
Jingga sangat senang dan bersemangat setelah berselancar di dunia maya dan mendapatkan informasi mengenai tempat itu. Satu hal yang sangat Jingga suka adalah, tidak ada signal.
Jika mahasiswa lain dan orang lain akan segera mengundurkan niat saat membaca keterangan itu, berbeda dengan Jingga. Kata tidak ada signal seperti kata surga buat Jingga.
Tidak ada signal menjadi tempat impian yang ingin Jingga singgahi. Jingga ingin lepas dari pengawasan Babanya. Jingga ingin merasakan setidaknya sekali saja dalam hidupnya menjadi diri sendiri.
Tidak menunggu lama, Jingga langsung menghubungi alamat email dan nomor telepon itu. Jingga mantap mendaftar ikut seleksi menjadi anggota tim ruang inspirasi.
Tim itu nantinya akan dipilih, dari semua yang mendaftar di buat 3 kelompok. Karena di provinsi yang dituju itu ada 3 kecamatan yang membutuhkan mereka.
Tim itu berisi dari berbagai macam profesi yang dibutuhkan masyarakat, mulai dari tenaga medis, para medis, pendidik ataupun jurusan lain. Mereka nanti di sana akan memberikan pengabdian, dan pelayanan ataupun pendidikan kepada masyarakat tertinggal. Jingga di sana bisa mengaplikasikan ilmunya sekaligus menulis penelitian untuk tugasnya.
Tidak dibayar, malah kalau bisa mereka menyumbangkan sesuatu yang bisa ditinggalkan dan dijadikan kenang- kenangan untuk warganya nanti. Tapi kalau untuk tempat tinggal dan jaminan kesehatan mereka akan dapatkan dari yayasan dan pemerintah.
“Hah...Baba harus ijinin ini, dan aku akan pergi apapun hambatanya!” batin Jingga menggenggam ponselnya. Jingga sudah bertekad.
Tanpa Jingga tau, ternyata Tama lewat dan melihatnya. Tamapun langsung berhenti dan menghampiri Jingga.
“Hai Jingga?” sapa Tama ramah.
Mendengar dan melihat idolanya datang, Jingga langsung salah tingkah dan membetulkan rambutnya.
“Kak Tama?”
“Lagi apa di sini sendirian?” tanya Tama.
“He... nggak apa- apa!” jawab Jingga menekuk leaflet yang tadi dia pegang.
Tama melihatnya, dan meneliti dengan seksama.
“Apa itu?” tanya Tama.
“Heh?” jawab Jingga balik bertanya.
__ADS_1
“Itu yang ada di tanganmu!” ucap Tama menunjuk.
Mata Jingga beralih ke tanganya dan menataap kertas itu, tanpa bicara dan menjelaskan Jingga menyerahkan kertas itu ke Tama. Tama menerimanya dan membacanya.
“Kau mau ikut program ini?” tanya Tama.
“Iya” jawab Jingga mengangguk.
“Untuk apa?” tanya Tama lagi.
“Menyelesaikan tugasku!” jawab Jingga simple, Jingga tidak mungkin cerita kalau Jingga ingin pergi dari rumah dan menghindar dari Pak Rendi.
“Tugas mata kuliahnya Bu Nani?” tanya Tama paham agenda di semesternya Jingga.
“Iya!” jawab Jingga mengangguk.
“Ya ampun Jingga, makalah di intenet banyak, kamu tinggal copy paste, atau kau bisa beli buat seseorang membuatkanmu, kenapa kamu harus bersusah payah ikut acara macam ini? Kalaupun kamu mau di sekitar kita kan banyak tempat yang bisa kamu jadikan tempat penelitian.” tanya Tama justru mengajari Jingga hal yang tidak baik.
Glek
"Jingga ingin beda Kak!" jawab Jingga lagi beralasan.
"Tapi nggak sejauh ini juga kali Jing!" ucap Tama lagi mencoba membuat Jingga berfikir ulang.
“Jingga tetap akan ikut Kak!” jawab Jingga mantap.
Mendengar jawaban Jingga, Tama yang mengenal Jingga sebagai anak rumahan dan anak Mami jadi tertegun. Apa iya Jingga bisa hidup di tempat terpencil yang tidak ada signal? Di sana Jingga akan jauh meninggalkan kata kemewahan.
“Kamu yakin?” tanya Tama lagi, sama persis seperti yang dilontarkan si Dosen.
“Yakin!” jawab Jingga mantap.
“Apa orang tuamu akan setuju?” tanya Tama.
__ADS_1
“Aku akan lakukan apapun yang membuat Baba dan Buna setuju!” ucap Jingga secara tidak langsung mengikrarkan sebuah janji.
Tantangan terberat Jingga setelah ini memang ijin dari Baba dan Bunanya. Jingga tidak peduli itu, Jingga akan berusaha. Toh, aturan di Keluarga Jingga, libur semester Jingga memang diperbolehkan pergi. Biasanya Jingga akan datang ke negara Omanya bertemu dengan adik kembarmya Amer dan I-Kun.
Tama menelan salivanya tidak menyangka, bahkan Tama sendiri berfikir ulang jika dikasih tugas harus datang ke tempat itu. Jingga, yang seorang perempuan dan anak sultan justru terlihat antusias.
“Kak Tama kalau mau ikut, ikut daftar aja!” imbuh Jingga malah mengajak Tama.
“Ehm...” Tama berdehem, tidak menjawab dan tidak menolak.
“Sepertinya asik lho, di provinsi itu laut dan pasir putihnya indah.” ucap Jingga lagi malah mengiminging-imingi Tama destinasi wisata yang indah di wilayah timur perbatan negaranya itu.
“Aku pikirkan dulu!” jawab Tama.
“Kita ada libur semester, kan panjang Kak, sayang lho kalau di rumah aja!” ucap Jingga lagi.
“Ya sih,” jawab Tama tama mengangguk.
Jingga berfikir satu bulan menghabiskan waktu dengan Tama adalah ide bagus. Terhadap idolanya itu, meski secara halus dan tersirat Jingga sedikit lebih agresif. Jingga berharap Tama ikut acara itu.
“Oh iya, Kak Tama katanya mau ngajakin aku ketemu dan mau sampaikan sesuatu, apa itu?” tanya Jingga menagih janji.
Meski rencananya mereka ketemu nanti sore, tapi tidak apalah mereka ketemu pagi ini. Jingga juga takut kalau ternyata nanti sore Jingga dijemput lagi atau disatpamin si Dosen itu.
“Ke taman kampus yuk! Nggak enak ngomong di sini!” jawab Tama mengajak ke tempat duduk di halaman kampus dekat dengan lapangan basket. Di sana memang tempatnya indah, banyak tanaman bunga dan pohonya rindang.
“Ayok!” jawab Jingga mengangguk dan melihat sekeliling,
“Sepertinya aman, dosen gila itu tidak ada, dan tidak melihatku kan? Jam segini kan dia ngajar,” batin Jingga khawatir dosen kesayangan babanya menjadi paparazi untuk Jingga.
Berjalan berdampingan, Jingga mengikuti Tama. Mereka kemudian duduk di bangku taman berduaan. Mahasiswa lain yang melihatnya tidak banyak berkomentar, karena memang mereka berdua pasangan yang cocok.
****
__ADS_1
Note :
Kakak ini kehaluan author ya. Di dunia nyata, apakah ada kegiatan dan mata kuliah semacam itu author tidak tahu. Sepertinya tidak ada. Jadi mohon maaf jangan diartikan di dunia nyata juga ada kegiatan seperti ini