Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
23. Kata Buna


__ADS_3

Jingga melangkahkan kakinya dengan ringan. Rambut panjangnya dia ikat rapih. Semua lelahnya hilang berganti segar saat Jingga selesai mandi, Jingga keluar kamar dengan bersiul menghampiri ibunya dan adik- adiknya untuk makan malam. 


“Hai Kak!” sapa Bunda Alya. 


“Malam BunA!” jawab Jingga mencium pipi Bunanya. 


Lalu mereka berempat makan malam bersama. Hijau dan Biru seperti biasa makan sendiri meski tetap ada makanan yang terserak. 


“Kakak selama Baba nggak ada tidur di kamar Buna ya!” tutur Buna tiba- tiba. 


“Iya Bun!” jawab Buna mengangguk bersedia. 


“Jangan Kak Jingga Bun, Iya dan Iyu aja!” sahut Hijau menyela. 


Buna mendengar putra kecilnya itu tersenyum. 


“Kalian juga, tidurlah dengan Buna dan Kak Jingga ya!” ucap Buna 


“Yey...” Seru Hijau dan Biru bahagia, tak lupa mereka juga tos bersama. Sementara Jingga mendengus kesal. 


Saat suaminya pergi buat Buna adalah waktu emas untuk berpuas-puas bersama anak-anaknya. Sebab suaminya suka meminta waktu khusus pada istrinya itu agar tidak terganggu anak-anaknya.


“Nggak boleh ngompol!” ucap Jingga cemberut. 


“Nggak ya! Iyu kan pintel. Iyu nggak pernah ngompol.” Jawab Biru membela diri. 


“Iya juga!” sahut Hijau. 


“Bener ya! Awas kalau ngompol!” ancam Jingga. 


Setelah selesai makan mereka naik ke ke kamar Bunanya. Jingga bertugas mengajak adik- adiknya sikat gigi dan buang air kecil, tentu saja selalu ada drama yang membuat Jingga naik darah. Si kembar malah mainan air dan membasahi baju Jingga. 


“Hijau! Biru! Baju kakak basah nih. Udah malam juga. Kaka kasih tau Buna nanti. Kalau nggak sikat gigi nggak boleh tidur sama Buna!” omel Jingga ke si Kembar.


“Hemm hihi, kita belhasil bikin Kak Jingga marah.” Bisik Biru ke Hijau di telinganya dengan tengil.


“Ishhh.” Jingga mendesis kesal.


Jingga pun jadi tidak sabar ingin segera ketrima jadi kandidat kelompok Ruang Inspirasi, merasakan bebas dari adik kembarnya ini. 


“Ya udah kakak tinggalin kalau nggak mau sikat gigi!” ancam Jingga lagi, 

__ADS_1


“Ya Kak ini Iyu sama Iya mau sikat gigi!” jawab Si Biru.


Setelah selesai sikat Gigi, Jingga mengantar adik- adiknya ke Buna. Biru dan Hijau menghambur ke Bunanya meminta dibacakan cerita. Sementara Jingga ke kamarnya berganti pakaian. Setelah berganti barulah Jingga ke kamar Bunanya lagi. 


“Mereka udah tidur Bun?” tanya Jingga melihat kedua adiknya sudah terlelap di sisi Bunanya. 


“Udah!” jawab Bunda Alya mengangguk. 


“Tumben cepet?” 


“Tadi siang nggak tidur.” 


“Oh pantes!” jawab Jingga. 


“Buna makasih ya, Kakak udah sabar sama mereka!” ucap Buna tau kalau Jingga sering kesal ke adik- adiknya. 


“He...” Jingga nyengir ke Bunanya. “Mereka kan adik Jingga Bun!” 


“Oh ya, belum cerita nih sama Buna, gimana kuliah hari ini? Sama Baba diajak pergi kemana?” tanya Buna memancing. Jingga keliatan hari ini bahagia dan bersemu- semu, Buna berfikir seperti kata Baba perjodohan mereka akan lancar.


“Ck, Buna nggak usah pura- pura nggak tahu deh. Jingga nggak suka sama Baba! Nggak usah tanya- tanya Baba, Bun!” jawab Jingga cemberut, dan membuat Buna jadi bingung.Yang bener Jingga seneng apa nggak?


“Hem... perasaan tadi baru Buna kasih tau, akurlah dengan Baba!” ucap Buna terus berusaha membuat Jingga mengertj Babanya.


“Oke...” jawab Buna. 


“Oh ya Bun, boleh tanya?” 


“Hmm, boleh dong!” 


“Buna sama Baba, pacaran berapa lama?” tanya Jingga rupanya ingin dengar tentang pacaran dari Bunanya. 


“Hmm... Buna dan Baba nggak pacaran, Sayang!” jawab Buna mengingat masalalunya. 


“Oh iya?” 


“Yes!” 


“Buna dikatain nggak sama temen- temen Buna karena nggak punya pacar?” 


“Oh ya dong! Temen- temen Buna banyak yang tanyain dan katain Buna, kenapa Buna nggak pacaran? Kapan Buna pacaran? Gimana dapet jodoh?” 

__ADS_1


“Terus Buna gimana?” 


“Buna percaya diri aja dengan hidup Buna. Buna yakin akan ketemu jodoh yang tepat jika waktunya tiba. Buna buktiin itu. Buna ketemu Baba, pria terhebat buat Buna. Buna pengen anak Buna juga gitu” 


“Oh gitu?” 


“Ya!” 


“Tapi kalau Jingga punya pacar boleh nggak Bun?” 


“Hm...?” jawab Buna menoleh ke Jingga penuh tanya.


“He...”  jawab Jingga nyengir.


“Siapa?” tanya Buna Jingga curiga anaknya sudah pacaran.


“Nggak, Cuma tanya aja Bun!” jawab Jingga malu.


“Oke!” 


Jingga mengurungkan niatnya untuk bercerita tentang Tama. Apalagi setelah dengar Bunanya dan Babanya tidak pacaran. "Pasti Buna akan larang Jingga dan Kak Tama." batin Jingga.


"Adalagi yang mau Jingga tanya?" tanya Buna


"Kalau ada cowok yang mau pegang tangan kita boleh nggak Bun?" tanya Jingga ragu.


"No! Buna tunggu anak Buna mau berhijab, dan sampai waktu itu tiba. Jingga janji kan sama Buna untuk tidak pacaran apalagi kontak fisik dengan laki-laki!" jawab Buna Jingga tegas dan menatap anaknya menelisik


"Iya Bun!" jawab Jingga mengangguk. "Oh ya Buna sama Baba dijodohin?"


"Nggak!"


"Tapi nggak pacaran?"


"Baba sama Buna ketemu sebentar, terus Babamu nikahin Buna. Nggak pake pacaran!"


"Buna bisa cinta sama Baba tanpa pacaran?"


"Nyatanya ada kamu dan adik-adikmu, Buna cinta babamu!" jawab Buna lagi.


Jingga langsung terdiam tidak berkata-kata lagi. Jingga kemudian menarik selimutnya dan berusaha tidur.

__ADS_1


Jingga memang tidak ingin dijodohkan dengan Pak Rendi, tapi cerita Buna, membuat Jingga ragu dan menyesal menerima Tama. Walau Jingga dan Buna berbeda, tapi perkataan Buna Alya tetap menjadi panutan Jingga.


__ADS_2