Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
204. Nanti Malam Wajib lho ya


__ADS_3

Menepi di balkon hotel Ibukota, berpemandangan gedung- gedung tinggi yang berjajar, Jingga dan Adip bersujud, menyembah, mengucap syukur dan memohon perlindunganya dengan tatacara dan tuntunan yang Adip pelajari. 


Jingga yang sukanya rebahan nonton film dan malas ketika Buna mendatangkan ustadzah tidak pernah terfikir ketika di luar sana banyak tamu, malah sholat dan kata Adip, itu penting dan sunnag. Jingga pun hanya ikut saja.


Jingga memang tak sebanyak Nila paham akan ilmu- ilmu agama. Jingga juga pemalas, tidak serajin Nila. Jadi memang Alloh takdirkan harus ada pecutan besar yang mengajak. 


Dan sekarang setelah menjadi makmum, tak ada alasan Jingga menolak lagi untuk tidak rajin. Apalagi karena cinta, Jingga melakukanya jadi ringan dan senang. 


“Assalamu'alaikum warohmatulloh...” ucap Adip mengucapkan salam tahiyat akhir, Jingga lalu mengikutinya.


Setelah itu Adip mengubah duduknya bersilah dan mengucapkan sederetan doa. Jingga tidak tahu apa artinya dan entah itu doa apa, Jingga hanya diam dan amin- amin saja. 


Tapi sungguh jika ada microphone yang bisa mendeteksi detak jantung Jingga, detak jantung Jingga sedang berdegub sangat keras dan mengembang bahagia. 


Cinta, syukur, kagum dan hormat Jingga ke Adip semakin bertambah.


Di luar, Buna dan Baba masih beramah tamah menyapa tamu. Untuk acara akad kan justru tamu VVIP, sedikit tapi terpilih, terhormat dan terdekat. Jadi Baba menyempatkan diri menemani dan ikut mengobrol.



Dekor Tamu VVIP season Akad.


Meski pesta resepsi masih 4 jam lagi, teman- teman dekat Buna sudah hadir. Bahkan dari provinsi lain.


“Dokter Dindaaa...,” pekik Buna bahagia melihat kawan lamanya jauh- jauh dari daerah tidak kasih kabar tampak berjalan cepat ke arahnya. Terlihat perempuan yang tingginya seperti Buna, mungil. Dia mengenakan gamis berenda warna peach dan hijab besar dengan warna senada tampak berjalan tergopoh mendekati Buna. 


“Alyaa..., ya ampun udah berapa lama kita nggak ketemu? Udah mantu aja?” tutur Dokter Dinda sambil berjalan mengulurkan tangan.


Buna pun menyambut, dengan pelukan rindu.


"Ada kali ya 4 tahun kita nggak ketemu, Alhamdulillah, umur panjang kita ketemu lagi,"


"Kamu hamil lagi?" pekik Dokter Dinda mengurai pelukan Buna dan kaget merasakan perut buncit Buna. Saat mengenakan gaun pesta berpayet dan berpuring Buna dari kejauhan tak terlihat hamil, setelah berpelukan baru terasa.


“Hehe. Alhamdulillah masih dipercaya ngasuh anak lagi” jawab Buna Alya, menunduk malu.


“Waaah luar biasa Pak Ardi memang, bisa bareng dong nanti, ini cucu sama anak?” gurau Dokter Dinda agak syok temanya mantu di kala dirinya sendiri sedang hamil. 


Dokter Dinda saja yang hamilnya agak lama seperti Dokter Anya, 3 anak sudah merasa cukup repot. Anak Dokter Dinda yang paling tua SMA, yang kecil masih SD.


“Haishhh...Jingga nikah juga baru... Kayaknya dia akan tunda dulu. Masih kuliah soalnya!"


"Eiits. Ingat anak udah menikah, orang tua udah nggak boleh ikut- ikutan. Kalau rejekinya, mau gimana?"


"Hehehe... ya ya. Oh ya kesini sama siapa?” tanya Buna kemudian.


