Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
235. Apa aku akan begitu juga?


__ADS_3

Jingga kakinya yang sakit, sementara Adip tanganya yang sakit. Mereka berdua pun saling melengkapi, bergandengan berjalan menuju ke kamar, lewat Lift di rumah Baba.


Untuk kedua kalinya, Adip masuk ke kamar besar Jingga. Kamar yang luaas, dingin karena AC, tertutup dan sangat empuk. Berbeda dengan kamar di rumah Emak, berbeda dengan di rumah kecil Adip, apalagi dengan gubuk.


Sesampainya di kamar, Adip pun langsung memeluk Jingga. Tanganya yang terluka tak meghalanginya. Sepertinya Adip memang tangguh.


“Abaaang,,,,” desaah Jingga kaget, Adip langsung seagresif itu. 


“Katanya mau nujukin sesuatu, mau pakai sesuatu, apa? Huh?” tanya Adip mengendus di leher Jingga dan menyandarkan dagunya di bahu Jingga.


Jingga tersenyum malu sambil menggeliat.


“Lepasin, dulu! Tutup dulu pintunya, takut Iya dan Iyu masuk!” jawab Jingga.


"Oke!" jawab Adip melepaskan pelukanya, lalu Adip berjalan dan duduk di tepi kasur Jingga.


Setelah menutup pintu, Jingga kemudian berjalan menuju ke lemarinya dulu bukan ke Adip.


“Kado kita kan belum dibuka Bang,” tutur Jingga membawa kado.


“Oh iya yah,” jawab Adip, baru ingat, mereka kan belum buka kado dari orang- orang terdekat mereka. Mereka sibuk membuka kado dari Tuhan tentang tabir keluarga Adip.


"Makanya, Bang Adip nggak usah ke pulau Panorama dulu. PR kita banyak!" ucap Jingga lagi merayu.


“Kado yang di hotel terus pada dimana, Yang?” tanya Adip malah mengalihkan pembicaraan. Adip tidaj mau bahas masalah Pulau Panorama.


“Jingga juga nggak tahu, nanti Jingga tanya Buna. Kita buka kado dari Oma Rita dulu aja,” tutur Jingga mulai menyobek pembungkus, kotakan dari Oma. 


“Oke..,” jawab Adip. 


Jingga pun mulai membuka kado dari Oma itu. Satu persatu kain kertas pembungkusnya terlepas. Setelah dibuka, Jingga melirik ke Adip malu, sementara Adip tersenyum. Isinya lingerii yang lembut dan dingin berwarna merah menyala.


“Pakai!” jawab Adip senang. 


“Sekarang?” tanya Jingga ragu.


“Huum,” 


“Nanti aja!” jawab Jingga centil meledek Adip. 


“Kapan lagi? Nggak lihat nih!” jawab Adip malah menunjuk ke pangkal pahanya. Ternyata sudah menggembung besar. 


“Isssh, Abang.. kok udah bangun aja sih?” desis Jingga.


“Ya kan udah dari tadi di motor! Cepet Pakai!” jawab Adip menuntut.


“Masih Siang, Bang!” 


“Justru itu. Abis ini kita mandi sholat ashar terus temui Baba. Kita perlu diskusi banyak sama Baba,” jawab Adip lagi. 


Jingga terdiam tatkala Adip bilang mau temui Baba... pasti akan ada percakapan berat. 


“Jangan pergi yah, tetap tinggal di sini!” ucap Jingga memohon dengan mimik manjanya. 


Adip tak menjaawab dan justru maju.


"Lama," gumam Adip lirih.


Adip meraih dagu Jingga, membuka peniti hijabnya seperti yang sudah- sudah. Lalu mendaratkan bibirnya, dan mulai menyalurkan niatnya. Membuat salam pembuka melalui hembusan nafas yanh mereka satukan.


"Abang pengin, Sayang!" bisik Adip meminta setelah melepaskan bibirnya.


“Abang janji yah kasih keputusan jelas.., Jingga mau sama Bang Adip terus!” pinta Jingga lagi, menatap Adip dengan tatapan memohon.  


Adip masih tak menjawab justru menatap Jingga dalam. Adip malah membelai rambut Jingga yang sudah tak terttup hijab.


Adip memulai mengenduss leher Jingga, lalu mundur meniup kupingnya, sambil tanganya begerak menyusup dan membuka resleting belakang Jingga. 


“Coba pakai kado dari Oma!” bisik Adip malah membahas yang lain. 


Jingga pun pasrah, terserah apa yang Adip lakukan. Jingga fokus membuat Adip sebisa mungkin betah di Ibukota dan mengurungkan niat kembali ke Pulau Panorama.


