
Di Restoran.
“Bagaimana kalau aku menyukaimu?” tanya Pak Rendi dengan senyum misterinya. Pak Rendi menatap dalam ke Jingga seperti menembakan sinar laser yang langsung menembus ke hati Jingga.
Dheg.
Mendengarnya membuat Jingga langsung jijik dan tidak menyangka. Rasanya sangat mengerikan mendengar pernyataan orang selama ini bertatap muka dan bertemu denganya dengan tatapan galak ternyata menyukainya.
Spontan, Jingga langsung meraih tasnya. Jingga sedikit takut dan dheg- dhegan mengetahui orang yang pantas disebut om dan bapak ini menyukainya.
“Bapak jangan gila ya Pak!” ucap Jingga mengatai dosenya.
"Apanya yang gila? Bukankah wajar, kamu perempuan dewasa dan aku laki-laki lajang, ada yang salah?"
"Salah! Bapak itu dosen saya, kita tidak seumuran, dan saya juga tidak suka bapak!" jawab Jingga menolak dosenya itu mentah-mentah.
Jingga langsung berdiri mengambil tasnya dan berniat pergi. Rasanya tidak nyaman sekali satu meja dengan dosenya apalagi dosenya bilang suka padanya.
“Tunggu, kamu mau kemana?” cegah Pak Rendi mengejar Jingga dengan menghadang langkahya.
Jingga berhenti dengan nafas memburu menatap dosenya dengan mukacemberutnya. Pak Rendi memang tampan, pintar hebat, tapi buat Jingga tidak pantas dijadikan pacar apalagi suami.
Pak Rendi terlalu serius kaku,umurnya juga terpaut jauh, dan yang paling utama, Jingga tidak mau punya suami seperti babanya yang posesif, dan disiplin minta ampun. Jingga ingin menikah dengan seseorang yang menjadi kawan buat Jingga, bawa Jingga ke dunia luar, memberikan kebebasan dan hobby yang sama.
“Terserah saya mau kemana? Apa urusan Bapak? Tolong jangan halangi jalan saya! Biarkan saja pergi.” jawab Jingga ketus.
“Yakin mau pergi? Mau pergi kemana? Naik apa? Udah tau mobil mana yang harus kamu naiki?” tanya Pak Dosen meledek Jingga.
Jingga kaget mendengarnya. Apa Pak Rendi tau kalau hari lalu Jingga salah naik mobil.
“Maksud bapak apa?” tanya Jingga dengan muka tegang dan lebih galak dari Pak Rendi, bahkan di sini mereka berdua berkebalikan saat di kampus. Jika biasanya Jingga yang menunduk dan mati kutu, kini Pak Rendi yang tampak berusaha mengimbangi Jingga dan Jingga yang ngegas terus.
__ADS_1
“Ehm..., nggak. Setau bapak kamu kan selalu diantar sopir,” jawab Pak Rendi mengusap tengkuknya.
“Benar bapak tanya hanya karena itu? Apa bapak tau kemarin saya salah naik angkot?” tanya Jingga malah menceritakan kesialanya.
"Oh kamu kemarin salah naik angkot? Pantas!" jawab Pak Rendi malah manggut-manggut.
"Bapak tau?" tanya Jingga lagi.
“Duduklah, sudah tidak usah dibahas! Jangan buru- buru pergi, mau kemana sih? Makanan kita datang juga belum, makanlah dulu! Apa mau kutelponkan Babamu?” tanya Pak Rendi lagi dengan pelan dan dingin tapi dengan nada dan tatapan senyum mengancam.
Jingga menelan ludahnya, Pak Rendi mulai mengancam dengan kedekatan dirinya dan babanya, “Haish... pria tua ini? Apa- apaan dia menggunakan baba untuk mengancamku, murahan sekali caranya” batin Jingga kesal.
Mau tidak mau Jingga kembali menunda langkahnya, Pak Rendi kemudian menarik kursi dan mempersilahkan Jingga kembali duduk.
“Silahkan duduk, jam kuliah masih lama kan? Kita ke kampus bareng! Oke?” tutur Pak Rendi sopan dan pelan.
“Hoh? Ke kampus bareng?” tanya Jingga melotot dan terperangah
“Begitu kan kata Babamu tadi? Bapak hanya membantumu untuk menjadi anak yang manis dan berbakti!” jawab Pak Rendi lagi mengembangkan senyum tenangnya.
“Jangan cemberut begitu, nanti orang- orang kira aku ngapain kamu lagi!” ledek Pak Rendi lagi melihat Jingga mencembungkan pipinya.
“Bapak nggak usah aneh- aneh ya! Saya nggak mau ke kampus bareng bapak, yang benar saja?” jawab Jingga menolak keras dan dengan mulut mencibir.
