Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Hentikan


__ADS_3

"Punten Non, saya ditelpon adik saya. Ibu saya sakit. Saya hari ini ijin. Saya telpon Bu Fitri gimana Non?" tutur Mbak Vera pengawal Baba yang ditugaskan temani Jingga..


Jingga yang sekarang dewasa hanya tersenyum.


"Nggak apa- apa. Mbak Vera pulang aja. Di sini kan banyak karyawan suamiku juga Mbak!" jawab Jingga baik.


"Tapi Non berangkat kuliahnya gimana? Apa tak bilangke ke Mas Raka?" tutur Mbak.Vera.tanggung jawab


"Hushh nggak usah. Mana bisa aku dibonceng Mas Raka. Baba ataupun suamiku marah malah nanti, Mbak. Aku berangkat sendiri aja!" jawab Jingga lagi.


Sontak Mbak Vera mendelik. Bahaya kalau Jingga berangkat kuliah sendiri naik motor kalau sampai terjadi sesuatu bisa digantung Baba. Meski sudah menikah kan Jingga tetap Babynya Baba Ardi.


"Nggak Non..Jangan..Saya telpon Bu Fitri saja!" jawab Mbak.Vera.


"Issshhh... Bos Mbak.Vera itu siapa sih? Sini kunci motornya! Mbak Fitri itu temani Buna sama anak- anak. Aku udah bisa kok naik motor sendiri!" jawab Jingga percaya diri.


Sejak Jingga bisa naik motor Jingga merasa percaya diri dan ketagihan naik motor..Jingga pun nekat ambil kontak motor suaminya di tangan Vera.


"Non.. Non kan belum punya SIM non kan juga baru aja bisanya! Jangan bahaya!" tutur Mbak Vera.


Jingga si pemberani dan tidak puas kalau tidak melawan tidak mendengar apa kata Mbak Vera. Jingga malah berjalan dan mengambil helm


"Non jangan.Ayo Mbak Vera antar nanti pulanhnua biar dijemput Bu Fitri ya!" rayu Mbak Vera.


"Aku bisa sendiri Mbak.Bisa nggak sih percaya sama aku?" jawab Jingga.


"Tapi kan sama Tuan Ardi nggak boleh!"


"Sekarang Jingga istrinua Bang Adip. Suami sama Bapak kan harus didahuluin suami. Suami Jingga ijinin kok malah ajarin. Santai aja!" jawab Jingga.


"Tapi, Non!"


"Ssssshhht. Dengerin Jingga. Patuh atau gue aduin yang nggak- nggak ke Baba. Jadi orang itu yang positif thingking. Kaya suami Jingga. Teman-teman Jingga juga motoran sendiri mobilan sendiri aman semuanya. Kita itu ada Alloh yang jaga kita. Baba aja itu keknya sakit deh!" jawab Jingga panjang malah ngatain bapak kandungnya sendiri.


"Hoh...," Mbak Vera jadi terbengong dengarnya.


Nggak tahu kalau Baba Ardi mungkin masuk kategori Bapak terbaik versi kumpulan orang posesif sedunia yang akan melakukan apapun untuk anaknya, malah anaknya ngatain Baba sakit.


"Udah aku berangkat. Salam buat ibu dan keluarhanya Mbak Vera. Daah Asslamu'alaikum...," pamit Jingga ceria menarij gas motornya.


Mbak Vera hanya bisa melihatnya pasrah. Jingga yang lewat rumah pabrik kerupuk Adip. Karyawan Adip pun menoleh semua. Mereka sekarang tahu siapa bidadari yang diperistri Adip. Seorang putri dari milyader di negaranya.

__ADS_1


"Itu Mbak Jingga berabgkat sendiri?" tanya karywan Adip sampai keluar rumah industri dan menghampiri rumah bosnya yang ada di belakangnya.


"Iyah. Aku nggak bisa mencegahnya!" jawab mbak Vera terduduk lesu.


"Ada Raka dia di mess!" sahut karywan Adip menunjuk rumah deret pintu satu.


"Non Jingga kan nggak boleh dibonceng cwo selain sama Den Adip dan keluarganya,"


"Hadeh... ya susahlah doain aja semua baik- baik saja!"


"Iyah!" jawab Mbak Vera mengangguk dan wajahnya jadi pucat pasi.


Rasanya seperti buah simalakama. Nggak pulanh durhaka ini mau pulang serasa masalah menanti di depan mata.