“Sama Mas Dika. Tuh langsung gabung ngobrol sama suamimu. Anak – anak sekolah, nggak pada mau diajak. Ya udah deh biarin Bapak Ibunya pacaran. Hehe,"


"Iya masih muda ini, oh ya dari sampai sini kapan? Naik apa?"


"Kita naik peswat, baru tiba, ibi langsung kesini. Kamu sih nggak kabar— kabar? Untung Anya kasih tau!"


“Astaghfirulloh, maaf ya! Hehehe emang mendadak, ini acaranya!” 


“Ini jadi kan sama adiknya Kak Farid? Besanan nih ceritanya sama Anya?” tanya Dokter Dinda lagi.


“Gleg,” Buna jadi nyengir.


Dokter Anya dan Dokter Dinda kan sama- sama bekerja, jadi sering kontekan. Dokter Anya memang sudah happy dan PD, cerita ke teman- teman kalau Buna Alya mau besanan denganya. Tapi ternyata batal.. 


“Bukaan... nggak jadi sama adiknya Anya,” jawab Buna.


“Laah terus sama siapa?” 


“Ya sama Jodohnya Jingga, nanti aku kenalin!” 


“Oh... duh maaf ya!” 


“Nggak apa- apa,” 


“Oh ya, mana Jingganya?” tanya Dokter Dinda. 


“Tadi ada, lagi foto kalau nggak ganti di ruang rias,... mau ketemu?” 


“Iya lah ketemu sekarang aja sekalian kenalan ma mantumu, nanti kalau udah di pelaminan mah salaman aja antri,” jawab Dokter Dinda.


"Oke! yuk!" 


Mereka berdua kemudian ke ruang rias. Para MUA ternyata sedang istirahat makan, sebelum merias Jingga lagi untuk resepsi setelah dzuhur nanti.

__ADS_1


“Non Jingga di dalam, Nyonya...,” tutur salah satu tim MUA menunjuk satu ruang yang dijadikan transit para fotografer dan perias.


Karena di suasana hajat tidak ada privasi, mereka pun masuk. Buna dan Dokter Dinda pun terhenti melihat pemandangan di balkon depan kamar .


Seketika ada rasa haru menelusup ke hati Buna. Dilihatnya Adip di depan Jingga duduk bersila dengan tangan menengadah, dan terdengar melafalkan beberapa doa bahasa arab. Jingga di belakangnya masih di atas sajadah dengan mukenahny, mengaminkan dengan hikmad. 


“Alhamdulillah, Jingga yang selama ini mengkhawatirkan sekarang ada yang membimbingnya, aku tenang sekarang, ” batin Buna bersyukur.


Buna selama ini sangat takut, apalagi Baba, itu sebabnya Baba terlalu protektif, karena Jingga manja dan bawel. 


“Mantumu, sholeh sekali, Al,” bisik Dokter Dinda. 


“Alhamdulillah,” 


“Nggak diabadikan buat sesi foto- foto?” bisik Dokter Dinda, artis- artis kadang moment nikahan ibadah juga bisa diabadikan. 


“Nggak, lah nanti malah marah mereka, kita keluar dulu aja yuk,” ajak Buna tidak jadi mempertemukan anak gadisnya dan mantunya pada sahabat lamanya.


“Ayuk,” jawab Dokter Dinda, tapi sebelum pergi dokter Dinda melirik sekilas dan memperhatikan Adip dari belakang. “Aku kok nggak asing ya, sama mantunya Alya?” gumam Dokter Dinda, tapi terus dilupakan. 


Buna dan Dokter Dinda pun keluar.... memilih kembali berbincang di ruang jamuan makanan privat, lalu memeriksa ruang resepsi sambil cerita- cerita. 


WO acara Jingga sangat profesional, meski dadakan dan sampai sekarang masih bersiap- siap tapi ballroom hotel Gunawijaya sudah dihias sedemikian rupa sehingga jadi tempat megah dan mewah. Bunga- bunga pun sudah tertata. 



Resepsi season siaang..


Untung resepsinya dibuat setelah dzuhur, dan setelah Isya, jadi para catering punya waktu bersiap- siap. 



