Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
98. Kalian mau ikut?


__ADS_3

Gemuruh suara pesawat landing terdengar, menambah kencang debaran jantung seorang Ibu yang lama tak bersua dengan dua jagoanya. Ibu enam anak itu bersiap menumpahkan rindu pada buah cinta yang dia kandung selama delapan bulan yang tengah menimba ilmu ke negeri orang.


Di temani dua buah hatinya yang masih kecil, dua pengawal dan dua pengasuh, Buna Alya duduk di bangku penunggu penumpang di negaranya itu.


Baba Ardi masih ada rapat penting bersama rekanya jadi tidak ikut menjemput Oma Rita, Amer dan Ikun. Sementara Nila di rumah beserta asisten rumah tangga dan kokinya bersiap menyambut keluarga mereka. Nila memang sangat semangat dan detail urusan dapur. Tak seperti Jingga yang manja dan cuek, meski masih muda Nila begitu berbakat menjadi kandidat calon istri sempurna dan solekhah.


“Bunaa!” panggil Iya menggoyangkan lengan Bunanya. 


“Iya, Nak! Kenapa?” 


“Iya sama Iyu mau tidur sama kak Amer dan Kak Ikun ya nanti!” pinta Iya dan Iyu seperti Bunanya yang tak sabar bertemu dengan kedua kakak tampanya yang sama- sama kembar seperti mereka. 


Buna kemudian tersenyum mengangguk. 


“Tapi harus ijin dulu sama kakak kalian, mereka bersedia atau tidak, okey?” 


“Ya Buna!” jawab Iya dan Iyu kompak.


“Iya nanti mau ajak Kak Amer ke rumah Oma Nurma, Iya mau main kucing!” ucap Iya lagi.


Anak- anak Buna memang sebagian suka sekali binatang sebagian sangat alergi binatang, dari ke enam anak semua mempunyai sifat berbeda bahkan cenderung berkebalikan tapi sama- sama baik.


“Oke!” jawab Buna mengangguk tak lama rombongan yang mereka tunggu datang. 


Terlihat dua sosok yang wajahnya mirip dengan Buna versi lelaki. Berbeda dengan Iya dan Iyu yanh kecil, mereka kini sudah berbadan tinggi tegap seperti suaminya.


Kedua putra Buna berjalan gagah mengulaskan senyum kerinduan menatapnya. Satu pemuda itu mendorong kursi roda seorang perempuan tua yang cantiknya masih tetap terpancar. Satu lagi berjalan dengan topi yang cool, satu tagan memegang tas punggung satu tangan dimasukan ke saku celananya.


Di belakang mereka dua orang pengawal dan perawat membawa 2 koper besar mengikutinya.  


“Alhamdulillah” lirih Buna Alya melebarkan senyum hangatnya ketiga anggota keluarganya mendarat ke tanah airnya dengan selamat


“Kaak Ameeer!” pekik Iya. 


“Kak Ikuun!” pekik Iyu berbarengan menyambut dua kakaknya.


“Mamah!” lirih Buna Alya melihat senyum Oma Rita. Oma Rita kini sudah menutup rambut putih cantiknya dengan hijab.


Iya dan Iyu kemudian berlari menghambur ke Amer. Sementara Buna menghampiri Ikun yang mendorong kursi roda Oma Rita.


Semenjak kepergian mendiang Opa Aryo, kesehatan Oma Rita memang menurun, agar tidak lelah berjalan, Ikun mendorongnya dengan kursi roda. 


“Assalamu'alaikum Mah. Mamah, sehat kan Mah?” sapa Alya langsung berjongkok, meraih tangan Oma Rita menciumnya lembut lalu memeluk dan mencium pipi kanan kirinya. 


“Sehat sayang, kudengar kamu hamil lagi? Bangun Nak!” jawab Oma Rita lembut menyuruh Buna bangun. Buna Alya memang selalu sopan dan sangat menghormati mertuanya itu.

__ADS_1


Buna tersenyum tersipu lalu mengelus perutnya.


“Alhamdulillah Mah! Alya hamil lagi," ucap Buna menjawab pertanyaan Oma Rita.


“Si Ardi benar- benar ya! Hhhh, nggak kasian apa sama kamu yang sudah tua!” ucap Oma menghela nafas menyayangkan kehamilan menantu kesayanganya.


Oma Rita dari dulu selalu mengkhawatirkan Buna Alya lebih dari mengkhawatirkan Baba. 


“Nggak apa- apa Mah! Alhamdulillah Alya masih dipercaya sama Alloh, insya Alloh Alya dan bayi Alya akan sehat!” jawab Buna tenang. 


“Aamiin! Tapi Ardi memang perlu ditegur kenapa dia selalu memikirkan diri sendiri, meski anak rejeki seharusnya dia tahu, kalian itu sebentar lagi pantas punya cucu!” jawab Oma Rita masih ingin menyalahkan Baba Ardi. Dari dulu Oma Rita dan Baba Ardi memang selalu begitu.


Buna Alya pun hanya tersenyum, meski sudah keriput dan lemah, Oma Rita masih sama. Akan bersemangat kalau disuruh memarahi Baba Ardi.


Anak- anak mereka saling diam menunggu ibu mertua dan menantu itu bercengkerama. Setelah Buna dan Oma selesai, Ikun dan Amer langsung memeluk Buna mereka hangat melepaskan kerinduan yang bertumpuk- tumpuk. 


“Kalian tumbuh sangat baik dan besar, Buna sampai pangling!” tutur Buna menepuk lengan kedua putranya. 


“Iya Buna!” jawab Amer dan Ikun. 