Apa kata dunia kalau teman- teman Jingga lihat Jingga satu mobil dengan dosenya ini, terlebih dengan Kak Tama, hari ini kan Jingga mau kencan dengan Kak Tama. “Oh No.... nggak ada orang yang boleh tau!” gumam Jingga dalaam hati.
“Hhh” Pak Rendi hanya mengalah dan menghela nafas membiarkan Jingga bersungut- sungut.
“Pokoknya saya nggak mau ke kampus bareng bapak, dan ingat satu hal Pak, jangan sampai ada yang tau kalau bapak teman ayah saya!” tutur Jingga memberi peringatan ke Pak Dosenya.
Pak Rendi untuk yang kesekian kalinya hanya tersenyum menanggapi Jingga dengan senyumnya dan mata tajamnya, tentu saja hal itu membuat Jingga terskak bingung mau membalas apalagi. Jingga seperti radio yang bicara satu arah.
__ADS_1
“Hoh...” Jingga kemudian hanya menghela nafasnya kesal, bagaimana mau jadi suami dan hidup bersama baru beberapa menit bersama saja sudah membuat Jingga sesak.
Pelayan restoran datang, membawa pesanan makanan, Pak Rendi memilih salad daging dan sayuran untuk sarapan. Sementara Jingga tidak selera makan apapun. Tapi di depanya tersaji dessert yang dipesankan Pak Rendi.
“Simpan tenagamu, jangan marah- marah terus! Makanlah! Kalau tidak selera setidaknya temani aku makan!” tutur Pak Rendi mempersilahkan Jingga makan, dan Pak Rendi sendiri mengambil makanannya dan memulai makan dengan tenang.
Jingga diam memperhatikan dosenya yang sama sekali tidak mersepon kekesalan Jingga. Ternyata dicueki dan tidak dianggap lebih menyakitkan dan lebih membuat malu dari dimarahi.
“Maaf ya Pak, saya tidak ada waktu untuk temani Bapak, saya harus pergi sekarang!” ucap Jingga tidak tahan dan Jingga ingin nekat pergi.
“Jangan salahin saya ya, kalau setelah ini Babamu akan kasih hukuman ke kamu!” tutur Pak Rendi santai sambil menancapkan garpu ke potongan daging di piring nya tanpa menatap Jingga.
“What? Bapak kembali mengancam saya?” tanya Jingga lagi.
“Mulai sekarang aku bertanggung jawab atasmu, itu pesan babamu padaku!” tutur Pak Rendi meletakan sendoknya menatap Jingga penuh penekanan.
Jingga diam mengeratkan rahang dan gemas sendiri. “Apa-apaan ini?”
“Duduk! Dan diam di situ. Tunggu saya selesai makan. Akan kuantar kemana kamu pergi!” ucap Pak Rendi memerintah dengan kaku tanpa kenal penolakaan persis seperti biasanya saat di kelas.
“Iihh!” Jingga mengepalkan tanganya rasanya ingin menangis, Jingga ingin nekat tapi Jingga tidak cukup nyali kalau harus menanggung hukuman dari Babanya.
Jingga kemudian duduk manis seperti mau Pak Rendi. Jingga duduk seperti patung hidup menunggu Pak Rendi makan, sementara Pak Rendimakan dengan lahap dan santai bahkan terkesan diperlama, tapianehnya Pak Rendi juga bersikap seolah tidak ada Jingga, tidak menatapnya atau mengajaknya bicara.
Setelah selesai makan, Pak Rendi kemudian mengajak Jingga bergegas dan berangkat ke kampus. Pak Rendi membukakan pintu mobilnya untuk Jingga dengan hati- hati dan lembut.
“Silahkan masuk Tuan Putri,” ucap Pak Rendi irit membuka suaranya.
Jingga kemudian naik meski tanpa ekspresi. Pak Rendi pun membantu meenutup pintu mobilnya pelan. Setelah itu pak Rendi masuk dan duduk di samping Jingga.
Sepanjang jalaan mereka berdua terdiam. Tatapan Jingga lurus ke depan, dalam hati Jingga memikirkan bagaimana caranya Jingga bisa kabur dari situasinya sekarang.
__ADS_1
“Apa aku nekat susul Oma Rita, ikut Amer dan Ikun? Atau aku masuk pesantren seperti adik Nila? Tapi itu berarti aku tidak bisa pergi dari Baba? Atau ke tempat Opa Nando?”
“Ya Tuhan bukan aku benci ayahku sendiri, aku benci Baba karena sikapnya. Aku tidak mau menikah dengan orang ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku harus cari cara dan tempat untuk kabur”