Resepsi Season Malam.


****


Di Balkon hotel.


“Aaamiin,” 


Setelah mengakhiri doanya Adip berbalik dan mengulurkan tanganya.


“Acaranya masih 4 jaman lagi kan?” tanya Adip berbisik. Tangan Adip belum melepaskan tangan Jingga mereka masih berpegangan tangan.


“Iya, kenapa?” 


“Cium tangan aja nih? Nggak mau tambah pahala?” tanya Adip ke Jingga dengan tatapan sayangnya. 


“Hoh?” pekik Jingga terbengong.


“Pumpung sepi,” ucap Adip lagi dengan kerlingan matanta lalu melirik ke sekeliling. Para MUA sedang istirahat makan, yang lain di ruang jamuan akad. 


“Terus kenapa emangnya? Pahala apa sih?” tanya Jingga nggak peka mau Adip. 


“Haissh,” desis Adip kesal, Jingga towernya entah kemana, lola dan nggak konek dengan tower dan signal dari Adip.  


“Jingga nggak ngerti, Bang? Kok Abang gitu?” tanya Jingga dengan polosnya tersinggung dengan ekspresi Adip.


“Kamu itu polos apa nggak ngertian sih? Udah jadi istri lho. Udah 20 tahun juga!” ucap Adip. 


“Tau ah, Bang Adip yang nggak jelas, Jingga gerah. Pengen ganti!” ucap Jingga malah menarik tanganya dari genggaman Adip. Jingga berniat mau melepas mukenahnya dan bangun. 


Melihat reaksi Jingga yang tidak konek, Adip yang sudah menahan sekian lama, tidak membiarkan Jingga melepaskan peganganya dan justru menarik Jingga mendekat lagi.


“Huh!” pekik Jingga kaget ketarik mendekat ke Adip hampir terbentur.


Tidak menunggu aba- aba, Adip kemudian memiringkan wajahnya dan kembali menautkan bibirnya di bibir Jingga. Adip pun sekatang lebih berani memasukan lidahnya ke mulut Jingga, saling membelit dan menyatukan rasa.


Rupanya, kini Adip semakin mahir membawa Jingga ke dunia indah yang menggetarkan dadanya dan membuat panas seluruh tubuhnya. 


Melihat Jingga yang mulai gelagapan, Adip kemudian melepaskan pagutanya.


“Empt...” Jingga hanya menelan ludahnya dengan ekspresi pasrah dan terbengong dheg- dhegan. Tubuh Jingga jadi memanas, tapi Jingga suka.  


Adip tersenyum menatapnya, lalu jarinya terulur menyapu air liurnya yang tertinggal menetes di bibir Jingga. Kini mereka tak ada jijik sama sekali. 


Jingga pun ikut tersenyum tersipu. 


“Kenapa tiba- tiba? Kan aku jadi senang,” ucap Jingga mengigit bibirnya dengan ekspresi centilnya. 

__ADS_1


“Dasar!” cibir Adip menyentil kepala Jingga gemas. Sok centil tapi suka nggak mudengan.


Jingga memang centilnya, centil- centil doang tapi pengalaman masih Zero.


“Makanya jangan lola, aku ajari biar dapet pahala banyak!” ucap Adip lagi.


“Iyaah! Udah ya aku mau ganti! Kita istirahat dulu kan?” jawab Jingga manja dan segera melepas mukenanya. 


"Ya!"


"Apa nemuin orang tua Abang?"


"Terserah, tadi udah salim dan ketemu kan?"


"Udah. Ya udah istirahat dulu," jawab Adip.


Adip juga berdiri melipat sajadahnya dan melepas kopiahnya.


Setelah melepas mukenanya, Jingga ikut menyusul Adip bangun.


Melihat Adip berdiri di depan kaca dan tampak melonggarkan kancing kemejanya. Jingga mendekat dan memeluk Adip agresif. Jingga merapatkan tubuhnya dari belakang. 


“Kita udah benar- benar menikah kan sekarang? Udah sah kan, nggak ada yang pisahin kita?” tanya Jingga menyandarkan kepalanya di pungggung Adip. 


