawab
"Sebab jika tidak segera diperiksakan, istri Bapak akan terus sakit, malah bisa tambah parah! Kasian, kita obati bersama ya, oke Pak?" ajak Jingga lagi dengan ramah.
Bapak itu kemudian menatap Jingga dengan penuh harapan dan mengangguk patuh.
"Bu dokter temani kami, kan?" tanya Bapak itu.
"Ya!" jawab Jingga mantap.
"Baiklah, kapan kita berangkat?"
"Sekarang!" jawab Jingga.
"Saya pulang dulu ambil uang dan ajak tukang perahu!" ucap Suami ibu yang sakit itu.
"Ya, Pak saya tunggu!" jawab Jingga.
Bapak itu menemui istrinya merayunya kemudian bersiap- siap. Jingga pun ikut bersiap sambil tersenyum.
Selain usaha menyelamatkan hidup orang lain, Jingga bahagia akan keluar dari desa. Jingga tidak tahu kalau adiknya dan Adip sedang dalam perjalanan ke desa.
*****
Makasih yang udah setia sama Adip dan Jingga.
Hehehe.
Selalu kasih like koment dan vote ya.
Oh ya bentar lagi puasa, udah apa aja nih persiapanya?
__ADS_1
Berdoa bareng ya semoga kita semua diberi kesehatan dan bisa melalui ramadhan dengan baik dan maksimal ibadahnya. Aamiin.