Jingga bediri tepat di hadapan Adip. Jingga melepaskan gamis Yuli, lalu pakaian penyangga dua bulatan indahnya, lalu pakaian pelindung ladang gandumnya.


Tanpa malu tanpa canggung, Jingga berdiri dengan keadaan polos dan secara utuh di depan suaminya, bak tawanan yang menyerahkan diri pada penguasanya. 


Bahkan tangan Jingga bergerak reflek secara erotiiis, satu tangang bergerak ke bawah satu ke atas.


Adip yang adik kecilnya sudag bangun geloratanya pun dibuat semakin membara dan bangun.


“Cup... cup...,” tidak menunggu lama, Adip langsung melahap rakus bulatan yang menantang di depanya. Adip duduk dan Jingga berdiri.


“Begini aja atau pakai yang dari Oma?” tanya Jingga menawarkan barangkali suaminya ingin lihat sisi Jingga yang berbeda.


Adip kemudian memakaikan kado dari Oma. 


“Lebih menantang Sayang, kalau pakai ini!” jawab Adip lagi. Ternyata Adip punya bayangan sendiri, n.  Adik kecil Adip pun berdiri tegak sempurna.


"Kalau di rumah selalu pakai ini yah!" turur Adip lagi dengan suata seraknya sudah dikuasai gelora rasa yang begitu panas membaaakr.


“Issshhh..., selalu pakai ini?” desis Jingga.


"Iyah!"


"Kalau ada orang?"


"Kunci pintunya, di rumah kita kan cuma berdua!" jawab Adip lagi, lalu memeluk Jingga dan menenggelamkan wajahnya je Jingga sesaat.


Setelahnya yAdip langsung menurunkan celanya juga, lalu melepas pakaian atasnya kasar. Mereka kini sama- sama polos.


Tidak menunggu lama, Adip menggendong Jingga dan menidurkanya di kasur Jingga. Adip pun mulai menggarap ladangnya, di tempat yang berbeda.


Jika kemarin dua kali di rumah Emak, lalu di gubug, sekarang di tempat mewah. Di atas kasur yang menjadi saksi tempat bertumbuhnya Jingga dari kecil bingga sekarang.


Dan sekarang kamar ini juga akan jadi saksi penyatuan cinta Jingga dengan suaminya.


"Abaaang...," desaah Jingga saat tangan Adip mulai bergerilya.


Tidak lama mereka pun melakukan penyatuan  panas di sore itu.


****


Di bawah.

__ADS_1


Baba dan Om Dika pun berdebat antara tetap pulang atau ikut menjenguk Emak.


"Walau bagaimanapun juga, Saya orang tua Adip. Saya pikir- pikir salah jika saya pulang mas," jawab Om Dika.


Baba diam sejenak.


"Tapi ini urusanku, percaya saja, pasti beres di tanhan polisi dan orang- orangku!" jawab Baba.


"Tidak begitu, Saya ingin jenguk Emaknya Adip dulu. Saya juga harus cek keadaan rumah mereka," sambung Om Dika ngotot.


"Ya sudah kalau memang itu ingin kalian!" jawab Baba mengalah.


"Kalau begitu kami pamit duluan ke kota Emak!" tutur Om Dika.


"Kita kesana bareng aja!" jawab Buna.


"Kami berangkat dulu, Al. Kalian bareng Adip kan? Jingga dan Adip kan masih istirahat," jawab Dokter Dinda.


Baba menoleh ke istrinya mengangguk..


"Ya silahkan, pakai sopir kita aja!" jawab Baba mengijinkan lalu, ingin memfasilitasi Om Dika sebagai sahabat dan besan


Om Dika dan Dokter Dinda pun pamit pergi duluan. Sementara Baba dan Buna menunggu anaknya yang lagi ehem-ehem.


Oma yang ditemani Nila pun bertemu Baba di taman samping.


"Itu ada motor? Motor siapa? Kok dicoret- coret Iya sama Iyu? Nggak mau ditegur!" tanya Oma Rita melihat Iya dan Iyu melancarkan aksi nakalnya.


Sejak Adip dan Jingga tiba Iya dan Iyu kan sudah incar motor Adip.


"Motor?" pekik Buna.


Buna dan Baba kan tidak dengar kedatangan Adip tidak tahu pakai apa.


"Motor Adip kali!" jawab Baba.


Lalu mereka mengecek motor Adip ke belakang.


"Astaghfirulloh.....," pekik Buna melihat Iya dan Iyu.