Adip diam membiarkan Jingga memeluknya, mendengar pertanyaan Jingga, Adip melihat wajah tampanya di depan maca. Adip tersenyum, menyadari dirinya memang tampan, pantas Jingga segitu bucin.


“Ya dari awal kita juga beneran nikahnya, Sayang! Lagian siapa yang mau pisahin kita sih?” jawab Adip.


“Maksudnya, kita beneran udah nikah kaya orang- orang kan? Bukan karena hukuman? Kamu beneran jadi punya aku! Status kita juga dilindungi pengadilan negara kan? Kamu sekarang harus setia sama aku.” ucap Jingga lagi, Jingga masih dihantui cemburu tau kalau teman- temannya suka Adip. Jingga pun semakin gemas dan semakin kencang merapatkan tubuhnya memeluk Adip.


Tentu saja, apa yang dilakukan Jingga, dengan dua aset Jingga yang menempel erat di punggung Adip, membuat adik kecil Adip yang tadi hanya sekedar terbangun, kini semakin menampakan dirinya dan menuntut ingin diperhatikan. 


Adip tidak menjawan dulu, tapi memegang tangan Jingga, melonggarkanya dan memutar badanya balik memeluk Jingga dari depan. 


“Cup,” Adip kembali mencium kening Jingga. 


“Ya... Abang kurang setia apa sama kamu? Semuanya yang ada di Bang Adip milik kamu! Hmm, sok mau pilih yang mana?” tutur Adip sambil memencet hidung Jingga gemas dan mesra.


Jingga tersenyum tapi kemudian ekspresinya berubah.


Jingga merasakan lagi untuk yang ketiga kalinya saat berpelukan dengan Adip. Ada dorongan benda keras yang mengenai tubuhnya di bagian bawah. Mendadak Jingga jadi adem panas.


“Ehm...,” Jingga berdehem malu lalu melonggarkan pelukanya. 


Laki- laki dan perempuan kan berbeda. Selama ini Jingga agresif ke Adip karena merasa cemburu ke teman- teman dan ingin tunjukan Adip miliknya. Jingga juga ingin kekeh tunjukin kalau Jingga nggak mau sama Rendi.


Jingga juga memang sangat suka dipeluk dan memeluk. Baik ke Amer, Ikun Baba dan saudara yang lain. Akan tetapi pelukan kasih sayang yang nyaman dan tak membawa suasana panas. 


Jingga tidak tahu efek dirinya manja- manja dan agresif ke Adip menimbulkan reaksi berbeda.


Jingga juga tahu tentang ilmu reproduksi teori saja, tapi Jingga tak tahu seberapa hebat rasanya. Jingga juga tak pernah nonton film dewasa karena Buna ketat melarang. Jingga juga puber dan jatuh cintanya kan terlambat. Jadi merasakan panas dingin itu juga baru, masih malu- malu juga.


“Kenapa?” tanya Adip melihat ekspresi Jingga mendadak keluar keringat dingin. 


“Itumu bangun lagi ya?” tanya Jingga dengan polosnya.  


Adip melihat sekeliling. 


“Kenapa masih ditanya, sih? Dia selalu bangun kalau lagi sama kamu!” jawab Adip jujur. 


“Hoh... benarkah?” tanya Jingga syok.


“Baru tahu? Emang nggak kerasa?”


"Enggak!"


"Hsiish, plethak!" desis Adip lagi dengan gemas ke Jingga. Nggak tahu apa selama ini Adip sudah banyak menderita dan berjuang menahan tuntutan si kecil. 


“Uuhh,” keluh Jingga. 


“Pokoknya nanti malam wajib ya!” tutur Adip mengeluarkan sisi nakalnya. 


"Wajib apa?"


“Kan pura- pura bodoh lagi? Kan waktu di pulau Panorama kamu yang ajak!” 


“Ohhh... itu? He!” jawab Jingga nyengir dengan ekspresi ngerinya.


"Udah yuk, makan yuk!" ajak Adip keluar menyapa tamu.

__ADS_1


__ADS_2