Buna kemudian mengambil alih mendorong Oma Rita sementara Iya dan Iyu langsung minta gendong kakak- kakaknya. Iya digendong Amer, Iyu digendong Ikun.


Diikuti para pengawal dan pengasuh, mereka menuju ke 3 mobil alphard yang sudah disediakan.


Buna dan Oma Rita beserta perawat oma masuk ke mobil yang paking depan.


Semua pegawai menyambut kepulangan ibu suri atau biasa dipanggil nyonya besar dan pangeran pangeran rumah itu dengan baris.


Oma Rita selalu meneteskan air mata setiap kali memasuki rumah bersejarahnya itu. Oma Rita sangat mencintai Oppa Aryo, itu sebabnya 5 tahun terakhir ini Oma meninggalkan rumah dan memilih tinggal di luar negeri. Jika tetap di rumah Oma selalu rindu suaminya dan segala kenanganya di rumah itu. 


Buna pun langsung mengelus pelan kedua lengan dan bahu ibu mertuanya. 


“Papa juga menyambut Mama pulang Mah! Ayo masuk!” bisik Buna Alya. 


“Antar Oma ke kamar, Sayang!” bisik Oma Rita rindu kamar kebesaranya di lantai 3. 


Buna pun mengangguk. Buna mengantar Oma Rita menuju ke lift menuju lantai tiga diikuti perawat Oma.


Sementara anak- anaknya langsung saling melepas rindu bersama Nila adiknya yang sama- sama merantau. Bunga juga sudah menunggu sepupunya bersama Nila itu. Anak Baba Ardi dan Om Gery selalu kompak jika mereka pulang kampung.


Mereka berenam pun langssung meriung di aula rumah mereka yang beralaskan selimut permadani menghadap ke taman indoor cantik yang dihiasai tanaman dinding berwarna- warni. Nila dan Bunga langsung menyajikan camilan kesukaan saudara- saudaranya yang tidak ada di luar negeri. Seperti singkong keju, tempe goreng dan Kacang rebus.


“Kamu katanya sakit Dhek? Sakit apa?” tanya Ikun perhatian ke Nila. 


“Iya Kak, tapi udah sembuh kok!” jawab Nila ramah dan menyunggingkan senyum persis seperti senyum Buna. 

__ADS_1


“Mau lanjut sekolah dimana?” tanya Amer. 


“Nila mau di sini aja Kak, kan banyak juga pesantren yang bagus. Kak Jingga kan mau nikah, Nila mau di deket- deket Buna aja, biar Nila bisa pulang kapan aja!” jawab Nila mantap mau melanjutkan sekolahnya dan cari pesantren di negaranya. 


“Kak Jingga serius mau nikahkah?” tanya Ikun kemudian, Ikun masih ragu kakaknya mau nikah. 


“Kayak nggak tahu Baba aja!” jawab Amer setuju- setuju aja kakak tertua mereka menikah. 


“Namanya Kakak Rendi!” ceplos Iyu memberitahu. Meski mainan sendiri Iya dan Iyu mendengarkan obrolan kakak- kakanya.


Ikun dan Amer kemudian mengangguk. 


“Gue nggak sabar mau nyusul Kak Jingga ke pulau P!” ucap Amer kemudian. Tugas Amer pulang ke negaranya kan disuruh satpamin Kak Jingga di pulau P. 


“Kak Amer beneran mau kesana?” tanya Nila. 


“Semoga kak Jingga bahagia dengan pilihan Baba!” celetuk Ikun.


“Iyah, gue emang pengen kesana. Di sana alamnya bagus- bagus! Turis malah banyak yang incar kesana, masa kita anak negeri malah nggak tau. menurutku sih Kak Jingga keren!” jawab Amer kemudian merebahkan badan dan memejamkan mata membayangkan keindahan di Pulau P. 


“Tapi kan di sana katanya masih tertinggal Kak, banyak binatang buas. Susah jangkauannya, alat transportasi juga masih minim, kakak di sana hati- hati ya, jemput Kak Jingga dengan selamat!” lanjut Nila si anak lembut yang juga khawatirin Jingga seperti Babanya. 


"Santai aja. Kak Amer handal!" sahut Ikun.


“Eh ngomong- ngomong, Kak Adip kan juga lagi kerja kontrak di Pulau P kak Amer!” celetuk Bunga menimpali. 


“Oh iya ya!” jawab Amer mengangguk. 


Nila dan Ikun saling menoleh. 


“Kak Adip? Siapa dia Kak?” tanya Nila dan Ikun bersamaan. 


“Dia veteriner yang jual- jualin dan bantu obatin kucing Kak Amer yang sakit, orangnya baik banget, ganteng lagi!” jawab Bunga memberi tahu.


“Oh ya, Kak Jingga juga pernah minta nomer teleponya Bang Adip!” sahut Amer ingat Jingga pernah menelponnya saat Jingga masih di asrama Pulau S. 


“Kak Jingga nanyain nomer Kak Adip?” tanya Bunga heran. 


“Iya!” 


“Untuk apa ya? Waktu di rumah aku ajakin kenalan dan ketemu nggak mau tuh!” jawab Bunga mengingat Jingga malas bertemu Adip. 


“Jangan- jangan mereka kenal dan satu tempat?” sahut Ikun ikut menyimak dan memperhatikan. 


“Wahh seru tuh, bisa diajak ngebolang, jadi nggak sabar nih!” celetuk Amer bersemangat. 

__ADS_1


Bunga, Nila dan Ikun kemudian semua kompak menatap Amer. 


"Kenapa? Kalian mau ikut?" tanya Amer tahu dirinya jadi pusar perhatian saudaranya.


__ADS_2