"Biruuuu, Hijaaaauu! Kalian ngapain?" omel Buna. BIru dan Jingga suka banget sama stiker Adip, dia ingin ambil dan ingin keletek dikikis pakai pisau stikernya. Lalu mereka pikir mengganti stijernya dengan lukisan mereka.


"Hehehe....," Iya sama Iyu malah tertawa.


"Iya pengen stikeer ini, Buna!" jawab Iya tanpa dosa.


"Kan bisa beli..ngapain rusak motor orang, sini pisaunya sini!" ucap Buna meminta pisau yang Iyu pegang.


"Bukan motor orang Buna. Ini kan motor Kakak!" jawab jawab Biru merasa memiliki.


Dipikiran Biru, motor kakaknya berarti motor dirinya. Kalau motor dirinya berarti bebas buat ngapain aja.


"Astaghfirulloh, tapi kalau dicoret- ciret begini kan jadi jelek. Nanti Kakakmu marah. Kasian lho bang Adip!" jawab Buna marahin Iya dan Iyu.


Baba, Oma dan Nila hanya berdecak dan menggelakan kepala. "Lagian Jingga aneh naruh motor di situ. Untung nggak dinaiki dan roboh," gumam Baba.


Berbeda dengan Buna yang marah dan hukum Iya Iyu. Baba tak mau salahin anak- anaknya. Baba memang membebaskan putra- putranya untuk berekspresi dan berkreasi. Buat Baba Adip dan Jingga yang veroboh nggak masuk ke larkiran yanh benar.


"Pindahkan aja motornya. Minta tolong Mang Diman!" tutur Baba menengahi.


"Dikunci stang, Tuan!" jawab Mang Diman.


"Haish itu anak!" desis Baba.


Adip kan terbiasa di kontrakan dan jadi tukang ojek, motor selalu dikunci..


"Nila ambil kunci di kamar kakakmu!" tutur Baba memerintah Nila.


Nila si penurut mengangguk dan segera masuk dan naik ke atas ke kamar kakaknya..


"Thok... thook...,Kaak" panggil Nila ke Jingga.


Tapi tak ada sahutan.


"Tidur kali yaak?" gumam Nila.


Nila kan baru lulus SMP, meski bilang bersedia menggantikan kakaknya demi keinginan Baba berkeluarga denhan Om Farid, tapi pikiran Nila sebatas pada teori pernikahan yang dia baca.


Di otak Nila yang tergambar adalah, pernikahan itu ibadah terlama. Sebuah perjalanan hidup yang indah seperri Baba dan Bunanya. Yang kata buku membuka pintu rahmat berkah dan rejeki. .Merubah yang haram jadi halal.


Meski tahu tentang hubungan seksuaaal, tapi Nila belim paham betul tentang gejolak semua rasa itu, bagaimana prosesnya dan lain sebagainya.


Tidak menjawab jawaban dari kakaknya. Nila kira kakaknya sedang tidur. Nila nggak ngeh Kakanya sudah bersuami, Nila tak banyak menerka kalau suami istri berduaan sangat mungkin sedang melakukan sesuatu.


Nila perlahan membuka gagang pintu kakaknya.


"Nggak dikunci," gumam Nila.


Nila dan Jingga memang terbjasa membagi kamar. Mereka sering tidur berdua, dan masuk sembarangan.


Nila pun membuka pintu seenaknya. Lalu berlenggang masuk.


"Hoooh!" seketika Nila langsung menutup mulut nya.


Nila menelan ludahnya seperti tercekik.


"Kakak, maaf," lirih Nila kaget.


Jingga memang sudah tutup pintu tapi belim dikinci, Jingga pikir gagang pintinya tinggi, Iya dan Iyu tidak sampai jadi ditutup doang cukup. Adip sendiri memburu Jingga sehingga buat Jingga gugup.


Sekarang bukan Iya dan Iyu yang memergokinya, tapi Nila. Nila melihat kakaknya dengan tubuh poloss tanpa apapun, duduk bergoyaang di atas tubuh kakak iparnya yanh juga sama-sama polos sambil mengeerang mengeluarkan suara yang tak pernah Nila dengar. Nila memang tak melihat detail tapi nilai tahu ada sesuatu yang menancap di pangkal tubuh kakaknya.


Nila juga melihat tangan kakak iparnya sedang bermain gemas terhadap dua harta karun kakaknya yang dia juga punya. Reflek Nila memegang pula ke kedua bendanya lalu segera berbalik, setengah berlari.


Saat Nila melangkah berlari, Adip pun menyadari dan melihatnya.


"Nila...," pekik Adip menoleh.


