Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
44. Mengadu ke Oma


__ADS_3

Adip kembali ke kosanya dengan senyum sumringah meski lelah. Setelah memarkirkan motornya Adip segera mandi dan menunaikan ibadah sholat.


Selesai sholat Adip menyantap nasi hangat yang dia beli di pedaganga angkringan di perjalanan, dengan menu andalanya nasi dan sambal teri. Adip memesan lauk yang sederhana, pertama karena irit, kedua karena dia tadi sudah makan masakan Oma Nurma. Adip sudah cukup kenyang, tapi memang kebiasaannya sebagai pekerja keras membuatnya banyak makan. 


“Kriing!” tiba- tiba ponsel Adib berdering. 


Adip melirik ponselnya, ternyata nomor tak dikenal, karena tanganya sedang kena nasi sambel, Adip kebiasaan makan pakai tangan. Adip tidak mengangkat teleponya.


Sebagai aktivitis yang punya banyak komunitas dari berbagai kalangan, Adip memang banyak dihubungi orang. Adip pikir kalau orang itu butuh dan penting, nanti akan telpon lagi. Adip menyelesaikan makanya dengan nikmat. 


Setelah selesai makan, Adip duduk di meja belajarnya di kamar sempit kos- kosan mahasiswanya itu. Meski sudah lulus, Adip rajin belajar dan mengupgrade ilmunya. Adip sering membuka jurnal tentang ilmu- ilmu baru atau sekedar membaca berita olahraga dan perkembangan terkini. 


“Kriing!” ponsel Adip menyala lagi. 


“Halo” jawab Adip mengangkat telepon,setelah lama mempertimbangkan karena ternyata nomer tersebut nomer luar negeri. 


“Halo benar Mas Adip, Veteriner teman Om Gery?” tanya seseorang di balik telepon. 


“Ya, benar, gimana?” tanya Adip santai, dari suarannya terdengar suaran anak muda, Adip menebak ini saudara Bunga yang katanya anak konglongmerat di negaranya. 


“Saya Amer, ponakan Om Gery!!” jawab Amer memperkenalkan diri, Adip tersenyum tebakanya benar. Dia adalah Merah Putra Gunawijaya, yang tidak lain adik Jingga. 


“Oh, ya, gimana Mas? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Adip menawarkan diri. 


“Katanya tadi periksa kucing- kucing saya? Gimana keadaan mereka? Terus sebaiknya gimana ya? Kalau mau dijual?” tanya Amer. 


“Oh ya...!” 


Akhirnya sore itu Amer dan Adip berkenalan dan membahas kucing- kucing Amer  yang dititipkan ke Bunga. Sebagai mahasiswa miskin yang melakukan apa saja yang halal untuk bertahan hidup, Adip sangat bahagia mendengar penawaran Amer. Amer minta tolong ke Adip untuk memasarkan kucing- kucingnya dan nanti hasil penjualanya bagi dua. 


Saat itu juga, Adip langsung mengeksekusi penawarkan kucing- kucing Amer di media sosial Adip dan di beberapa komunitasnya. Keberangkatan Adip ke pulau P, akhirnya Adip tunda. 


****


Di rumah Gunawijaya. 


Jingga sampai kamar langsung menyalakan laptopnya dan memberikan janjinya pada Hijau dan Biru. Hijau dan Biru sore ini pun tampak patuh dan jadi anak baik. Bahkan Biru yang suka dengan Rendi tampak bahagia. 


“Kakak mandi dulu ya. Ini film yang kalian tunggu Ice of the **** 4 kan?” tutur Jingga.


“Waah iya, Kak Jingga cantik deh!” ucap Biru pandai menggoda. 


“Ish kalian ini masih kecil udah suka modus!” jawab Jingga mendesis. 


“Apa itu modus Kak?” tanya Hijau polos. 


“Itu sejenis mainan dari kardus!” jawab Jingga asal. 


“Oh!” jawab Biru dan Hijau percaya aja. 


Jingga kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di saat Jingga masuk Bunga mengetuk pintu kamar. 


“Siapa?” tanya Biru pintar. 

__ADS_1


“Ciapa ayo tebak!” jawab Bunga dengan suara cedalnya hendak menggoda Biru dan Hijau. 


Biru dan Hijau saling pandang kemudian mereka berdua turun dari ranjang Jingg dan berlari menuju ke pintu. 


“Kak Bunga!” seru Hijau dan Birua. 


“Yeaay!” jawab Bunga tersenyum manis. Bunga kemudian mensejajarkan tubuhnya dan memeluk kedua ponakan kembarnya itu. Hijau dan Biru kemudian ikut menghambur. 


“Kak Bunga ke sini sama siapa?” tanya Biru. 


“Sama Opa sama Oma!” jawab Bunga. 


“Oma?” seru Hijau kegirangan. 


“Emem” jawab Bunga mengangguk. 


“Yey... Iya kangen Oma!” seru Hijau. 


“Oma sama Opa akan menginap di sini sampai Baba dan Kak Nila pulang!” ucap Bunga lagi. 


“Hore... toss!” seru Biru bahagia karena rumah mereka akan ramai. 