"Ya Alloh lindungi Non Jingga selama dalam.perjalanan ke kampus ya Alloh. Please... selamatkan pekerjaanku" batin Mbak Vera.


Mau tidak mau, mbak Vera pulang.


****


Doa semua orang terkabul. Jingga memang berhasil melewati jalanan dengan selamat sampai ke kampus


Akan tetapi ketika di parkiran dan lewat jalan yang sisi kanan dan kirinya motor berjajar dan taman kampus. Jingga serempetan dengan motor gede yang dikendarai teman mahasiswinya dengan body aduhai dan cowoknya memakai kaca hitam.


"Maaf!" pekik Jingga, karena Jingga merasa dirinya yang masih belajat.


Jingga pun rem berhenti di tengah jalan masuk parkiran.


"Punya mata nggak sih. Lecet nih betis gueh. Aaahh sayang. Betis aku leceet perih banget!" rengek si perempuan itu.


Jingga pun manyun dengan mulut mengkerucut.


"Lebay banget sih. Apa dulu aku juga separah itu?" gumam Jingga kesal malah mencerminkan diri sendiri, dulu Jingga jerawat satu aja nangis.


"Berhenti!" ucap si cowok keren berkacamata.


Jingga kan pakai helm dan masker plus berjilbab,jadi tak ada yang mengenali. Teman seangkatan Jingga sebenarnya tahu siapa Jingha meski sebagian cuek,sebagian kagum.dan sebagian iri.


Jingga pun turun.


"Lo bisa naik motor nggak sih? Lo harus tanggung jawab!"

__ADS_1


"Oke gue akan tanggung jawab meski sebenarnya gue nggak salah!" jawab Jingga berani.


Ya memang sudah tahu jalan sempit Jingga yang ada di depan dan oelan si cowok nekat mau mendahului, Jingga kan jadi egal egol timbang dirinya sendiri yang jatuh.


"Lo mau tanggung jawab pakai apa?" tanya di cewek nyebelin sangat.


"Ya elah. Timbang lecet doang. Dibawa ke klinik kasih salep juga bersih!" jawab Jingga.


"Enak aja. Gue itu model kakigue berasuransi. Lo harus sembuhin kaki gue mulus seperti sedia kala dan nggak berbelang!" jawab si cewek itu.


"Hoooh!" pekik Jingga tidak menyangka.


"Kenapa lo nggak punya uang kan? Gue nggak mau tahu lo harus tanggung jawab. Dari fakultas apa lo? Sini gue catet!" omel teman Jingga itu.


Karena mereka berhenti di tengah jalan, mereka jadi menghambat laju mahasiswa lain. Tanpa Jingga sadari di belakang Jingga pada berhenti dan menonton. Ada juga yang kesal dan putat balik cari jalan lain


Tak terkecuali dari parkiran mobil. Pengemudia dua mobil.mewah memicingkan matanua dan memperhatikan.


Jingga si anak sultan, yang Opanua punya rumah sakit bertarag internasional. Yanh Babanya punya banyak pabrik dan restoran sekaligus hotel dan usaha perumahan dan apartemen. Yang suaminya hendak menjadi pengusaha di pulau P tertawa sinis dari balik masker.


"Lo mau operasi plastik kaki lo sekarang pun. Gue jabanin!" jawab Jingga.


"Woah? Hahaha!" jawab si model tertawa sinis melihat motor Jingga.


"Kenapa? Ayok sekarang ke rumah sakit. Blagu banget sih timbang model doang juga! Lecet dibuat sendiri!" ejek Jingga.


"Waah lo ngatain gue blagu. Lo yang blagu. Timbang punya motor butut doang!" si model malah tersulut emosi ngatain Jingga.


Motor Adip memang harba 20jutaan. Sementata motor si pacarnya model 60 jutaan.


"Motor butut dapet dari hasil kerja keras sendiri. Daripada kamu nebeng!" jawab Jingga lagi.


Akhirnya masalahnya merembet, si model.tidak terima maju dan mendorong Jingga. Jingga pun tidak terima membalas sehingga mereka berantem


Heranya si cowok pacar si model daritadi diam dan malah merekam.


Akhirnya yang melerai justru teman lain dan pengemudi mobil yanh sedari tadi memperhatikan.


"Jingga hentikan!" pekik orang itu berlari melerai.


Sontak semua anak yang ada di situ menoleh kaget termasuk si model.

__ADS_1


"Jingga?" gumam para mahasiswa langsung menatap gadis berkerudung dan bermasker yanh kini acak- acakana karena bertengkar.


:


__ADS_2