
“Coba ulangi katamu!” tutur Adid duduk di tanah lapang di atas bukit yang indah itu, kedua siku kakinya ditekuk, dan Adip menatap Jingga dengan tatapan maskulinya.
Mereka berdua kini duduk bersisihan di atas bukit beratapkan langit pagi yang indah. Ditemani kicauan burung yang menari- nari dari pohon ke pohon.
“Hoh!” jawab Jingga tercekat, ditatap Adi sedekat itu dan seserius itu, Jingga jadi kehilangan akal normalnya. Suasana sejuk dan dheg- dhegan karena panik berubah menjadi suasana yang gerah dan mendebarkan.
“Coba ulangi lagi! Aku ingin dengar!”
“Ulangi apanya?” tanya Jingga gelagapan. “Kakiku sakit!” jawab Jingga dengan wajah polosnya.
“Bukan... bukan yang itu!” jawab Adip masih menatap Jingga dengan senyum nakalnya, senyum yang tidak pernah dia tampakan pada siapapun sebelumnya. Senyum yang mampu melelehkan hati Jingga. Senyum yang selama ini Adip tahan karena berbagai prasangka.
“Hoh?” pekik Jingga mendadak pipinya bersemu merah karena malu, Jingga ingat apa yang dia bilang tadi.
“Ayo cepat katakan sekali lagi! Mau kuobati nggak lukamu? Ulangi dulu katamu tadi!” tutur Adip kembali mengerjai Jingga.
“Ehm!” Jingga menelan ludahnya dan menyelipkan helaian rambutnya yang berantakan ke kupingnya.
“Maaf aku lupa! Aku udah nggak sakit lagi!” tutur Jingga berusaha bangun dan ingin menghindari Adip.
Saat Jingga bangun, Adip meraih tangan Jingga agar tetap duduk, sehingga Jingga tertarik, wajah mereka pun menjadi berhadapan sangat dekat, bahkan hampir bersentuhan dan seperti hampir berciuman. Hal itu pun membuat deguban jantung Jingga bertambah berkali- kali lipat.
“Ehm!” Jingga menjauhkan tubuhnya menjaga jantungnya yang seperti mau loncat.
“Katakan sekali lagi, benarkah kamu ingin jadi istriku? Dan menyukaiku?” tanya Adip lirih tapi penuh penekanan.
Jinggapun gelagapan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
“Bukankah, aku memang sekarang sudah jadi istrimu!” jawab Jingga cerdas.
Adip pun tersenyum lagi dan mengangguk. “Ya sih...!”
“Huuuft!” tanpa sadar Jingga menghela nafasnya lembut menetralkan debaran jantungnya. Hal itupun tidak lolos dari penglihatan Adip yang semakin membuat Adip gemas dan tersenyum.
“Syukurlah kau tidak marah padaku, aku kira kamu akan membenciku!” tutur Adip kemudian.
“Membencimu?” tanya Jingga tidak mengerti.
“Sudah lupakan!” ucap Adip tahu kalau Jingga terlihat bingung dan malu.
“Terima kasih!” jawab Jingga kemudian.
Adip tiba- tiba menggeser tubuhnya lagi ke Jingga yang sudah menjauh, tanpa membalas ucapan terima kasihnya.
“Kau mau apa?” tanya Jingga salah paham.
Belum Adip menjawab, dari arah gubuk, Amer berteriak.
“Kaaak, aku lapar dan ingin buang air, turun yuk!”
__ADS_1
Adip dan Jingga pun menoleh ke Amer.
“Ya... bentar!” jawab Adip. Kemudian menatap Jingga lagi.
“Sini kubersihkan dulu lukamu, kalau jadi istriku, kamu harus tangguh nggak boleh manja dan cengeng begini!” ucap Adip dengan santainya dan melihat kaki Jingga. Adip tanpa ragu menyentuh kaki Jingga dan menyingkap sedikit pakaian bawahnya yang kotor dan robek karena gesekan batu.
“Ehm... iya!” jawab Jingga lirih.
“Tunggu di sini!” ucap Adip.
Adip lalu bangun dan berjalan ke bebatuan yang terdapat aliran air yang gemericik kecil. Adip memetik beberapa helai daun lalu mengambil air dengan daun itu. Dengan gerakan yang pelan dan telaten, Adip membersihkan bebatuan kesil yang menempel di lutut Jingga.
“Aaauh!” keluh Jingga. Lututnya yang tergores karena gesekan kasar dengan tebing memang sangat perih.
“Tahan!” tutur Adip lagi. Kini kotoran hitam di lutut Jingga sudah bersih, tinggal kulit yang meradang merah. “Belum selesaai!” tutur Adip lagi bangun ke semak- semak. Adip memetik bebrapa helai daun hijau yang merambat, entah daun apa itu namanya. Lalu Adip melembutkan daun itu dan membubuhkanya ke kulit Jingga yang berdarah.
“Kata, ibuku, ini daun ini mengandung antiseptik dan bantu mengobati lukamu. Jangan protes!” tutur Adip lagi.
Jingga hanya terus diam dan menatap lekat laki- laki yang katanya sudah menjadi suaminya itu.