Bunga kemudian melirik ke dalam kamar sepupunya.


“ Kalian lagi apa? Kak Jingga mana?” tanya Bunga. 


“Kita lagi mau nonton film binatang sirkus Kak!” jawab Biru. 


“Kak Jingga lagi mandi!” jawab Hijau. 


“Boleh, Ayo Kak!” jawab Biru. 


“Tapi Iya pingin ketemu Oma!” jawab Hijau berbeda pilihan dengan Biru. Bunga jadi garuk- garuk kepala, mempunyai dua orang adik berbeda kemauan pusing juga rupanya. 


Belum mereka bertiga menentukan pilihan, Mbak Ida suster mereka datang. 


“Permisi, Non, Den!” sapa Mbak Ida. 


“Ada apa Bu?” tanya Bunga. 


“Non Jingga dipanggil Oma!” tutur Mbak Ida. 


“Kak Jingga lagi mandi!” jawab Hijau 


“Oh, kalau gitu sampaikan ke Non Jingga, Oma Nurma menunggu!” jawab Mbok Ida. 


“Oke!” jawab Biru. 


“Mbak Ida, Iya ikut!” seru hijau meraih tangan Mbak Ida. 


“Ayo Den!” jawab Mbak Ida berhenti dan berniat menunggu Hijau. 


“Iya mau ketemu Oma, Iyu nggak mau tulun juga?” tawar Hijau. 

__ADS_1


“Iyu nunggu Kak Jingga aja sama Kak Bunga. Iyu mau nonton dulu, kan Oma lama di sini!” jawab Biru. 


Akhirnya kedua anak itu menjatuhkan pilihan yang berbeda. Hijau memilih menemui Omanyaa, Biru memilih menonton film kesukaanya. Setelah beberapa menit Jingga selesai mandi. 


“Bunga!” pekik Jingga terkejut. “Kapan sampainya?” tanya Jingga. 


“Hai Kak!” jawab Bunga bangun kemudian berpelukan dengan Jingga sebagai ujud salam. 


“Sekitar 10 menit yang lalu!” jawab Bunga. 


“Oh, Iya mana?” tanya Jingga. 


“Iya ke bawah nemuin Oma. Kak Jingga ditunggu Oma , Kak di bawah!” tutur Bunga menyampaikan amanahnya. 


“Oma?” tanya Jingga bahagia. 


“Iya!” jawab Bunga. 


Tidak menunggu lama, Jingga menaruh handuknya dan langsung berlari ke bawah. Sampai bawah Iya terlihat bergelendotan dengan Omanya di sofa. 


“Omaa!” seru Jingga langsung berlari memeluk Omanya. “Jingga kangen Oma!” 


“Cucu Oma sekarang sibuk banget apa? Rumah deket aja, katanya kangen, nggak pernah jenguk Oma!” jawab Oma Nurma membercandai cucunya. 


Jingga manyun dan melirik Bunanya. Baba Ardi kan ketat, selesai kuliah sebelum Asar, Jingga harus sudah di rumah. Jingga kemudian berbisik mengadukan kekejaman Babanya. 


“Hemmm!” Oma Nurma mengangguk. 


“Jingga sapa Opa dulu ya Oma!” ucap Jingga kemudian menyapa Opa Nando.


Meski bukan Opa kandung, tapi Jingga cukup dekat dengan suami neneknya. Jingga ingin menjadi seperti Kakeknya, menjadi dokter spesialis bedah yang keren seperti di drama- drama yang sering Jingga tonton. Meski bukan cucu kandunngnya Opa Nando pun sangat sayang ke Jingga. 


Setelah saling sapa dengan Opa Nando, Jingga kemudian ke Oma Nurma. 


“Oma mau tanya ke cucu Oma yang cantik ini!” tutur Oma Nurma. 


“Ya Oma, ada apa?” 


“Memang benar kamu mau menikah muda?” tanya Oma. 


Mendengar pertnyaan Oma, Jingga langsung melotot dan kaget. 


“Nggak, Oma. Oma kata siapa?” 


Oma Nurma kemudia melirik ke Buna Alya, Buna Alya terdiam menjadi tersangka. 


“Oma lihat, laki- laki yang berpenampilan rapi tadi sore, katanya calon suamimu? Kamu benar udah mau nikah?” tanya Oma Nurma. 


“Nggak Oma. Tolongin Jingga Oma, kasih tau ke Baba, Jingga masih ingin kuliah jadi kaya Opa Nando, Jingga nggak mau kaya Buna!” ucap Jingga polos dan jujur di depan Bunanya. Jingga menolak menikah muda dan berakhir menjadi seperti Bunanya. 


“Kamu dengar apa kata anakmu, Al?” ucap Oma Nurma ke Buna. 


“Alya dengar Bu, Buna dan Baba juga nggak larang Jingga buat lanjutin kuliah kok!” jawab Buna. 

__ADS_1


Jingga kemudian diam, mengingat pertemuan Jingga dengan ibu Rendi tadi. 


“Buna, belum tahu sih keluarga Pak Rendi gimana?” 


__ADS_2