Jingga pun ikut menoleh.


"Hah!" Jingga pun sangat malu dan menghentikan liukan tubuhnya. Seluruh tubuh Jingga langsung melemas panik.


"Abang gimana ini?" tanya Jingga panik.

__ADS_1


Seketika mood mereka pun menurun berganti malu.


"Haishh, kamu tadi nggak ngunci?" tanya Adip ke Jingga.


Jingga nyengir menggelengkan kepalanya.


"Jingga tutup aja," jawab Jingga lalu bangun dan merebahkan tidurnya di samping Adip.


"Huuft"


"Aahhh gimana ini?" rengek Jingga menutup mukanya dan menghentakan kakinya di atas kasur.


"Karma kali ini!" celetuk Adip lirih.


"Hoh?" pekik Jingga menoleh ke Adip tidak setuju.


"Kamu lihat Buna sama Baba kan?" tanya Adip.


Jingga menelan ludahnya menunduk.


"Iyah!" jawab Jingga.


"Ya udah ini karma. Lain kali lebih hati- hati!" ucap Adip memperingati.


Mereka kemudian sama-sama terdiam.


"Ya.. maaf," jawab Jingga.


"Ya udah kunci dulu pintunya!" perintah Adip lagi.


Bukanya bangun Jingga malah mengambil selimutnya tatapanya kosong.


"Nila mau apa ya Bang?" tanya Jingga bergumam.


"Kunci dulu pintunya. Kita selesein dulu!" tutut Adip.


"Maaf...,"ucap Jingga denhan wajah memelasnya.


"Kamu udahan?" tanya Adip menebak kecewa.


"Ho oh!" jawab Jingga mengangguk.


"Hhhh....," Adip pun menghela nafasnya kecewa.


"Nanti malam lagi deh. Tapi nggak sekarang," ucap Jingga berjanji.


"Pulang ke rumah Abang yah!" ucap Adip meminta.


Jingga mengangguk.


"Pamit sama Baba!"


"Iyah. Yaudah mandi, telpon Nila takutnya ada yang penting!" ucap Adip memerintah.


"Ya...!" jawab Jingfa.


*****


Nila yang hati, otak dan pandanganya terjaga mendadak ternoda dengan adegan live kakaknya. Malu, canggung, dan mendebarkan. Sampai Nila keringetan sendiri.


"Apa kalau aku menikah dengan Pak Rendi akan begitu?"gumam Nila mendadak jadi takut.


Nila pun berlari cepat ke halaman samping.


"Berikan kuncinya ke Mang Diman!" titah Baba.


Nila menunduk keringetan.


"Maaf Ba! Nila nhgak dapatkan kuncinya," jawab Nila menunduk.


Buna pun menatap anaknya menelisik.


"Kamu keringetan?" tanya Buna.


"Nila tadi berlari Bun!" jawab Nila


"Oh...," jawab Buna..


"Kakakmu nggak jawab apa gimana?" tanya Baba.


"Pintunya dikunci!" jawab Nila berbohong dan mimiknya aneh.


"Hhh... ck. ck...ya sudah. Iya Iyu. Ikut baba!" ajak Baba mengajak anaknya main dan mengalihkan perhatian.


Iya dan Iyu yang sudah dihukum Buna untuk duduk tenang dijanji untuk minta maaf langsung berdiri ikut Babanya senang.


Nila dan Buna tertinggal di belakang.


"Kamu yakin keringetan karena lari?" tanya Buna berbisik.


"Iya Buna!" jawab Nila mengangguk


"Oh..oke!" Buna pun hanya beroh ria..


Mereka pun masuk, lalu brkumpul di dalam. Buna cerita ke Oma dan Nila apa yang terjadi.


"Jingga kasian sekali...," gumam Nenek.


"Jingga aman selamat kok, Mah,"


"Dimana mereka? Oma mau ketemu!" tutur Oma.


Nila pun langsung gelagapan lagi.


"Nanti Oma. Kakak lagi.. kakak lagi tidur!" sahut Nila cepat. Buna pun melirik aneh ke Nila, lalu menenangkan Oma.


"Mereka baru sampai, nanti turun. Nanti kita kesana jenguk besan kita!" tutur Buna lagi.


"Oh ya. Ya sudah Oma tunggu. Oh ya Oma ikut yah!" tutur Oma


"Oma bisa ikut? Yakin?" tanya Buna.


"Oma kan juga ingin tahu alamat besan Oma, Nak. Oma kuat!" jawab Oma Rita..

__ADS_1


"Oke.. nanti Alya bilang Mas Ardi," jawab Buna.


 


__ADS_2