“Sudah!” ucap Adip balik menatap Jingga sehingga mengedipkan mata Jingga. Adip bangun dan berdiri.
“Terima kasih!” jawab Jingga lagi.
“Ayok!” ucap Adip mengulurkan tanganya mengajak Jingga bangun.
Jingga memperhatikan tangan Adip dengan seksama, jantung Jingga masih dibuat berdebar tidak beraturan. Sebenarnya Jingga sudah berpegangan erat pada tangan itu sebelumnya. Tapi kenapa sekarang baru melihatnya sungguh mendebarkan buatnya. Jingga sampai ragu, akankah Jingga kembali menyambut uluran tangan itu, lalu dia akan berpegangan dan bergandengan tangan erat. Baru membayangkannya saja Jingga sungguh dibuat oleng dan kacau.
“Kau tidak bisa jalan? Atau mau jalan sendiri? Apa perlu kugendong?” tanya Adip.
“Tidak! Aku bisa jalan sendiri!” jawab Jingga cepat.
“Oke! Ayo bergegaslah, kasihan adikmu, kita juga harus cari makanan dan pakaian ganti!” tutur Adip lagi.
Jinggapun mengangguk. Dan berusaha bangun sendiri.
“Terima kasih ya!” ucap Jingga lagi.
Mendengar kata terima kasih reflek tangan Adip yang selama ini diarantai sekuat hati agar tidak bergerak sembarangan, kali ini sampai ke rambut Jingga dan menggerakanya acak dan pelan.
“Terima kasih terus, katanya aku suamimu!” ucap Adip membuat Jingga tersipu lagi.
Jingga pun hanya bisa menunduk dan menggigit bibir bawahnya menahan deguban jantungnya.
“Terima kasih, karena kau, menolongku, dan menikahiku!” ucap Jingga terbata sambil berjalan menunduk tidak berani menatap Adip.
Adip hanya terus dibuat tersenyum dengan semua tingkah Jingga.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Adip. “Kenapa kau laki- laki itu?”
__ADS_1
Gleg
Mengingat Tama, suasana hati Jingga kembali memburuk.
“Aku bertemu denganya di puskesmas, dia mengikutiku!” tutur Jingga bercerita.
“Puskesmas?”
“Dia teman dokter Reza!” ucap Jingga lagi.
“Wuaaah..., kalau boleh tahu? Siapa dia? Kenapa dia terus mengganggumu?” tanya Adip lagi.
Sekarang semua dheg- dhegan dan bahagianya Jingga pun meredup seketika. Jingga menelan ludahnya. Jingga meyakini kalau Jingga bilang Tama mantan pacarnya akan membuat Adip berbeda pandangan dan menghempaskan harapan Jingga yang sedang bahagia diperlakukan Adip dengan sweet.
“Dia... diaa... Kakak kelsku!” jawab Jingga.
“Oh!” jawab Adip mengangguk. Mereka berdua pun terus berjalan menuju ke Amer.
“Apa kau bertemu denganya? Dimana? Bagaimana kau menolongku? Apa yang dia katakan? Dan apa yang terjadi?” tanya Jingga, menghentikan langkahnya.
Adip ikut berhenti dan menoleh ke Jingga. Adip menelan ludahnya dan menatap Jingga dengan seksama. Bayangan tubuh Jingga tergolek lemas tanpa sehelai benangpun kembali datang membuat Adip tak enak hati. Jingga pasti akan malu dan merasa tidak nyaman.
“Seharusnya aku membunuhnya, tapi aku lupa, maaf ya, aku Cuma beri dia sedikit pelajaran. Kita harus temukan dia lagi! Ayo!” jawab Adip mengalihkan pembicaraan dan mengajak Jingga jalan lagi.
Jingga hanya diam mendengar jawaban Adip dan ambigu. Meski begitu Jingga menerka- nerka mengingat foto dan video yang Amer tunjukan. Sayangnya Jingga kan tidak tahu kalau pakaian yang dia kenakan itu pakaian Adip. Jingga sadar sudah memakai baju Bidan Risa. Sungguh Jingga sangat penasaran dengan semua yang terjadi.
“Aku mohon ceritakan semuanya!” ucap Jingga kemudian.
“Ya..., kita cari makan dulu ya. Aku lapar!”
*****
Di bawah pohon di tepi sungai, seorang pria tampak mengompres luka memar dipipinya, dengan air hangat yang dia dapat dari warga.
Pria itu kemudian memakan sebungkus roti yang dia bawa dari tasnya.
“Sialan, siapa Adipati wirajaya sebenarnya? Kenapa dia bisa bersama Amer? Kenapa malah dia yang nikahin Jingga!” gumam Pria itu.
Tidak lama, perahu yang dia tunggu datang. Dia pun mengemasi potongan rotinya ke dalam tasnya dan naik ke perahu itu.
****
Met buka puasa Kakak. Semua
Hehehehe Maaf ya kalau agak lama.
Oh ya, dalam rangka belajar dan ikut lomba author nulia cerita baru yg alurnya udh ditentuin. Udah mepet sih jd nggak mungkin menang.
Tapi meski begitu, mampir yaa. Bantu ramaiin nupel Author.
__ADS_1
Judulnya : Istri Yang Terabaiakan.